
Hembusan angin lembut nampak terasa di depan gadis itu. Rasanya seperti sebuah objek yang melesat di depannya, lalu berhenti tepat di depan wajahnya. Hal itu juga diikuti dengan hawa panas yang mulai terasa di depan wajahnya.
“Aghhh…”
Ika Si Elder Pertama itu berteriak kesakitan, seperti terkena sebuah serangan. Anna pun membuka matanya setelah mendengar teriakan monster itu, dan benar saja perkiraannya. Dua buah anak panah api menancap di kedua tangan makhluk hijau itu. Cairan hijau keluar dari kedua tangannya yang tengah mencekik leher Anna itu. Karena serangan tersebut, makhluk hijau itu pun melepaskan cengkeramannya. Alhasil Anna pun terjatuh dari ketinggian puluhan meter.
“KYAAAAA….”
Nasib baik masih memihak padanya. Sebelum menghantam tanah, seorang lelaki melompat ke arahnya dan berhasil meraihnya. Anna yang penasaran dengan siapa yang menyelamatkannya itu perlahan membuka matanya dan melihat orang tersebut. Dan ternyata ia adalah orang yang tidak asing baginya, seorang lelaki yang ingin ia selamatkan dari Ika, dan dia malah menyelamatkan gadis itu.
“Eh, Dwi?”
“Yo,”
Keduanya bertemu kembali pada saat yang tak terduga. Dwi menggapai Anna yang terjatuh dan menggendongnya dengan kedua tangannya.
“Te… terima kasih,” Ucap Anna sambil terbata-bata. Sepertinya gadis itu masih terkejut dengan apa yang terjadi padanya. Tanpa sadar dirinya pun memeluk leher Dwi. Hal tersebut membuat lelaki Jawa itu tersenyum tipis.
Mereka berdua berhasil mendarat dengan selamat. Dwi menurunkan gadis itu dari pangkuannya.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Dwi.
“Tidak buruk,” jawab Anna.
“Huff… Syukurlah,”
Dwi nampak tersenyum mendengarnya. Namun raut wajahnya yang nampak senang itu ternyata membuat Anna curiga.
“Eh, kenapa kau tersenyum begitu? Ada yang aneh denganku?” tanya Anna dengan wajah cemberut.
“Uh… Tidak. Hanya saja aku merasa seperti seorang pangeran yang baru saja menyelamatkan seorang putri yang jatuh dari langit,” jawab Dwi sambil bergurau.
“AAHHH… Dari dulu kau tak pernah berubah, Dwi!!!” ujar Anna yang nampak kesal dengan jawaban itu.
Dwi pun tertawa kecil. Momen kehangatan antara mereka berdua kembali terasa.
“Eh iya, Dwi. Ngomong-ngomong kenapa kau bisa tahu kalau aku dibawa kemari, dan itu…”
Anna melihat sebuah benda yang tergantung di pundak Dwi. Bentuknya seperti sebuah kayu panjang yang terikat dengan sebuah tali. Itu terlihat seperti sebuah senjata tradisional yang ada di dunia nyata, dan memang benar senjata itulah yang dimaksud.
“Ah, ini ya? Ini busur panah. Aku menemukannya saat mencoba mengejarmu tadi. Kebetulan benda ini tergeletak saja di tanah tak bertuan,” kata Dwi.
“Jadi kau mencurinya ya?”
“Tidak juga. Aku sudah mencari siapa pemilik benda ini sebelumnya, namun karena tak ada yang mengaku, yasudah aku bawa saja,”
“Hmm…” Anna masih curiga dengan gelagatnya itu.
“Oh, iya. Ngomong-ngomong busur panah di dunia ini sangat unik. Kau tidak perlu pakai anak panah untuk menggunakannya, cukup tinggal tarik talinya dan rapalkan mantra sihir saja seperti ini,”
Dwi menarik tali busur itu dan mengarahkannya pada Ika yang tengah terbang itu. Terlihat ia sangat kesal karena terkena anak panah api yang ditembakkan Dwi tadi.
“Mantra Cipta, Bara…”
Tanpa merapalkan nama sihirnya, dua buah anak panah api muncul secara ajaib. Dwi pun menembakkannya pada Ika dengan tatapan dingin. Namun karena serangan itu cukup lemah, terlebih lagi arah serangannya terlihat di depan mata, tentunya Ika bisa dengan mudah mematahkan anak panah api itu.
