You Naughty Girl

You Naughty Girl
11


__ADS_3

Kris terlihat sedang menikmati gadis di bawahnya yang sudah bertelanjang sedangkan dirinya masih berpakaian lengkap. Bibirnya asik mengecupi leher yang terlihat jenjang dengan ruam merah di sekitar leher itu.


Namun saat ia ingin membuka bajunya, suara deringan ponsel membuatnya mendecih, "hmm", ucap Kris saat ia sudah tersambung pada seseorang di seberang telepon.


" WHAT THE F*CK", teriak Kris dengan suara menggelegar membuat gadis yang ia nikmati tersentak kaget, "oke aku akan ke sana".


Kris bergegas pergi namun sebuah tangan menahannya, "kau mau kemana?", tanya wanita itu pelan dengan pandangan yang berkabut nafsu.


"Aku ada urusan". Kris mengecup bibir wanita itu dan berlalu dengan cepat.


***


" dadd, what happen?", Kris berjalan cepat ke arah ayahnya yang menatap bangunan besar di hadapannya yang hancur tanpa sisa.


Jemari keriput menunjuk ke arah bangunan yang terbakar, "apa saja yang kau lakukan anak bodoh? Hingga usaha yang ku bangun hangus tak tersisa?", geram ayah Kris.


"I don't know dadd, bahkan aku benar benar terkejut saat mendengar kabar dari Bastian", ucap Kris menatap Bastian yang mengangguk.


"Siapa yang berani melakukan ini? Apa Vi?", ucap Mr. Crown pada Kris yang sekarang menatapnya dengan menggeleng.


" itu tidak mungkin dadd, Vi sedang menghadiri pernikahan temannya di Italia lagi pula saat ini dia sedang sibuk dengan perusahaan minyaknya", Kris mencoba mengkode Bastian agar memberi penjelasan pada ayahnya.


Bastian yang mengerti segera mendekat pada Tuan Crown, "benar apa yang Kris bilang tuan, saat ini Vi sedang tak berurusan dengan dunia mafia, dia sedang menyibukkan diri dengan usaha yang ia kembangkan lagi pula dia meliburkan seluruh pasukannya agar tak menyentuh musuh musuhnya".


Tuan Crown mengangguk pelan, ia mendudukkan tubuhnya pada kursi di belakangnya, " siapa dalang di balik ini semua? Aku harus menemukan orang itu ", ucap tuan Crown dengan memijat pelipisnya.


******


Shera terbangun dari tidurnya, matanya menatap jam weker yang menunjukkan jam delapan malam, dua jam dia tertidur di dalam kamar ini setelah perjalanan dari L.A ke Italia.


Tak menemukan sosok Vi dalam ruangan itu membuat Shera agak sedikit lega, setidaknya tak ada ejekkan yang ia terima dari mulut Vi. Namun matanya menatap sebuah kertas putih di sudut meja kecil di samping ranjang. Tangannya terulur mengambil kertas itu dan membacanya dengan pelan.


To gadis seksi ;)


Aku pergi keluar sebentar, segera mandi


Shera terkekeh saat membacanya, ternyata Vi bisa menjadi sosok yang lembut juga. Shera bergegas bangun dan melangkah kan kakinya ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.


***


Vi  terlihat menatap lelaki di depannya dengan malas. Jika saja bukan karena bisnis itu tak mungkin ia mau bertemu, lebih baik ia menghabiskan malam bersama Shera di kamar.


" semuanya sudah beres", ucap lelaki berambut biru dan merah muda dengan menyerahkan sebuah tablet pada Vi.

__ADS_1


Seringai kemenangan tercipta jelas di bibir tipis Vi, "tak ada yang mencurigakan bukan?", tanya Vi pada lelaki yang menghisap rokok.


" tenang saja, aku sudah mengatur semuanya, lagi pula aku meliburkan anak buah mu agar mereka tak bermain main dulu dengan Crown dan fokus pada usaha mu".


