X-Loves : Dari Dunia Lain

X-Loves : Dari Dunia Lain
Chapter 44 : Kampung Halaman


__ADS_3

“Apa? Azazel dan keempat Eldernya sudah muncul?”


“Benar sekali, pak. Elder pertama, Ika, muncul di Bacan Utara dan sudah kami kalahkan. Dan sekarang kami hendak pergi ke Lhokseumawe untuk mengalahkan Elder kedua, Zui,” kata Dwi.


“Huff… Sepertinya ini gawat sekali. Kenapa Penjaga Perpustakaan Suci Meratus tidak bilang apa-apa, ya? Apa jangan-jangan dia lupa?”


“Apa? Bapak kenal Penjaga Perpustakaan Suci?”


Anna dan Dwi terkejut mendengarnya, lain halnya dengan Aldy yang sudah mengetahui apa maksudnya.


“Kepala desa rahasia ini memang sudah tahu tentang itu, kan desa ini dilindungi oleh Penjaga Perpustakaan Suci juga,” kata Aldy.


“Oh, begitu…”


Sebagai informasi, Penjaga Perpustakaan Suci memiliki hak untuk menunjuk satu orang agar memiliki kewenangan yang sama seperti dirinya, mengakses perpustakaan suci. Biasanya hal ini dilakukan pada seseorang yang memiliki kekerabatan dekat dengannya, seperti yang dilakukan oleh Mutiara kepada Aldy Heraldy, walaupun ada beberapa persyaratan khususnya.


Namun sepertinya dalam kasus ini, Penjaga Perpustakaan Suci Meratus menunjuk orang lain agar memiliki kewenangan yang sama. Tak terlalu mengherankan sebenarnya kalau hal itu bisa terjadi, ini adalah desa rahasia yang tersembunyi di tengah hutan Borneo. Keberadaannya tak tersentuh oleh peta manapun di Tierra Hyuma ini, hanya ada di perpustakaan suci saja. Mungkin ada sebuah kontrak perjanjian antara Penjaga Perpustakaan Suci Meratus dengan Kepala Desa agar bisa saling terhubung satu sama lainnya.


Solaris masih belum terbit di ufuk timur, tetapi mereka bertiga sudah bangun untuk mempersiapkan keberangkatan mereka ke Lhokseumawe.


“Hmm… Kalau Azazel sudah muncul, itu artinya dunia ini benar-benar dalam bahaya serius,” ucap kepala desa sambil menyeruput kopinya.


“Benar sekali, pak. Tapi kami tidak akan menyerah begitu saja. Sudah menjadi keharusan bagi kami untuk menyelamatkan planet ini,” tegas Anna.


Kepala desa pun tersenyum mendengarnya, kagum dengan semangat gadis berambut pirang tersebut.


“Ah, kau memang sangat bersemangat, nona muda. Mungkin inilah yang dituliskan dalam catatan kuno Tidore itu, tentang orang-orang yang akan menyelamatkan planet ini dari Azazel. Dan saya percaya kalau kalian adalah orang terpilih,”


Angin subuh berhembus dengan lembut di belakang mereka. Dan tak berselang lama, dua warga desa masuk ke ruangan tersebut.


“Pak Kepala Desa, Layang-nya sudah kami perbaiki,”


“Ah, sudah ya? Baiklah. Kalian cek dulu, takutnya masih ada yang rusak,” ujar kepala desa pada ketiganya.

__ADS_1


Mereka pun langsung menghampiri Layang yang sudah diperbaiki oleh para warga desa tersebut. Kendaraan itu nampak terparkir di depan rumah kepala desa.


“Wah, ini bagus sekali,” puji Aldy.


Hasilnya tidak mengecewakan. Nampak bagian sayap Layang yang robek telah tertutup kembali dan dilapisi oleh bahan yang jauh lebih kuat. Kaca-kaca yang pecah pun juga sudah diperbaiki. Cat Layangnya juga telah diperbarui agar menjadi lebih kinclong. Para warga desa itu cukup ahli dalam memperbaiki mesin itu, terlebih mereka memang memiliki peralatan yang cukup memadai. Sang kepala desa telah menepati janjinya pada mereka bertiga.


Akhirnya setelah mempersiapkan sejumlah barang kecil, mereka bertiga pun berpamitan pada kepala desa dan para warga. Tak lupa pula mereka mengucapkan terima kasih karena telah membantu mereka memperbaiki kendaraan terbang itu.


“Terima kasih karena telah membantu kami menangkap Kyant dan menghentikan masalah teror ini,” kata kepala desa.


“Hehe… Justru kami-lah yang seharusnya berterima kasih karena telah memperbaiki kendaraan kami. Sekarang kami bisa melanjutkan perjalanan ke Lhokseumawe,” ujar Anna.


“Ngomong-ngomong, maafkan saya karena tidak mampu memberikan bantuan lebih dari ini. Saya hanya bisa berdoa dan berharap, semoga kalian bisa memenangkan pertarungan,” lanjut kepala desa.


“Terima kasih atas doanya. Kami berjanji akan mengalahkannya dalam pertarungan dan menyelamatkan planet ini,” balas Dwi.


Mesin Layang menyala. Sayap kendaraan itu melebar. Tak lama berselang, kendaraan sihir itu pun terbang ke angkasa, meninggalkan desa rahasia tersebut. Para warga desa melambaikan tangan, dengan harapan ketiganya dapat menyelamatkan planet ini. Kurang dari satu menit mereka terbang, keberadaan desa itu sudah hilang tak berbekas.



