
"kenapa sih setiap musuh yang lama telah mati, akan ada musuh yang baru berdatangan", keluh Noire pada Jack yang sekarang duduk dengan santai menghadap laut.
"Vi itu sangat berpengaruh di mana pun, jadi wajar jika ada yang tak menyukai dia", ucap Jack dengan melempar batu kecil ke arah air yang sedikit bergelombang itu.
"hidup dengan kepungan mafia memang menyebalkan ya Jack? dimana mana tak akan bebas, nyawa selalu terincar dan orang terdekat jadi sasaran utama", ucap Noire.
Jack menatap kekasihnya dengan tersenyum tipis, "itulah kehidupan tak lepas dari yang namanya masalah".
Noire menayap kekasihnya dengan pandangan sulit di artikan. lelaki yang biasanya cuek dengan masalah rumitnya hidup sekarang mendadak mengomentarinya dengan bijak seakan akan dia seorang motivator ternama.
Noire pun hanya dapat mengangguk anggukkan kepalanya mendengar titah sang kekasih. sedikit tersenyum senang saat Jack sedikit demi sedikit mulai berubah, menunjukkan sifat hangatnya yang membuat Noire semakin yakin bahwa ia semakin jatuh cinta pada Jack.
******
Vi menatap lelaki muda itu dengan pandangan tajamnya yang seakan akan mampu menusuk kedalam kulit wajah Dokter Richard yang sedang menjelaskan materi namun matanya tak pernah lepas dari Shera.
matanya semakin tajam menatap saat tangan itu menyentuh jemari Shera saat dia menginginkan Shera menjelaskan materinya kembali. menyentuh pinggang ramping itu yang membuat Shera tersentak dan membungkuk meminta maaf pada Dokter yang lainnya.
"wah kalian cocok sekali", Dokter Ahli Bedah itu tersenyum puas, Dokter Roa.
"terima kasih", Dokter Richard tersenyum menggoda pada Dokter Roa yang juga ikut tersenyum tipis.
Vi mengepalkan tangannya, kemudian melangkah memasuki ruangan itu dengan tak sopan. beberapa Dokter ingin sekali membentak namun mereka terdiam saat Vi menatap mereka dengan pandangan tak bersahabat.
"aku mengizinkan dia untuk mengikuti pertemuan ini, bukan untuk kau lecehkan Dokter Richard", bisik Vi yang membuat Dokter Richard terdiam apalagi menatap sebuah pistol di celana Vi.
"maafkan aku Tuan, aku tak akan mengulanginya lagi", Vi tak mendengarkan ucapan Dokter muda itu, namun dengan pelan dia menarik Shera dan membawa gadis itu pergi meninggalkan ruangan.
saat di luar Shera masih menatap Vi dengan wajah cemberut, "aku yakin, status kedokteran ku akan lenyap", gumam Shera yang membuat Vi menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"kau suka di sentuh secara intens seperti itu?", Shera menatap Vi yang menampilkan gurat wajah emosi.
Shera menggeleng pelan, kemudian ia melangkah mendekat pada Vi. mendongak menatap wajah tampan yang selalu Shera puja, jemarinya yang lentik menyusuri leher milik Vi dan berakhir menyentuh pipi itu mengusapnya pelan.
"tidak, aku tak suka", bisiknya, "jangan marah, aku tak bisa jika harus melihat mu bertampang menyeramkan seperti ini", bisik Shera dengan memeluk tubub Vi dengan erat.
dapat Shera rasakan panas di tubuh Vi, serta sengalan nafas yang mungkin sejak tadi menahan emosi. tangan kekar Vi merangkul erat tubuh semok gadisnya itu.
"kita pulang", keduanya berjalan meninggalkan gedung itu, tak mereka perdulikan tatapan tatapan orang yang berlalu lalang. memangnya siapa yang berani menegur Sang boss besar?
******
Brian terkekeh dengan menenguk minumannya yang masih setengah. di hadapannya Ronald menatap dengan diam lelaki berwajah imut yang sedang tertawa. lelaki bernama Brian ini sangat berbahaya jadi Ronald harus lebih berhati hati untuk menaklukkannya.
apa kau tahu Ronald, bahwa suara mu telah masuk ke dalam rekaman Vi di markasnya sana. ya tentu saja karena Brian menanam chip penyadap di ujung jemari kelingkingnya. otak pintar itu selalu saja menemukan Ide yang briliant bahkan chip itu tak terdeteksi sedikit pun.
