
TINGG… Hantaman senjata tajam itu menghasilkan suara melengking. Seorang gadis terlihat sedang mengarahkan sebuah pedang es pada gadis lainnya yang tengah terduduk itu. Sementara itu di belakang mereka terlihat anak-anak panah es yang menancap di tanah arena tersebut. Bekas-bekas pertarungan sihir antara keduanya begitu jelas terlihat di sana. Tak ada yang bisa dilakukan lagi seperti menyerang ataupun bertahan bagi gadis bernama Nikita Innes tersebut. Dengan sebuah pedang es yang diarahkan padanya, ia menyatakan kekalahannya dalam pertarungan sihir tersebut.
“Baiklah, Alita. Aku menyerah. Kau memang penyihir yang tangguh,” puji Nikita.
Ucapan tersebut menjadi keputusan bagi sang wasit untuk menyatakan siapa pemenang dari pertandingan perdana babak 8 besar Turnamen Adu Sihir Nasional ke-21 ini.
“Baiklah. Pemenang pertandingan ini adalah Alita Chaniago dari Akademi Sihir Nasional Jailolo!!!”
Penonton kembali bersorak sorai setelah gadis Pagaruyung itu berhasil mengalahkan teman se-almamaternya itu. Pedang es yang ia pegang pun menghilang, begitu pula dengan anak-anak panah di belakang mereka. Pertarungan telah usai. Dengan tatapan polosnya, Alita mengetahui bahwa dirinya telah menang dan melaju ke babak semi final.
“Aku menang lagi?” gumamnya dengan suara lembut.
Tanpa diduga, Nikita langsung melompat ke arahnya dan memeluknya dengan erat. Hal itu sontak membuat gadis kikuk itu terkejut. Wajahnya memerah tersipu malu karena peristiwa itu dilihat oleh banyak orang.
“EEEHHHH?”
Walaupun begitu, Nikita seakan tak mempedulikannya dan terus memeluk Alita dengan erat. Gadis itu nampak kagum dan memuji kemampuannya.
“Whoa…. Kau hebat sekali, Alita. Aku salut padamu. Semoga kau bisa jadi pemenang dalam turnamen ini ya, hehe…” ujar Nikita sambil memeluknya.
Momen wholesome kembali terjadi dalam turnamen adu sihir tersebut. Seorang peserta yang kalah atas lawannya menyatakan dukungannya sambil memeluk dengan hangat. Sang Kaisar Nusantara, Hilal Hasanuddin dari Mangkasara yang menyaksikan pertandingan itu dari singgasana kebesarannya itu juga terlihat kagum dan mengapresiasi momen tersebut.
“Nah, hal seperti inilah yang saya suka,” ucapnya sambil bertepuk tangan.
Pertandingan kali ini benar-benar sportif. Tidak ada kecurangan maupun emosional berlebih dari kedua pesertanya. Baik Nikita maupun Alita, keduanya saling bertarung sekuat tenaga, namun tanpa rasa amarah berlebih satu sama lainnya. Inilah yang membuat semua penonton yang menyaksikan laga tersebut merasa kagum, walaupun adu sihir mereka sangat epik.
Sebagai informasi, dalam pertandingan 8 besar kali ini, urutan para peserta yang akan bertarung diacak. Pertandingan pertama mempertemukan Nikita Innes dan Alita Chaniago, dan gadis asal Pagaruyung itulah yang menjadi pemenangnya. Adapun pertandingan kedua, ketiga, dan keempat akan mempertemukan Dwi Septianto melawan Tubagus Sila, Anna Sahilatua melawan Rebecca Batubara, serta Budi Hirata melawan Ruri Yana. Cara yang sama juga akan diterapkan pada pertandingan semi final nanti.
Pasca pertandingan itu, Dwi menatap lapangan sambil memegangi dagunya. Ia terlihat tengah memikirkan sesuatu.
“Hei, kau kenapa, Dwi?” tanya Anna.
“Hmm… Kalau aku menang melawan Tubagus, di semi final nanti aku akan berhadapan dengan Alita, kan?” Dwi balik bertanya.
“Tentu saja. bagannya kan berkata demikian,”
“Hmm…”
Dwi kembali memegang dagunya sambil berpikir. Hal itu membuat Anna curiga padanya.
“Kenapa? Kau tidak mau bertarung lawan Alita, hanya karena dia bisa pakai sihir es?” tanya Anna.
“Oh, tidak. Aku tidak berpikir demikian. Aku akan mencoba sekuat tenaga agar bisa menang di turnamen ini. Hanya saja…”
“Hanya apa?”
“…aku tidak tahu,”
Lelaki itu benar-benar bingung bagaimana menjelaskannya. Namun jika dilihat dari raut wajahnya, ia seperti orang yang bimbang. Tak seperti saat pertama kali bertarung, ia terlihat tak terlalu bersemangat kali ini. Entah apa yang dipikirkan olehnya.
