
Shera tersentak saat Vi bersandar di dinding dekat pintu. Rokok yang menyala terlihat mengepulkan asap tebal yang menghilang di udara.
"Ck, kenapa kau ada disini?", ucap Shera tanpa menatap Vi yang tak bergerak dari bersandarnya. Tangannya bersidekap dengan mata yang memutar malas melihat lelaki yang tak ingin ia temui.
" kau mau kemana?", tanya Vi menata Shera dengan tajam.
Gadis itu menatap Vi dengan kening mengerut, "bertemu Kris, kami akan pergi kencan mungkin bisa di bilang begitu", ucap Shera enteng yang membuat Vi menatap tak suka padanya.
Vi terkekeh, " kencan? Apa hidup mu terobsesi dengan kencan yang kekanakkan?", ucapan Vi membuat Shera mendengus sebal.
"Dan kau, apa hidup mu terobsesi pada ku karena selalu menganggu ku?", tantang Shera yang menatap Vi dengan intens.
Lelaki dengan rambut merah menyala itu menegakkan tubuhnya dan berjalan mendekat pada Shera, kemudian ia menunduk menatap dalam ke arah mata Shera, " kau sudah jelas tahu jawaban ku bukan? Kenapa masih bertanya? Apa aku perlu menunjukkan pada mu bagaimana sifat obsesi ku itu?", bisik Vi.
Gadis di hadapannya memundurkan langkahnya hingga berjarak sedikit menjauh dari Vi, "kau menjengkelkan", gumam Shera.
" ya itu aku, tapi bukankah Kris lebih menjengkelkan? Ya setelah aku membaca riwayat kehidupan gelapnya", bisik Vi. Mungkin sekarang saja dia membuka rahasia Kris agar gadisnya ini tak akan menemui Kris dan tergila gila pada Kris.
"Kris laki laki baik jika kau ingin tahu Vi, jangan sama kan dia dengan mu", gerutu Shera, " ck aku bisa terlambat jika terus berdebat dengan mu", Shera meninggalkan Vi yang menyeringai.
Sebelum Shera menjauh, suara Vi menghentikan langkah gadis itu, "Kris ketua mafia yang telah membunuh sahabat mu Natalia", ucapan Vi membuat Shera terdiam.
flashback
" natalia", ucap Shera dengan bibir bergetar saat menatap sang sahabat yang merengang nyawa di hadapannya.
Shera dengan berjalan cepat mendekati Natalia yang terlihat kesakitan dengan darah yang terus mengucur dari tenggorokkannya, "she~~rhaa~", jemari bersimbah darah mencoba menggapai Shera.
Kepala itu di letakkan di paha Shera dengan pelan, ia takut menyakiti Natalia walaupun sebenarnya gadis itu memang kesakitan, "Natalia hiks~natalia".
" menj~auh dari Ed~~hward", Natalia mengenggam jemari Shera.
"Berhenti bicara, aku akan membawa mu ke rumah sakit, kau bertahanlah", namun saat Shera ingin beranjak pergi, Natalia menarik erat tangan Shera.
Mata gadis itu berair hingga membuat pandangannya buram. Gelengan kepala Natalia membuat Shera bingung setengah mati. Ia ingin sahabatnya di tangani dengan cepat namun belum sempat ia membawanya Natalia menghembuskan nafas terakhirnya.
Shera memeluk gadis itu dengan tangisan yang semakin keras. Tak ia pedulikan darah yang mengotori rok putihnya, ia terus menangis dengan kepergian sahabatnya.
__ADS_1
Namun apa kau tahu Shera? Sosok lelaki tinggi terlihat menatap mu dengan pandangan terluka, karena telah menyakiti malaikat seperti diri mu.
Shera memegang kepalanya yang terasa pusing, namun dengan tenang dia membalikkan badannya menatap Vi yang menyeringai.
"Edward Suarez", ucap Vi membuat Shera terkejut mendengarnya, nama itu yang Natalia sebutkan sebelum ia pergi, " kau ingat? Itu Kris ".
" bad liar, you're bastard", bisik Shera pada Vi yang sekarang mendekat, "I hate you".
Vi mengangkat dagu Shera, dapat ia lihat mata berkaca gadis di depannya, " kita lihat saja Shera, sebentar lagi kau akan mendapatkan kebenarannya", Vi melangkah pergi meninggalkan Shera yang menunduk, tubuhnya bergetar hebat dengan suara isakkan yang ia redam.
