
Shera berjalan memasuki pusat perbelanjaan sendirian tanpa adanya pengawasan yang selalu berjalan di belakangnya. membuka kacamata hitam yang bertengger dan berjalan ke salah satu stand makanan yang tersedia di sana.
"Good morning Mrs, would you like to see the menu?", tanya seorang pelayan yang menatap dengan tersenyum pada Shera.
"I'd like to order breakfast, what special today?", ucap Shera seraya menatap bebeapa menu yang mengunggah seleranya.
"spicy grilled chicken with some cheese", pelayan itu memberi menu terbaik dan tentu saja enak.
Shera tersenyum, "that sounds good, l'll have that", Shera memesan dan duduk di salah satu bangku yang tersedia namun ia segera berdiri saat lupa memesan sebuah minuman, "one small black coffee, please", pinta Shera.
"of course Mrs".
tak menunggu waktu lama pesanan yang Shera pesan datang dan membuat gadis itu berbinar menatap ayam di hadapannya yang terasa lezat dan harum baunya.
"emmm~ini kelihatan enak sekali", Shera mengambil pisau dan garpu sesegera mungkin dia memotong kecil daging itu dan memasukkan ke dalam mulutnya.
ekspresi puas nampak terpancar di wajahnya membuat beberapa pelayan tersenyum dengan tingkahnya apalagi di iringi dengan suara yummy.
"Shera?", suara lelaki terdengar membuat Shera tersentak kaget, ia dongakkan kepalanya menata sosok lelaki tampan berkulit putih menggunakan kaos putih celana hitam dan kacamata yang bertengger.
"who are you?", tanya Shera mengernyitkan keningnya penuh tanda tanya.
"Jimmi",
"jimmi, oh my god, how are you?", tanya Shera, "please sit down", ucap Shera dengan tampang yang antusias bukan main.
sudah lama sekali dia tak bertemu dengan teman lamanya ini semenjak Jimmi memutuskan pindah ke Swiss.
"I am fine, you look prettier", puji Jimmie yang membuat Shera terkikik geli.
keduanya asik mengobrol satu sama lain dengan mencicipi makanan yang tersedia di hadapan mereka. saat asik dengan obrolan mereka jemari Jimmi membersihkan noda di bibir Shera, membuat gadis itu terdiam.
__ADS_1
"tak baik seorang gadis mempunyai noda di sudut bibir", bisik Jimmy dengan senyum tipisnya namun ntah kenapa itu terlihat lebih tampan.
"ah~ terima kasih", ucap Shera sedikit malu kemudian dia meminum secangkir coffee menghilangkan perasaan gugup yang tiba tiba menyerang dirinya, "Jim, aku harus pergi pekerjaan ku sedang menunggu ku kau tau?", ucap Shera dengan sedikit candaan.
Jimmi terkekeh, "baiklah, bolehkah kapan kapan kita bertemu lagi?", pinta Jimmi dengan berdiri mendekat pada Shera.
gadia itu mendongak menatap Jimmi kemudian mengangguk singkat sebelum ia melotot saat Jimmi mengecup sudut bibirnya singkat.
"see you", bisiknya pelan dengan melambaikan tangan pada Shera seraya meninggalkan gadis itu sendirian dengan mematung.
******
Noire berjalan dengan tergesa gesa menuju ruangan Shera yang terletak di lantai atas membuat gadis itu bersungut sungut karena harus kelelahan berjalan memasuki koridor koridor panjang.
"siapa yang membangun bangunan ini dengan begitu panjang? apa mereka tak berpikir bahwa menyusuri ruangan satu persatu itu butuh tenaga yang banyak?", sungut Noire yang memijat kakinya saat ia duduk di bangku tunggu.
di rasa lelahnya menghilang Noire segera membuka pintu Shera dengan kasar dan mencari keberadaan gadis itu yang Noire lihat sedang bersantai dengan menatap gedung gedung tinggi yang menjulang.