“Ah, kau ini”
…
Pertandingan kedua pun akan segera dimulai. Kedua peserta, Dwi Septianto dari Akademi Sihir Nasional Jailolo dan Tubagus Sila dari Akademi Sihir Wilayah Pakuwon sudah saling berhadapan satu sama lainnya di arena. Sang wasit di pinggir lapangan tengah berbincang dengan beberapa staf lain sambil mempersiapkan pertarungan itu.
Tubagus terlihat segar bugar dan bersemangat, namun berbeda dengan lawannya Dwi. Ia nampak tidak bersemangat dan lesu. Raut wajahnya tak menunjukkan rasa ingin memenangkan pertandingan itu. Melihat hal tersebut, lelaki Pakuwon itu bertanya padanya.
“Hei, kau tidak apa-apa?”
__ADS_1
“Eh, tidak kok. Aku baik-baik saja. Ayo kita bertarung sekuat tenaga,” kata Dwi sambil memasang kuda-kuda.
“Ah, syukurlah kalau begitu,” Tubagus membalasnya dengan senyuman sambil memasang kuda-kuda bertarung juga.
Sang wasit di pinggir lapangan mengangkat tangannya, memberikan aba-aba untuk memulai pertandingan tersebut.
“Baikah, bersedia,”
“Siap”
“Mulai!!!”
WUSHH… Dengan sigap Tubagus langsung menarik kaki kanannya ke belakang dan merapalkan sebuah mantra, berniat untuk melancarkan serangan jarak jauh pada Dwi.
“Mantra Cipta, Bhumi, Mini Lembing”
Tubagus melemparkan beberapa tombak tanah kecil ke arah Dwi. Dengan santainya lelaki itu menghindarinya dengan mudah tanpa ekspresi. Sebetulnya itu adalah serangan pertama yang bahkan mungkin terlalu mudah untuk dipatahkan, namun ekspresi yang ditunjukkan oleh Dwi seakan ia tengah memikirkan sesuatu sehingga tak terlalu fokus bertarung.
Walaupun begitu, lelaki Jawa itu tak serta merta membiarkan lawannya menang dengan mudah begitu saja. Kini ia merapalkan sebuah mantra dan bersiap menyerang balik.
“Mantra Cipta, Asta, Levitasia”
WUSHH… Ia langsung melesat dengan cepat ke arah Tubagus. Kecepatannya yang tak biasa itu ia peroleh dengan bantuan sihir kegelapan di telapak kakinya. Tak lupa pula ia merapalkan mantra lain untuk menyerangnya secara langsung.
“Gerudi Samsaq Kalaq”
Ia mengepalkan kedua tangannya dan melapisinya dengan sihir kegelapan berwujud bor. Itu adalah gabungan antara sihir ‘sarung tinju’ Samsaq Kalaq dengan sihir ‘bor’ Gerudi. Sebuah pukulan ia daratkan ke wajah Tubagus walaupun dengan mudahnya lelaki itu berhasil menghindarinya, bahkan menghindari sayatan dari bor kegelapan itu.
“Taktik yang bagus. Dengan cara itu ia bisa kebal dari serangan sihir penyegel,” puji Licia yang menyaksikan pertandingan itu.
“Apa maksudmu?” tanya Anna di sampingnya.
“Oh begitu…”
“Yah, dengan cara ini kemungkinan besar ia bisa menang dengan mudah,” lanjut Licia.
Namun berbeda dengan gadis itu, Aldy merasa ada yang tidak beres dari pertarungan tersebut, khususnya dari serangan-serangan yang dilancarkan oleh Dwi.
“Tapi, aku merasa ada sesuatu yang tidak beres pada Dwi kali ini,”
“Eh, maksud kakak?” Anna menoleh padanya.
“Mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi kali ini aku melihat Dwi tak terlalu bersemangat dalam bertarung,”
“Eh?”
Mereka kembali menyaksikan pertandingan itu lagi. Memang ada sebuah perubahan dalam gaya bertarung Dwi dibandingkan sebelumnya. Saat pertandingan pertamanya melawan Henrick, ia benar-benar mengeluarkan berbagai macam sihir mengerikan untuk mengalahkan lawannya, seperti ular kegelapan raksasa, napas naga, hingga burung api. Namun kali ini ia malah menggunakan ‘serangan fisik berkedok sihir’ seperti apa yang dilakukan oleh Anna dalam pertandingan sebelumnya.
“Apa mungkin dia tengah menghemat mana?”
“Tapi bukannya penguasaan sihirnya jauh lebih sempurna dibandingkan denganku? Bukannya dia bisa menggunakan sihir jauh lebih efektif daripada aku?”
