X-Loves : Dari Dunia Lain

X-Loves : Dari Dunia Lain
Chapter 50 : Tirai Cahaya


__ADS_3

Solaris sudah terbenam di ufuk barat. Kini giliran satelit alami Tierra Hyuma-lah yang menerangi tanah ini. Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 8 malam.


Anna, Dwi, dan Aldy sudah sampai di sebuah lapangan yang cukup luas. Ada sebuah bukit hijau menjulang di belakang mereka, dan ketiganya dapat dengan jelas melihat cahaya lampu-lampu sihir menerangi kota di depannya.


“Wah, indah sekali.” Kagum Anna.


“Yah, selamat datang di Cikeruh. Kota ini memang indah dipandang saat malam hari.” Kata Aldy.


Sebuah kota yang luas dan padat bisa terlihat dengan jelas dari perbukitan ini. Lampu-lampu sihir yang terpasang di jalan dan rumah-rumah warga menerangi mereka yang beraktivitas pada malam hari. Sejumlah Layang terlihat berterbangan dari jarak sekitar 4 km jauhnya. Dibandingkan dengan kota-kota sebelumnya, Cikeruh adalah kota yang sangat padat dan ramai, walaupun tak sepadat Sunda Kelapa yang mereka lewati sebelumnya.


“Oh iya, kalau tidak salah kalian pernah bilang kalau dunia kalian hampir tidak ada bedanya dengan Tierra Hyuma kan? Jadi, kalau dari tempat kalian berasal, Cikeruh itu kota yang seperti apa?” tanya lelaki berambut putih itu.


“Yah, kurang lebih sama seperti ini, hanya saja lebih banyak gedung bertingkatnya. Dan di dunia kami, kota ini lebih dikenal sebagai Jatinangor. Cikeruh hanya sebagian wilayah kecil darinya.” Jelas Dwi.


“Ah, begitu ya? Menarik.” Ucap Aldy.


Angin malam yang dingin berhembus dari arah barat. Pohon-pohon di sekitar bergoyang karenanya. Walaupun di wilayah kota nampak ramai, tetapi khusus di wilayah perbukitan ini lebih sepi. Meskipun begitu, cuaca disini begitu cerah sampai bintang-bintang dapat terlihat dengan jelas di langit, terlebih lagi sekarang adalah malam bulan purnama.


Di tengah suasana yang nampak sunyi itu, Anna dan Dwi sama-sama melihat ke angkasa, menyaksikan purnama yang sangat jelas dan terang tersebut. Seakan memanfaatkan situasi yang ada ataupun karena reflek saja, Dwi tiba-tiba menceletuk.


“Bulannya indah ya, Anna.”


“Eh, apa?” Anna menengok ke arahnya setelah mendengar ucapan itu.


“Bulannya indah.”


Dwi mengulangi perkataan itu sekali lagi, namun dengan suara yang lebih jelas. Mendengar hal tersebut membuat Anna sempat kebingungan, apakah Dwi benar-benar takjub dengan pemandangan yang ia lihat atau ada sebab lain. Ia pun berpikir sejenak sampai akhirnya memahami apa maksud lelaki itu. Gadis berambut pirang itu pun tersenyum setelah paham apa maksudnya.


“Hehe… Dwi, kau berusaha melakukannya lagi ya?” ucap Anna tersenyum sambil menutup sebagian mulutnya.


“Eh, apa maksudmu?” Dwi menoleh ke arahnya.


“Jangan bohong deh. Aku juga tahu kok ungkapan ‘bulannya indah’ yang kau maksud itu. Sudahlah lebih baik jujur saja kalau kau suka padaku, hehe…” goda Anna.

__ADS_1


Pipi Dwi langsung memerah begitu mendengarnya. Rupanya Anna memang sudah tahu apa yang ia maksud.


‘Bulannya indah’ atau yang dalam bahasa Jepang biasa diucapkan ‘Tsuki ga kirei desu ne’ merupakan ungkapan rahasia yang biasanya digunakan untuk menyatakan cinta. Ungkapan rahasia yang muncul sejak 200 tahun yang lalu itu nampaknya masih populer hingga ke masa mereka berdua.


“Lah, Ma… mana ada aku berpikir seperti itu. Kau saja yang kegeeran lagi, Anna.”


Lelaki itu berusaha mengelak, namun ekspresinya tak bisa dibohongi. Anna pun kembali menggodanya.


“Ah serius? Wibu sepertimu takkan bisa mengelabuiku dengan cara seperti itu, haha…”


“Ih, aku serius. Memang bulannya indah kok. Kalau tak percaya lihat saja, tuh.”


Dwi menunjuk ke arah bulan purnama yang cerah itu. Namun saat ia melakukannya, sesuatu hal yang aneh terlihat oleh kedua matanya. Ekspresinya pun sontak berubah drastis.


“Eh?”


“Eh, kenapa? Dwi?” Anna yang melihatnya juga langsung terdiam melihat ekspresi Dwi yang nampak kebingungan itu.


“Itu benda apa?” tanya lelaki Jawa itu.


“Itu, aurora.” Ucap gadis itu.


