You Naughty Girl

You Naughty Girl
09


__ADS_3

Suara tembakkan memekak kan telinga terdengar sangat nyaring. Vi berlari dan bersandar pada tembok berlumut itu, matanya yang tajam menatap beberapa orang yang melewatinya begitu saja.


Namun dengan tak hati hati kakinya menyenggol besi panjang membuat suara menggema di lorong itu.


Pukulan dari belakang ia terima membuat Vi agak terhuyung ke depan, "****", namun belum sempat ia membalas pukulan ia terima di rahangnya membuat darah segar keluar dari mulutnya.


" hanya segini kemampuan mu", ucap salah satu dari lima orang yang mengelilinginya.


"Cih", Vi mendecih dan meludahkan darah anyir yang terasa di mulutnya.


Dengan mengambil besi panjang, Vi memukul salah satu kepala musuhnya membuat jeritan nyaring.


Keempat lelaki bertubuh besar menyerang Vi, namun dengan tanggap Vi melayangkan besi itu pada dua orang berkepala pelontos. Rantai besi menjerat leher Vi membuat lelaki itu sulit bernafas.


" dia tak boleh mati sebelum menikahi Shera " , Vi menarik rantai itu kuat hingga lelaki di belakangnya terlempar menghantam tembok lembab itu.


Hanya tinggal satu orang, dan dia harus menyelesaikan semua sebelum malam tiba. Matanya menatap jam di tangannya, cih sudah jam tujuh malam, ruangan ini terlalu gelap walau ada sedikit cahaya lampu yang menerangi.


Tendangan ia terima di perutnya, pukulan di rahangnya tak mampu Vi elak. Namun lelaki itu tak kehabisan akal, ia mengambil besi yang tak jauh dari kaki musuhnya.


Memukulkan besi panjang berujung runcing itu pada perut musuhnya. Menekan kuat dan sedikit merobek perut itu hingga darah segar merembes keluar membasahi baju berwarna biru muda itu.


Vi menepuk jaketnya, mengusap sedikit kotoran yang menempel sebelum ia pergi meninggalkan mayat bergelimpangan tak bernyawa.


"Urus mereka", ucap Vi dengan mematikan sambungannya pada anak buahnya.


******


Shera tersentak kaget saat suara bell berbunyi. Dengan langkah cepat dia berlari membuka pintu, takut saja jika itu Noire yang kembali.


Matanya melotot melihat penampilan lelaki di depannya. Hidung yang mengeluarkan darah, pelipis yang terlihat memar dan sudut bibir yang sobek namun tak terlalu lebar.


" Vi", ucap Shera pelan, lelaki di depannya hanya menatap Shera intens sebelum terkekeh pelan.


"Hmm", gumam Vi dengan memasuki ruangan Shera membuat gadis itu memekik.


" YAH SIAPA YANG MENYURUH MU MASUK HA? DAN APA APAAN PENAMPILAN MU INI?", teriak Shera dengan berjalan mengikuti Vi yang duduk di sofa.


Vi hanya mendengus sebal, "ck, kau berisik", dengan membuka jaketnya menampakkan kaos putih lengan pendek membuat otot otot tangan Vi terlihat seksi dengan keringat tipis.


Shera berpikir bahwa malam itu lengan Vi tak seseksi ini, tapi kenapa sekarang terlihat seksi dan menggoda, " apa yang kau pikirkan Shera? ", batin Shera dengan memukul kepalanya.


" kau pasti berpikiran mesum". Tebak Vi membuat Shera memutar malas kedua matanya.


"I don't".


" cepat obati aku", Shera ingin sekali menjambak rambut lelaki di depannya ini. Datang tanpa izin dan sekarang dengan seenaknya dia menyuruh Shera seperti pembantu.


Saat sudah mendapatkan apa yang Shera butuhkan, gadis dengan tubuh sintal itu duduk di hadapan Vi, membuka kotak putih dengan kesal dan apanyang Shera lakukan tak luput dari pandangan Vi.

__ADS_1


"Dari mana kau dapatkan luka ini?", tanya Shera dengan membersihkan luka itu dengan alkohol, sedikit membuat Vi meringis perih.


Vi merangkul pinggang ramping itu mengusapnya pelan, " kau khawatir?", goda Vi.


"Tidak, aku malah bersyukur jika kau dapatkan lebih dari ini", ucap Shera dan menekan kuat luka itu membuat Vi menjerit.


" ssshhhh, pelan lah sedikit", ucap Vi dengan memegangi lukanya.


Shera membersihkan pelipis Vi, "are you feeling better now?", tanya Shera dengan pelan.


"Yes, I'm feeling much better now, thank you for asking".


Keduanya sama sama terdiam, Vi yang asik menatap gadis di depannya dan Shera yang membersihkan darah di dagu Vi.


"Dinner?", Shera menatap Vi yang baru saja menawarkan makan malam pada dirinya.


"Dengan wajah hancur mu itu?", gumam Shera yang sekarang meletakkan kotak obat pada meja kecil di samping sofa.


"No problem, bukankah ini terlihat impresive?", ucap Vi dengan senyum tipis.


Shera tak habis pikir dengan jalan pikiran lelaki di depannya. Bisa bisanya Vi mengajaknya makan malam sedangkan tubuh lelaki itu terluka cukup parah.


" kau terluka, aku tak mau di cap sebagai pelaku kekerasan", Shera beranjak pergi menuju dapur, walaupun ia membenci Vi tak mungkin dia membiarkan lelaki ini begitu saja.


Vi berjalan mengikuti Shera, berhenti di samping gadis itu saat ia sampai di meja makan, matanya menatap Shera yang menuangkan air putih pada gelas bening.