“Nah, bagaimana?” tanya Dwi.
“Oh, begitu ternyata,” jawab Anna simpel.
Keduanya nampak berbincang-bincang biasa seperti tidak terjadi sesuatu di depan mereka, ataupun tengah berhadapan dengan sosok iblis mengerikan di depan mata. Hal itu membuat Ika Sang Elder Pertama itu semakin murka.
“KURANG AJAR!!! KALIAN MEREMEHKAN KEKUATANKU HAH? AKAN KUBUAT KALIAN BERDUA MERASAKAN AKIBATNYA!!!”
Hembusan angin yang cukup kencang begitu terasa dari teriakannya. Hal itu membuat Anna menjadi merinding, terlebih raut wajah makhluk hijau itu yang berubah makin seram.
“Ihh… Mengerikan,”
Namun berbeda dengan Dwi. Lelaki itu hanya menatapnya dengan tatapan dingin.
“DENGAN KUASA TAK TERTANDINGI DARI AZAZEL YANG AGUNG, AKU AKAN MEMUSNAHKAN KALIAN BERDUA MENJADI DEBU!!!”
Ika memanggil puluhan bola sihir berbagai elemen yang siap menyerang mereka berdua. Kekuatan sihirnya itu cukup dahsyat hingga menghasilkan hembusan angin kuat dan petir layaknya badai di sekitarnya. Tetapi hal itu tak membuat Dwi gentar. Dengan ekspresi dinginnya ia mengarahkan tangannya ke depan dan bersiap menahan serangan itu.
“Tapi sejujurnya aku lebih suka menggunakan sihir dengan tangan kosong daripada pakai senjata,” kata Dwi dengan santainya.
Gelombang sihir kegelapan tipis mulai keluar dari tangan lelaki itu. Sepertinya ia akan menggunakan sihir Asta untuk menahan serangan Ika.
“RASAKAN INI!!!”
Dengan amarah yang membara, Ika pun melancarkan serangan bola-bola sihirnya ke arah mereka berdua. Dwi pun meresponnya dengan merapalkan mantra perisai.
“Ultima Parisha Asta”
WUSHH… Sihir perisai kegelapan super kuat pun muncul dan melindungi mereka berdua dari serangan dahsyat tersebut. Terlihat beberapa reruntuhan bangunan di samping mereka hancur lebur menjadi abu karena serangan itu, namun sihir perisai milik Dwi berhasil melindungi mereka sampai tak bergeser satu jengkal pun dari posisinya.
“Keren,”
__ADS_1
Anna yang melihat sihir itu nampak terkesima. Terakhir kali ia melihat Dwi menggunakan sihir perisai kegelapannya itu saat melawan Henrick pada turnamen tadi siang, namun itu versi ‘mini’-nya, dan itu sangat kuat sekali. Jadi baginya tak mengherankan kalau versi ‘ultima’-nya kali ini bisa jauh lebih kuat.
Serangan bola-bola sihir pun berhenti. Kini saatnya Dwi melancarkan serangan balik. Ia pun mengayunkan tangannya dan merapalkan mantra.
“Mantra Cipta, Asta, Ular Welang”
Dwi menciptakan puluhan ular kegelapan bermata merah untuk menyerbu Ika dari berbagai penjuru. Cara yang sama seperti yang ia lakukan saat melawan Henrick. Ular-ular kegelapan raksasa itu berusaha untuk mencabik-cabik Ika, walaupun dengan cukup mudah ia bisa menghindari serangan itu sambil terbang.
“Keren. Jadi inilah teknik sihir yang dipakai Dwi untuk melawan Henrick saat turnamen tadi,” ucap Anna dalam hati.
“Jangan hanya berdiri disana. Bantu aku untuk menjatuhkan makhluk itu,” ujar Dwi pada Anna.
“Ah iya,”
Mendengar hal itu, Anna pun memasang kuda-kuda seperti tengah memegang sebuah senjata di sisi kanannya, lalu merapalkan sebuah mantra.
“Mantra Cipta, Bayu, Janawiya”
Anna menciptakan sebuah pedang angin dengan kedua tangannya. Dirinya bersiap untuk menyerang posisi Ika yang tengah terbang di angkasa sambil menghindari ular-ular kegelapan milik Dwi tersebut.