“Apa? Aurora? Mustahil. Di wilayah khatulistiwa tidak mungkin ada aurora seperti itu.”


Dwi membantahnya. Menurutnya tidak mungkin di Nusantara muncul aurora di langit. Tirai cahaya raksasa di malam hari itu hanya dapat terlihat di wilayah kutub. Lantas benda apa yang mereka lihat tersebut?


Tirai cahaya berwarna keunguan itu perlahan turun dari arah langit dan semakin membesar. Benda itu pun mulai terlihat menutupi langit malam. Ketiganya masih tak sadar benda besar apa yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka itu. Tapi mereka baru menyadarinya saat benda bercahaya itu hampir menutupi wilayah tempat mereka berpijak tersebut.


“Itu bukan aurora. Itu…”


“Parisha!!!”


Tepat sekali. Tirai cahaya yang mereka lihat adalah ‘Parisha’, perisai sihir yang menjadi dinding penghalang bagi ketiganya untuk keluar dari tempat itu. Dengan kata lain, mereka terjebak di sana.

__ADS_1


“Tidak salah lagi. Dia sudah datang.” Ungkap Aldy.


Perisai sihir dengan diameter hampir 1 km tersebut mengunci mereka agar tak bisa keluar dari tempat itu. Sudah dapat dipastikan bahwa sihir tersebut diciptakan oleh musuh. Mereka pun bersiap di posisi, menunggu kedatangan sang musuh. Tetapi yang jadi masalah, mereka bertiga tak tahu dari arah mana sang musuh akan datang.


Baik Anna yang sudah mengeluarkan Parang Pusakanya, ataupun Dwi dan Aldy yang bersiap merapalkan mantra, ketiganya menengok ke berbagai arah untuk mendeteksi keberadaan lawan mereka, tapi hasilnya masih nihil.


“Dimana dia?” kata Anna dalam hati.


Semuanya masih sunyi dalam lingkaran perisai itu. Dinginnya malam masih lebih mendominasi dibandingkan dengan keberadaan mana. Tapi hal tersebut tak berlangsung lama setelah mereka bertiga mendeteksi ada sesuatu hal yang aneh muncul dari atas mereka, mana yang terkumpul semakin banyak dari sebuah objek terbang misterius.


“DI ATAS!!!” Teriak gadis itu.


Ketiganya sontak menoleh ke arah langit tepat di atas kepala mereka. Benar saja perkiraan mereka bertiga. Pantas saja mereka merasakan mana yang sangat kuat tepat di atas posisi mereka berdiri. Itu adalah sebuah bola cahaya yang perlahan membesar layaknya sebuah balon. Namun itu bukanlah benda karet yang biasa ditiup dan dimainkan oleh anak-anak tersebut, melainkan sebuah bola sihir cahaya yang siap menembak ke arah mereka.


“SEMUANYA, MENGHINDAR!!!”


WUSHH… Bola cahaya itu berubah menjadi sebuah tembakan sihir cahaya yang melesat dengan cepat ke arah mereka berdiri. Aldy langsung mundur ke belakang, sementara Anna masih terpaku di sana. Untungnya Dwi


langsung menarik baju gadis itu dan menghindar. Serangan meriam cahaya itu menciptakan sebuah ledakan besar tepat setelah mengenai permukaan tanah. Nasib baik mereka bertiga masih bisa menghindarinya.


“Huff… Nyaris saja.” ucap Anna dengan polosnya.


“Hadeh, Anna. Kenapa kau tadi diam saja disana? Untung kau tidak hangus menjadi abu karena ledakan itu.” ujar Dwi. Kesal, kaget, dan lelah, ketiganya bercampur aduk dalam perasaan lelaki itu. Namun lagi-lagi Anna menjawabnya dengan nada polos.


“Ya mana aku tahu kalau itu akan menembakkan meriam cahaya.”


Debu menyelimuti lokasi serangan itu. Tak lama berselang, terdengar suara seperti sebuah benda jatuh dari udara. Bayangan hitam aneh terlihat dari balik debu itu, disaksikan oleh mereka bertiga. Beberapa saat kemudian, bayangan itu berubah wujud menjadi sesosok makhluk berotot yang sedang berdiri dan berjalan ke arah mereka. Hentakan kakinya menunjukkan bahwa dia adalah sesosok makhluk yang gagah perkasa.


“Disini rupanya. Sesuai dengan perkiraanmu.”


“Memang sudah kuduga, mereka pasti datang ke tempat ini untuk menyambut kita.”


“Baiklah, sekaranglah saatnya untuk meremukkan kepala mereka.”

__ADS_1


Terdengar suara tiga orang pria dari balik gumpalan debu itu. Namun ada yang ganjil, ucapan ketiganya nyaris tak ada jeda, bukan seperti ucapan yang berasal dari tiga orang yang berbeda. Dan yang lebih aneh lagi, hanya ada satu sosok bayangan yang terlihat, bukan tiga sosok. Hal ini membuat mereka bertiga, khususnya Anna dan Dwi menjadi lebih waspada.


“Tidak salah lagi. Kaulah makhluk yang kami cari disini.” Ujar Aldy sambil menatap bayangan itu dengan tajam.


__ADS_2