
mama Nicky memeluk Shera dengan erat, memberi kecupan di pipi calon menantunya itu. ia nampak senang saat Shera berkunjung bahkan menyuruh gadis itu untuk menginap di rumahnya.
"iya Shera akan menginap di rumah mama", ucap Shera yang sekarang memotong bawang, keduanya terlihat memasak bareng.
"kita makan di luar saja nanti, sembari menikmati matahari terbenam", ucap mam Nicky yang memasukkan wortel ke dalam panci.
"iya mama. Shera juga rindu makam bersama mama. apalagi angin sore di sana sangat segar", bisik Shera pelan.
"setelah kau menikah nanti, kau bisa menguasai rumah ini", seru mama Nicky dengan menyenggol lengan Shera membuat gadis itu terkikik, "habiskan saja semua harta Vi".
keduanya cekikikkan di dapur tanpa memperdulikan keberadaan Vi yang sedari tadi mendengus tidak suka. ibunya ini pasti menjelek jelekkan dirinya di hadapan Shera di lihat dari cara mereka berbisik bisik pelan.
"sepertinya aku memang harus memasang penyadap di seluruh ruangan ini agar mommy tak menjelek jelekkan aki di hadapan kekasih ku sendiri", ucap Vi membuat Mommynya tergelak dengan kuat.
"kau ini sensitif sekali sih Vi? mom kan hanya berbicara fakta sayang bukan main main", ujar wanita paruh baya itu dengan kerlingan mata menggoda putranya.
"kalau nanti kau hamil. aku harap cucu ku tak menuruni sifat daddynya", doa mama Nicky membuat Shera tertawa dan Vi kembali mendengus.
"tentu saja dia akan mirip dengan ku, dia anak ku", ucap Vi.
"jangan terlalu percaya diri Vi", ucap mama Nicky dengan mendelik pada putranya itu.
Shera hanya tersenyum mendengar keduanya yang nampak beradu argumen tentang anaknya nanti.
******
Vi memeluk Shera dari belakang saat gadis itu menatap langit malam di taburi bintang. menghirup aroma manis yang menguar dari tubuh sang kekasih. keduanya sama sama terdiam menikmati hembusan angin sore yang terasa dingin namun menenangkan.
tak lama suara ponsel Vi terdengar memecah kesunyian membuat Shera tersentak kaget kemudian mencubit lengan Vi, membuat lelaki itu terkekeh.
"hmm", Shera menatap Vi setelah ia membalikkan tubuhnya dan melingkarkan kedua lengannya lada pinggang lelaki tampan yang telah mencuri hatinya.
__ADS_1
"sepertinya kita harus bertemu di markas Vi", sepertinya itu suara Brian.
"what happen?", bisik Shera pada Vi yang mengecup kening gadisnya lembut.
"nothing", bisik Vi.
"hoi hoi hoi aku tak membutuhkan bisik bisikkan manja kalian berdua sialan", kesal Brian di seberang sana membuat Shera terkikik geli, sepupunya ini memang sedikit sensitif jika sudah menyangkut hal hal romansa seperti ini.
"jam tujuh malam tunggulah di Markas, aku akan segera datang", ucap Vi yang membuat Brian mendengus.
"kenapa tidak sekarang saja?", tanya Brian dengan sedikit nada yang meninggi, memang di antara teman teman Vi hanya Brianlah yang berani bicara keras padanya.
"berisik", keluh Vi, "lakukan saja apa pun perintah ku".
"baiklah baiklah, ya sudah aku tutup", Brian mematikan sambungan itu.
Shera menatap Vi dengan pandangan sayunya menatap dengan sedikit pertanyaan yang terpancar di kedua bola mata indah milik sang kekasih.
"ku pikir Brian mengetahui sesuatu makanya ia mengajak kami untuk bertemu dan menyusun strategi, sepertinya akan ada war lagi", jelas Vi dengan jemari yang mengusap kedua pipi tembam milik Shera.
Vi tersenyum gadis ini pasti ketakutan di tambah beberapa musuh Vi yang sekarang mulai berani menganggu orang orang terdekatnya dan salah satunya kecelakaan yang di alami Noire.
