X-Loves : Dari Dunia Lain

X-Loves : Dari Dunia Lain
Chapter 22 : Lubuk Hati


__ADS_3

“EMILIAAA!!!!”


Gadis berambut pirang itu berlari ke arah Emilia yang tengah terduduk tak berdaya itu. Tak seperti para peserta lainnya, apa yang dilakukan oleh Anna itu tidak biasa. Hal ini membuat para penonton heran, termasuk Licia yang tengah berdiri dari kursi penonton di tribun barat.


“Eh, tunggu, apa yang dia lakukan? Bukannya dia sudah menang?”


Anna menggerak-gerakkan tubuh Emilia sedang pingsan itu, berharap sesuatu yang buruk tak terjadi pada gadis itu.


“EMILIA, WOY. BANGUN EMILIA, BERTAHANLAH EMILIA!!!”


Anna terus berusaha untuk membangunkan gadis Kawanua itu, tapi belum ada tanda-tanda kalau ia akan kembali sadar. Perlahan air mata pun keluar dari mata Anna.


“Emilia, kumohon. Bangunlah!!!”


Upayanya itu ternyata membuahkan hasil. Gadis itu perlahan membuka matanya.


“Anu~ Dimana aku?”


Pandangannya masih buram, namun perlahan ia bisa melihat orang yang ada di depannya.


“Ah, Anna ya,”


Emilia berkata dengan suara pelan. Sementara itu Anna masih menatapnya sambil menangis. Hal itu membuat gadis Kawanua itu bingung.


“Eh, kenapa kau menangis, Anna? Kau kan sudah menang”


“Syukurlah…Hiks… Maafkan aku, Emilia. Aku tidak tahu kalau aku… aku…”


Anna tak mampu berkata apa-apa. Sesuatu yang membuatnya trauma sekian lama kembali teringat olehnya. Tentu saja Emilia tak tahu apa-apa soal hal itu. Namun gadis itu berusaha menenangkannya dengan suara lembut.


“Tidak apa-apa, Ini kan pertandingan, wajar aja kalau kau sampai berbuat seperti ini. Aku baik-baik saja kok,”


Emilia lalu sedikit beranjak sambil mengusap air mata Anna.


“Lagipula torang samua basudara, ya kan? Hehe,..” lanjut Emilia.


Gadis itu tersenyum lebar pada Anna sampai gigi putihnya itu terlihat. Anna yang paham maksud perkataannya itu, pernyataan bahwa ‘kita semua bersaudara’ itu cukup menghiburnya. Ia pun mengusap air matanya dan membalas senyuman Emilia.


“Kau benar, Emilia. Hehe…”


Kedua gadis itu pun saling tertawa kecil.


“Oh iya, Anna. Apa nama lengkapmu? Aku lupa, Hehe…” ujar Emilia.


“Lah, bukannya tadi udah disebutin sama wasit?”


“Iya, sih. Tapi aku ingin berkenalan lagi dari awal. Yah agar kita semakin dekat gitu,”


“Oh iya juga sih. Nama lengkapku Anna Sahilatua. Aku berasal dari Pulau Una. Sebenarnya aku ini seorang Parachi,” tutur Anna.


“Oh… Kau seorang Parachi, ya? Kalau nama lengkapku Emilia Gumansalangi. Aku berasal dari Bolaang Mongondow, dan juga…”

__ADS_1


Emilia sedikit menarik bahu Anna. Ia nampak ingin membisikkan sesuatu padanya. Namun hal itu cukup membuatnya terkejut, apalagi mereka dilihat oleh banyak orang.


“…aku juga seorang Parachi loh,” ungkap Emilia.


“Eh? Benarkah?”


Anna terkejut mendengarnya. Namun gadis itu hanya tersenyum lebar seperti awalnya.


Tak berselang lama, pihak medis pun datang. Emilia yang masih cukup lemas itu ditandu oleh mereka. Gadis Kawanua itu lalu melambaikan tangan pada Anna sebagai tanda perpisahan. Sementara itu, Licia ternyata menghampirinya sambil menunjukkan wajah keheranan.


“Eh, Licia?”


“Hey, Anna. Apa yang kau lakukan sih? Kenapa kau mengasihi lawanmu itu?” tanya Licia sambil bertolak pinggang.


“Aku…”


Anna memalingkan wajahnya dari Licia. Hal itu tentunya membuat anak tunggal Bunda Rara itu semakin bingung. Terlebih lagi raut wajah Anna yang nampak sedih.


“Anna?”


Dwi yang ada di belakangnya lalu berujar padanya.


“Dia tak bisa mencelakai orang lain,”


Licia terkejut dengan ucapan Dwi dan menengok ke arahnya.


“Eh? Maksudnya?”


“Anna itu orangnya terlalu baik. Dia tak bisa melukai orang lain dengan alasan apapun, apalagi dengan orang yang tidak punya masalah dengannya,” jelas Dwi sambil menghampiri Anna.


Dwi langsung memeluk Anna yang nampak terdiam sedih itu. Dan entah kenapa gadis itu langsung memeluk Dwi dengan erat. Tak biasanya ia melakukan hal tersebut, bahkan di dunia nyata sekalipun.


“Sudah, tidak apa-apa,” Dwi menenangkannya.


