
jemari itu mengusap sudut bibir Shera dengan pelan, matanya yang tajam menyusuri dengan sensual, "jejak sialan", ucapnya seraya mengecup sudut bibir Shera.
"tumben sekali kau tidak menjadi bruta", ujar Shera dengan wajah yang penuh dengan tanda tanya.
"aku sedang banyak pekerjaan, ku tunda sampai aku benar benar selesai", ucap Vi yang sekarang melingkarkan kedua tangannya pada pinggang ramping gadis cantiknya.
Shera mencubit perut itu dengan kuat membuat Vi meringis kesakitan namun tak membuat ia melepas rangkulannya, "kau sudah bosan pada ku?", tanya Shera yang membuat Vi terkekeh.
"kau benar, aku sudah bosan dengan mu", ucapan Vi membuat Shera mendorong lelaki itu kuat hingga Vi memundurkan langkahnya.
matanya menatap tajam pada lelaki yang sekarang masih terkekeh, "jangan bercanda dengan ku Vi, kalau pun kau bosan aku juga bisa mencari pelampiasan lain", ucap Shera membuat Vi terdiam.
di tatapnya Shera yang sekarang nampak kesal dengan wajah yang memerah. kedua tangannya mengepal erat membuat kulit itu terlihat pucat, "hei aku hanya bercanda", ucap Vi yang ingin memegang Shera namun di tepis oleh gadis itu.
"aku sedang kesal", Shera meninggalkan Vi hanya terdiam di dapur tanpa perduli dengan masakkan yang ia masak tadi.
"sial", gumam Vi yang sekarang duduk di kursi, tak lama ia bergegas pergi meninggalkan Apartement saat mendapat panggilan dari kantornya.
Shera melihat kepergian Vi yan terlihat terburu buru sekali, bahkan jam tangan yang ia lepas tadi tak di bawanya, padahal Vi tak bisa jika harus ketinggalan jam katanya sangat mahal itu.
"sok sibuk sekali dia", gumam Shera dengan mendengus, "apa aku mengirimi pesan saja?", bisik Shera dengan sangat pelan.
******
suara ponsel Vi berbunyi membuat lelaki itu bergegeas melihatnya, sedikit senyum tersungging di bibirnya yang tipis dan merah.
air ♥
"aku menunggu mu, jadi jangan pulang terlambat"
Vi terkekeh, hei kekasihnya ini bisa juga bersikap manis dan menggemaskan! biasanya wanita itu akan selalu memakinya bahkan tak pernah lembut jika sudah bertengkar seperti tadi.
matanya menatap pergelangan tangannya, ia mendecih saat tak mendapatkan benda mahal itu. seketia ia gulirkan pada jam dinding, masih menunjukkan jam sembilan malam, ia punya waktu tiga puluh menit untuk bergegas mengerjakan pekerjaannya.
__ADS_1
"Jack, selesaikan dengan cepat malam ini", ucap Vi pada Jack yang terlihat duduk santai di dekat meja kerjanya.
"hanya tinggal sedikit saja", ucap Jack santai seperti tak ada beban, "lagi pula kita sudah pasti akan menang", ucapan Jack membuat Vi menyeringai.
"pastikan Brian pulang membawa kepala sialan itu", Vi berjalan duduk di kursi besarnya, membuka lembar perlembar kertas yang ia sebut berguna dan juga tak berguna.
"kepala Ronald itu sangat mudah untuk di tembak, tapi kan kau tahu bagaimana Brian? lelaki itu terkadang sangat gila di balik sifat imutnya itu", ucap Jack yang membayangkan wajah Brian yang terkadang terlihat sangat imut sekali.
Vi menatapnya jijik, "kau seperti membayangkan kekasih mu? ingat Brian laki laki jika kau tak amnesia", ungkap Vi yang sekarang tak menatap Jack.
"jika Brian perempuan aku dengan senang hati akan menjadikan dia milikku", ungkap Jack.
"sialan kau Jack, aku jijik mendengar perkataan mu itu", suara Brian yang tersambung membuat Jack dan Vi tertawa.
"aku hanya bercanda sayang", bisik Jack dengan nada yang sedikit ia buat seseksi mungkin.
"hueeekkk~~dasar bodoh", Brian mematikan sambungan itu, dapat Vi da Jack pikir bahwa lelaki itu sedang mengeluarkan semua isi perutnya.
"dengar, dia seperti wanita", ucap Jack kembali, dan tawa tak dapat Vi elakkan.