"Hanya sebentar, aku belum makan dari pagi", ucap Vi membuat Shera menatap nya sembari memberi segelas air putih.


Vi hanya mengangkat kedua bahunya, kemudian meneguk minumannya, "hanya memberantas tikus tikus kecil", ucap Vi enteng.


" aku akan berganti baju", namun belum sempat Shera melangkah, lengannya di cekal oleh Vi.


"Tak usah berganti baju, begini saja lebih baik", ucap Vi dengan tersenyum seraya menatap penampilan Shera. Kemeja putih yang sedikit besar dengan kancing yang terbuka memperlihatkan belahan dadanya serta celana levis berwarna hitam pendek.


Shera menatap penampilannya, namun saat ia ingin protes, tarikkan di jemarinya membuat ia melanglah mengikuti Vi. Sedikit senyuman tercipta di bibir Shera saar lelaki di depannya ini tak ambil pusing dengan apa yang Shera gunakan.


******


Shera dan Noire menatap Selena dengan tatapan tak percaya. Kedua gadis itu menata sebuah kartu undangan yang ada di tangan mereka.


Selena hanya tersenyum dengan menutupi mulutnya. Kedua sahabatnya ini bahkan menjerit dengan keras saat ia menyodorkan kertas berwarna cokelat tua dengan hiasan pita.


" aku hamil anak Richard, dan kedua orang  tuanya ingin mempunyai menantu", jelas Selena yang mengusap perutnya yang sedikit membesar.


"Jadi saat di Italia kau memproduksi anak?", tanya Shera dengan mendekati Selena yang duduk di seberang nya.


Noire bahkan duduk di bawah dengan mendongak menatap keduanya, " aku tak percaya kau akan mempunyai anak di usia semuda ini. Bagaimana dengan kuliah mu?".


"Aku akan tetap meneruskannya sembari menjadi seorang istri dari Richard Paul", ucap Selena dengan raut wajah yang bahagia, " aku harap kalian datang", pinta Selena dengan wajah memelas.

__ADS_1


"Mungkin Shera bisa datang dengan Kris, tapi aku tak mungkin", ucap Noire dengan lesu.


Selena menatap sahabatnya dengan pandangan bertanya, " why?".


"Jack memutuskannya saat mengetahui Noa tidur dengan Leo", celetuk Shera yang sekarang memakan cemilannya.


" what the hell! Who's Leo? ", Selena menengakkan tubuhnya.


" lelaki yang ku temui di pesta malam itu, Leo very hot and sexy, aku pikir dia menjebakku makanya Jack mengetahuinya", Noire menghela nafas lelah, "aku harus membujuknya".


Shera dan Selena mengangguk, " kau memang harus", ujar keduanya bersamaan.


"Doakan aku. Agar kami kembali lagi dan pergi ke pernikahan mu".


Selena dan Shera lagi lagi mengangguk dan mengepalkan tangan mereka ke udara memberi semangat pada Noire yang sekarang berlari keluar untuk menemui Jack.


******


Kris kembali mendatangi Shera, menatap gadis di depannya dengan intens. Dia akan mengajak Shera berjalan jalan sebentar sebagai permintaan maaf.


Lelaki tinggi itu menatap penampilan Shera saat gadis di depannya keluar dengan sebuah senyuman manis. Dengan hoodie berwarna merah serta celana yang membungkus kaki jenjang Shera membuat gadis itu terlihat lebih santai.


" kau yakin tak ingin berganti baju?", ucap Kris dengan heran.


"Apakah ada yang salah?", Shera balik bertanya membuat Kris terlihat gugup.


" I mean, bisakah kau mengganti baju mu dengan yang lebih emmm sexy?", ucapan Kris membuat Shera mengangkat alisnya tinggi, "rok mini mungkin".


Gadis itu terdiam, penampilannya tak ada yang salah bahkan Vi saja tak mempermasalahkan penampilannya malam itu. Astaga kenapa Shera memikirkan Vi, tapi itu memang benar.


" ok". Gadis itu masuk ke dalam, mengganti bajunya dengan rok mini membuat penampilan nya berubah.


"Good", ucap Kris, " how about taking a walk to Mall?", tawar Kris.


"That's a good idea", ucap Shera sedikit malas, "ayo".


Kris mengenggam jemari Shera membuat gadis itu terdiam. Matanya menatap genggaman erat itu yang terasa hangat, namun tak membuat Shera nyaman.


Lelaki di depannya sangat berbeda saat dia mengenalnya dulu. Ada yang berbeda dari Kris tapi Shera tak tahu itu apa.  Namun sebisa munkin Shera menepis pikiran itu, Kris lelaki baik yang disiplin.


" Kris ", ucapan Shera membuat Kris berhenti kemudian dia menghadapkan tubuhnya pada Shera.


" what?", Kris tersenyum menatap Shera.


"You have a girlfriend?", Kris terdiam mendengar pertanyaan Shera, kemudian ia menggeleng, "oh god, aku takut kekasih mu akan marah jika mengetahui kau berjalan dengan ku".


Kris terkekeh, " no, no, don't worry", ucap Kris dengan menyelipkan anak rambut Shera membuat gadis itu memerah malu, "you like me?", tanya Kris.


" I don't know, how about you? ".

__ADS_1


" I like you, I like your smile", ucapan Kris membuat Shera tersenyum, "but, I am very lucky to have you as my best friend", ucapan Kris membuat Shera terdiam.


Ya mungkin Shera memang tak akan bisa memiliki Kris. Lelaki keturunan Inggris itu hanya menganggapnya sahabat jadi selama ini perhatian Kris hanya sebatas sahabat padanya.


__ADS_2