X-Loves : Dari Dunia Lain

X-Loves : Dari Dunia Lain
Chapter 42 : Rott, Hantu Hutan


__ADS_3

Sang kepala desa menerima mereka bertiga di kediamannya. Itu adalah sebuah rumah panggung berbahan kayu yang dilapisi cat berwarna merah, hitam, dan putih. Meskipun terkesan sederhana, tetapi rumah ini nampak megah dengan khas arsitektur tradisionalnya. Dirinya juga menyajikan sejumlah hidangan untuk Aldy, Anna, dan Dwi sebagai ucapan selamat datang bagi para tamunya.


“Sebelumnya kami minta maaf karena telah membuat kalian takut. Kami memang cukup berhati-hati dengan orang asing yang masuk ke wilayah kami,” ujar sang kepala desa.


“Tidak masalah, pak. Justru kami-lah yang seharusnya minta maaf karena tiba-tiba masuk ke desa ini dan mengagetkan orang-orang di sekitar,” kata Aldy.


“Kalian tidak perlu minta maaf juga. Itu kan memang kecelakaan,” kata kepala desa itu lagi.


Anna meminum teh hangat yang disajikan oleh kepala desa itu, lalu bertanya padanya.


“Eh iya, pak. Kalau boleh saya bertanya ini desa apa ya pak?”


Aldy langsung tersenyum mendengar pertanyaan dari gadis berambut pirang itu. Anna pun menatapnya dengan heran. Apakah dia sudah tahu seperti apa tempat ini sebenarnya? Sang kepala desa pun lalu kembali berujar.


“Walaupun kami beritahu mungkin kau akan kebingungan, nona muda. Desa kami ini tidak ada dalam peta,” kata kepala desa itu sambil tersenyum.


“Eh? Maksud bapak?”


Anna semakin penasaran dengan apa yang dikatakannya. Aldy yang berada di sampingnya pun akhirnya menjelaskan.


“Ini adalah Distrik Rahasia Padang 13, sebuah desa tersembunyi yang berada di tengah-tengah hutan Borneo. Desa ini tidak pernah tercatat dalam peta umum dan hanya tercantum di perpustakaan suci saja,”


“Apa?” Anna terkejut mendengarnya. Gadis itu langsung teringat sebuah legenda urban di dunianya, sebuah kota gaib yang dihuni oleh makhluk tak kasat mata bernama Padang 12. Nama desa ini hampir sama dengan nama kota pada legenda urban tersebut. namun memiliki ciri-ciri yang berbeda.


“Ah, rupanya kau tahu banyak tentang kami ya, tuan muda berambut putih,” puji kepala desa.


“Panggil saja saya Aldy, pak. Saya murid Akademi Sihir Nasional Jailolo bersama dengan mereka, Anna dan Dwi. Kami hendak terbang ke Lhokseumawe, namun Layang kami tiba-tiba diserang makhluk terbang misterius hingga jatuh di dekat desa ini,” jelas Aldy.


“Oh, begitu ya? ‘Dia’ memang selalu cari masalah terus,” ujar sang kepala desa sambil memegang dagunya.


“Dia? Maksud bapak siapa?” tanya Anna.


“Kyant” jawab kepala desa itu.


“Kyant?”


“Makhluk sihir yang sering meneror desa kami sejak


lama,”


“…”


Anna dan Dwi masih bingung dengan apa yang diucapkan oleh sang kepala desa.


“Ah… Sepertinya ini akan jadi pembahasan yang cukup panjang, ya,” ucap sang kepala desa sambil menyeruput secangkir teh.


“Kalian pastinya sudah tahu kan apa itu Rott?” tanya kepala desa itu.

__ADS_1


“Makhluk halus yang konon suka menculik anak-anak dan menjadikannya Parachi,” jawab Dwi.


“Betul sekali. Nah, sekarang bagaimana kalau Rott itu jadi sarana untuk memperoleh kekuatan sihir?” pria itu bertanya balik.