Vi mengangguk paham, tak sia sia juga dia memilih lelaki ini, "thank you Brian", ucap Vi pelan.


Brian tersenyum, " you're welcome, yang terpenting jaga sepupu ku baik baik", pinta Brian pada Vi, "aku tak ingin Kris menganggunya".


" of course", Vi berdiri dan berlalu pergi meninggalkan Brian yang sekarang beranjak pergi juga.


****


"Noa benar benar bajingan kecil", bisik Shera yang menatap malas Noire yang melambai padanya tak ia pedulikan Jack yang terus menusuknya dari belakang.


Shera memutar malas kedua matanya, ia julurkan lidahnya mengejek pada Noire yang terlihat keenakkan. Sebuah tangan melingkari perut rampingnya membuat Shera menahan nafas.


" kau itu bisa menganggu mereka", bisik Vi pada Shera yang sekarang melepaskan rangkulan nya.


"Aku tidak dan satu lagi jangan seenaknya memeluk orang", Shera berjalan masuk ke dalam kamar di ikuti Vi yang berjalan di belakangnya.


Mata Vi jelalatan menatap bagaimana bokong sintal itu bergoyang, pinggang yang ramping dengan pinggul besar yang pas di rangkulan tangannya.


" kau berniat menggoda ku dengan berpakaian seperti itu? ", tanya Vi pada Shera yang sekarang menatapnya.


Vi terkekeh, " aku tidak akan berpikir kotor lagi jika kau bersedia membaringkan tubuh seksi mu pada ranjang itu dan mendesah hebat menyebut nama ku", goda Vi membuat wajah gadis di depannya memerah.


Dengan cepat Shera mengambil bantal dan melemparnya pada Vi, "dasar lelaki mesum, otak mu hanya tentang ranjang dan s*x", Shera mencoba mengambil bantal lagi namun tak ia temukan, sebisa mungkin ia mencari benda yang bisa ia lemparkan dengan suka rela pada wajah Vi.


Belum sempat ia mengambilnya, Vi terlebih dulu memeluk tubuh Shera membuat gadis itu meronta mencoba untuk melepaskannya.


" diamlah", ucap Vi dengan dingin berhasil membuat Shera terdiam dan tak lagi berontak.


Vi menatap wajah ayu itu dengan memuja, gadis ini sangat menarik hanya dengan tatapannya saja. Jemari berurat itu mengelus pipi putih Shera yang memerah, terasa lembut dan kenyal dan satu tangannya ia gunakan untuk mengelus pingang gadisnya.


Dengan jarak sedekat ini Vi bahkan bisa mencium bibir merah Shera yang terlihat menggoda di pandangannya. Sedikit saja ia memajukan wajahnya maka tak dapat di elakkan jika kedua bibir mereka bertemu.


"Uhmm Vi", bisik Shera tak nyaman saat Vi menatapnya intens. Matanya melotot saat Vi menempel kan bibir mereka, ********** dengan pelan dan hati hati. Hisapan Vi pada bibir Shera membuat gadis itu melenguh apalagi saat dengan nakalnya Vi menghisap lidahnya pelan.


''Ughh~~", Shera mencengkram lengan Vi, kakinya terasa lemas seperti jelly saat Vi dengan pelan menuntut ciuman di bibirnya semakin dalam.


Jemari panjang itu menurunkan resleting gaun tidur Shera hingga menampakkan punggung mulus Shera yang terbebas, sedikit mengusapnya pelan membuat gadis itu semakin lemas.


"Viihh~~akuuhh", mengerti akan apa yang Shera rasakan Vi bergegas membawa tubuh gadisnya pada ranjang dan membaringkan dengan pelan tanpa melepas ciumannya.

__ADS_1


Shera pikir malam ini akan menjadi malam yang panjang. Dia ingin berhenti namun tidak dengan tubuhnya gadis itu ingin lagi dan lagi apalagi saat Vi mempermainkan tubuhnya dengan permainan yang benar benar menyenangkan.


