You Naughty Girl

You Naughty Girl
18


__ADS_3

Noire menatap Jack yang minum dengan tenang di hadapannya. Sedari tadi tak ada yang bersuara, bahkan Noire yang cerewet saja tak berani membuka mulutnya apalagi melihat tatapan Jack yang ntah kenapa terasa lebih dingin dari biasanya.


"Jack". Bisik Noire pada lelaki di depannya yang hanya melirik sekilas, " apa~".


"Jika kau ingin bertanya apa kabar ku, aku baik baik saja", suara dingin itu membuat nyali Noire menciut seketika.


Noire sedikit menghela nafas, mencoba menenangkan hatinya. Tangannya yang mungil mencoba menggenggam jemari jemari panjang milik Jack.


" Jack aku ingin minta maaf", ucap Noire dengan mata yang berkaca, "aku akui jika aku salah maka dari itu aku minta maaf sekali pun itu harus bertekuk lutut di hadapan mu sekarang juga", ucap Noire dengan mata yang berkaca kaca.


Jack hanya terdiam mendengar ucapan Noire. Gadis di hadapannya ini tak pernah memgeluarkan ekspresi seperti ini sesakit apa pun yang ia rasakan. Apa Jack sudah keterlaluan dengan mendiamkan gadis ini selama berhari hari?


"aku bahkan tak pernah memandang mu salah". Ucap Jack dengan menjambak rambutnya frustasi sebelum ia melangkah pergi di ikuti oleh Noire yang berlari.


Keduanya saling berhadapan di luar gedung tepatnya di samping bangunan yang telah lama tak di pakai. Jack yang menatap Noire dengan tajam serta Noire yang mengenggam lembut lengan lelaki jangkung itu.


"Aku benar benar minta maaf hiks, aku janji tak akan mengulanginya lagi Jack hiks aku akan kembali pada mu dan menghapus semua tentang Leo, ku mohon", bisik Noire dengan suara yang sangat pelan.


Dia mencintai Jack, mencintai lelaki itu hingga terakhir nyawanya. Sekecil apa pun dia tak akan pernah melepaskan Jack pada siapa pun, artinya dia tak akan membiarkan orang lain memiliki Jack selain dirinya.


" f*ck". Jack menarik gadis itu dalam pelukkannya memeluk dengan erat, "aku bahkan tak bisa mendiamkan mu selama ini, berjanji lah akan tetap mencintai ku sampai kapan pun itu", bisik Jack dengan mengecup pelipis Noire.


Gadis itu mengangguk dengan senyuman di bibir mungilnya, " aku janji", keduanya saling berpelukkan satu sama lain sebelum Jack membawa gadis itu untuk memasuki ruangan gelap yang tak berpenghuni, mungkin sedikit *** di ruangan pengap tidak buruk juga.


******


"VI LEPASKAN AKU", ucap Shera dengan memukuli lengan Vi yang sekarang membawanya untuk memasuki ruangan mewah yang selalu Vi jadikan tempat untuk menyelesaikan masalahnya, " VI".


Dengan kasar Vi melempar gadis itu ke arah ranjangnya. Dirinya berdiri dengan menatap Shera yang sekarang duduk dengan memegangi lengannya yang terasa sakit akibat cengkraman Vi.


"Listen to me Scorpio and shut up", ucap Vi dengan menunjuk Shera, " aku dan Riana tak memiliki hubungan apa pun, kami sudah putus sejak  bertahun tahun yang lalu, you know? I hate Riana ".


Shera mendengus sebal, " kau selau berkata seperti itu sebelum sebelumnya, bullsh*t", ucap Shera pada Vi yang menatapnya tajam, "setelahnya tak ada pembuktian apa pun tentang perkataan mu itu".


" kau ini semakin membuat ku kesal Shera", gumam Vi dengan memegang bahu sebelah kirinya, masih terasa sakit dan terasa berdenyut.


"Memang seperti itu adanya, kau memang pembual ulung yang merayu banyak wanita di luar sana bahkan kau sama sekali tak pernah mengerti dengan apa yang aku rasakan, kau itu memang egois", kesal Shera dengan menendang tulang kering Vi membuat lelaki itu meringis kesakitan.


" sakit Shera ", bisik Vi.


" kau itu mafia begitu saja sakit, lebih sakit lagi saat kau tak pernah memberi kepastian pada ku, sial aku harus mempermalukan diri ku di hadapan mu yang idiot ini", kesal Shera yang sekarang berdiri dan mencoba untuk pergi dari kamar Vi.


Lelaki dengan smirk andalannya itu menarik Shera dan kembali menjatuhkan tubuh semok ke atas ranjangnya. Dengan pelan Vi menindih tubuh itu dengan satu tangan yang menahan beban tubuhnya.


