
Shera nampak menunggu Noire di dekat taman belakang kampus mereka. Gadis itu menggoyangkan kakinya dengan menatap jernihnya air danau yang nampak tenang. Mulutnya asik memakan cokelat batang yang baru saja ia beli dari toko cokelat di seberang jalan kampus yang ia tempati.
Suara kikikan nyaring mahasiswa lainnya tak membuat Shera terganggu, terlalu malas untuk bergerak sedikitpun.
"Kemana j*lang itu? Ini sudah dua jam aku menunggu?", keluh Shera yang menendang kerikil kecil di bawah kakinya.
Suara nafas tersengal membuat Shera menolehkan wajahnya ke samping, itu Noire yang nampak kelelahan dengan keringat yang menetes di dahinya.
" kau habis berc*nta ya?", seru Shera dengan menunjuk tak sopan pada Noire yang sekarang mendengus sebal.
"Tidak", dengus Noire, " kau sudah lama menunggu?", Noire mendudukkan tubuh sintalnya di samping Shera yang sekarang membenahi rambutnya.
"Dua jam yang lalu, mungkin jika aku berkeliling L.A mungkin sudah beberapa kali", sindir Shera yang membuat Noire terkikik geli.
Noire merapikan bajunya, " baiklah aku minta maaf", ucap Noire dengan memegang jemari Shera yang berhiaskan cincin pemberiam dari Vi.
"Kau bau sp*rma Noa", ujar Shera dengan menjauhi Noire yang merengut sebal.
"jack mengerjai ku di mobil, aku bahkan sudah menolaknya tadi tapi~~",
"Bullsh*t jika kau menolaknya, kau itukan hyper tak mungkin menolak ajakkan enak seperti itu", ucap Shera dengan memberikan tissue basah pada Noire, " ada noda sp*rma di sudut bibir mu", tatap Shera dengan jijik.
Dan Noire gadis itu hanya terkekeh geli, "s** di dalam mobil terasa menyenangkan Shera kau harus mencoba nya bersama Vi nanti", ucapan Noire membuat Shera terdiam, gadis itu nampak berpikir.
" aku~~", ucapan Shera terhenti, gadis itu menatap cincin yang di berikan oleh Vi.
"Kau tak yakin?", tanya Noire saat menatap gelagat Shera yang tak antusias sama sekali, " kau tak yakin menikah dengan Vi? Apa yang kau fikirkan?".
Shera menghela nafasnya pelan kemudian memgangguk pelan, "aku takut dia hanya bermain main dengan perasaan ku Noa", bisik Shera yang membuat Noire mengusap lembut bahu Shera, dia tahu kegundahan sahabatnya ini.
" aku yakin dia teramat sangat mencintai mu walau pun tak pernah ia ungkapkan Scorpio", ucap Noire memberi pengertian pada Shera, "walau aku tak tahu secara pasti kehidupan Vi tapi aku yakin dia lelaki yang baik dan pantas untuk mu".
Shera menata Noire yang tersenyum tulus padanya. Walau terkadang Noire menyebalkan namun dia lah yang paling mengerti bagaimana dirinya selama ini. Gadis dengan rambut pendek berwarna putih abu abu itu memeluk Noire erat.
" terima kasih", bisik Shera yang membuat Noire mengangguk dan mengeratkan pelukkannya.
******
Brian menatap ibu Shera yang nampak menatapnya tajam. Wanita paruh baya dengan wajah yang masih awet muda itu terlihat kesal saat mengetahui bahwa keponakkan tersayangnya akan kembali ke inggris dalam waktu dekat ini.
"Aku tak pernah mengizinkan mu untuk tinggal di Inggris Brian", ucap nyonya Ivanka dengan nada yang tegas dan penuh dengan tekanan pada keponakkannya ini.
" bi aku harus mengurus perusahaan ayah, bibi kan tahu bagaimana keuntungan yang aku dapatkan?", ucap Brian menyakinkan bibinya.
Nyonya Ivanka terdiam dengan masih menatap Brian, "akan bibi utus orang lain untuk mengelola semuanya, kau tinggal saja di sini dan uruslah perusahaan paman mu yang terbengkalai itu".
" haaaahhh~baiklah", ucap Brian pasrah dengan menidurkan tubuhnya pada sofa yang ia duduki, "bi, apa benar Shera akan menikah di usia muda?", tanya Brian pelan dengan pandangan yang menatap ke arah langit langit ruangan.