"mati apanya? jangan bertingkah dramatis Noire", Shera melanjutkan pekerjaannya tanpa perduli Noire yang menatapnya tajam dengan mata melotot.
Noire mendengus, "Vi tahu jika lelaki yang kau temui di restoran kemarin mencium mu", ucap Noire dengan nada menekan.
Shera terdiam dengan pena yang ia pegang menggelinding dan terjatuh ke lantai putih itu. matanya melotot dengan menatap Noire yang tersenyum tipis di iringi sedikit kekehan mengejek.
"what the hell!!! aku baru menyadari", bisik Shera dengan membayangkan seringai di bibir Vi. matilah ia malam ini, Vi pasti tak akan melepasnya dengan mudah.
"selamat menikmati hukuman mu Nyonya", Noire duduk di sofa dengan kaki saling bertumpu dengan pandangan angkuh pada Shera akan sarat ejekkan.
"sepertinya aku harus mengambil lembur", ucap Shera pelan.
"silahkan jika bisa, apa kau lupa gedung ini masih ada campur tangan Vi, bisa saja dia memerintahkan boss mu untuk tak memberi lembur", ucap Noire dengan terkekeh, sudah bisa ia bayangkan bagaimana perasaan Shera sskarang.
__ADS_1
lagi lagi ucapan Noire membuat gadis berambut pendek itu terdiam. memikirkan bagaimana cara agar Vi tak mengurungnya di kamar seharian bahkan lebih.
"ck, kau membuat ku kehilangan mood untuk mengerjakan semua pekerjaan ku Noa", ucap Shera dengan memijat pelipisnya pelan.
"aku kan hanya memberi tahu agar kau bersiap siap supaya tak terkejut dengan perlakuan Vi nanti", Noire berucap enteng sebelum ia berdiri dari duduknya, "ya sudah aku harus pulang, Jack sudah menunggu ku sejak tadi".
tak memperdulikan Noire yang beranjak pergi Shera masih memikirkan cara bagaimana ia bisa kabur dari Vi. sialan memang si Jimmi yang seenak jidatnya menciumnya di tempat umum yang tentu saja selalu ada mata mata suruhan Vi.
"oh god", keluh Shera lagi, dan kali ini ia menyandarkan tubuhnya pada kursi.
suara ponsel berbunyi tak Shera hiraukan dia terlalu sibuk dengan pikirannya yang melalang jauh ntah kemana.
******
Shera berjalan pelan menyusuri koridor apartementnya, membuka password yang coba ia tekan dengan perlahan. tubuhnya benar benar lelah setelah bekerja dari pagi hingga malam menjelang.
tas yang ia pegang ia lemparkan begitu saja, high heels hitam tak ia perdulikan lagi dimana keberadaannya. Shera hanya butuh tidur, meringkuk di atas ranjang dengan menikmati aroma terapi Lavender dengan di iringi alunan musik jazz yang mengalun pelan di telinga.
saat matanya terpejam suara berisik di dapur membuat ia terbangun, menegakkan tubuhnya sebelum ia berdiri dan mencoba mendekati arah dapur.
dapat ia lihat, tubuh tegap berbalut kemeja putih dengan lengan yang di gulung serta rambut hitam yang sedikit panjang. suara minyak terdengar pelan di telinga Shera serta harus masakkan yang menggugah selera.
"Vi?", Ucapnya pelan, namun bukanya membalikkan badannya lelaki itu malah menghentikan pekerjaannya membuat Shera sedikit was was.
"or Jimmi?", gumamnya yang tak terdengar siapa pun.
"ck, Jimmi sialan", ucap suara yang terdengar pelan namun dalam itu membuat bulu kuduk Shera meremang seperti melihat hantu saja.
menelan ludah dengan pelan, Shera mencoba mendekat namun ia terpekik kaget saat Vi melangkah cepat ke arahnya dan berdiri menjulang di hadapannya.
"sudut bibir kanan yang tersentuh bibir sialan Jimmi", suara parau yang husky lagi lagi membuat Shera terdiam.
__ADS_1