
Berlari, melompat, melontarkan serangan, serta mengayunkan senjata. Seorang siswa dan siswi tengah bertarung di tengah arena tersebut dan berjuang untuk lanjut ke babak semi final. Dia adalah Budi Hirata dari Akademi Sihir Nasional Saranjana dan Ruri Yana dari Akademi Sihir Wilayah Pakuwon. Lelaki Borneo Selatan itu adalah pengguna sihir putih. Elemen angin dan cahayanya lebih mendominasi. Teknik sihir dan gerakan-gerakannya nyaris
sempurna jika dibandingkan dengan penyihir lelaki lainnya dalam turnamen ini, bahkan dengan Tubagus Sila yang berhasil melaju ke semi final akibat menyerahnya Dwi, gerakan Budi masih jauh lebih halus.
Tapi lawannya bukanlah penyihir sembarangan. Gadis yang dikenal sebagai ‘The Grim Reaper of Java Sea’ itu adalah seorang Wangsa Arya, pengguna sihir hitam dan putih sekaligus. Ruri adalah penyihir muda yang memiliki pengalaman bertarung di tingkat internasional. Selain itu, ia juga memiliki sebuah senjata Pusaka sebagai hasil kontraknya dengan sesosok ‘Penunggu Gaib’. Tak mengherankan kalau dirinya lebih mendominasi pertarungan ini.
Ruri memutar sabitnya yang mengeluarkan sihir api itu layaknya seorang penari perempuan di atas panggung. Sementara itu, dengan gerakan halus yang dibantu sihir anginnya, Budi berhasil menghindari sebagian besar ayunan sabit merah berapi itu. Namun sialnya, tubuhnya sudah hampir mencapai batas. Dirinya juga sudah hampir kehabisan mana. Terlihat lelaki Borneo itu juga terluka pada beberapa bagian tubuhnya.
“Aku harus menang, huh… huh…” ucapnya dengan ngos-ngosan sambil sesekali menghindari serangan gadis itu.
Sebenarnya siapa yang akan menjadi pemenang dalam pertandingan ini sudah terlihat jelas. Namun karena keduanya masih berusaha berjuang, sang wasit pun juga belum memutuskan.
“Sebentar lagi akan berakhir,” ucap Licia.
“Ah,,.”
Alita menganggung. Sementara itu, baik Anna, Dwi, maupun Aldy masih tetap menunggu siapa yang akan menjadi jawara dalam pertandingan kali ini, khususnya Anna yang nantinya akan berhadapan dengan pemenang dari pertandingan kali ini.
“Ayolah, Budi. Kau harus menang. Kau tak boleh dikalahkan dengan cara curang gadis itu,” ucapnya dalam hati.
Sejujurnya Anna lebih ingin Budi Hirata yang menjadi pemenang dari pertandingan ini. Bukan karena dia takut oleh Ruri, namun ia masih tak terima dengan cara bertarung gadis itu yang ‘dibantu’ oleh senjata dari ‘Penunggu Gaib’. Baginya, ini sangat tidak adil bagi para penyihir muda lainnya yang tidak memiliki Pusaka.
Akan tetapi apa yang diharapkan oleh Anna sepertinya takkan terwujud. Serangan yang dilancarkan Budi sudah sangat lemah, ia sudah mencapai batasnya. Ruri yang melihat hal itu tersenyum kecil, lalu mengangkat sabit merahnya ke atas dan memutarnya.
“Mantra Cipta, Bara…”
Ruri merapalkan sebuah mantra sihir api sambil memutar sabit merah itu di atasnya. Putarannya semakin cepat dan ia menghasilkan api yang berputar layaknya ****** beliung. Pusaran api itu menghisap material apapun yang ada di sekitarnya. Tentu saja tubuh seorang Budi pun juga ikut terhisap ke dalamnya. Walaupun ia berusaha menghindarinya sekuat tenaga, namun karena staminanya sudah mencapai batas, ia pun ikut terhisap ke dalamnya.
“Agghhh…”
Dirinya lenyap ke dalam pusaran api besar itu. Para penonton yang menyaksikan hal itu terkesima, sebagiannya lagi melongo. Namun berbeda dengan Anna yang sangat marah dan kesal setelah melihatnya.
“Tidak!!!”
Pusaran api itu pun menghilang. Kedua peserta kini terlihat dengan jelas. Entah apa yang terjadi pada mereka, namun terlihat Budi yang tengah terbaring tak berdaya, sedangkan Ruri berdiri membelakanginya sambil memegang sabitnya. Dengan demikian, sudah jelas siapa pemenang dari pertandingan kali ini.
“Baiklah. Pemenang pertandingan ini adalah Ruri Yana dari Akademi Sihir Wilayah Pakuwon!!!”
Para penonton bersorak. Gadis Bawean itu sudah dipastikan akan melaju ke babak semi final, dan lawannya adalah Anna Sahilatua dari Akademi Sihir Nasional Jailolo.