“Hmm… Rott jadi perantara sihir? Memangnya bisa, pak?” tanya Anna balik.


“Sebenarnya hal itu mustahil dilakukan. Meskipun Rott merupakan makhluk sihir, tapi dia tak bisa mentransfer mana pada pengguna sihir lainnya. Dia hanya bisa menggunakan mana untuk dirinya sendiri, seperti untuk menculik anak-anak dan mencuci otaknya. Namun, banyak juga masyarakat yang percaya seakan mereka bisa memberikan kekuatan sihir padanya layaknya Penunggu Gaib,” jelas kepala desa.


“Hmm… Begitu ya,”


Anna memegang dagunya sambil memandangi secangkir teh yang ada di bawahnya. Pantulan wajahnya terlihat dari minuman tersebut.


“Mereka yang percaya hal tersebut kebanyakan pergi ke tengah hutan untuk bertemu dengan Rott dan berusaha menjalin kontrak dengannya. Namun hal itu tetap saja mustahil dilakukan, bahkan terlalu beresiko untuk menggabungkan mana yang dimiliki manusia dengan Rott,”


Sang kepala desa kembali menyeruput tehnya sebelum melanjutkan penjelasannya.


“Tetapi sayangnya, ada salah satu warga desa kami yang melakukan hal itu, Dan dia terkena sebuah kutukan,”


“Apa? Kutukan?”


“Betul sekali, nona muda. Dia memaksakan dirinya untuk menjalin kontrak dengan Rott melalui mantra-mantra dan alat-alat khusus. Memang dia berhasil menggabungkan mana Rott dan mana yang dimilikinya, namun dampaknya, ia berubah menjadi sosok makhluk tanpa badan yang mengganggu orang-orang,” jelas kepala desa.


“Begitu ya? Hmm…”


Anna kembali menyeruput teh tersebut.


“Nah, itulah yang ingin saya katakan padamu, Aldy. Kaulah harapan bagi kami untuk mengatasi masalah ini,” cetus sang kepala desa.


“Apa? Saya?”


“Uh… Begini. Saya ingin meminta bantuanmu untuk melakukan sesuatu, dan ini terkait dengan Kyant itu. Sebentar…”


Pria itu terlihat mengambil sebuah kotak lalu membukanya. Kotak itu berisi 8 buah pisau kecil dan sebuah senjata mirip parang. Sebuah tali berwarna merah dililitkan pada benda-benda itu. Sang kepala desa pun lalu menunjukkan senjata yang nampak tidak asing bagi Anna dan Dwi tersebut.


“Ini adalah Mandau Pusaka milik saya. Aku sudah membuatnya agar bisa dipakai oleh penyihir lain. Dan benda ini akan menjadi kunci kita untuk mengatasi permasalahan di desa ini,”


Aldy memegang senjata itu dan memperhatikannya dengan seksama. Anna dan Dwi sudah menduganya, senjata itu memiliki nama dan wujud yang sama seperti yang ada di dunia mereka. Di dunia nyata sendiri, Mandau merupakan senjata tradisional yang dipakai oleh masyarakat Dayak di Kalimantan.


“Apa yang harus saya lakukan dengan senjata ini?” Tanya Aldy.


“Gunakan senjata itu untuk menangkap Kyant. Pertama-tama kami akan memasang 8 pisau kecil ini membentuk balok sebagai perisai perangkap. Lalu setelah Kyant masuk ke dalam jebakan, alirkan sihir petir ke dalam Mandau Pusaka ini dan tancapkan ke tanah. Ia akan menyegel tubuh Kyant agar tidak bisa kemana-mana lagi,” jelas sang kepala desa.


Mendengar hal itu membuat Aldy terkejut. Darimana ia tahu kalau lelaki berambut putih itu mampu menggunakan sihir petir? Itulah yang ada di benaknya.,


“Haha… Kau terkejut ya, Aldy? Saya sudah tahu sejak awal kalau kau dapat menggunakan sihir petir. Itulah sebabnya kami meminta bantuanmu, karena tidak ada penyihir yang bisa menggunakan sihir petir disini,” kata kepala desa.


