
Brian nampak berjalan cepat ke arah ruangan Vi. Nampak sebuah kertas berada di tangannya.
"Kris sedang menyerang kita Vi", ucap Brian menatap Vi yang sekarang tampak menyeringai.
" aku sudah tahu Brian!!", kekeh Vi dengan menatap jendela kaca yang menampakkan langit kota L.A yang cerah, "tapi aku juga sudah menjebaknya".
Brian terkekeh dengan menutupi wajahnya, " sial, aku terlambat lagi menyadari".
"Ck kau akhir akhir ini selalu lambat", ejek Vi membuat Brian mendengus.
" aku dapat kabar dari bibi Ivanka jika kau akan menemani Shera ke China?", Vi mengangguk, "jika begitu bisakah aku yang menjalankan misi kali ini?".
Vi mengangguk dengan menghisap rokok yang berada di tangannya, " memangnya siapa lagi yang bisa menjalankan ini selain kau? Dan hubungi Jack agar segera menyiapkan semuanya ".
"Jack bahkan sudah berdiri di atas gedung sejak kemaren, kau kan tahu instingnya sangat kuat", Vi mengangguk angguk pelan.
"Aku akan mengawasi kalian di sana nanti, kau tahu kan bagaimana pasar China yang aku tempati?", tanya Vi pada Brian yang mengangguk.
"Kau harus bisa membunuh Crown dan Kris, aku tak mau lagi ada korban tak bersalah menjadi kebiadaban mereka", ucapan Brian membuat Vi terdiam.
" tenang saja, kau hanya tinggal menunggu kabar dari ku". Vi menyeringai menatap Brian dan lelaki di depannya hanya tersenyum tipis.
******
"Kau pasti akan lama di China, aku pasti akan merindukan mu", rengek Noire pada Shera yang hanya terkikik geli menatap wajah Noire.
" hanya dua bulan Noa, itu tidak lama", jelas Shera.
"Tapi tetap saja itu lama bagi ku", keluh Noire.
Jack mendengus sebal menatap kekasihnya, apalagi saat ada adegan drama berpelukkan ala teletubis membuat Jack ingin sekali mengeluarkan semua isi perutnya.
Sedangkan Vi lelaki itu memutar malas kedua bola matanya, menatap bosan pada dua gadis yang dia anggap terlalu lebay.
" ayo berangkat, kita akan terlambat Shera ", ucap Vi dingin, " dan kau, berhentilah bersikap menjijikkan". Tunjuk Vi pada Noire dengan menyentil dahi gadis itu.
"S**LAAANNNNNN", teriak Noire pada Vi dengan mengusap usap keningnya yang terasa panas.
Jack bahkan membungkam mulut berisik Noire, selain berisik di tempat umum Noire bahkan lebih berisik saat di ranjang, benar benar menyakiti telinga Jack.
" kau berisik Noa ", kesal Jack pada kekasihnya yang sekarang mendengus sebal.
" ya sudah kami pergi dulu", Shera berucap pelan dan melangkah pergi menjahui keduanya dengan Vi yang menggandeng jemarinya.
Noire nampak merangkul pinggang Jack, tangannya melambai pada Shera yang juga melambaikan tangannya. Dia pasti sangat merindukan Shera nantinya.
"Cih ayo bersenang senang, aku butuh ***", Noire mendengus mendengar permintaan Jack namun dengan cepat gadis itu menarik lengan kekasihnya.
*******
Shera nampak kelelahan, sudah tiga hari dia di China dan seharian ini dia di sibukkan dengan penelitian yang menurut Shera sangat amat memuakkan.
" aku lelah hiks ~~ mama~~", rengek Shera dengan memeluk boneka yang ada di sofa ruangannyan.
Omong omong dia menempati Apartementnya Vi. Lelaki itu membeli Apartementnya ini dengan alasan agar Shera lebih dekat berangkat ke tempat penelitiannya.
Kakinya ia langkahkan menuju ruang kerja Vi. Saat membuka pintu gadis itu mendapatkan Vi yang membaca sebuah buku bersampul merah dengan gambar wanita seksi, cih dia membaca buku porno.
__ADS_1
"Kau itu kerja atau ingin menghabiskan waktu dengan membaca buku tak berguna itu?", ejek Shera pada Vi dengan melipat kedua tangannya di dada.
Vi menyeringai menatap pada Shera, jemarinya yang panjang menekan tombol di samping telepon rumah, dan kalian tahu itu tombol apa? Yapp tombol untuk mengunci pintu otomatis.
" kebetulan sekali, aku sedang membutuhkan mu", Vi mengedipkan sebelah matanya menggoda Shera.
Sadar akan tatapan dan seringai Vi, Shera bergegas membuka pintu namun sayang pintu itu tak akan terbuka, "YAHHH VII, BUKA PINTU INI", sial Shera terjebak.