Hampir satu jam lebih mereka terbang ke arah barat, melewati ujung wilayah Borneo dan kini berada di tengah-tengah lautan luas. Hanya beberapa mil laut lagi mereka akan menjumpai kepulauan sebelum akhirnya masuk ke Wilayah Siak di Pulau Sumatera.


“Ah… Masih jauh ya?” keluh Anna sambil menengok ke bawah Layang. Hanya terlihat lautan berwarna biru tua saja di bawahnya yang belum disinari Solaris secara total.


“Sebentar lagi sampai kok. Nanti kita akan menemukan sesuatu yang menarik,” jawab Aldy.


Tak terasa Solaris pun sudah terbit di ufuk timur. Apabila mereka berada di daratan dekat pemukiman, mungkin sekarang sudah terdengar ayam berkokok dari segala penjuru. Anna sudah mulai jenuh, terlebih rasa kantuk yang masih menyerangnya karena ia tak bisa tidur dengan nyenyak kemarin. Namun hal itu terbayarkan setelah Aldy menunjukkan pemandangan menarik pada mereka.


“Hei, kalian pasti suka itu. Lihatlah,” seru lelaki berambut putih itu.


Mereka sudah sampai di pulau seberang, Sumatera. Lebih tepatnya mereka sudah tiba di kampung halaman Aldy Heraldy, Siak. Tepat di bawah mereka ada sebuah kota yang cukup besar dengan arsitektur khas Melayu. Terlihat pula di sebelah utara, sebuah bangunan megah berwarna kuning menghiasi pemandangan. Aldy berkata bahwa bangunan itu adalah sebuah istana, dan kebetulan istana tersebut nyaris serupa dengan Istana Siak Sri Inderapura yang ada di dunia nyata tempat Anna dan Dwi berasal.


“Keren,” puji Dwi.

__ADS_1


Tidak hanya berfokus pada arsitektur kota saja, aktivitas masyarakat di bawahnya juga menarik perhatian mereka. Nampak orang-orang tengah berlalu-lalang di jalan-jalan kota, ada yang berolahraga, berdagang, hingga berlatih sihir. Beberapa perahu layar berwarna kuning juga terlihat berlabuh di dermaga. Banyak pula Layang yang terlihat berterbangan kesana kemari menuju tujuannya. Kota ini benar-benar sangat hidup.


“Ahh… Ramai sekali. Aku yakin kau senang memiliki kampung halaman yang sangat indah seperti ini, Kak Aldy,” gumam Anna, namun ketua kelas Da tersebut tak berpikir demikian.


“Tidak juga,”


“Apa? Padahal tempat ini sangat ramai dan indah loh. Kenapa kau bisa tidak betah disini?” Anna terkejut mendengarnya.


“Aku tidak tinggal di kota, tapi di pedalaman hutan yang cukup jauh dari sini,”


“Apa? Hutan?”


Aldy membelokkan kemudinya ke arah utara, lalu melanjutkan perkataannya lagi.


“Aku dan Tia tinggal di sebuah rumah kecil di tengah hutan. Kami hidup sebatang kara tanpa adanya orang tua yang menemani kami. Sebagai seorang kakak, tentunya aku harus berjuang lebih keras untuk menghidupi keluarga kecil kami,”


“Kak Aldy…”


“Aku terpaksa bekerja sebagai pencari kayu dan menjualnya ke desa terdekat. Tak ada cara lain selain itu untuk bertahan hidup. Karena kondisi kami yang seperti ini, awalnya aku sudah hampir menyerah untuk mencari ilmu. Namun Tia, adikku itu terus menyemangatiku. Ia benar-benar sangat bersemangat untuk belajar. Dan akhirnya, kami pun memutuskan untuk pindah ke wilayah timur Nusantara,” lanjut lelaki itu.


“Hmm… Jadi keputusanmu untuk pindah ke Jailolo itu adalah…” Dwi hendak berucap, namun Aldy memotongnya.


“Iya. Untuk belajar, mencari ilmu, dan ikut menyemangati gadis itu,”


Mereka berdua pun terdiam mendengar kisahnya. Ternyata seorang Aldy Heraldy, siswa senior Akademi Sihir Nasional Jailolo itu punya latar belakang yang kurang beruntung. Namun dirinya berhasil membuktikan bahwa dirinya mampu untuk bangkit hingga sebesar ini. Anna kagum pada perjuangannya.


“Kak Aldy, kau benar-benar hebat. Dengan perjuanganmu yang berat seperti ini, kau telah berhasil membuktikan kemampuanmu pada semua orang. Keren sekali. Mutiara pasti bangga punya kakak sepertimu,” puji Anna.


Aldy tak bisa berkata banyak mendengarnya. Dirinya hanya bisa tersenyum tipis sambil mengingat masa lalunya itu. Pujian kecil yang diucapkan oleh Anna menghangatkan hatinya, mengubahnya menjadi sebuah kebanggaan.


“Terima kasih,”


Wilayah Siak pun sudah mereka lewati, dan kini ketiganya memasuki Wilayah Deli. Hanya satu wilayah lagi sebelum mereka sampai di Lhokseumawe, Wilayah Pasai, dan bertemu dengan Elder Kedua.

__ADS_1


__ADS_2