Sementara itu, Licia yang memperhatikan keduanya yang tengah berpelukan itu mencoba memahami apa yang terjadi. Ia menurunkan tangan kirinya sambil tersenyum kecil pada mereka.


“Ahh… Sepertinya memang pernah terjadi sesuatu sama kedua Parachi ini. Dan yah, bukan hak-ku untuk ikut campur ke dalam masalah mereka,” ucapnya dalam hati.


Licia adalah orang yang pengertian. Meskipun dia memang senang bercengkerama dengan orang lain, namun dia punya batasan tersendiri untuk tidak terlalu mencampuri masalah orang lain, apalagi permasalahan yang dimiliki oleh Parachi.


“Ngomong-ngomong, Anna dan Dwi romantis juga ya, aku jadi iri, hehe…” lanjut Licia.



Panitia tengah mempersiapkan pertandingan selanjutnya. Licia sudah terlihat duduk di kursi tribunnya, sementara Anna dan Dwi terlihat masih berjalan di samping lapangan. Mereka pun saling berbincang-bincang, terlebih Anna yang teringat peristiwa yang dialaminya di masa lalu.


“Oh iya, Dwi,”


“Hmm…?”


“Apa kau masih mau menerimaku sebagai temanmu? Padahal aku ini pernah mencelakai orang lain,” tanya Anna sambil merenung.

__ADS_1


Melihat ekspresi Anna yang nampak masih termenung itu, Dwi mencoba menghiburnya.


“Ah kau ini, cuman mukul satu orang aja sampe kepikiran bertahun-tahun. Tuh si Herlin pas SMA langganan masuk ruang BK gak banyak pikiran yang macem-macem dia,” ujar Dwi sambil memegang kepala Anna.


“Ih… Apa-apaan sih, Dwi,”


“Hahaha…”


Anna menjauhkan kepalanya dari tangan Dwi. Pemuda itu menanggapinya sambil tertawa.


“Tapi memang benar sih. Kau tidak bisa sepenuhnya disalahkan atas kejadian yang menimpa Bobby 4 tahun yang lalu. Itu sudah jadi konsekuensinya karena membully orang lain. Lagipula manusia itu memang punya batas kesabaran, apalagi kalau sudah ditindas sejak lama. Cepat atau lambat mereka pasti akan memberontak. Begitulah jalannya sejarah,” tutur Dwi.


Anna masih termenung setelah mendengarnya.


“Tapi yang terpenting kita jadikan hal itu sebagai pelajaran, agar kita bisa mengambil keputusan yang lebih bijak,”


Dwi menatap Anna sambil tersenyum tulus. Pemuda itu memberinya petuah sambil berusaha menghiburnya. Dan hal itu sepertinya cukup berhasil menenangkan gadis itu.


“Ah… Kau benar, Dwi. Terima kasih,” ujar Anna sambil tersenyum dan mengusap matanya lagi.


Mereka berdua akhirnya bisa saling tersenyum kembali.


“Oh, iya. Ngomong-ngomong…”


Dwi memegang dagunya sambil menatap Anna kembali.


“Eh, kenapa?” Anna heran dengan ekspresi Dwi tersebut.


“Apa aku tidak salah? Kau mulai terlihat lebih feminim akhir-akhir ini,” ujar Dwi.


Seperti biasanya, pemuda itu selalu celetuk tentang apa yang terjadi pada Anna. Sontak gadis berambut pirang itu kembali jengkel dan marah-marah begitu mendengarnya.


“EH, DWI. MULAI LAGI KAU YA, AKU KAN…”


Anna sempat berteriak padanya, namun tiba-tiba ia berubah pikiran saat melihat kedua tangannya.


“Eh, tunggu. Kau benar,”


Gadis itu baru menyadari bahwa dirinya sudah menjadi lebih feminim akhir-akhir ini. Mulai dari gaya berpakaiannya yang sudah terbiasa dengan setelan wanita, lebih sering make up dan merawat dirinya, dan puncaknya saat ia tak sadar memeluk seorang pria sambil menangis. Dirinya mulai jauh lebih berbeda sejak ia ‘terkirim’ ke dunia alternatif ini.


“Gawat. Kalau begini terus beta bakalan jadi wanita seutuhnya di dunia ini. Bagaimana ini?” katanya dalam hati.


Anna langsung terdiam dengan mulut menganga sambil memperhatikan kedua tangannya. Raut wajah paniknya itu membuat Dwi penasaran.


“Eh, Anna. Kau tidak apa-apa?”


“Eh… Tidak ada kok, Dwi, hehe…” Anna langsung berpaling ke arahnya dengan kedua tangan digenggam di belakang tubuhnya. Namun dilihat dari ekspresinya, ia tak bisa berbohong.


Tak berselang lama, panitia memanggil Dwi untuk masuk ke dalam lapangan karena pertandingan akan segera dimulai kembali.


“Kepada Dwi Septianto dari Akademi Sihir Nasional Jailolo, dimohon untuk segera bersiap,”

__ADS_1


“Ah… Sekarang giliranmu, Dwi. Jangan malu-maluin,” ujar Anna.


Dwi mengangguk sambil tersenyum padanya, lalu berjalan ke arah lapangan. Kini pemuda itu bersiap untuk menghadapi lawannya dalam pertandingan ketiga adu sihir ini.


__ADS_2