“Eh, Dwi. Bagaimana kalau kau menyerangnya dari jarak jauh sementara aku dari jarak dekat?” tanya Anna.
“Terserah apa katamu. Yang jelas kita harus segera patahkan sayapnya dan musnahkan makhluk itu dari dunia ini,” jawab Dwi.
“Ah… Baiklah,”
Anna menarik napas, lalu melompat dengan bantuan sihir angin, melesat ke arah makhluk itu dari balik bayang-bayang ular kegelapan.
Sementara itu, Ika berhasil mengalahkan beberapa ekor ular kegelapan yang diciptakan oleh Dwi. Namun saat menyerang salah satu ular di depannya, Anna muncul tiba-tiba dari belakang ular itu dan berusaha menebas Ika dengan pedang anginnya.
“HIYAAA!!!!:
“AGGHHH,,,,,”
Karena kecerobohannya membuat tangan kanan Ika terluka cukup dalam akibat terkena tebasan pedang angin itu. Cairan hijau nampak keluar cukup deras dari tangan kanannya. Ia meringis kesakitan. Walaupun begitu, serangan itu masih belum cukup untuk menebas tangannya secara keseluruhan.
“DASAR WANITA ******!!!”
Ika mengeluarkan sebuah tombak api dengan tangan kirinya dan berusaha menyerang balik Anna, namun seekor ular kegelapan berhasil melahap makhluk hijau itu dan menyelamatkan Anna. Gadis itu pun melompat mundur dan bertumpu pada tubuh ular kegelapan lainnya.
Ika berhasil melepaskan diri dari tubuh ular kegelapan itu. Dengan bantuan sayapnya, ia terbang melesat ke arah Dwi setelah melihat lelaki itu berhasil menggagalkan serangannya pada Anna.
“KURANG AJAR!!!”
“Dwi…”
Melihat hal itu, Anna langsung melesat untuk melindungi partnernya tersebut. Gadis itu lalu menghunuskan pedang anginnya pada pundak makhluk hijau itu. Gerakannya melambat, dan kesempatan itu digunakan Dwi untuk menjauhkannya dari mereka, dengan menerbangkannya kembali ke langit melalui dua ekor ular kegelapan ciptaannya.
“Dia pasti punya kelemahan. Aku yakin itu,” kata Dwi.
“Kelemahan?”
Dwi berpikir sejenak sebelum kembali berucap.
“Kalau kita lihat dari pola serangannya tadi, dia cenderung menyerang dengan emosi dan mengabaikan hal lain di sekitarnya. Itulah sebabnya kenapa dia bisa terkena seranganmu itu,” jelas Dwi.
“Tunggu, bukannya itu kecerobohannya karena terlalu fokus pada orang lain?” tanya Anna.
“Nah justru itulah kelemahannya,”
Anna berpikir sejenak setelah mendengar penjelasan Dwi. Dan ternyata apa yang ia katakan itu adalah kuncinya, kunci untuk mengalahkan Elder Pertama itu.
“Ah benar juga. Kenapa aku tidak menyadarinya sejak awal? Hadeh Anna… Anna,” ujarnya sambil sedikit menepuk pipinya.
“Nah, jadi sekarang kau sudah tahu apa yang harus kita lakukan?” tanya Dwi kembali.
“Sepertinya begitu. Aku belum tahu apakah ini akan berhasil, tapi aku yakin itu. Mohon bantuannya, Dwi,”
Dwi tersenyum tipis. Tepat saat Ika berhenti berputar di udara, Anna kembali melesat ke atas dan Dwi mengendalikan ular kegelapannya lagi.
Pertarungan pun kembali berlanjut, namun dengan pola dan irama yang berbeda namun epik. Ular-ular kegelapan itu meliuk kesana kemari dan berusaha untuk melahap Ika. Hampir seluruh wilayah di atas kepala Dwi itu tertutupi oleh badan ular kegelapan itu. Sementara itu, Ika terbang menghindari dan sesekali melancarkan cakaran pada ular kegelapan itu. Karena jumlahnya yang sangat banyak membuat makhluk hijau itu cukup kewalahan.