“Oh, begitu ya…”

__ADS_1


“Namun sebelum itu, kita harus memancing Kyant itu dulu agar masuk ke perangkap kita. Harus ada sejumlah orang yang mau menjadi umpan agar bisa memancingnya ke dalam jebakan. Dan kalau bisa mereka adalah seorang Parachi, karena mana yang mereka miliki sangat disukai oleh para Rott,” lanjut pria itu.


Mendengar apa yang diucapkan oleh kepala desa, tatapan Aldy langsung tertuju pada Anna dan Dwi. Sontak hal itu langsung membuat lelaki Jawa itu terkejut.


“Eh, kami?”


“Ya jelaslah, Dwi. Kita kan Parachi. Jadi kita harus siap buat mancing makhluk itu keluar,” ujar Anna sambil menepuk bahu partnernya itu.


Raut wajah Dwi nampak gelisah setelah mendengarnya. Tetapi karena tak ada pilihan lain, ia pun mau tidak mau mengikuti apa yang mereka rencanakan.


“B… Baiklah,” kata Dwi sambil menundukkan wajahnya.


“Bagus. Kalau begitu baiklah. Ini rencana yang harus kita lakukan,”



“Aduh, kenapa harus kita sih yang jadi umpan?” keluh Dwi.


“Kita kan memang Parachi, Dwi. Lagipula kepala desa juga sudah berjanji akan memperbaiki Layang kita setelah penangkapan ini selesai. Ini sebagai ucapan terima kasih kita padanya juga,” jawab Anna. Berbeda dengan Dwi, gadis itu nampak lebih ceria.


“Iya juga sih, tapi…”


Mereka berdua berjalan menyusuri gelapnya hutan Borneo tersebut. Sebagai penerangan, Anna sebagai penyihir elemen putih menggunakan sihir cahayanya.


Rintik-rintik hujan kembali terasa, namun tak mengindikasikan kalau badai akan kembali terjadi. Suhu udara mulai menurun, hawa dingin begitu menusuk kulit, terlebih lagi mereka kini sudah berada di ‘habitat’ para Rott.


Dwi berkeringat dingin. Lelaki itu berjalan menyusuri hutan itu dengan setengah mata tertutup. Ia hanya fokus pada langkah kakinya dan nyaris tidak mau menengok ke berbagai arah.


“Duh, Anna. Kapan ini akan berakhir?”


Dwi berusaha memanggil partnernya itu, namun tak ada jawaban.


“Anna?”


Lelaki itu menyahutnya lebih keras. Namun lagi-lagi tak ada jawaban dari gadis itu. Hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk membuka matanya secara penuh.


“Eh, Anna? Kok hilang sih? Jangan tinggalkan aku lah…”


Begitu terkejutnya Dwi setelah mengetahui bahwa Anna hilang. Ia kini sendirian di tengah hutan yang gelap itu. Nampak ia sangat ketakutan dan ingin berlari, namun kakinya serasa mematung di tempat itu. Ia hanya bisa melihat sekeliling tanpa beranjak sedikit pun dari posisinya saat ini.


“Anna…”


Tak ada hal lain yang ia lakukan selain menengok ke kiri dan kanan sambil ketakutan, hingga perhatiannya teralihkan pada sebuah semak-semak yang bergerak dengan sendirinya, tepat di depan matanya.


“,,,”


Tak ada badai disini, namun semak-semak itu bergerak dengan sangat kuat, seolah-olah ada sesuatu yang menggerakannya dari belakang.

__ADS_1


Sambil terpapah-papah, Dwi memberanikan diri untuk menggapainya, melihat sesuatu yang menggerakan benda itu di belakangnya. Ketakutan benar-benar menyelimuti dirinya, namun tak ada pilihan lain karena dia sendirian di sana. Jantungnya berdetak dengan sangat kencang. Perlahan dirinya menggapai dedaunan itu dan mencoba melihat ada apa di belakangnya, dan ternyata…


__ADS_2