
Noire menatap Shera yang merangkul lengan Vi dengan tatapan menggoda membuat gadis itu melepas pengangannya namun tarikkan membuat Shera terdiam dan dengan santainya dia kembali merangkul lengan Vi.
"Ku pikir kalian akan sangat cocok jika berdansa di lantai sana", tunjuk Noire pada lantai dansa yang masih kosong, "benar kan sayang?", tanya Noire pada Jack yang hanya terkekeh.
" shut up Noa, you like a duck", ejek Shera pada Noire yang sekarang menatapnya garang.
"Be silent frog", perkataan Noire membuat Shera melotot, dengan kesal dia mencubit pinggang ramping Noire membuat gadis itu meringis kesakitan.
Dengan manja Noire merengek pada Jack, " baby Shera sangat jahat pada ku, ini sakit tahu", ucap Noire dengan membawa tangan Jack pada perutnya.
"Ck", Jack hanya mendecih malas melihat bagaimana kekasihnya bertingkah seperti ini.
Shera menatap penampilan Noire, melupakan rasa kesalnya, " kau itu memang tak pernah berpakaian dengan baik ya", ejek Shera pada Noire yang memakai gaun hampir memperlihatkan semua kulit putih Noire.
"Mirror please", dengus Noire, " kau juga tak pernah memakai gaun dengan benar Shera, apa apaan dada yang menyembul itu dan lihat belahan rok yang hampir mencapai pinggang, memalukan".
"Yaiissshhhh", Shera akan menarik Noire sebelum Vi menarik gadis itu agar tak berulah.
" sudahlah, kau ini seperti para wanita di pasar", Shera mencubit Vi saat mendengar perkataan lelaki yang berdiri di sampingnya dengan wajah rupawan.
"Biarkan saja Vi, dengan begini aku akan mudah menyetubuhi Noa yang tak bisa diam", ucap Jack membuat Noire memerah malu.
Shera mendengus menatap wajah sahabatnya yang sok malu itu. Padahal Noire tak punya rasa malu buktinya dia membiarkan Jack menusuk lubang v*ginanya di atas balkon kamar yang bisa saja di lihat orang lain.
"Sekarang juga aku rela kau setubuhi", goda Noire pada Jack yang mengalihkan pandangannya ke arah lain.
" diamlah Noa, aku tak mau lepas kendali dengan menyetubuhi mu di sini, ayo pergi", Noire melambaikan tangannya pada Shera yang mendengus sebal.
Vi menatap gadis di sampingnya dengan intens, sedikit seringai tercipta saat melihat tali gaun Shera yang terikat, sedikit saja ia tarik maka dada itu akan terlihat dengan sempurna. Ck tapi tak mungkin Vi lakukan itu disini, setelah di kamar nanti Vi akan mengeksekusi tali itu.
Baru saja keduanya akan melangkah, seorang wanita berambut panjang dengan bibir merah dan tubuh rampingnya berjalan mendekati Vi dan juga Shera dengan menarik lengan Vi menjauh dari Shera.
"Hai Vi", suara itu membuat Vi melotot namun dengan cepat dia bisa mengekspresikan dirinya seperti biasa.
" Riana", ucap Vi pelan namun mampu di dengar oleh Shera dan gadis dengan nama Riana itu pun tersenyum cantik.
Dengan pelan Riana memeluk Vi membuat lelaki itu melepaskan genggamannya pada jemari Shera dan gadis itu terdiam, beginikah rasanya saat kau di abaikan? Batin Shera menatap Vi yang terlihat nyaman di pelukkan gadis bernama Riana itu.
"Woow kau tampak cantik dan seksi, siapa kau? Apa kau saudaranya Vi?", tanya Riana pada Shera yang sekarang tersenyum tipis.
" ah~~", belum sempat Shera menjawab suara Vi terlebih dahulu menginterupsi.
"Dia hanya orang asing", ucap Vi pelan dengan sedikit senyuman. Mungkin maksud Vi hanya bercanda tapi ntah kenapa itu membuat Shera tersentak dengan memegangi dadanya yang terasa sesak namun menyakitkan.
Riana tertawa, " are you kidding me?", Vi hanya terkekeh tanpa tahu bahwa dia menyakiti gadis di sampingnya, "oke, beri aku sebuah ciuman panas", pinta Riana membuat Shera menatap keduanya cepat.
" of course, apa pun untuk mu baby", Vi menarik gadis itu ke dalam pelukkanya membuat Shera melotot.
Gadis dengan surai hitam bergelombang itu memundurkan langkahnya. Matanya menatap Vi yang berubah saat bertemu Riana.
Dia hanya orang asing~~
Dia hanya orang asing~~
Dia hanya orang asing~~
Ntah kenapa kalimat yang Vi ucapkan tadi membuat Shera sedikit sakit. Matanya yang berair menatap kedua sejoli yang sekarang terlihat memakan bibir mereka satu sama lain. Dari awal dia sudah tahu bahwa Vi bukan lelaki yang baik, jadi malam itu bukanlah yang Vi teguhkan hanya untuk dia, namun dia mengabaikan pikiran buruknya tentang Vi.