"berapa pun yang kau mau", Ronald memberikan seringainya pada Brian yang terkikik.
Brian menutup wajahnya dan lagi lagi tertawa, "ku pikir kau tak akan sanggup", ucap Brian.
"berapa Vi membayar untuk merekrut mu?", Ronald bertanya seakan akan ia mampu untuk mengalahkan Vi untuk masalah pembayaran.
lelaki berwajah imut itu terdiam, jika sudah menyebut nama Vi berarti dia sedang tak bermain main, "Vi memberi ku chip pangeran Inggris, kau tahu kan berapa itu?".
"1 kuadriliun", ucap Ronald mengucapkan angka itu dengan pelan. kau tahu berapa itu? seribu triliun untuk mendapatkan chip kecil yang mungkin kau hanya bisa melihatnya melalui microscop namun berdampak besar bagi negara bahkan dunia.
"ya, sebanyak itulah untuk membeli ku", ucap Brian, "tapi aku bisa menurunkan harga tapi dengan satu syarat", bisik Brian.
"what?".
__ADS_1
"ada Berlian berwarna biru di museum Dubai. itu salah satu Berlian yang menguntungkan perekonomian dunia saat ini, jika kau bisa mengambilkan itu untuk ku makan dengam senang hati aku akan menjalankan tugas yang kau perintahkan".
Ronald terdiam mendengarnya, mengambil berlian itu sama saja ia menyerahkan nyawanya dan juga seluruh keluarganya pada kerajaan Dubai, sepertinya ia di jadikan sebagai tumbal.
"bagaimana?", tanya Brian sekali lagi. namun ia tak mendapatkan jawaban dari Ronald, "jika tak bisa, aku pergi".
Brian berlalu meninggalkan Ronald yang menatapnya dengan sangat tajam. berurusan dengan anak buah Vi memang sangat menjengkelkan, Jack dan Brian kedua anak buah Vi yang sama sama sulit untuk di taklukkan dengan hal yang sepele.
sosok lelaki berbaju putih datang dan duduk di hadapan Ronald membuat lelaki itu tersentak namun Ronald bisa menguasai diri dan itu tak luput dari pandangan Vi yang terkekeh.
jemari itu memegang sebuah kotak kecil berwarna hitam yang membuat Ronald penasaran apa yang ada di dalam kotak itu. melihat raut bertanya yang Ronald tampilkan membuat Vi terkekeh.
"ini Berlian yang Brian bicarakan, sudah ada di tangan ku", ucap Vi dengan enteng, "aku mencurinya sudah sangat lama namun para penjaga itu tak menyadarinya sama sekali".
"licik", ucap Ronald, "kau terkadang menjadi sangat licik namun kau juga akan menjadi seperti seorang malaikat penolong, apa kehidupan mu seperti Lego?", Ronald menampilkan wajah sinin yang sangat kentara.
"hanya sebuah kepingan Puzzle", ucap Vi yang memainkan gelas coffee milil Brian, matanya melirik kearah mobil biru tua yang terparkir tak jauh dari mobilnya.
jemarinya memainkan alat seperti jam tangan namun terlihat sangat kecil. dan benda itu tak luput dari pandangan Ronald yang penasaran.
"benda apa yang kau pegang itu?", tanya Ronald penasaran, dan Vi menatap Ronald dengan sedikit tersenyum kemudian menunjukkan benda itu pada Ronald.
"kau akan tahu nanti", Vi berdiri dan melangkah pergi, namun sebelum ia melangkah lebih maju Vi menyeringai dan menatap Ronald dengan jemari yang menekan benda kecil itu.
ledakkan besar membuat orang orang berteriak dan berlari berhamburan tak tentu arah. bahkan Ronald terlihat berdiri menatap mobilnya yang terlalap api besar.
"fantastic, selamat menikmati", Vi berlalu pergi membiarkan Ronald yang menatap tajam pada mobil hangusnya, tangan itu mengepal erat.
"aku akan membalas mu", bisik Ronald pelan penuh dengan dendam.
__ADS_1