Langkah kaki di belakangnya membuat buku kuduk Shera meremang, dengan cepat dia membalikkan tubuhnya menghadap Vi dan mencoba menghindari lelaki ini.
" ayolaahhh~~ Shera", Shera melotot menatap Vi. S*al lelaki ini sudah di kuasai nafsu tak terkontrolnya.
"Berhenti atau aku akan melempar gunting ini", ancam Shera membuat Vi mengedikkan bahunya dengan langkah lebar lelaki itu mendekat pada Shera saat akan berlari Vi dengan cepat memeluk Shera.
" YAH YAAAH YAAAAAHHHH", Shera memberontak kuat, namun saat ia ingin menendang Vi tubuhnya sudah mendarat di atas meja kerja lelaki yang sekarang menyeringai.
Dengan brutal Shera memukuli Vi agar lelaki di atasnya segera pergi. Ckckck Shera Shera kau sudah tahu bukan bagaimana Vi? Menolak pun kau tak akan sanggup.
Vi mencengkram erat lengan Shera yang berada di sisi kepala gadis itu. Matanya yang tajam menatap wajah Shera yang memerah, nafas yang tersengal serta dada yang naik turun.
"Oke, aku lelah, jadi bisa kau tunda n*fsu mu itu Vi?", ucap Shera agar lelaki ini melepaskannya.
Vi menggeleng pelan, kemudian mendekatkan wajahnya pada Shera. Bibir keduanya menempel, hanya menempel dengan kedua mata yang saling menatap satu sama lain.
kedua mata mereka saling menatap mengangumi bagaimana indahnya bola mata itu. Vi menatap kagum pada gadis di bawahnya, wajah cantik dengan aura menarik, hidung mancung, pipi sedikit chubby dan bibir merah yang Vi sukai.
"kau cantik, sangat cantik", bisik Vi dengan berbisik membua Shera terkekeh. jemarinya mengusap lengan kekar Vi yang terbalut kemeja hitam kemudian dia tersenyum tipis.
"kau baru menyadarinya jika aku memang cantik?", Shera berucap pelan membuat Vi terkekeh dengan mengusap pipi putih gadis di bawahnya.
"gombal".
"tidak aku berkata jujur", ujar Vi dengan merendahkan kembali wajahnya mendekat pada wajah Shera.
Namun saat bibir itu ingin kembali menempel pada Shera, suara deringan ponsel menggema membuat keduanya tersentak.
Vi mendecih keras kemudian menenggelamkan wajahya pada perpotongan leher Shera yang membuat gadis itu terkikik geli, "angkat telpon itu Vi".
"hmmm", Vi bergumam dengan malas.
"ayolah~~ siapa tahu itu sangat penting", rengek Shera dengan mencubit lengan Vi membuat lelaki itu mendengus dan beranjak mengambil ponselnya.
mata tajam itu masih menatap Shera yang sekarang nampak duduk di atas meja kerjanya.
" hmm", suara di seberang sana membuat Vi menyeringai tajam, "pastikan dia benar benar menyesal,", ucap Vi pada Brian, "sudahlah kau menganggu proses pembuatan anak", ucap Vi membuat Shera melotot menatap Vi.
" sialan kau Vi, hilangkan sifat mesum mu itu", ucap Brian pada Vi yang terkekeh.
"Tidak bisa jika itu menyangkut sepupu mu", Vi menatap Shera dengan tatapan menggodanya membuat gadis itu melotot kembali.
" berikan aku keponakkan yang cantik dan tampan", goda Brian. Dia yakin saat ini Shera mendengar pembicaraan antara dirinya dan Vi.
"Aku sedang berusaha menanamkan benih unggul ku padanya", Shera mendekat pada Vi dan memukul lengan lelaki tampan ini membuat lelaki itu terkekeh.
Brian terkikik geli, " ya sudah, aku harus pergi Vi masih banyak yang harus ku urus", dengan cepat Brian menutup panggilan itu.
Vi menatap Shera yang mendengus sebal, tangannya menarik pinggang gadis itu hingga menempel erat padanya, "ayo lanjutkan permainan kita yang tertunda tadi", goda Vi.
__ADS_1
" apa apaan itu, aku tidak mau", ucap Shera mencoba melepas pelukkan Vi.
"Kepalang tanggung, kau tak kasihan pada ku?", Shera tahu ini hanya akal kalan Vi saja, namun Shera juga tahu bahwa Vi terlihat tak nyaman apalagi saat matanya menatap wajah Vi yang napak tertekan.
" di kamar", cicit Shera dengan menundukkan wajahnya yang memerah malu. Baru kali ini dia menawarkan tempat untuk hal yang seperti itu, biasanya Vi yang akan menyeretnya ke ranjang dan bermain.
"Aku ingin mencoba di atas meja", ucapan Vi membuat Shera melotot namun belum sempat ia protes tubuhnya sudah terbaring di atas meja kerja Vi.