Shera membalikkan tubuhnya, jemari nya mengusap air mata yang tergenang di sudut matanya dengan kasar sebelum ia pergi berlari cepat.
__ADS_1
Noire yang melihat itu menatap kepergian Shera dengan tatapan yang sulit di artikan. Setelah meminta izin pada Jack kekasih nya Noire berlari mengejar Shera.
***
Dengan cepat Shera memasukkan semua bajunya pada koper di atas ranjang, jemarinya terlihat mengusap air matanya yang mengalir tanpa henti, dia membenci Vi, sangat membenci lelaki bajingan yang mesum itu.
Shera sedikit membuka celah hatinya untuk Vi setelah ia mendapat perlakuan dari Kris yang menolaknya. Walaupun rasa benci masih ada namun tak bisa Shera tepis jika ia nyaman bersama Vi.
Pegangan di bahu Shera membuat gadis itu melonjak kaget. Ia balikkan tubuh nya dan mendapati Noire yang berdiri menatapnya dengan tampang sendu. Dengan kasar Shera menghapus air matanya kemudian dia tersenyum tipis, "I am ok", bisik Shera.
"No, you are not Shera", bisik Noire pelan membuat gadis di depannya semakin terisak keras.
"Aku sedikit membuka hati dengan perhatiannya Noa, mencoba melupakan apa yang mengganjal di pikiran ku tapi aku salah, aku hanya orang asing baginya setelah dia membuat ku nyaman", bisik Shera pelan, " but I am fine", suara Shera tercekat akibat isakkanya saat ia mengatakan bahwa di baik baik saja.
"Kau mencintai dia?", tanya Noire pada Shera yang terdiam, " aku tanya sekali lagi Shera, apa kau mencintai dia?".
Gadis itu hanya diam menatap Noire dengan sayu, tanpa ada angguk kan atau pun gelengan, "aku harus pulang, aku rindu mama~".
Shera berjalan cepat dengan membawa koper di tangannya meninggalkan Noire yang hanya menatap kepergian shabatnya. Noire tak bisa menghalangi gadis itu, dia tahu Shera butuh waktu untuk sendiri saat ini.
****
Vi mencari keberadaan Shera yang ntah kemana gadis itu menghilang. Ada rasa tak enak saat Vi menyebut Shera orang asing dan berciuman panas di hadapan gadis itu.
Riana seorang model berkebangsaan Italia dan dia juga mantan kekasih Vi yang masih menjalin hubungan baik yaah~~ walaupun terkadang Vi masih menyimpan rasa cinta pada model itu.
Matanya yang tajam menatap Noire yang berbicara pada Jack dengan serius. Tak biasanya kekasih Jack bertingkah serius? yang Vi tahu gadis itu hanyalah gadis urakkan yang sangat Jack cintai.
Dengan langkah lebar Vi membalikkan tubuh Noire, "apa kau melihat Shera?", tanya Vi dengan dingin.
Gadis di hadapannya menatap Vi kesal, matanya menatap penuh kebencian. Vi tak mengerti maksud dari tatapan itu, apa dia berbuat salah hingga Noire menatapnya seperti itu?
Ucapan Noire membuat Vi tersentak namun dengan cepat dia dapat menguasai dirinya, "apa maksud mu berkata seperti itu?", ucap Vi dengan dingin.
"Kau menyakitinya setelah membuat rasa nyaman di hati gadis asing itu! Dia mencoba membuka sedikit hatinya agar tak membenci mu namun kau meluluh lantakkan kembali seperti kepingan kaca pecah Vi, dia baik baik saja saat Kris menolaknya tapi tadi mata itu penuh kesakitan yang aku pun tak mengerti", ucap Noire mengingat bagaimana Shera yang terlihat berbeda di matanya.
" dimana dia sekarang?", desis Vi.
"Jika kau mencarinya di kamar, ku pikir kau tak akan menemukannya, tapi jika kau berlari ke bandara dengan cepat ku rasa kau akan bertemu dengannya lagi", ucap Noire yang sekarang menenguk Wine nya.
Tanpa berpikir panjang Vi bergegas pergi, dirinya harus meminta maaf pada gadis yang ia sakiti dengan halus. Tak ia pedulikan orang orang yang menyapanya yang ia pikirkan hanya Shera, gadis yang ia sebut orang asing setelah ia mendapatkan semuanya dari gadis itu.
***
Kaki berbalut celana hitam dengan pantofel mengkilat itu berlari larian di sepanjang lobi bandaran. Tak Vi pedulikan petugas yang berjaga memperingatinya agar tak berlari lari karena bisa menganggu orang lain.
