
Kendaraan yang biasa disebut Layang itu sudah terbang selama lebih dari satu jam lamanya. Mereka pergi menuju ujung barat Kekaisaran Nusantara. Tujuan mereka kali ini adalah pergi ke tempat kemunculan Elder lainnya lalu mengalahkannya.
Berdasarkan informasi yang diperoleh Mutiara dari para penjaga perpustakaan suci, Zui Si Elder Kedua akan muncul di Lhokseumawe, Wilayah Pasai. Sementara itu Tori Si Elder Ketiga akan turun di Cikeruh, Wilayah Padjadjaran. Sayangnya sampai saat ini kemunculan Tiator Si Elder Keempat dan Raja Iblis Azazel belum berhasil terdeteksi oleh perpustakaan suci.
Tak terasa Solaris sudah terbenam di ufuk barat. Untungnya cuaca kali ini cukup cerah sehingga mereka bisa melihat pemandangan di bawah dengan cukup jelas. Melewati Pulau Celebes, mereka bisa melihat dengan jelas desa-desa dan kota kecil di bawahnya yang diterangi oleh lampu-lampu sihir. Masyarakat masih banyak yang berlalu lalang, sementara itu beberapa Layang juga terlihat berterbangan di bawah mereka. Suasana berwarna nampak jelas terlihat dari bawah sana.
“Indah sekali,” ucap Anna.
Aldy yang tengah mengemudikan Layang tersenyum mendengarnya.
“Tierra Hyuma benar-benar indah bukan?”
“Iya, Kak. Benar-benar… Eh tunggu. Maksud Kak Aldy apa?”
Anna terkejut mendengar ucapan lelaki berambut putih itu.
“Haha… Kalian sepertinya hampir lupa dengan identitas asli kalian ya,” kata Aldy.
“…”
Anna masih diam mendengarnya, masih belum paham dengan apa yang diucapkan lelaki itu. Tanpa diduga, Aldy mengatakan sesuatu yang membuat mereka berdua terkejut.
“Sebenarnya aku sudah tahu sejak awal kalau kalian bukanlah manusia Tierra Hyuma. Makanya wajar sekali kalau kalian bingung dengan kondisi dunia ini,”
“APA?”
Anna dan Dwi sangat terkejut mendengarnya. Siapa sangka, ternyata senior yang sudah sangat dekat dengan mereka, seorang ketua kelas Da yang meminta bantuan kepada mereka ternyata sudah tahu siapa keduanya.
“Tu… Tunggu. Jadi kau sudah tahu siapa kami yang sebenarnya? Kalau begitu kenapa kau tidak bilang sejak awal, Kak Aldy?” ujar Anna.
“Hahaha… Maafkan diriku yang tidak bilang sejak awal sampai kalian terkejut. Sebenarnya diriku memang sudah tahu dari catatan yang ditinggalkan cenayang itu. Ia memang sudah menyebutkan kalau dua orang manusia yang akan menyelamatkan planet ini bukanlah orang Tierra Hyuma asli,” jelas Aldy.
“Oh begitu ya…”
Layang sempat berguncang sedikit karena melewati awan tebal, namun turbulensi yang dihasilkan tak sekencang pesawat terbang di dunia nyata. Jelas karena kendaraan ini diciptakan dengan bantuan sihir.
“Oh iya, ngomong-ngomong dunia tempat kalian berasal itu seperti apa?” tanya Aldy penasaran.
“Hmm… Sebenarnya tidak jauh berbeda sih dengan Tierra Hyuma. Bahkan mungkin letak geografisnya juga nyaris sama. Hanya saja sedikit berbeda dalam hal kondisi negara-negaranya,” jawab Anna.
“Oh, begitu ya. Dunia kalian sendiri disebutnya apa?”
“Bumi,” jawab Dwi singkat.
“Bumi? Nama yang bagus,”
Aldy sedikit membelokkan Layangnya ke arah kiri.
“Oh iya, apakah di dunia kalian juga mengenal sihir seperti Tierra Hyuma?” Aldy bertanya kembali.
