You Naughty Girl

You Naughty Girl
08


__ADS_3

Vi meletakkan tubuh Shera pada ranjang besarnya. Mension dengan segala perabotan mewah itu tak pernah Vi kunjungi, bahkan orang tuanya saja ia larang untuk memasuki mansion, tapi untuk malam ini Vi membiarkan orang asing masuk ke dalamnya.


Mata setajam elang itu menatap Shera yang bergerak resah di ranjangnya. Dengan kasar lengan berurat milik Vi membuka Jas yang ia pakai, melepas dasi hitam dan membuangnya ntah kemana.


Dirinya merangkak mendekati Shera yang sekarang berada di bawahnya. Jemari lentik dengan kuku merah yang panjang menarik leher Vi agar mendekat padanya.


"Kau mabuk Shera", ucap Vi saat sadar apa yang ia lakukan. Dirinya akan menjauh namun tertahan saat Shera kembali menarik lehernya.


Gadis di bawahnya menggeleng, "I am not Vi", bisiknya pelan, " I need you", bisikkan sensual dengan suara serak itu membuat Vi menggeram mencoba menahan gejolak nafsunya.


Vi sadar jika ia tetap melakukannya, apa gadis itu akan menerimanya? Tidak, gadis itu akan semakin membenci dirinya. Vi melepas cengkraman Shera pada pundaknya, mencoba melepas rangkulan Shera.


"Aku memang tak bisa menahan nafsu ku Shera, tapi untuk malam ini aku menolak mu, aku tak ingin kau semakin membenci ku", bisik Vi mencoba untuk pergi menjauh dari Shera.


Namun bukannya mendengar kan Vi, Shera malah duduk dan menarik Vi kuat. Jemarinya terangkat pelan dengan menangkup pipi Vi. Menatap lelaki di hadapannya, Shera tau jelas ini Vi lelaki yang tak ia harapkan. Namun dia butuh Vi saat ini, dirinya benar benar tak bisa menguasai dirinya sendiri.


Sentuhan lembut di bibir Vi membuat lelaki itu terdiam. Bibir nya mendapat kecupan lembut dari Shera, gadis cantik nan seksi ******* bibir nya dengan intens. Mengecup, ******* dan menghisap bibir Vi dengan pelan dan penuh keyakinan.


"Setelah ini jangan menuntut ku", ucap Vi pada akhirnya sebelum ia ******* kasar bibir yang sejak tadi menggodanya dan mendorong tubuh Shera agar terbaring di ranjang.


Ciuman panas yang Vi berikan membuat Shera melenguh hebat, apalagi saat bibir basah Vi menyusuri lehernya, menghisap hingga menimbulkan ruam merah di sana, membuat Shera mendongak kan wajahnya menahan sentuhan lembut namun mengelitik itu.


Tangan nakal Vi menurunkan tali gaun yang Shera kenakan dengan pelan, namun bibirnya tak berhenti mengecupi belahan dada yang terlihat menyembul keluar. Dada dengan bentuk yang sangat besar itu sepertinya terlihat sesak dan Vi harus segera mengeluarkan nya.


Shera meremas rambut panjang Vi, jika di pikir Shera lebih suka rambut hitam Vi. Lelaki itu terlihat lebih tampan dan menggoda, mungkin setelah ini ia harus mengatakan pada Vi, bodo jika ia membenci lelaki yang sekarang asik mengecupi dadanya.


Sentuhan yang ntah kapan ia rasakan di perut rampingnya, dan sejak kapan pula gaun pesta yang ia pakai tergeletak tak berdaya di samping tubuhnya, sial Vi benar benar pintar memainkan dirinya! 


Kuku panjang Shera menekan kulit  lengan Vi membuat lelaki itu sedikit meringis kesakitan. Vi mendekat kan bibirnya pada telinga Shera, berbisik pelan menggoda, "aku akan masuk, tahan sebentar saja, ini akan sakit", alunan suara itu membuat Shera sedikit takut namun ia kepalang tanggung.


Dapat Vi rasakan tubuh di bawahnya menegang, ringisan pelan menahan sakit dapar Vi dengar. Bergerak pelan agar tak menyakiti gadis di bawahnya, Vi bisa merasakan sesuatu yang mengalir, sedikit rembasan berwarna merah mengotori sprei berwarna putih tulang miliknya. pertanda bahwa ia yang pertama memasuki kehormatan Shera.


Bibirnya membentuk seringai, dengan begini siapa pun tak akan bisa memiliki Shera, gadis ini telah menjadi hak miliknya seorang. Matanya menatap wajah berkeringat di bawahnya, tersenyum tipis sebelum ia membawa gadis ini kedalam kenikmatan yang mereka ciptakan.