Nyonya Ivanka mengangguk, " jika itu Vi tak masalah jika ia menikahi Shera hari ini juga", Brian nampak mendelik pada bibinya yang terkikik seraya menatapnya.
"Benar benar aneh", bisik Brian, kemudian ia memejamkan kedua matanya mencoba untuk menjemput mimpi.
♥
Shera menatap Vi yang duduk di atas ranjang kamarnya. Lelaki tampan itu menggunakan kacamata bulat yang semakin membuat Vi terlihat menarik dan tak lupa sebuah buku berada di tangannya.
Dengan sedikit kikikan Shera menusuk pipi Vi yang tak membuat lelaki itu terganggu. Ia dekatkan wajahnya pada wajah Vi mencoba untuk menganggu Vi yang fokus membaca, namun baru saja ia ingin melancarkan aksinya sebuah kecupan di bibir membuat Shera terjengkit kaget.
" apa apaan kau ini", ucap Shera dengan memukul Vi dan mengusap bibirnya yang terasa basah akibat saliva Vi yang menempel.
__ADS_1
Vi hanya terkekeh, kemudian menarik gadisnya ke dalam pelukkan nya, "apa kau bahagia?", tanya Vi pelan dengan mengecup pucuk kepala Shera.
" jika itu kau pelakunya, aku sangat bahagia ", ucap Shera dengan menatap cincin pemberian Vi. Jemari besar milik Vi mengenggam jemari lentik Shera mengecupnya sebentar.
" maka dari itu tetaplah bahagia bersama ku", bisik Vi dengan mengeratkan pelukkannya pada tubuh Shera.
Shera mendongak menatap pemilik hatinya yang telah mencuri perhatian gadis itu, "apa Riana cinta pertama mu?", tanya Shera dengan pandangan mata penuh tanya.
" bukan", jawaban Vi membuat gadis di pelukkannya mengerut kan keningnya tanda ia tak mengerti, Vi terkekeh pelan, "kau cinta pertama ku sejak saat itu dan hingga kini".
Shera terkikik geli, baru kali ini ia mendengar kalimat romantis yang keluar dari bibir Vi, " jika kau seorang casanova, kau ingin jadi siapa?", memang terdengar kekanakkan tapi bagi Shera ini terdengar seru.
"Julian Caesar", bisik Vi menatap mata indah Shera yang berkedip dengan bulu mata yang panjang nan lentik, "hanya dia yang mampu membuat Cleopatra bertahan dan menetap, dan kau?".
Gadis itu menggeleng, " tak ada", jawaban itu membuat Vi mendengus, namun dengan senyuman Shera menatapnya penuh ketulusan, "jika begini saja aku bisa membuat Julian Caesar jatuh cinta maka aku tak perlu menjadi Cleopatra untuk menariknya", bisik Shera dengan mengusap pipi lelaki tampan yang sekarang nampak tersenyum.
Keduanya terkikik geli, Shera memainkan bunga kecil yang ada pada dress yang ia gunakan, " aku suka Lavender tapi aku membenci mawar, aku suka langit malam dan aku jatuh cinta pada rintik hujan, bisakah kau menjadi seperti itu?".
"Aku Lavender mu dan juga langit malam mu, aku juga awan kelabu yang jahat, menurunkan hujan membuat manusia menggerutu kesal, aku hitam di gelapnya langit jadi mau kah kau jadi matahari ku? Menjadi penerang kehidupan gelap ku?", helaan nafas kecil membuat Shera tersenyum. Nafas dan detakkan jantung Vi berirama dengan teratur dan itu menjadi alunan yang Shera sukai.
" eveything for you", bisik Shera pelan.
"I love you more than any word can say, I love you more than every action I take, I'II be right here loving you till the end", ucap Vi pelan seraya berbisik lembut di telinga Shera, " I love you".
Shera tersenyum, dia benar benar bahagia mendengar ucapan Vi, "I love you to, those three words have my life in them".
******
Langkah kaki Vi nampak memasuki ruangan gelap milik seorang professor ternama. Dirinya menyeringai dengan kedua tangan yang ia masukkan kedalam saku celananya.
" hai Mr. Bernard Brown, apa kau baik baik saja?", bisik Vi pada lelaki tua yang sekarang terlihat melotot.
"Ck bagaimana kaki mu? Apa perlu aku memotong yang sebelah kiri?", bisik Vi dengan lidah yang menjilat bibirnya.
Benar sekali, Mr. Bernard adalah dalang di balik hancurnya kehidupan ibunya dulu. Dengan berutal Vi memotong kaki Mr. Bernard dan membuang daging yang terputus itu ke dalam kandang buaya milik salah satu anak buah Vi.