******
ia langkahkan kakinya mendekat pada Shera, sedikit memgecup bibir yang terlihat seksi itu, "aku belum gosok gigi", kesal Shera.
"tapi kan kau sudah membersihkan gigi mu tadi malam, apa kau tak ada operasi hari ini di rumah sakit?", Vi bertanya seraya memberikan roti pada Shera yang memakannya dengan lahap.
"tidak, tapi hari ini aku akan bertemu Dokter Richard", ucap Shera membuat Vi mengernyit heran.
"Richard? suami Selena?", tanya Vi membuat Shera menggeleng kuat.
"bukan, dia Dokter muda yang kemarin mendapatkan penghargaan sebagai Dokter terbaik, masa kau tidak tahu?", tanya Shera pada Vi yang menggeleng.
"aku tak terlalu mengurusi kehidupan para Dokter, kecuali diri mu", Vi mencubit pipi itu pelan, "minggu ayo menikah?".
__ADS_1
Shera melotot, "kau ini kenapa suka sekali mendadak sih? kau pikir persiapan pernikahan itu gampang? aku juga ingin menggunakan gaun terbaik, mahkota yang tak di miliki siapa pun, dan pesta yang sederhana tapi sangat berkesan", ucap Shera dengan membayangkan pernikahannya yang simple namun terkesan mewah.
Vi berdiri seraya memgambil ponselnya, kemudian menjahui Shera yang mengernyit, "hm, buatkan gaun yang tak ada seorang pun di dunia ini yang memilikinya dan menyamai, serta buatkan mahkota satu satunya yang ada di dunia, hmm", Vi menatap sekilas pada Shera yang juga menatapnya.
setelah di rasa selesai, Vi segera mendekati Shera, "kenapa menjauh saat menelepon? kau memiliki hubungan lain ya?", kesal Shera.
"tidak, aku baru saja memesan gaun pernikahan seperti yang kau minta", ucap Vi enteng.
"kau benar benar memesannya?", Vi mengangguk membuat Shera tersenyum kemudian menghambur ke pelukkan Vi.
******
Noire terdiam menatap sosok lelaki yang berdiri di hadapannya dengan wajah tersenyum namun meremehkan. namun Noire sama sekali ta memperdulikannya, ia dengan anggun mengambil secangkir teh hangat kemudian menyesapnya dengan pelan.
"kau menawari ku kerjasama untuk menghancurkan Vi? hmmm~kau berani bayar berapa?", ucap Noire yang terkekeh pelan, nada itu sedikit mengejek walau hatinya bimbang.
jemarinya lincah sekali mengetik di papan ketik ponselnya, mengirimi Jack sang kekasih sebuah pesan bahwa ia meminta tolong, "jika kau berani membayar lebih banyak, ayo kita lakukan kerjasama", ucapnya seraya menunggu balasan dari Jack, menjebak sedikit lelaki ini tak masalah bukan?.
"berapa yang kau inginkan untuk menghancurkan Vi?", suara berat Jimmi terdengar mengalun di telinga Noire.
"ku rasa kau tak akan mampu", ejek Noire, "bayaran ku sangat mahal tahu".
Jimmi terkekeh, "seperti aku tidak sanggup saja".
"jika kau ingin mendekati Shera dengan menyingkirkan Vi ku rasa itu salah, kau pasti tidak tahu otak licik Shera itu", ucapan Noire membuat Jimmi menengakkan tubuhnya saat Shera menjadi pembicaraan mereka berdua.
"licik? ku pikir dia hanya sebuah umpan", ejek Jimmi yang kembali membuat Noire terkekeh.
"ya umpan dari sang Casanova", ucap Noire, "ah itu pacar ku", Noire melambaikan tangannya pada Jack yang berjalan dengan santai.
Jack berdiri di hadapan Noire yang sekarang merangkul lengan kekar itu. matanya yang tajam menatap Jimmi yang juga menatapnya dengan pandangan menyelidik.
"Jimmi", ucap Jack dengan suara pelannya, "ku pastikan salah satu kepala keluarga mu berlubang tepat di samping kiri".
__ADS_1
ucapan Jack membuat lelaki itu terdiam, dan Noire hanya tersenyum tipis seraya melambaikan tangannya pada Jimmi. bukannya tak tahu siapa tangan kanan Vi, Jack dan Brian kedua pioner penting bagi Vi.
dan semua orang juga tahu bagaimana berpengaruhkan kedua lelaki yang memiliki kepribadian yang sangat jauh berbeda. Jack dengan sifat kakunya serta Brian dengan tingkah lucunya yang riang nmaun mematikan.