
Vi menatap gudukkan tanah yang di taburi berbagai macam bunga, foto Riana terlihat dengan senyuman manis di dekat nisan. Vi membetulkan letak kacamatanya saat dirinya menatap William yang juga menatapnya dengan tajam dan intens.
sedikit lambaian tangan Vi berikan pada william, Brian dan Jack terlihat menampilkan wajah sendu sedangkan Shera gadis itu hanya terdiam dengan mawar hitam yang berada di tangannya. di sampingnya Noire terlihat menatap kuburan Riana dengan pandangan wajah yang mengejek.
"selamat terlelap Riana, semoga penggemar mu menyaksikan semuanya, aku tak menyangka kecelakaan itu membuat mu harus meregang nyawa", bisik Noire dengan meletakkan bunga Mawar di atas tanah, ucapan itu membuat Brian terkekeh.
"aku turut berduka cita William", ucap Shera yang menatap wajah William yang nampak tak bersahabat, "We share your grief in this time of bereavement with deepest sympathy and condolence", Shera mengusap lengan William.
"thank you", William tersenyum menatap Shera. matanya sedikit melirik Vi yang menyeringai tipis.
mereka kembali meninggalkan William yang nampak tersenyum tipis. kakinya ia langkah kan mendekati gudukkan tanah itu, "dengan begini kau tak akan lagi mengusik rencana ku Riana, aku bersyukur kau mati di tangan yang tepat", William terkekeh pelan seraya berdiri dan pergi meninggalkan pemakaman yang sekarang terlihat sunyi.
******
Shera nampak berjalan memasuki sebuah rumah sakit besar, melangkah dengan cepat saat seseorang menghubunginya tak ia pedulikan beberapa orang yang ia tabrak, sekarang yang ia pikirkan sahabtnya, Noire.
ntah bagaimana bisa gadis ceroboh itu mengalami kecelakaan tunggal, Shera pikir bocah urakkan itu menyetir dalam keadaan mabuk hingga menabrak sebuah gubuk kecil.
saat sampai di ruangan dengan tak berperasaan Shera mengeplak kepala Noire yang sekarang nampak menjerit kesakitan. sedangkan Jack tak memperdulikan kelakuan Shera pada kekasihnya.
"kau itu kenapa bod*h sekali Noire? menyetir dalam keadaan mabuk", kesal Shera yang sekarang mencoba memeriksa keadaan sahabatnya itu.
"aku bahkan tak tahu bisa mengalami kecelakaan ini, yang aku tahu aku sedang mabuk", ucap Noire yang membuat Shera menghentikan gerakkan tangannya.
"kau meminum apa tadi?", tanya Shera.
Noire nampak berpikir sejenak, "saat di cafe aku di beri segelas air minum, tapi aku tak terlalu memperhatikannya", jelas Noire membuat Shera menatap Jack.
"kau tak ingin menyelidiki? ku pikir ada seseorang yang sengaja mengacaukan permainan ini", ucapan Shera membuat Jack menatapnya dalam diam.
__ADS_1
benar apa yang di katakan Shera, pasti ada seseorang yang sengaja mempermainkan mereka. apa lagi saat kematian Riana banyak sekali kejadian janggal yang mengusik mereka. dari kecelakaan Brian yang menabrak pagar, Noire yang mabuk saat berkendaraan dan baru saja kemarin Jack terlibat perkelahian dengan beberapa anggota geng yang Jack ketahui dia adalah anak buah dari orang yang meneror mereka.
tak lama suara pintu terbuka dengan lebar, sosok Brian nampak memasuki ruangan itu dengan beberapa lembar kertas yang dia bawa dan di berikan pada Jack.
"aku tak menemukan Vi di mana pun, jadi aku menyerahkan ini dulu pada mu", ucapan Brian membuat Shera menatapnya cepat.
"kemana Vi?", Brian mengangkat kedua bahunya tanda ia tak mengetahui keberadaan Vi sekarang.
"aneh, apa jangan jangan Vi melakukan penyerangan sendirian? gila", gumam Brian membuat Shera segera mungkin menghubungi Vi.
nada tersambung membuat Shera sedikit lega namun tak ia dengar jawaban dari Vi. sedikit bimbang jika lelaki itu melakukan hal nekat dengan menyerang mereka sendirian.