“Sebenarnya, di dunia kami itu konon dulunya juga ada sihir. Namun lambat laun hal itu mulai ditinggalkan dan dianggap sebagai dongeng belaka. Dan saat ini kami sudah sangat bergantung dengan teknologi,” jawab Anna.
Mendengar hal itu membuat Aldy terkejut. Ia tidak menyangka kalau hal yang bertolak belakang dengan apa yang terjadi di dunianya.
“Apa? Sihir dianggap dongeng? Semuanya bergantung pada teknologi? Mustahil,”
“Kenapa mustahil kak? Hal itu memang terjadi di dunia kami,” ujar Anna.
“Tapi, teknologi itu…”
Aldy hendak menjelaskan sesuatu. Namun sebelum ia mengatakannya, Dwi memotong ucapannya.
“Berbahaya bagi peradaban manusia kan? Tidak salah juga,”
“Dwi…”
Lelaki Jawa itu pun mencoba menjelaskan.
“Di Tierra Hyuma, teknologi mulai dilarang sejak Azazel yang merupakan makhluk rekayasa teknologi itu hampir memusnahkan peradaban manusia disini kan? Dan hal itulah yang menyebabkan umat manusia disini alergi terhadap teknologi, betulkah seperti itu?” ujar Dwi.
__ADS_1
“Benar sekali,”
“Di dunia kami, sebenarnya teknologi juga bagaikan pisau bermata dua. Ia bisa membantu pekerjaan umat manusia, namun juga bisa mengancam peradaban manusia. Bahkan mungkin di dunia kami bisa jauh lebih parah dari apa yang dilakukan Azazel di Tierra Hyuma ini,” kata Dwi.
“Maksudmu?”
Aldy penasaran dengan apa yang diucapkan lelaki itu. Dwi pun kembali melanjutkan perkataannya.
“Di dunia kami ada sebuah teknologi yang dikenal sangat berbahaya dan bisa memusnahkan peradaban manusia. Teknologi itu dapat memusnahkan sebuah kota besar beserta penduduknya hanya dengan menekan satu tombol saja,” jelas Dwi.
“Tu… Tunggu. Menghancurkan satu kota hanya dengan satu tombol saja? Kalian pasti bercanda ya,”
Aldy masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Namun Anna yang juga merupakan manusia Bumi membenarkan perkataan partnernya itu.
“Tidak. Apa yang dikatakan Dwi memang benar. Sekitar hampir 200 tahun yang lalu pernah terjadi sebuah perang besar di dunia kami. Dan senjata yang dikatakan oleh Dwi itu sempat digunakan pada perang tersebut. Dua kota besar rata dengan tanah dan hampir memusnahkan seluruh penduduknya,”
Anna menjelaskan tentang Perang Dunia 2 yang pernah terjadi di dunianya hampir 2 abad yang lalu. Aldy hampir tidak bisa berkata banyak setelah mendengar sejarah dari dunia kedua Parachi tersebut.
“Sulit dipercaya. Di Tierra Hyuma saja, sebuah sihir terkuat sekalipun tidak dapat menghancurkan satu kota besar hanya dengan sekali serang. Rupanya dunia lain bisa jauh lebih mengerikan ya,” gumam Aldy.
“…”
Karena keasyikan dengan kisah dunia nyata, mereka tidak sadar kalau Layang sudah melewati garis pantai barat Pulau Celebes, tepatnya di ujung barat Wilayah Luwu. Aldy yang baru menyadarinya langsung mengganti topik pembicaraan.
“Oh iya, aku hampir lupa. Kita sudah sampai di ujung barat Pulau Celebes kan? Aku ingin menunjukkan sesuatu yang menarik pada kalian,”
Lelaki berambut putih itu terlihat seperti menekan sejumlah tombol transparan pada jendela depan Layang itu sambil merapalkan sebuah mantra.
“Sekarang coba lihat ke arah selatan,” kata Aldy.
Anna dan Dwi pun menoleh ke arah selatan, atau lebih tepatnya ke jendela kiri mereka. Jendela itu terlihat bersinar sebelum akhirnya memperlihatkan sebuah objek nan jauh di sana.