"Kau ini jika cemburu terlihat sekali, kau mau aku bilang apa? Aku mencintai mu Shera, begitu?", bisik Vi dengan mengecup hidung mungil nan mancung gadis di bawahnya ini.


Wajah ayu di bawahnya terlihat memerah dengan menatap mata Vi yang menggodanya. Matanya yang bening tak sengaja menatap bahu kiri Vi yang mengeluarkan darah yang mengotori jas putih lelaki di atasnya.


" kau terluka?", jemari lentik Shera menyentuh lembut rembesan darah yang nampak sangat banyak itu, "kau kenapa?".


" hanya bermain pistol dengan ayah Kris", ucap Vi yang menatap lengannya, "ku rasa jahitannya terbuka".


Shera dengan kuat mendorong Vi, " akan aku obati, kau punya peralatan medis kan?". Tanya Shera pada Vi yang hanya diam dengan masih menatap gadis di depannya, namun bukannya segera pergi Vi malah mendorong tubuh Shera untuk kembali berbaring.


"Vi~", ucapan Shera terpotong saat lelaki itu mengecup bibirnya dengan lembut.


" aku tak apa apa", gumam Vi dengan menatap intens pada gadis di bawahnya, "aku merindukan mu", bisik Vi dengan nafas yang memberat.


Shera tahu lelaki di atasnya  sedang berusaha menahan nafsunya dari tadi. Shera mendecih memikirkan sifat Vi yang tak tahu situasi ini. Saat sedang sakit dan terluka pun Vi tak pernah bisa mengendalikan hormonnya.


" kau itu harus segera di obati, bagaimana jika nanti luka mu itu infeksi?", ucap Shera berusaha untuk membuat Vi melupakan sesuatu yang sejak tadi ia tahan.


"I'm ok Shera, just give me f*cking with a savage", bisik Vi dengan mengecup leher jenjang Shera.

__ADS_1


" aku tak mau berc*nta dengan banyak darah sialan", kesal Shera dengan mendorong Vi yang mendengus sebal.


Gadis itu berjalan menuju lemari kaca di mana semua peralatan medis tersedia. Memang Vi sengaja menyiapkan semuanya untuk berjaga jaga jika nanti dia terluka parah dan Vi sangat malas jika  harus berurusan dengan rumah sakit.


Vi hanya menatap Shera yang terlihat sibuk, mengambil air minum dengan sedikit berlari membuat lelaki itu terkekeh pelan. Padahal luka yang ia terima tak seberapa tapi ntah mengapa gadis itu bertingkah seolah olah ini luka yang tak akan pernah bisa di sembuhkan.


"Buka baju mu", ucap Shera tanpa menatap Vi.


" tangan ku sakit tak bisa bergerak, seharusnya bu Dokter yang membuka baju pasien", ucap Vi dengan tersenyum tipis.


Shera menghela nafas, ia tahu ini hanya akal akalan Vi saja, "ya kau hanya bergerak aktif saat menahan ku tadi", ucap Shera dengan mendengus namun ia melakukannya. Jemari lentik berkuku sedikit panjang itu membuka pelan tuxedo putih, dengan sedikit menghela nafas Shera membuka kancing kemeja milik Vi.


" bagaimana bisa kau berurusan dengan ayah Kris? Bukankah beliau orang baik?", Vi yang mengerti ucapan Shera hanya mengangkat bahunya dan meringis pelan saat Shera membenahi jahitannya.


"Dia membunuh Natalia", ucapan Vi membuat Shera menghela nafas kecil, " membunuh anak anak kecil tak berdosa dan menghancurkan kehidupan ibu ku", bisik Vi pelan.


Shera menghentikan kegiatannya, menatap wajah Vi yang sendu, "maaf", bisik Shera membuat Vi menggelengkan kepalanya.


" I am ok", ucap Vi mengelus lembut pipi putih itu, "dan dia yang membunuh ibunya Brian", Shera melotot mendengar ucapan Vi.


" pantas saja Brian menatap Kris tak suka saat itu dan untung saja aku belum bercinta dengannya", ucap Shera tanpa beban tanpa tahu bahwa ucapannya membuat lelaki didepannya menatapnya tajam.


Shera yang menyadari itu segera mengarahkan pandangannya ke arah lain kemanapun asal jangan menatap Vi, "ahaha~~ maksud ku~", tawa Shera dengan kaku.


" kau berc*nta dengannya?", suara husky dengan nada dingin itu membuat Shera menelan ludahnya kasar, sial dia keceplosan! Mama~~~!!


"Bukan, bukan seperti itu", ucap Shera dengan menggelengkan kepalanya, "aku kan bilang belum terjadi", dengus Shera kesal.


Vi masih menatapnya tajam membuat gadis itu semakin salah tingkah. Jemari panjang milik Vi mengangkat dagu Shera mencoba untuk membuat gadis itu menatapnya.