"ini yang terakhir, setelah itu aku berjanji tak akan ada lagi pertumpahan darah", Vi mencoba memberi keyakinan pada Shera agar gadis itu tak terlalu memikirkan bagaimana nanti kedepannya.
suara langkah kaki terdengar memasuki kamar itu. keduanya melihat sosok wanita berumur, itu Nyonya Nicky yang sekarang nampak menampilkan wajah dinginnya.
"segeralah lenyapkan Ronald, dia tangan kanan Crown yang sekarang mencari keberadaan mu", ucapan Nyonya Nicky membuat Shera menatap Vi.
"Vi~", bisikkan Shera membuat Nyonya Nicky mendekati calon menantunya itu.
nyonya Nicky mendekati Shera, menarik gadis itu dan memberi sebuah senyuman hangat, "ayo kita berbicara di ruangan mommy".
__ADS_1
Shera menatap Vi yang mengangguk, sebelum ia benar benar pergi Vi mengec*p bibir merah Shera membuat Nyonya Nicky terkekeh pasangan ini benar benar romantis.
"hati hati", bisik Shera dengan mengusap leher Vi dan berjinjit mengecupnya sebentar sebelum ia pergi bersama calon mertuanya itu.
setelah menatap keduanya pergi, Vi kembali mengambil ponsel dan menghubungi Brian, "aku akan ke sana, segeralah berkumpul", ucap Vi dengan mematikan sambungan itu.
******
Brian dan Jack duduk dengan tenang, sedangkan Vi lelaki itu nampak memijat pelipisnya dengan pelan sedikit ringisan keluar dari bibir tipisnya.
"otak ku terlalu banyak memikirkan hal rumit seperti ini", dengusan Brian menggema di ruangan ini. mana mungkin hal segini kecilnya di anggap rumit oleh lelaki pemakan nyawa seperti Vi, bullshit!!
"Ronald? bukankah dia yang membunuh istri Corwn saat perayaan natal?", pertanyaan Brian membuat Vi mengangguk.
Jack menjentikkan jarinya, "aku ada rencana", ucapanya terlewat santai, "kita harus memancing dia untuk keluar, dan target utama adalah Shera".
lelaki berambut sedikit panjang menatap Jack dengan tajam, "kenapa harus kekasih ku? kenapa tidak Noire saja".
"ternyata otak mu lemot ya Vi", sergah Brian membuat Vi mendelik, "kau pikir siapa yang di incar Ronald kalau bukan kau? lagi pula Noire tak di butuhkan sama sekali, gadis itu bisa apa selain mendesah hebat di bawah Jack".
benar apa kata Vi, mulut Brian itu terbuat dari mulut perempuan. lelaki berwajah imut itu terlalu gamblang jika sudah menyangkut hal ejekkan yang menyakitkan.
"tapi kau benar juga", bisik Jack, "biarkan Shera keluar tanpa pengawalan Vi".
Vi mengangguk menyetujui ide dari kedua tangan kanannya itu, matanya yang tajam menatap Delmos yang berdiri di sampingnya, "kau berpura pura lah tak bekerja dengan ku lagi, jika aku member kode pada mu segeralah bekerja dengan cepat".
Delmos mengangguk, "siap tuan", kemudian ia berlalu pergi menyiapkan segala sesuatu dan rencana yang akan dia gunakan nanti.
"aku akan segera menghubungi Shera", Brian memberikan kedua jempolnya pada Vi yang mendelik sebelum ia memainkan ponsel di tangannya.
Jack menampilkan beberapa potongan foto pada Vi dan juga Brian, "ini Ronald dia penyuka gadis gadis cantik dan seksi, dan juga dialah yang menyebabkan beberapa kematian pejabat tinggi serta pengeboman di Brazil tempat di mana ibu mu menanam saham di laboratorium", jelas Jack membuat Vi mengangguk.
__ADS_1
"ini juga ada kaitannya dengan nyonya Ivanka", kemudian Vi menyeringai tajam saat sebuah ide muncul di otaknya, "bekerjalah sesuai aturan, aku ada sedikit ide kotor".
mereka tersenyum penuh arti saat Vi mengatakan hal yang mungkin saja akan menimbulkan perang besar antara dua kubu mafia.