******


Noire terlihat memegangi kepalanya, pandangannya buram ketika ia menghabiskan beberapa gelas Vodka. Leo lelaki berbahaya dengan wajah malaikat menggodanya dengan sangat baik.


Jemari panjang milik Leo menyusuri punggung Noire yang terbuka. Seringai tipis nampak tercipta saat menatap Noire yang tak sadarkan diri.


" ck,, gadis ini lumayan juga", bisiknya, dengan memberi bill pada bartender, Leo mengangkat tubuh Noire dan ntah ia bawa kemana gadis yang tak sadarkan diri itu.


Seorang pria berbaju putih dengan jass birunya menatap dua sejoli yang baru saja keluar dari tempat pesta ini. Lengkungan di bibir tipis pemuda itu terlihat menakutkan.


"Semakin seru saja", bisiknya dengan meneguk segelas Wine. Tangannya memegang ponsel mengetik sesuatu yang ia kirim kan pada seseorang.


*

__ADS_1


Jack menatap tak suka pada pesan yang ia terima. Rahangnya mengeras dengan kepalan tangan yang mampu memecahkan sesuatu.


" I will kill you Noa", geram Jack dengan tangan yang mengambil senjata api, dan dengan kesal ia menembak kepala salah satu anak buahnya.


Jimmy dan Roy sesegera mungkin menyingkirkan jasad temannya itu sebelum suara Jack terdengar akan ada kejadian yang  lebih mengerikan lagi.


******


Shera terbangun saat suara alunan musik.klasik mengalun memenuhi kamar itu. Matanya ia alihkan pada sosok lelaki dengan kemeja hitam, lengan yang tergulung asal serta celana kain yang membungkus kaki jenjangnya serang berdiri menghadapa jendela besar.


Matanya ia gulirkan pada selimut yang membungkus tubuhnya, melotot saat menatap ruam merah pada dadanya. Ingatannya berputar pada kejadian panas tadi malam, dimana dirinya memohon agar Vi tak melepaskan dia.


"Mama~~", raung batin Shera, wajahnya memerah karena malu saat Vi menatap intens dirinya. Sialan Shera benar benar malu saat ini, bertelanjang di hadapan lelaki yang dia benci.


"DON'T LOOK AT ME VI ST*PID", teriak Shera mencoba untuk menutupi rasa malunya saat ini.


Vi terkekeh, dan berjalan mendekat pada Shera, " kenapa harus malu? Aku bahkan sudah merasakannya!", goda Vi yang mana membuat Shera ingin pingsan di tempat.


Shera mendengus, dia akan bangun sebelum ringisan keluar dari bibirnya. Rasanya dia ingin mengumpati Vi karena membuat ia kesakitan.


"Butuh bantuan?", tawar Vi pada Shera yang menggeleng kuat. Vi mengangkat kedua bahunya dan melangkah pergi sebelum tarikkan di ujung kemejanya membuat ia menghentikan langkahnya.


Dapat ia lihat Shera yang menunduk, " bisakah antar aku ke kamar mandi?", cicit Shera malu. Dia tak mungkin mengatakan pada Vi jika v*ginanya masih terasa sakit akibat permainan kasar Vi tadi malam.


Dengan cekatan Vi mengangkat Shera dengan pelan tak ingin membuat gadisnya kesakitan. Shera melingkarkan tangannya pada bahu lebar Vi, menatap wajah lelaki tampan yang juga menatapnya dengan intens. Vi melangkah dan membawa Shera agar gadis di gendogannya ini membersihkan diri.


******


"I hate you Kris, what are you doing here?", kesal Shera dengan menatap Kris.


Kris memegang bahu Shera, menatap gadis di depannya dengan pandangan meminta maaf, " I am so sorry, I am really sorry about it Shera", ujar Kris.


Shera memutar malas kedua matanya. setelah ia mabuk, di beri obat perangsang dan berakhir di atas ranjang milik Vi dengan bertelanjang, seenaknya Kris hanya meminta maaf seperti tak terjadi apa apa.


"It's all right, forget it, by the way jangan temui aku dulu", Shera melangkah pergi namun tarikkan di tangannya membuat dia berhenti, Kris menarik nya hingga ia menghadap Kris.


Mata lelaki tinggi di hadapannya sedikit berkaca, " would you like to eat with me?", pinta Kris pada Shera sebagai permintaan maafnya.


" sorry I am bussy", Shera pergi meninggalkan Kris yang terdiam. Dia mendapag penolakkan dari Shera.


Dengan memukul dinding di sampingnya Kris bergumam pelan, "****, I need s*x", Kris melangkah pergi meninggalkan tempat itu.


Namun suara Vi membuat Kris menghentikan langkahnya. Lelaki itu menatap Vi yang bersandar di mobil mewahnya dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancung Vi.