" jangan berikan tubuh mu pada siapa pun Shera jika kau masih ingin mereka hidup terutama William", ucap Vi penuh dengan tekanan sedangkan Shera hanya mengangguk patuh.


Tangan Vi menarik jemari Shera, sedangkan tangan yang satunya terlihat mencari sesuatu di saku celana lelaki itu. Setelah di rasa dia menemukan benda yang ia cari Vi memasukan benda itu pada jemari lentik gadisnya.


"Huh~", bibir tipis mungil itu bergumam dengan menatap Vi yang menyeringai, " jangan menampilkan seringai itu b*doh", kesal Shera dengan memukul lengan Vi yang tidak terluka.


" ku belikan untuk mu yaah~ kau ingat kan malam itu aku memilih cincin ini?", Shera mengangguk pelan dia ingat waktu itu Vi mengatakan cincin ini untuk calon istrinya, "jadi bagaimana jika kita menikah pada tiga puluh September?", tawar Vi.


" tiga puluh September?".


"Hmm, kau tak mau? bagaimana jika tiga puluh November, angka tiga puluh tanggal lahir ku sedangkan November bulan mu?", ucap Vi dengan kekehan geli menatap wajah Shera yang menatapnya dengan buas.


" KAU ITU SAMA SEKALI TAK ROMANTIS YA VI! SETIDAKNYA JIKA MENGAJAK KU MENIKAH KAU MEMBAWA KU KE SUATU TEMPAT YANG ROMANTIS", jerit Shera dengan kesal.


Vi hanya tertawa seraya menegangi perutnya yang terasa sakit sebelum lelaki itu membawa Shera ke ranjangnya. Yah kalian pikir saja sendiri setelahnya apa yang terjadi.


******


Brian dan Jack terlihat menatap kedua peti Mr. Crown dan Kris. Kekehan kecil membuat beberapa orang menatap mereka berdua dengan wajah yang penuh gurat kemarahan.


"Kenapa memandang kami seperti itu? Memang pantas kedua lelaki ini mendekam di bawah tanah setelah apa yang mereka berdua perbuat", ucap Brian dengan mendekat ke arah peti itu.


" ya seperti yang kalian tahu, bukankah memang pantas hukuman seperti ini yang mereka dapatkan setelah anak anak tak berdosa kalian di jadikan tumbal bisnisnya?", ucapan Brian membuat mereka terdiam.


Benar apa yang Brian katakan. Anak mereka yang tak berdosa di jadikan bahan untuk penelitian dengan menguliti mereka, mengambil organ dalam mereka dan di jual ke China dan beberapa negara untuk di jadikan bahan penelitian para ilmuan di sana.


Jack mendekat pada Brian, memegang bahu lelaki imut itu yang nampak menangis, "dan juga ibu ku", bisik Brian. Lelaki yang tak terlalu tinggi itu berdiri, " beristirahatlah dengan tenang di neraka sana", ucap Brian sebelum ia pergi bersama Jack.


"Ck aku harus kembali ke Inggris Jack", ucap Brian di tengah perjalanan.


" kami akan mengantar mu", ucap Jack dengan pelan, "tapi bukankah kau harus menghadiri undangan Nyonya Nicky terlebih dahulu?".


"Kau benar juga, aku akan menundanya lagi pula aku tak yakin Shera melepas ku begitu saja", kekeh Brian dengan mengingat bagaimana Shera yang merengek agar ia tak kembali ke Inggris.

__ADS_1


Jack hanya terkekeh sebelum dirinya menerima panggilan dari kekasihnya, Noire. Dan lagi pula hari ini ia berjanji pada Noire akan mengahak gadis itu berbelanja.


******


Sore ini Shera di sibukkan dengan acara makan malam yang di adakan di rumah Vi, lelaki itu  menyeretnya dengan paksa setelah mereka selesai bercinta padahal saat itu Shera benar benar kelelahan, untung saja Nyonya Nicky mengerti dan membiarkan Shera beristirahat.


" hummmm~~ supnya harum sekali", bisik Shera dengan mendekati ibunya Nyonya Ivanka, "apa mama yang membuatnya?".


" bukan, suami mu yang membuatnya", itu suara Noire yang sedang membantu Jack membuat pudding dengan Brian yang memanggang sosis.


Shera mendecih, "mama~", rengek Shera pada ibunya.


" kau sudah besar jangan merengek sangat tidak cocok dengan mu", ejek Brian dengan tangan yang sibuk mengipasi sosis dan daging panggang.


Shera mendengus, menarik kursi untuk ia duduki, "apa nyonya Nicky ~", ucapan Shera terpotong saat nyonya Nicky bersuara.