******
Kris membanting benda yang berada di sekitarnya, beberapa meja kaca terlihat hancur dengan pecahan yang berserakkan di lantai. Bahkan anak buahnya saja tak berani untuk menghentikan lelaki yang sudah di kuasai emosi itu.
"****, usaha ku hancur dengan begitu mudahnya". Gumam Kris pada beberwpa anak buahnya yang terlihat menunduk tak berani menatap Kris.
Saat baru melangkah kan kakinya pada gedung tinggi bertingkat Kris di kejutan kan dengan ayahnya yang tak sadarkan diri, beberapa luka terdapat di sekujur tubuhnya dan tak lupa tembakkan yang meleset di lengan kirinya.
Alat alat besar hancur tak tersisa, bagaimana dia bisa mencuci otak para anak anak kecil jika alat yang sering ia gunakan tak ada sisa sedikit pun.
" siapa dalang semua ini", pikiran Kris tertuju pada Vi. Lelaki dengan kekuasaan yang hampir menyelimuti benua Eropa itu sangat cerdik. Bahkan dengan gampangnya dia akan menghapus jejaknya tanpa bisa terlacak kembali.
"Apa kau punya relasi kerja yang lain Kris?", Bastian menatap Kris yang termenung, " aku pikir ada salah satu relasi mu yang bermain kotor, lagi pula siapa penembak jitu yang ada di atas gedung kemaren?", Kris menatap Bastian.
"Penembak jitu?", Bastian mengangguk, " hanya Vi yang mempunyai sniper handal di kota ini Bastian, Jack Demian", perkataan Kris membuat Bastian melotot.
"Kau benar, tapi kita tak bisa menyerang tanpa ada keterangan lainnya Kris, kau tahu Jack memang sniper handal tapi saat ini dia tak ada dalam daftar hitam pemberontakkan", ucap Bastian membuat Kris terdiam.
Jika begini terus, maka dengan perlahan Kris akan di bantai secara halus dan rapi. Dia tak mau, Masih banyak yang harus dia kerjakan untuk para anak anak kecil dan wanita wanita muda, dia masih membutuhkan organ mereka semua.
" aku harus segera menemukan siapa dia! Kau Bastian awasi Vi dan anak buahnya aku tak mau kelewat sedikit apa pun tentang mereka", Bastian mengangguk kemudian dia pergi meninggalkan Kris di ikuti anak buah yang lainnya.
******
Vi menatap Jack yang duduk di hadapannya. Ntah kapan lelaki yang menjadi tangan kanannya ini mendarat di China dan bergegas untuk menemui dirinya.
"Aku hampir saja ketahuan Vi", ucap Jack dengan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kayu itu.
"Apa Crown masih bernafas?". Vi menatap Jack terkekeh.
"Masih, tembakkan ku meleset mengenai tangan kirinya jika saja Bastian tak membidik ku", Jack terlihat geram saat mengingat Bastian yang membidiknya dari arah bawah jika telat sedikit saja maka Jack akan mati di tempat.
Vi menatap cuek pada Jack, "aku akan mengaturnya setelah kembali dari China, kau tahu aku menemukan markas Kris di sini".
"Pencucian otak?", Vi mengangguk, " aku berharap gedung itu hancur tak tersisa, lagi pula setelah kau pulang Brian akan datang dan membawa bom nuklir", jelas Jack dengan menyeruput kopi pahitnya.
"Yang terpenting sekarang kau harus waspada, sepertinya Kris mencurigai kita", Jack mengangguk paham. Dan kemudian keduanya mengobrol ringan saat menatap beberapa anak buah Kris menatap ke arah mereka berdua.
Salah satu dari mereka mendekati Vi dan Jack yang asik mengobrol. Keduanya mendongak menatap lelaki botak yang sekarang duduk bersama keduanya.
" aku tahu kau dalang di balik ini semua, kau sniper handal yang ada di atas gedung waktu itu", ucap lelaki plontos ini dengan menatap intens keduanya.
Vi hanya diam tanpa minat, namun Jack mendekat pada lelaki bertubuh besar itu, "kau menuduh tanpa bukti big bro, kau tahu kami tak berminat untuk mencampuri urusan kalian".
" kau masih mau duduk di sini atau pulang tanpa kepala", suara dingin Vi membuat namja pelontos itu menelan ludah kasar dan tanpa pikir panjang lelaki itu berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.
Jack menyeringai kemudian berdiri mengikuti Vi yang berjalan dengan langkah santai namun mengintimidasi mendekat pada segerombolan anak buah Kris yang menunduk.
"Berani menganggu ku, akan ku pastikan kepala keluarga kalian terpisah dari badan", ancam Vi membuat semuanya terdiam tak berkutik. Pantas saja Kris tak mau berurusan dengan Vi ternyata lelaki ini benar benar mengerikan.
__ADS_1