" kau menghilangkan kaki ku pemuda bodoh, aku bahkan tak bisa berbuat apa pun", bisik Mr. Bernard dengan raut wajah yang penuh dendam.
"Kau lupa bagaimana dulu Ibu ku memohon pada mu? Apa kau lupa bagaimana Ibu ku mengemis pada mu?", ucap Vi mengingat bagaimana wanita yang paling ia cintai memohon agar terlepas dari belenggu penyiksaan.
Masih terbayang bagaimana dulu ibunya menangisi kehidupannya yang telah rusak akibat para bajingan ini? Saat itu Vi masih berusia sepuluh tahun, ia tak bisa melawan karena tenaga anak laki laki yang masih kecil tidak seimbang dengan orang orang dewasa.
" dan sekarang bolehkan aku menagih nyawa mu?", ucap Vi dengan mengeluarkan pisau kecil dengan mata tajam yang mengkilap. Kakinya ia langkahkan mendekati Mr. Bernard dan bersimpuh di hadapan sang lelaki tua.
"Ku mohon Vi jangan lakukan apa pun pada diri ku, aku mohon maaf atas semua kesalahan ku dulu, ku mohon hiks", ucap Mr. Crown dengan terisak isak dengan menangkupkan kedua tangannya pada dada.
Sedikit sayatan kecil di kulit keriput itu membuat Mr. Bernard menjerit, "ARRRGGGHHHHHHH~", sakit sekali. Tusukan di sendinya terasa ngilu hingga ke kepala botaknya.
Kembali pisau tajam itu menusuk bekas luka yang telah hilang bagian tubuhnya. Darah mengalir dengan deras bahkan Jack dan Brian nampak memalingkan wajah mereka ke arah lain agar tak melihat kelakuan keji Vi.
" aku suka ini", ucap Vi pelan, "pergilah ke neraka", bisik Vi dengan mencongkel tulang lutut Mr. Bernard, teriakkan kesakitan menggema di seluruh ruangan.
Mata sebelah kiri berwarna biru laut nampak mengelinding ke lantai licin dengan genangan darah. Beberapa kulit keriput yang Vi sayat juga berceceran bahkan beberapa daging itu menjadi makanan anjing berwarna hitam milik Mr. Bernard.
"Beauty", suara berat penuh amarah dan kepuasan itu terdengar mencengkam di ruangan sunyi yang terdengar hanya rintihan Mr. Bernard. Tangan yang terbungkus plastik itu menarik kulit yang masih menempel di daging yang nampak segar.
" s*al aku mual", ucap Brian dengan mengeluarkan isi perutnya ke dalam tong sampah yang ada di samping tubuhnya. Beberapa kali ia membunuh orang tak pernah ia merasa semual ini.
Jack bahkan terkekeh, "sudahi saja Vi, kau lihat Brian seperti tak bernyawa", ucap Jack menatap wajah Brian yang memutih.
__ADS_1
" s*alan kau Jack ", ucap Brian memukul punggung Jack namun belum sempat ia memukul kembali, perutnya serasa di aduk dan ia mengeluarkan kembali isi perutnya.
Vi melempar pisau yang ia pegang ke sudut ruangan. Tangannya yang memegang senjata segera menembakki tubuh Bernard dengan brutal tak ia pedulikan teriakkan orang tua yang menghancurkan kehidupannya dulu.
" ayo", ucap Vi dengan langkah lebarnya, belum jauh ia melangkah matanya yang tajam menatap tubuh tak bernyawa yang masih duduk di atas kursi roda, "polisi akan bertekuk lutut pada ku".
Jack tertawa mendengarnya sebelum ia menyeret Brian yang ntah kenapa menjadi lebih cengeng dan manja.
******
" kau tahu gadis bernama Shera?", ucapan William membuat beberapa anak buahnya memikirkan ucapan William dan mengingat siapa gadis bernama Shera.
"Kekasih Vi", ucap seorang lelaki tinggi dengan kaos putih yang mencetak bentuk tubuh berototnya, itu Jay Valentine lelaki asal Inggris yang menjadi tangan kanan William.
William terkekeh, "ck dasar pembunuh Kris", Jay terkekeh mendengarnya.
" kenapa dengan gadis cantik itu? Kau menyukainya?", ucapan Jay membuat William terdiam dengan mata yang memandang sebuah bingkai foto seorang gadis yang tersenyum.