“Hah… Dasar manusia tak berguna. Kalian meremehkan kemampuan sesosok Elder kah? Akan kubuat kalian menyesal,” ujar Ika.
Tepat saat dirinya melayang dengan kepakan sayapnya itu, ia melihat posisi Dwi tepat berada di bawahnya, tak terlindungi oleh apapun. Lelaki itu menatap Ika dengan tatapan tajam.
“Hah, disitu kau rupanya. KALI INI AKU TAKKAN MENGAMPUNIMU!!!”
Setelah melihat posisi musuhnya yang tak terlindungi apapun itu, Ika langsung melesat ke arah Dwi dan berniat menghabisinya. Namun ternyata itu adalah sebuah taktik yang memanfaatkan kecerobohannya. Dwi tersenyum melihat makhluk hijau itu melesat padanya, dan tepat sekitar puluhan meter dari posisinya, Anna muncul dari balik tubuh salah satu ular kegelapan di sampingnya.
“HIYAAA!!!”
SWINGG…. Anna menghunuskan pedang anginnya pada punggung monster itu dan tepat mengenai kedua sayapnya hingga putus.
“Arghh…”
Ika pun jatuh dan berputar-putar di angkasa. Ia tak mampu terbang lagi sekarang. Tapi ternyata dia masih bisa menjaga keseimbangan dirinya dan berniat melancarkan serangan balik.
__ADS_1
“KURANG AJAR!!!”
Ika melebarkan kedua tangannya untuk memanggil beberapa bola sihir seperti sebelumnya. Namun sebelum ia berhasil melakukannya, dua ekor ular kegelapan dengan ukuran yang lebih kecil menerkam kedua tangannya itu hingga putus.
“AARRGGGG…”
Monster itu meringis kesakitan. Bukan hanya kehilangan sayapnya, kini ia juga kehilangan kedua tangannya. Ini adalah kesempatan emas bagi mereka untuk menyelesaikan pertarungan ini.
“SEKARANG ANNA!!!”
Gadis berambut pirang itu mengambil ancang-ancang, lalu melesat ke arah Ika yang tengah terjatuh itu. Dengan bantuan sihir angin, dirinya bergerak secara zigzag, melompat pada badan setiap ular dengan sangat cepat hingga dirinya berada tepat di atas posisi tubuh Ika.
“HIYAAAA!!!!”
SWINGG… Gadis itu berputar di udara, lalu menghunuskan pedang anginnya tepat di leher Sang Elder Pertama itu. Dirinya berhasil membuat kepala makhluk itu terpisah dari badannya. Tak berselang lama, dua ekor ular kegelapan raksasa langsung melahap dua bagian terpisah dari tubuhnya itu dan meliuk-liuk ke udara.
“Lenyaplah menjadi debu,”
Dwi mengepalkan tangannya. Kedua ular itu lalu berputar-putar di udara dan saling menyatu sebelum akhirnya meledak menghasilkan debu berwarna hitam di langit. Ika Sang Elder Pertama berhasil dikalahkan.
Anna mendarat ke tanah dengan sempurna. Pedang angin yang ia genggam menguap ke udara. Gadis itu pun menghampiri Dwi dengan napas ngos-ngosan.
“Huff… Satu Elder telah kita kalahkan. Tinggal tiga Elder lagi sebelum Azazel Si Raja Iblis muncul kan?” tanya Anna.
Dwi hanya mengangguk sambil menengok ke langit tempat dirinya meledakkan makhluk itu.
…
Keduanya pergi ke pantai untuk kembali ke Jailolo. Kebetulan sekali kakak kelas mereka Aldy Heraldy sudah menunggunya bersama Layang miliknya.
“Eh, Kak Aldy juga kesini”
“Yo. Bagaimana sensasi pertarungan melawan Eldernya? Cukup menegangkan bukan,” jawab Aldy sambil melambaikan tangannya.
Melihat hal itu membuat Anna kesal padanya, apalagi setelah apa yang terjadi padanya.
“Menegangkan katamu? Kenapa kau tak mau menolongku tadi hah? Aku hampir mati tahu,”
“Eh iya maaf Anna. Tadinya aku mau ikut menolongmu, tapi kata Dwi aku disuruh untuk menunggu disini saja takut Eldernya keluar, hehe…”
“Eh… Dwiiii…”
Anna menoleh ke arah partnernya itu dengan nada kesal, namun lelaki itu malah memalingkan wajahnya.