Rupanya apa yang diharapkan oleh gadis itu tak terjadi. Mau tidak mau Anna pun harus berhadapan dengan Ruri pada babak semi final nanti. Kekesalan Anna pun sudah mencapai puncaknya setelah menyaksikan pertandingan itu.
“SIAL!!!”
Ia memukul kursi penonton yang didudukinya, lalu bergegas meninggalkan tempat itu.
“Anna?”
Ia melewati Dwi yang tengah duduk di sampingnya dan tak mempedulikannya. Melihat kejadian itu, Dwi langsung berdiri dan menyahutnya.
“Hei, Anna. Mau kemana?”
“Bukan urusanmu,” jawab Anna dengan nada kesal.
Dwi pun terpaksa mengikuti kemana gadis itu pergi.
__ADS_1
…
Itu adalah sebuah ruangan tempat penyimpanan barang. Letaknya ada di samping koridor arena bagian belakang. Kebetulan tempat itu sedang sepi.
Terlihat seorang gadis berambut panjang tengah memasang sejumlah benda di sana dan merakitnya, sedangkan di belakangnya terlihat sesosok lelaki yang tengah bersandar di pintu dan melihatnya merakin sebuah benda tersebut.
“Apa yang sebenarnya kau lakukan, Anna?” tanya lelaki bernama Dwi tersebut.
“Kalau dunia ini pernah mengenal teknologi sebelumnya, berarti mungkin ada sejumlah alat yang bisa kugunakan sebagai senjata,” jawab Anna sambil merakit benda-benda itu.
“Tunggu. Jangan-jangan kau mau…”
Belum selesai Dwi berucap, gadis itu sudah menyelesaikan alat rakitannya. Benda itu terlihat seperti sebuah walkie talkie, namun ada dua besi tajam yang menjorok ke atas, lebih mirip seperti tanduk banteng. Anna pun menekan sebuah tombol di sampingnya dan kedua besi itu pun mengeluarkan listrik.
“Huff… Selesai juga. Ini akan menjadi ‘Pusaka’ ku untuk mengalahkan dia,” ujarnya.
“Itu alat kejut listrik sederhana kan? Jangan bilang kalau kau akan melanggar pantangan di dunia ini,”
“Memang itulah yang akan kulakukan,” Anna langsung menjawabnya dengan tegas.
Tepat sekali. Itu adalah alat kejut listrik sederhana yang dirakit oleh bahan-bahan seadanya. Bukanlah perkara yang sulit bagi seseorang yang sebenarnya merupakan mahasiswa institut teknologi di dunia nyata tersebut untuk menciptakan benda itu. Dan untungnya bahan-bahan sederhana untuk merakit alat itu juga tersedia di dunia alternatif ini.
“Huff… Kalau aku jadi kau, aku tidak akan sembrono melakukannya,”
Dwi berusaha mencegahnya, namun gadis itu sepertinya bersikeras untuk melakukan hal itu. Anna pun berdiri dan menoleh ke arah lelaki itu.
“Lantas aku harus bagaimana? Kita mau keluar dari sini kan? Mungkin inilah satu-satunya cara agar kita bisa keluar dari dunia yang aneh ini, dengan melanggar pantangannya. Akan kucoba cara itu,”
Sambil memasukkan alat itu ke dalam saku roknya, Anna bergegas kembali ke tribun, diikuti oleh Dwi di belakangnya.
…
“Anna lawan Ruri ya? Aku harap Anna-lah yang menang. Tapi lawannya…”
Licia berharap bahwa teman sebangkunya itulah yang seharusnya menang. Namun ia juga berpikir kalau lawan yang dihadapi gadis itu bukanlah orang sembarangan, nampak sangat sulit baginya untuk menang. Sementara itu Dwi di sampingnya tak menunjukkan ekspresi apapun, hanya duduk sambil menyilangkan tangan dan kakinya.
“Wahai sabit merah yang agung, cucurkanlah kuasamu agar aku dapat memenangkan pertarunganku selanjutnya,”
Ruri memanggil sabit merah Pusakanya itu dan bersiap untuk menyerang Anna, sementara Anna sendiri memasang kuda-kuda untuk menghadangnya. Gadis berambut pirang itu menatapnya dengan tajam, keringat dingin juga keluar dari tubuhnya. Sontak hal itu membuat Ruri sedikit tersenyum.
“Kenapa, gadis cantik? Kau takut dengan Pusaka-ku?”
Ruri bertanya dengan suara lembut, namun itu lebih seperti ‘mengintimidasi’. Anna pun menjawabnya dengan nada sedikit ngos-ngosan, pertanda sudah tak siap untuk melancarkan ‘serangan kejut’-nya.
“Hah… Jangan meremehkanku ya… Aku akan melepaskan sabitmu itu dari genggamanmu,”
Ruri hanya tersenyum mendengarnya. Tak berselang lama sang wasit dari pinggir arena mengangkat tangannya.
“Baiklah”
“Bersedia”
“Siap”
“Mulai!!!”