William menatap Jay, "hanya pengagum bayangannya", bisik William.
Sejak pertama kali ia bertemu Shera. Lelaki itu yakin sekali jika ia jatuh cinta pada pandangan pertama, namun ia tak berani memgungkapkan semuanya. Apalagi Vi kekasih Shera, lelaki itu lebih berbahaya di banding Kris dan musuh musuhnya yang lain. Ia bisa saja membawa gadis itu pergi menjauh dari kehidupan Vi namun iya tak yakin keluarganya akan selamat dari genggaman Vi.
"Kau tak ingin menemui Shera, dia ada di taman bermain", ucap Jay pada William yang menegakkan tubuhnya menatap Jay.
Belum Jay membuka mulutnya, William bergegas pergi dengan langkah kaki lebarnya.
" cih dasar budak cinta", bisik Jay menatap kepergian William. Tangannya mengambil sebuah dokument di atas meja William, "bahkan dia melupakan ini".
***
Shera nampak berjalan menuju sebuah gedung tinggi dengan langkah pelannya. Matanya menatap berbinar sebuah kaca etalase bening yang memperlihatkan beberapa hiasan dari yang kecil hingga besar.
Matanya tertuju pada sebuah hiasan bunga Lavender di dalam kotak kaca, "cantik sekali~", bisik Shera pelan namun beberapa detik ia menggelengkan kepalanya, " cihh aku ke sini untuk menemui Mrs. Monica", gumamnya pelan, kemudian ia melangkah menuju lift.
Baru saja ia masuk, seorang pria tinggi juga memasuki lift itu dengan tergesa gesa. Matanya menatap lelaki tinggi dengan pakaian formal yang sekarang membelakanginya.
"Hai Shera", suara husky dengan nada rendah itu mengalun di telinga Shera, lelaki itu membalikkan tubuhnya dan tersenyum pada Shera yang nampak terkejut.
" ahh, William ", ucap Shera pelan dengan sedikit senyuman. Sebenarnya dia sedikit tak nyaman jika harus berduaan di dalam lift, tapi karena ini William maka dia biasa saja.
" kau mau kemana?", tanya William dengan menatap intens pada Shera.
Gadis mendongak menatap William, "ingin konsultasi dengan Mrs. Monica", ucap Shera pelan dengan menatap beberapa judul buku di pelukkan nya.
" kita seperti orang asing ya? Aku selalu gugup jika berhadapan dengan mu bahkan dada ku berdetak dengan cepat", lelaki berkulit tan itu menatap Shera, "apa aku jatuh cinta pada mu?", bisik William dengan menatap dinding bening di depannya.
Shera terdiam dengan menggigit bibir bawahnya. Dirinya juga gugup saat mendengar ucapan William. Lelaki ini tampan sangat tampan malah, kulit tan yang seksi saat berkeringat dengan bibir tipis serta mata yang sedikit seperti mata panda dengan hidung mancung dan bentuk tubuh tinggi nan berotot.
Gadis dengan rambut pendek itu berdiri di hadapan William, mendongak menatap William yang memiliki tinggi seratus delapan puluh lima, " terima kasih sudah jujur dengan perasaan mu but I am sorry, I already have a boyfriend", bisik Shera dengan tersenyum.
"It's ok, I am fine", bisik William dengan mengusap pipi putih Shera, " bisakah berikan aku sebuah ciuman, sebagai salam perpisahan?", pinta William dengan pelan.
Mata jernih berwarna hitam menatap bola mata cokelat milik William. Ada binar memohon yang tak bisa Shera tolak, namun gadis itu tak mengiyakan permintaan William.
Bagaimana jika Vi tahu dan memarahinya? Bagaimana jika lelaki itu pergi dan meninggalkannya? Pikiran Shera nampak kacau, ia harus menolaknya. Namun belum sempat ia menggeleng, William telah menarik dagunya dan mencium bibir merah milik Shera yang nampak menggoda.
Sangking terkejutnya Shera menjatuhkan bukunya yang sekarang nampak berserakkan di dekat kakinya. Otaknya menjadi sangat lemot dengan deguban jantung yang berlomba. Sadar akan perbuatan William, dengan kasar Shera mendorong tubuh William dan pergi meninggalkan si jangkung setelah ia memungut beberapa bukunya yang berserakkan.
"Khh~ manis", bisik William dengan jemari yang mengusap bibir merahnya tak lupa seringai tampan membuat lelaki itu semakin terlihat tampan.
__ADS_1