“Haha… Sudahlah. Ayo naik, kita kembali ke Jailolo. Ada banyak hal yang harus kita selesaikan,”
Layang pun terbang ke langit utara membawa mereka bertiga kembali ke Jailolo. Seperti biasanya, Anna duduk di samping kaca sementara Dwi duduk disampingnya. Di sepanjang perjalanan pulang, gadis itu nampak memperhatikan pemandangan kepulauan Moluccas yang indah di bawahnya. Tetapi kali ini suasananya sangat berbeda. Tak seperti sebelumnya, gadis itu nampak tak tersenyum sama sekali kali ini. Entah apa yang ada di pikirannya, namun sepertinya itu berhubungan dengan apa yang sedang terjadi di dunia ini. Yep, nasib Tierra Hyuma kini tengah di ujung tanduk. Dan mungkin karena inilah gadis berambut pirang itu tak bisa menikmati pemandangan yang indah itu.
“Eh, Anna, kau tidak apa-apa?” tanya Dwi di sampingnya.
“Tidak apa-apa kok,”
Anna menjawabnya dengan singkat, namun dirinya tak mau memalingkan wajahnya pada lelaki itu. Ia hanya duduk sambil memandangi pemandangan di luar jendela. Namun tak lama kemudian ia berkata sesuatu pada Dwi.
“Hei, Dwi,”
“Iya, Anna?”
“Tentang yang terjadi di turnamen itu, maafkan aku. Itu salahku karena berpikir kalau kau ingin lari dari tujuan kita sebenarnya,” kata Anna dengan suara pelan.
“Maksudmu?”
“Aku terlalu cepat menyimpulkan kalau kau sudah lupa dengan tujuan kita kembali ke dunia nyata. Namun sialnya malah aku yang bertindak sembrono dan malah membuat kita makin jauh dari tujuan,” jelas Anna.
“…”
“Ah, benar sekali. Wajar saja kalau aku tidak punya teman saat SMA. Aku terlalu egois sampai melupakan orang-orang di sekitarku,” lanjut Anna dengan nada dingin.
Mendengar hal itu, Dwi langsung menepuk pundak Anna. Gadis itu sontak menoleh ke arahnya.
“Eh, Dwi?”
“Kau tak perlu minta maaf, Anna. Tindakanmu itu tak bisa disalahkan juga. Kau melakukan hal itu karena kau ingin cepat kembali bukan? Bukan salahmu untuk bertindak seperti itu, yah meskipun dirimu mungkin belum mengetahui apa yang akan terjadi kedepannya,” jelas Dwi.
“…”
“Lagipula, seharusnya akulah yang minta maaf padamu. Aku terlalu mengedepankan perasaanku sampai-sampai aku melupakan teman dekatku sendiri,” lanjut Dwi sambil sedikit memalingkan pandangannya.
Anna pun tersenyum mendengarnya. Gadis itu memegang tangan Dwi, lalu menurunkannya pada tempat duduk mereka.
“Ah, kau rupanya sama denganku ya, Dwi. Baiklah kalau begitu, ayo kita sama-sama berjuang untuk kembali ke dunia kita,”
Gadis itu tersenyum manis pada Dwi sambil memegang tangan lelaki itu. Melihat hal tersebut membuat Dwi juga kembali tersenyum. Mereka pun akhirnya bisa bersatu kembali, berjuang bersama untuk kembali ke dunia nyata.
Tak berselang lama, Aldy yang tengah mengemudikan Layang itu menyahut mereka berdua.
“Baiklah, kita akan segera sampai,”
__ADS_1
Tidak terasa mereka sudah terbang cukup lama hingga akhirnya sampai di kota tempat mereka menimba ilmu, Jailolo. Waktu sudah menunjukkan sore hari dan tempat ini sedikit berkabut. Aldy menurunkan ketinggian dan bersiap untuk mendarat di dekat Akademi. Namun saat dirinya menembus kabut itu, sesuatu hal terjadi. Ia melihat sesuatu yang ganjil tengah terjadi di depan gerbang Akademi Sihir Nasional Jailolo.
“Apa? Apa yang mereka lakukan?”