__ADS_1
Tepat saat sang wasit menurunkan tangannya, Ruri langsung memutar sabit merahnya itu lalu menghunuskannya ke arah Anna dengan sihir api.
“Mantra Cipta, Bara…”
Anna yang melihat serangan itu langsung menciptakan perisai untuk menahannya.
“Parisha”
BANGG… Sihir api itu mengenai perisai. Namun tak seperti prediksinya, hentakkan dari serangan sihir itu lebih keras. Anna pun terdorong beberapa meter ke belakang.
“Ughh…”
Ruri terus melancarkan serangan itu sampai membuat perisai sihir yang dirapalkan Anna itu pecah. Melihat hal itu, gadis berambut pirang itu langsung mengubah taktiknya.
“Mantra Cipta, Bayu, Gerudi Puyuh”
Anna melepaskan sejumlah bor angin ke arah Ruri, dan dengan mudah gadis Bawean itu menebas serangan tersebut. Namun karena melihat lawannya menyerang sambil berusaha ‘melarikan diri’, Ruri pun berlari ke arahnya sambil menebas bor-bor angin itu.
Gadis Parachi itu menyerang sambil bergerak mundur. Tetapi karena Ruri berlari lebih cepat, ia dengan mudah sudah mencapai posisinya hanya dalam waktu yang cukup singkat. Tepat beberapa meter di depan Anna, Ruri
melompat dan berputar-putar, lalu mengayunkan sabit merahnya secara vertikal, tepat mengarah ke kepala Anna. Ruri nampaknya berniat untuk melukai kepala gadis itu. Namun sebelum mata sabit itu mengenai kulit cerahnya, Anna langsung merapalkan sebuah mantra.
“Sekarang! Mantra Cipta, Tirta, Bombaria”
Sebuah ledakan sihir air terjadi di tengah-tengah posisi mereka, membuat Anna sedikit terhempas ke belakang sementara Ruri terlempar ke udara. Walaupun begitu, gadis Bawean itu bisa dengan mudah memutar posisi tubuhnya di udara dan mampu mendarat dengan sempurna.
Tubuhnya terlihat basah kuyup akibat serangan tak terduga itu. Namun bukan hanya itu saja, dirinya juga merasa ada yang aneh saat ia menapakkan kakinya di tanah itu. Gadis itu baru menyadarinya saat ia melihat ke bawah kakinya.
“Genangan air?”
Ruri terlihat berdiri saja di sana sambil memegang senjatanya. Nampak ekspresi kebingungan terlihat pada raut wajahnya. Ia bingung dengan apa yang terjadi. Namun rupanya itu adalah bagian dari strategi yang direncanakan Anna untuk mengalahkannya.
Terlihat gadis berambut pirang itu mengeluarkan sebuah benda hitam dari saku roknya, lalu melemparkannya sekuat tenaga ke arah Ruri.
“TERIMA INI!!!”
Ruri melihat benda hitam itu mengarah ke posisinya. Namun gadis bersenjatakan sabit itu tak mengindahkannya dan tetap berdiri di tempat itu.
“Benda apa itu?”
Gadis Bawean itu berpikir kalau benda yang dilemparkan ke arahnya itu bukanlah ancaman berarti baginya, apalagi benda hitam itu takkan jatuh mengenai kepalanya. Namun ternyata perkiraannya itu salah besar. Tepat saat benda hitam itu jatuh di genangan air di depannya, listrik bertegangan tinggi pun langsung menyambar dirinya yang tengah basah kuyup itu.
“AAAAAAAAAAA……”
Semua orang yang menyaksikan hal itu terkejut. Bagaimana bisa gadis itu tiba-tiba tersetrum setelah Anna melancarkan serangan kecilnya itu. Licia yang melihatnya juga mempertanyakan hal serupa.
“Eh, Anna bisa sihir petir?”
Selang beberapa saat kemudian, hantaran listrik bertegangan tinggi itu pun hilang. Namun Ruri yang terkena serangan itu sudah terluka parah. Ia pun terjatuh ke tanah dan sabit merahnya hilang, menguap. Anna yang masih belum beranjak dari posisinya terlihat ngos-ngosan. Para penonton tak mengeluarkan sepatah kata pun, suasana nampak hening. Tetapi melihat keadaan lawannya yang sudah tak berdaya itu, Anna mengepalkan tangannya dan tersenyum riang, merasa dirinya sudah memenangkan pertandingan itu.
“Yes!!!”
Ruri yang tengah telungkup itu tak bergerak sedikitpun. Hal itu pun menjadi alasan bagi wasit untuk menurunkan tangannya dan memutuskan siapa pemenang dari pertandingan kali ini.
“Baiklah. Pemenang pertandingan ini adalah…”
__ADS_1
Anna hampir bersorak kegirangan. Namun tepat sebelum wasit menyatakan siapa sang jawara, seorang pria berteriak dari arah balkon VVIP.
“TUNGGU SEBENTAR!!!”