Dia tak peduli lagi dengan egonya, yang terpenting saat ini ia menikmati apapun yang Vi lakukan padanya, dia terlanjur masuk ke dalam permainan Vi dan ia harus menyelesaikan permainan ini dengan sempurna.


******


" you're beautifull", puji Shera saat dia menatap Selena yang mengenakan gaun pengantin membuat gadis yang sedang hamil muda itu tersenyum senang.


"Really?", Shera mengangguk cepat membuat rambut yang terkepang bergoyang, " baiklah aku kembali ke dalam", ucap Selena yang berjalan masuk ke ruang ganti.


Sedangkan Noire gadis itu sedang mencari sesuatu untuk persiapan nanti malam, mungkin sebuah gaun untuk pesta dansa di pernikahan Selena dan Richard. Kalian tahu sendiri kan bagaima Noire yang binal itu jika sudah bertingkah pada Jack.


Shera nampak memegang sebuah gaun pengantin dengan bahan yang lembut selembut sutra, hiasan bunga mawar kecil kecil yang sangat cantik dengan beberapa mutiara di tengah nya. Gaun itu terlihat sederhana namun ntah kenapa terlihat mewah di mata Shera membuat sedikit senyuman terkembang di bibirnya.


"Kau suka gaun ini?", suara Vi membuat Shera mengangguk pelan, dengan tangan yang masih memegang gaun putih itu.


" kau lihat, ada sesuatu yang istimewa di gaun ini", gumam Shera pelan sedangkan Vi lelaki itu berdiri di belakang Shera seperti memeluk tubuh gadisnya.


Tangannya ikut menyentuh gaun itu, "like angel", ungkap Vi membuat Shera terkekeh pelan.


Di ujung sana Selena dan Richard menatap kedua sejoli yang terkekeh, " kau lihat mereka sangat cocok", ucap Selena seraya merangkul Richard yang memakai tuxedonya.


"Yaaahh, ku pikir ini awal dari kisah mereka", Richard menatap Selena dengan lembut kemudian menatap Shera yang sekarang memukul Vi dengan wajah kesalnya.


******


" sial, siapa yang berani mengusik wilayah ku", geram Kris dengan tangan yang memukul meja di hadapannya, "Natalia?", gumam Kris.


Kris yakin sebelum gadis itu mati di tangannya, pasti Natalia menceritkan semuanya pada lelaki berambut merah muda yang waktu itu Kris lihat. Lelaki itu mungkin dalang di balik hancurnya usaha yang ia bangun.


" sudah mati saja dia sangat merepotkan cih!", decih Kris kuat membuat Bastian menatapnya dengan intens.


"Natalia memberikan rekaman percakpan mu pada teman laki lakinya Kris, aku berpikir sama dengan apa yang kau pikirkan", ucap Bastian dengan memberi kan sebuah map pada Kris.


Lelaki itu mengernyit menatap map yang sekarang berada di tangannya, " what is this?", tanya Kris heran.


"Baca saja, kau akan tahu siapa laki laki yang menjadi tangan kanan Natalia", ucap Bastian, " dan Shera bukan ancaman yang besar bagi kita", ungkap Bastian.


Kris membuka lembar pertama kertas berwarna hitam itu, membaca dengan seksama, "Ronald?", Kris menatap Bastian.


" Ronald teman kencan Natalia, dia memegang rekaman mu pada Natalia tentang mengugurkan anak yang dia kandung dan juga jangan lupakan Natalia juga anak seorang mafia Kris, dia bisa membalas mu dari lelaki bernama Ronald ini", jelas Bastian.


Kris terdiam, dia harus memikirkan Ronald secepatnya sebelum kejahatannya terbongkar dan semua usahanya hancur hanya karena pemuda bernama Ronald tangan kanan Mr. James ayah dari Natalia.

__ADS_1


Kau terlalu bodoh untuk mengungkap sebuah misteri di balik semua kejadian ini Kris.


__ADS_2