“I…Ini…”
Aldy mengatur jendela itu agar dapat berfungsi seperti teropong, mampu melihat objek yang jauh. Namun ini jauh lebih ekstrim, mampu melihat sebuah kota yang berjarak lebih dari 400 km jauhnya dari sini.
Sebuah kota besar bisa terlihat dengan jelas dari atas sini. Arsitektur kotanya hampir mirip seperti Jailolo, namun kota ini jauh lebih luas dan maju. Pelabuhan kota itu nampak sangat sibuk dengan banyak kapal laut dan Layang yang berlalu lalang disana. Lampu-lampu sihir menerangi hampir seluruh bangunan dan jalan di tempat itu, membuat kota tersebut terlihat seperti ‘The City of Light’. Sebuah kompleks istana yang megah bercat merah dan
putih juga dapat terlihat dari atas sini. Sepertinya itu adalah kediaman Kaisar beserta keluarganya.
Namun yang menarik perhatian mereka berdua adalah sebuah monumen marmer putih yang berbentuk lingkaran raksasa yang berada di laut dekat pantai. Bagian tengah monumen tersebut berbentuk seperti gunungan yang melontarkan sinar putih ke angkasa layaknya sebuah laser.
“Kalau yang putih itu namanya ‘Pusar Nusantara’. Monumen itu melambangkan pusat dari kekaisaran ini,” lanjut Aldy.
“Ini keren sekali,” ujar Anna terkesima.
Mereka berdua nampak kagum melihat keindahan kota itu. Arsitekturnya, pencahayaannya, istananya, monumennya, dan kehidupan masyarakatnya membuat mereka terkesima. Namun saat mereka menyaksikan kota tersebut, mereka menemukan sekelompok orang tengah tertunduk, diam tanpa melakukan apapun. Mereka nampak fokus terhadap sesuatu hal yang mereka pikirkan dengan mata tertutup.
“Tunggu, apa yang mereka lakukan?” tanya Anna.
“Oh, sekelompok orang itu ya? Mereka tengah berdoa dan berharap,” jawab Aldy.
“Berdoa dan berharap?”
“Ya. Mereka tengah berdoa dan berharap untuk keselamatan umat manusia di planet ini. Sepertinya mereka sudah tahu tentang apa yang akan terjadi,”
“Oh, begitu ya…”
Orang-orang itu nampak terlihat khusyuk dalam berdoa. Entah apa yang mereka pikirkan. Apakah mereka takut atau panik, putus asa, atau bahkan mereka malah memiliki semangat membara, tak ada yang tahu pasti. Namun yang jelas harapan mereka hanyalah satu, keselamatan umat manusia planet ini.
Anna menatap mereka dengan rasa iba, apalagi melihat sejumlah anak-anak yang juga ikut berdoa dan berharap. Gadis itu tidak mau semua harapan mereka hancur oleh Si Raja Iblis itu. Apapun yang terjadi ia harus menyelamatkan mereka.
“Apapun yang terjadi, kita harus bisa mengalahkan mereka,” pikirnya.
…
Hari sudah menunjukkan seperempat malam. Layang itu kini memasuki pertengahan Wilayah Borneo yang dipenuhi hutan belantara di bawahnya. Aldy masih fokus mengemudikan kendaraan itu di tengah badai yang menghalangi pemandangan itu. Sementara Anna tengah tertidur di belakang sambil bersandar pada bahu Dwi.
Semuanya nampak gelap karena badai itu mengganggu jarak pandang. Turbulensi yang cukup kuat pun mulai terjadi pada kendaraan itu, hingga sebuah guncangan hebat membangunkan Anna dari tidurnya.
__ADS_1
“Aduh… Ada apa sih ini, berisik sekali,” ujar Anna sambil mengusap kepalanya.
“Ah, kau baru bangun ya, Anna? Selamat malam,” gumam Aldy.
Gadis berambut pirang itu sedikit mengusap matanya, hingga ia baru menyadari kalau dirinya tengah berada di kegelapan langit.
“Eh, gelap sekali. Kita dimana, Kak Aldy?” tanya Anna.
“Kita masih di Wilayah Borneo. Kita terjebak badai,”
“Badai? Tapi kita masih bisa terbang kan?” Anna terkejut mendengarnya.