Anna dibuat bingung dengan taktik apa yang dilakukan oleh partnernya itu. Tak ada yang tahu pasti apa yang dipikirkan oleh lelaki itu untuk mengalahkan lawannya. Atau mungkin benar yang dikatakan oleh Aldy,
bahwa ia sudah tak bersemangat lagi dalam memenangkan turnamen ini.
“Ah… Buat apa berpikir hal-hal yang tidak berguna seperti itu,”
Anna menepuk-nepuk pipinya. Gadis berambut pirang itu berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa Dwi akan memenangkan pertandingan ini. Ia pun lantas berdiri dan berteriak padanya.
__ADS_1
“AYO DWI, KELUARKAN NAPAS NAGA APIMU ITU LAGI!!!”
Seakan tak mendengarkan apa kata partnernya itu, Dwi terus saja menggunakan taktik itu untuk melawannya. Ia tak beralih menggunakan cara lainnya, termasuk dengan sihir mematikan yang ia gunakan saat melawan Henrick sebelumnya.
“Apa yang dia pikirkan?”
Tak terasa pertandingan sudah berjalan lebih dari 5 menit, namun tak ada serangan berarti yang berhasil mengenai lelaki Pakuwon itu. Pertarungan berjalan dengan membosankan, tidak seperti pertarungan-pertarungan sebelumnya yang penuh dengan teknik-teknik unik dan mematikan.
Hingga saatnya bor kegelapan Dwi akan menghantam tepat ke kepala Tubagus. Namun serangan itu terlalu lemah. Lelaki Pakuwon itu dengan mudahnya menangkis serangan itu dengan sihir tanah miliknya.
“Parisha Bhumi”
BRUKK… perisai tanah itu tepat menghantap dagu Dwi dan membuatnya terpental ke atas. Ia sempat berguling-guling beberapa kali sebelum akhirnya benar-benar mendarat ke tanah.
Tubagus menyadari bahwa serangan itu merupakan sihir yang cukup lemah. Pikirnya, tak mungkin seorang Dwi Septianto yang mampu menggunakan sihir ular raksasa kegelapan hingga napas naga api bisa tumbang hanya dengan serangan seperti itu. Namun perkiraannya itu ternyata salah. Tak diduga oleh siapapun yang ada di sana, Dwi langsung mengangkat tangannya dan langsung menyudahi pertarungan.
“Baiklah, Tubagus. Kau menang,”
“Apa?”
“Eh?”
Seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar, Tubagus pun mengampiri lelaki itu dan berkata dengan suara yang lebih keras.
“Apa maksudmu?”
“Kau tidak dengar kan? Kau menang. Aku menyerah,”
Tubagus hanya bisa terdiam mendengarnya. Sang wasit di pinggir arena pun juga sempat kebingungan, apa alasan lelaki itu lebih memilih mundur dari pertarungan itu, padahal seharusnya dirinya masih sanggup untuk melanjutkan pertarungan. Tapi apa daya, ia telah mengangkat tangannya tanda menyerah. Wasit pun harus menghormati keputusannya itu.
“Baiklah. Pemenang pertandingan ini adalah Tubagus Sila dari Akademi Sihir Wilayah Pakuwon!!!”
Berbeda dengan pertandingan-pertandingan sebelumnya, kali ini nyaris tak ada reaksi kagum dan takjub dari orang-orang yang menyaksikan pertandingan itu. Semuanya heran, bingung dengan keputusan yang dipilih oleh Dwi. Sebagian dari mereka bahkan menyorakinya sebagai tanda kecewa atas pertandingan itu.
“Huu… Payah. Baru segitu saja sudah menyerah,”
“Pertandingan ini terlalu membosankan,”
Tubagus Sila, lawannya dalam pertandingan itu juga menunjukkan ekspresi kekecewaannya atas pertandingan itu.
“Itu tadi bukan pertarungan,” ujarnya sambil menghampiri Dwi.
“Apa maksudmu?”
“Tadi itu bukanlah Dwi Septianto yang kulihat seperti di awal turnamen. Kenapa kau tak mengeluarkan sihir-sihir pamungkasmu itu dan membuatku kagum, malah memilih menyerah layaknya pecundang seperti ini?”
“…”
Dwi tak mau meresponnya dan hanya tertunduk lesu.
“Baiklah kalau kau tak mau menjawabnya,”
Tubagus memalingkan wajahnya dengan ekspresi kecewa dan meninggalkan lelaki itu di tengah lapang sendirian.
Dwi sempat duduk diam disana selama hampir semenit sebelum akhirnya berdiri dan meninggalkan tempat itu. Namun saat hendak kembali ke tribun, Anna mencegatnya. Gadis berambut pirang itu terlihat menyilangkan kedua tangannya dengan ekspresi kesal.
“Oh Anna?”
Dwi melemparkan sedikit senyuman padanya, namun hal itu tak membuat Anna berubah ekpresinya.
__ADS_1
“Dwi. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu,”