"Mommy, sebentar lagi kau akan jadi menantu ku", ucap nyonya Nicky dengan tersenyum membuat gadis itu tersenyum malu.


" tapi kan aku belum setuju". Ucapan Shera membuat yang lain menghentikan kegiatan mereka dan menatap gadis itu aneh membuat Shera menelan ludahnya, apa dia salah berbicara?


Noire mendengus sebal dengan decakan kuat membuat yang lain kembali dengan aktifitasnya masing masing, "jangan sok jual mahal Mrs. Fernandes jika kau sudah menampung benih Vi di dalam tubuh mu", ejek Noire membuat yang lain terkekeh.


Dengan langkah lebar gadis yang memerah di pipinya mendekati Noire, menjambak rambut kekasih Jack dengan brutal, " DASAR S*ALAN KAU NOIRE. AKAN KU GUNDULI KEPALA MU INI", tak ingin mengalah Noire membalas Shera dengan menarik rambut pendek sahabatnya ini.


Brian dengan cepat menarik Shera sedangkan Jack masih asik dengan puddingnya. Nyonya Ivanka dan Nyonya Nicky hanya terkikik geli dengan memotong beberapa sayuran di atas meja dan Vi lelaki itu hanya cuek dengan keadaan sekitarnya.


"Ck, kuku ku patah", bisik Shera dengan menatap kukunya setelah perkelahian sengit itu terjadi.


" ahh, aku punya kenalan yang bisa memperbaiki kuku dengan bagus Shera,  kalau kau mau kita akan pergi kapan kapan", ajak Noire dengan senyum lebarnya membuat Shera mengangguk cepat.


"Oke, aku akan ikut", dan ini lah yang terjadi, kedua sahabat itu akan akur dengan sendirinya tanpa sadar apa yang terjadi sebelumnya.


Vi menatap Shera yang terkikik geli dengan Noire, di tangannya terdapat mangkok kecil yang sedari tadi Shera pegang, " katanya kau ingin sup?", tawar Vi pada Shera membuat gadis itu menatapnya.


Shera mendekat pada Vi yang menantinya, mata tajamnya menatap orang orang yang fokus pada kegiatan mereka masing masing, "kau ingin mencicipinya?", tanya Vi membuat Shera mengangguk dengan mata berbinar.


" kemari", Vi menggerakkan telunjuknya memberi kode agar gadis itu mendekat. Dengan pelan Vi menyendok sup itu dan meniupnya pelan.


"Aku bisa sendiri", ucap Shera namun Vi hanya menggeleng pelan, lelaki itu berusaha untuk menyuapi Shera.


Dengan patuh Shera mendekat, namun baru saja ia ingin mencicipinya dengan cepat Vi mencium bibir Shera membuat gadis itu terjengkit menjauh namun pinggangnya di tahan oleh Vi.


Bibir tipis nan basah itu ******* intens belahan merah yang membuat candu Vi untuk merasakan lebih dan lebih.


" hoi hoi hoi ini bukan pertunjukkan drama", sergah Brian membuat Shera melepas ciumannya dan mendorong Vi yang terlihat cuek dengan di iringi kikikan yang lainnya.


"Brisik", ucap Vi yang sekarang meletakkan mangkuk kecil di meja sampingnya dengan Shera yang memberi sendok dan garpu.


" memang seharusnya kalian cepat cepat di nikahkan", ujar nyonya Nicky dengan menatap keduanya, "aku sudah tak sabar menimang cucu", nyonya Ivanka mengangguk setuju.


" thats right ", nyonya Ivanka menimpali dengan dengusan Shera yang membuat ibunya tertawa.


"Bulan November ini kami menikah", ucap Vi yang menatap Shera membuat gadis itu mendelik padanya.


" kenapa cepat sekali?", tanya Noire membuat Vi menyeringai.


"Karena Shera sedang hamil anakku", ucap Vi enteng membuat Shera menjatuhkan sendoknya.


" apa apaan itu?", kesal Shera yang memukul Vi dengan keras.


"Tidak masalah, mama dan papa akan menyiapkan semuanya, benar kan nyonya Nicky?", ucap nyonya Ivanka yang mengedipkan sebelah matanya pada calon besannya itu.


" tentu saja, serahkan semuanya pada ku", kekeh keduanya dengan menutupi mulut mereka menahan tawa.

__ADS_1


Shera hanya menatap mereka sebal, sedangkan Vi nampak menyeringai dengan menarik Shera ke dalam pelukkannya. Jack dan Noire terkikik menatap kedua pasangan itu yang memang benar benar akan menikah bulan depan.


"Sepertinya hanya aku yang lama menikah", ucap Brian mengingat Jessica yang tak mau di nikahi di usia muda, yang lainnya hanya tertawa mendengar ucapan Brian.


__ADS_2