*******
Pagi sekali Shera datang ke kampusnya, pagi ini dia harus membuat janji dengan Mrs. Monica dosen yang menjadi pembimbing selama ia mengerjakan tugas akhirnya.
"Sial aku terlambat", bisik Shera dengan pelan, namun ia bertemu Kris di depan sana yang sedang tersenyum dengan tampannya.
Tak ia perdulikan ucapan Vi tadi malam, pasti lelaki itu hanya ingin menjebak Kris agar dirinya tak mau berteman dengan lelaki jangkung berambut pelangi ini.
" what happend?", tanya Kris pada Shera yang berlari dengan cepat.
Kris mengangkat kedua bahunya, " aku ada latihan basket bersama Brian".
"Baiklah, aku pergi dulu", Shera melangkah pergi dengan cepat.
Harum bunga mawar menyapa indera penciuman Kris, wangi ini masih sama saat pertama kali mereka bertemu.
" my rose", bisik Kris dengan menatap Shera yang berbelok ke arah kanan, "mine", kemudian ia melangkah pergi.
*
Suara ketokkan pintu membuat Mrs. Monica bergegas mengemasi alat make up nya. Ia tak mau mahasiswanya melihat alat alat ini, bisa malu dia.
"Good morning Mrs. Monica!! ,how are you?", tanya Shera dengan tersenyum sangat manis pada dosennya itu.
Mrs. Monica tersenyum, memang Shera adalah mahasiswa kesayangannya karena kepintaran yang ia miliki.
" morning Shera, I am fine, how about you?", tanya Mrs. Monica dengan riang.
__ADS_1
Shera kembali tersenyum, "very well, by the way, can I consult my thesis at your office tomorrow Mrs.?", tanya Shera hati hati.
"Sure, but after 10 o'clock ok? Because I have a class to teach tomorrow morning!", ucap Mrs. Monica memberi kepastian pada Shera.
" ok Mrs, thank you and good bye", ucap Shera.
"Good bye Shera".
******
Vi berlari dengan cepat saat beberapa orang mengejarnya dengan senjata di tangan mereka. Langkah kakinya semakin cepat saat melihat sebuah lorong kecil di semak belukar.
Sial, dia di jebak saat dirinya tak membawa senjata apa pun. Padahal biasanya namja itu tak pernah sekalipun meninggalkan senjata rakitan yang ia buat sendiri.
Belum sempat ia memasuki lorong itu, sebuah tarikkan di bajunya membuat ia berhenti, dengan cepat pula dia memutar tubuhnya dengan kaki yang menendang kepala musuhnya hingga lelaki berkepala botak itu terhempas dengan kuat.
" **** you boy", tangannya dengan lincah mengambil pistol musuhnya, menembaki kepala itu dengan berutal, " go to hell son", bisik Vi dengan meniup ujung pistol itu.
Beberapa langkah kaki terdengar membuat Vi berlari cepat, semakin jauh berlari Vi di kejutkan dengan Shera yang berada tak jauh darinya, gadis itu berjalan santai.
Shera melotot saat melihat Vi berlari seperti orang kesetanan, "kyaaaaaaa~", tubuhnya memutar dengan rangkulan di pinggangnya membuat gadis itu berada di pelukkan Vi dengan sangat erat.
Butuh waktu sedikit lama untuk menyadari kedekatan mereka. Shera melepas dengan cepat dan mengusap tubuhnya.
"Kau itu bisa tidak jangan berlari lari di jalanan? Kau membuat pengguna jalan terganggu", omel Shera, " cih~ bisa bisa aku terlambat ".
Vi hanya memperhatikan gadis itu dengan sedikit kesal, dengan cepat dia pergi meninggalkan Shera yang terdiam menatap tubuh Vi yang menghilang.
" tumben sekali", heran Shera saat dirinya tak menjadi bahan intimidasi seorang Vi.
Suara deringan ponsel membuat Shera mengalihkan pandangannya pada Vi, "hello".
" hai baby, bagaimana jika nanti malam kita pergi ke pesta?".
"Ah tentu saja, jemput aku", Shera menutup panggilan itu, namun sebelum ia melangkah pergi, Shera menatap kembali jalanan dimana Vi pergi tanpa sepatah kata pun.
" aneh".
__ADS_1