"Hello Mr. Edward Suarez, how are you?", kekeh Vi dengan melipat kedua tangannya pada dada bidangnya itu.


Kris menyeringai, "Mr. Leonel Vi", kekeh Kris dengan mengejek, " I am fine", Kris mengangkat kedua bahunya enteng.

__ADS_1


"Yahh aku tahu apa rencana mu malam itu Kris, kau mencoba menjebak gadis ku? **** dia bukan gadis lagi setelah ku set*buhi sehabis pesta malam itu", kekeh Vi.


Kris menarik kerah kemeja Vi, mendorong lelaki itu ke arah tembok di belakangnya. Menekan leher itu kuat namun tak membuat Vi takut, lelaki itu malah tertawa dengan nada mengejek.


" kau tahu Kris ssshhh desahannya benar benar menggoda, sial aku ketagihan tubuhnya ", ucap Vi memanasi Kris.


" kau salah jika berurusan dengan ku Vi", ucap Kris dengan penuh tekanan, "pasti nya kau tahu siapa aku yang sebenarnya".


Vi lagi lagi terkekeh, tangannya dengan kasar melepas cengkraman Kris, menendang lelaki itu hingga Kris mundur beberapa langkah, "dan kau juga tahu siapa aku Edward? Jangan lupakan tiga puluh November Kris", ucapan Vi membuat Kris tersentak.


Bagaimana lelaki ini mengetahui tanggal itu? Dimana semua orang tak ada yang tahu bahkan tidak dengan kedua orang tuanya. Benar apa kata orang orang di sekitarnya, Vi sangat berbahaya.


Kris mendecih kuat sebelum ia pergi meninggalkan Vi yang menyeringai. Namun seringai itu tergantikan dengan tatapan tajam yang mampu membuat siapa saja tak berkutik.


" kau membuang waktu Kris ", Vi memasukkan kedua tangannya pada saku celananya. Kemudian ia melangkah pergi meninggalkan tempat sepi itu yang berada di belakang kampus di mana Shera belajar.


******


Shera menatap Noire yang berdiri dengan wajah yang sembab. Gadis di hadapannya ini terlihat sesegukkan dengan memegang koper berwarna putih di sampingnya.


" Noa, what happen?", gadis itu kembali menangis dengan kuat sebelum ia memeluk Shera dengan erat, "Noa, tell me please".


Shera menarik Noire agar masuk ke dalam Apartementnya, mempersilahkan gadis itu duduk di sofa sedangkan dirinya mengambil air putih.


" minum dulu", Noire menerima dengan dengan tenang, meminumnya pelan dengan air mata yang masih mengalir.


Jemari panjang Shera menyingkirkan anak rambut Noire, menyelipkan pada telinga gadis di depannya ini, "bisakah kau bercerita sekarang? Apa yang terjadi Noa? kau tak biasanya seperti ini", ucap Shera pelan.


Helaan nafas dapat Shera dengar yang keluar dari mulut Noire, " Jack memutuskan ku", bisik Noire.


"So?", Shera penasaran, bagaimana mungkin Jack memutuskan Noire tanpa sebab?, lelaki tampan dengan tubuh yang gagah itu sangat mencintai Noire jadi ini seperti hal yang mustahil untuk Shera dengar.


"Malam setelah pesta lelaki bernama Leo membawa ku pergi ke Apartementnya, aku tidak tahu apa yang terjadi karena aku sedang mabuk Shera, aku terbangun dengan tubuh polos, cihh sialan aku tertipu wajah polosnya", decih Noire dengan menggengam erat gelas yang ia pegang.


" you st*pid, bukan Leo yang polos", delik Shera pada Noire yang sekarang mendengus, "kau masih berhubungan dengan Jack dan dengan binalnya kau menggoda Leo", ucap Shera dengan nada mengejek.


Noire sangat kesal dengan respon Shera dia pikir Shera akan membantu atau menghiburnya, tapi dia salah besar.


" kau sendiri menggoda Vi dan Kris", Noire tak mau kalah.


Shera terdiam, dia mengingat lagi bagaimana malam kemarin dia menghabiskan malam panjangnya bersama Vi di atas tempat tidur dengan ******* yang menggoda.


"Vi~", Shera berucap ragu. Namun tatapan Noire yang penasaran dan menuntut membuat gadis itu mendengus pelan, " one night stand, you know what I mean?", ujar Shera malas.


Noire melotot lebar. Dirinya mendekat pada Shera hingga gadis di depannya memundurkan tubuhnya ke belakang.


"Bagaimana rasanya, ceritakan pada ku", desak Noire yang melupakan masalahnya dengan Jack.

__ADS_1


Shera menatap dalam pada sahabatanya ini, dengan menarik nafas pelan Shera mulai menceritakan awal bagaimana dia bisa terdampar pada Vi.


__ADS_2