"apa ini ada hubungannya dengan William?", Shera berucap pada mereka setelah ia memutuskan sambungannya pada Vi.
"aku juga merasa seperti itu", gumam Noire yang juga mengecek ponselnya siapa tahu Vi memberi kabar padanya, namun itu tidak mungkin.
Shera bergegas menarik Brian untuk mengikutinya mencari keberadaan Vi. Sedangkan Jack lelaki itu tetap tinggal di ruangan serba putih dengan mata yang menatap Noire namun tak di pungkiri jika ia juga memikirkan semua perkataan Shera.
dengan pelan dia mendekat pada Noire. mengecup kening gadis kesayangannya dan memberikan ciuman di bibir milik Noire.
"aku pergi".
******
"VI", teriak Shera yang sekarang nampak berlari mendekati Vi yang berdiri di pinggir balkon kamarnya.
lelaki itu membalikkan badannya menatap Shera yang berlari kemudian memeluk lelaki itu dengan erat nampak pula di belakangnya Brian dan Jack yang nampak ngos ngosan.
"kalian kenapa?", tanya Vi dengan pelan, Shera menatap Vi intens dan sedikit pelan gadis itu memukuli Vi dengan brutal.
__ADS_1
"YAIISSSHHH KU PIKIR KAU KEMANA! BRIAN BAHKAN MENCARI MU KEMANA MANA TAPI KAU TAK ADA", kesal Shera yang masih memukuli kekasihnya itu.
Vi terkekeh, sedikit menjilat bibir bawahnya kemudian tersenyum tipis. gadisnya ini semakin cantik saja saat kesal seperti ini, "aku menemui mama di rumah tadi", bisiknya pelan, jemarinya mengusap wajah Shera dengan lembut.
mata tajam itu menatap Brian dan Jack, memberi isyarat agar kedua lelaki itu pergi dari hadapan mereka berdua. dengan dengusan sebal Brian menarik Jack dan menutup pintu dengan kuat.
"kenapa menyuruh mereka keluar?", tanya Shera menatap pintu yang tertutup dengan kedua tangan yang masih memeluk Vi.
"mereka akan menganggu kita nanti", Vi menarik dagu Shera agar bertatapan dengannya lagi. menatap ke dalam bola mata jernih milik gadisnya yang memikat sejak pandangan pertama.
Shera memukul dada Vi pelan, "dasar mesum", dengusnya, "bagaimana kabar mama?".
"fine", ucap Vi yang sekarang menyeret Shera ke atas ranjangnya, merebahkan tubuh gadis itu dengan pelan kedua tangannya menahan berat tubuhnya sendiri.
"rindu sekali dengan mama Nicky", bisik Shera, "bisakah kita ke sana kapan kapan?", pinta Shera pada Vi yang menatapnya.
dengan anggukan kepala Vi membuat Shera tersenyum sebelum ia berteriak kaget saat Vi membenamkan wajahnya pada leher jenjang Shera. sedikit kecupan ia berikan di sana, begini saja sudah membuat Shera berkeringat dingin.
"jangan sekarang", bisik Shera membuat Vi mengangkat wajahnya dan menatap penub tanya pada gadis di bawahnya, "aku sedang ada tamu bulanan".
ucapan Shera membuat Vi mendengus, namun tak lama ia memeluk erat tubub Shera menghirup aroma lavender yang menguar dari tubub gadisnya.
"setelah selesai aku akan menghajar mu hingga beberapa hari", gumam Vi membuat Shera melotot dan memukul punggung lelaki itu.
"aku tak akan kuat Vi", elak Shera mencoba agar Vi tak benar benar melakukannya.
"aku tak peduli", gumamnya lagi.
"ck terserah".
__ADS_1
keduanya diam tak dalam pembicaraan saat ini, hanya menikmati pelukkan mereka yang terasa hangat. Shera membiarkan Vi melakukan apa pun padanya anggap saja ini permainan untuk Vi selama ia sedang ada tamu.