“Tentu saja,” jawab Aldy santai.
Gadis itu melihat ke sekelilingnya. Di luar jendela kendaraan itu memang nampak hujan yang cukup deras. Tidak ada hal lain yang bisa terlihat selain kegelapan malam yang basah itu.
Ia pun mencoba menoleh ke arah kanan, atau lebih tepatnya ke arah partnernya Dwi. Ternyata ia masih bangun, namun ia terlihat mematung. Bukan hanya itu, dari raut wajahnya ia nampak ketakutan. Keringat dingin keluar dari tubuhnya. Saking takutnya ia tidak menyadari kalau Anna memegang tangannya yang dingin itu.
Melihat hal itu, gadis Parachi tersebut jadi ingat sesuatu. Dwi, atau Dwiana memang takut kegelapan dan hantu. Saat diajak ke sebuah wahana rumah hantu di Ambon saja, ia selalu menjerit ketakutan. Makanya tidak mengherankan kalau dia juga merasakan ketakutan yang sama saat ini.
Anna pun berpikir untuk sedikit mengejutkannya. Gadis itu menyentuh lengan lelaki itu dengan halus, sangat halus sampai dirinya tak menyadari hal itu. Lalu dengan cepat dia memegang tubuh Dwi dan mengagetkannya.
“WHAA….”
“AAHHH….”
Tanpa sadar Dwi berteriak persis seperti di dunia nyata. Hal itu tentunya membuat Anna langsung tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha….”
“Ih, Anna. Kau mengagetkanku saja,” ujar Dwi dengan gaya bicara dunia nyatanya.
“Hahaha… Maaf, Dwi. Aku kira kau tidak akan terkejut,”
Sebuah sambaran petir terlihat cukup jauh dari arah utara. Mereka pun melanjutkan pembicaraannya.
“Eh, Dwi. Kau masih takut hantu ya?” tanya Anna,
“Ti…tidak kok. Aku tidak takut mereka. Aku hanya kaget saja,” jawab Dwi mengelak sambil memalingkan wajahnya.
“Ah, yang benar? Jangan sok Tsundere deh, hehe…” Anna menggodanya.
“Lah, Tsundere apaan? Aku tidak begitu kok,”
Lelaki itu terus mengelak, namun ekspresinya tak bisa dibantah lagi. Aldy yang mendengar pembicaraan mereka langsung menimpalinya.
“Haha… Kalian tidak perlu takut. Di Tierra Hyuma tidak ada yang namanya hantu. Yang ada itu Rott dan penunggu Gaib,”
“Lah, bukannya itu juga termasuk hantu? Sifat mereka kan sama,” kata Anna.
Aldy yang mendengar bantahan Anna itu langsung kebingungan begitu mengetahui ketiganya punya sifat yang sama, sama-sama merupakan sesuatu yang ‘gaib’.
“Eh. Benar juga ya. Tapi memang kami tidak familiar dengan istilah itu,” ujar Aldy.
Mendengar hal itu malah membuat Dwi jadi sedikit takut pada Rott dan penunggu Gaib karena mereka punya sifat yang sama.
“Hah? Ja…jadi mereka b…bisa muncul dengan wujud yang mengerikan dong?” tanya Dwi terbata-bata.
“Aku juga tidak tahu. Ya, mungkin…”
Aldy berujar dengan santainya, lalu kembali menoleh ke depan dan mengemudi. Suasana benar-benar gelap dan dingin, karena pengaruh badai itu. Semuanya kembali hening seperti awalnya, dan Dwi terlihat masih berkeringat dingin karena ketakutan.
Tetapi tanpa diduga sebelumnya, apa yang disinggung Aldy ternyata menjadi kenyataan. Tepat pada bagian depan Layang itu, sebuah benda melayang dari balik kegelapan. Dirinya muncul tanpa diundang, lalu menabrak bagian kaca depan dengan ekspresi yang mengerikan.
“APA YANG…”
“AGHHH….”
Semua penumpang terkejut dengan wujudnya yang menyeramkan itu. Ternyata dia adalah…
__ADS_1