Dari kejahuan dapat ia lihat sosok Shera yang memasuki pesawat dengan masih menggunakan gaun pesta tadi. Vi semakin berlari mencoba mengejar gadisnya, namun ia sedikit terlambat saat menatap pesawat yang akan segera lepas landas.
" F*CK", kesal Vi dengan meremas rambutnya, tangannya ia pukulkan pada pembatas membuat besi tipis itu bengkok sedang kan orang orang di sekitarnya hanya menatap ngeri pada Vi.
Vi mengambil ponsel mencoba menghubungi seseorang, suara sambungan membuat Vi jengkel apalagi suara wanita yang memberitahu bahwa nomor yang ia hubungi dalam keadaan sibuk.
"Sial", Vi menatap pesawat itu dengan tajam, setelah ini tak akan ia biarkan gadis itu lepas dari pengawasannya.
******
Shera menatap ibunya yang sedang membaca sebuah majalah. Kakinya ia langkah kan dengan pelan mendekati sosok wanita yang selalu mengerti keadaannya.
" mama~", bisik Shera membuat wanita itu tersenyum dan dengan pelan meletakkan majalah pada meja di depannya.
__ADS_1
"Yes baby, what happen?", suara wanita berusia lanjut itu nampak khawatir apalagi saat menatap wajah sendu putri kecilnya ini.
Shera meletakkan kepalanya pada paha sang mama, matanya terpejam saat menikmati elusan lembut di kepalanya.
"Apa mama pernah membenci seseorang?", tanya Shera pelan membuat wajah ibunya mengerut namun sedetik kemudian senyum keibuan yang menenangkan tercipta di bibir wanita paruh baya.
" ayah mu", bisiknya pelan membuat Shera mendongak menatap wajah ibunya, "namun ibu jatuh cinta setelah dia memberikan sebuah buku diary yang mengungkapkan semua isi hatinya pada mama, ayah mu sangat manis dia tak pernah menuntut lebih seperti laki laki lain, dia mencintai mama tanpa syarat apa pun dan cinta kami memang tak memiliki syarat seperti yang orang lain inginkan".
Ucapan mamanya membuat Shera terdiam, benci dan cinta hanya terpisah seperti kertas tipis dan sangat dekat tak memiliki jarak.
" apa putri mama jatuh cinta? Siapa lelaki beruntung itu hemm?", tanya mama Shera dengan mengusap kepala anaknya.
"Shera membenci dia mama, namun dengan berjalannya waktu Shera merasa ada sedikit cinta yang ada di celah hati Shera, tapi malam itu dia mengatakan bahwa Shera orang asing", jelas Shera pelan, "sekarang Shera berusaha untuk membenci nya lagi".
Mama Shera tersenyun tipis menatap putrinya, " sayang, cinta tidak ada kata berusaha untuk membenci, jika kau berkata seperti itu berarti kau mencintai dia", ucapan mamanya membuat Shera menatap sang mama dengan pandangan bingung.
"Mama tanya, apa kau berdebar saat bersamanya?", Shera mengangguk mendengar pertanyaan sang mama, "apa kau sangat membencinya hingga kau ingin pergi dari hidupnya?", lagi lagi Shera menggeleng, " itu tandanya kau sedang jatuh cinta padanya, kau mencintai dia hingga kau takut untuk pergi ".
Shera terdiam, ia mengingat bagaimana Vi dengan gadis yang bernama Riana. Bayangan mereka berdua yang sedang berciuman memenuhi pikiran Shera, sesak itu kembali datang.
Apa benar dia mencintai Vi? Tapi Shera hanya merasakan cinta pada Kris seorang. Gadis itu menggeleng kuat, dia harus melupakan Vi, sebisa mungkin dia harus menghindari Vi dia tak ingin bertemu lelaki itu.
" Shera tidak tahu mama", ucap Shera pelan.
Sang mama tersenyum, "biar kan waktu yang menjawab nya nanti".
******
Shera berjalan cepat dirinya ingin menemui Mrs. Monica, rencananya pagi ini dia akan bertemu dan membicarakan thesisnya.
Namun belum beberapa langkah Mrs. Monica menghadangnya membuat gadis itu menghentikan langkahnya.
" sorry Shera, hari ini ada meeting mendadak jadi bisakah kita tunda?", ucap Mrs. Monica dengan tatapan bersalahnya.
"It's oke Mrs, lain kali saja", ucap Shera dengan tersenyum.
" baiklah Mrs pergi dulu, see you Shera ", Mrs. Monica berlalu begitu saja dengan tergesa gesa.
Shera hanya mendengus sebal, ck padahal dia sudah sangat bosan membatalkan pertemuan ini, " see you too", Shera melangkah pergi.
"Kemana aku harus pergi, apa Noire sudah pulang", Shera melihat ponselnya namun ada satu notifikasi dari Noire yang belum sempat ia buka.
'Aku seperti nya masih berlibur di Italia baby, Jack ingin menghabiskan waktu berdua dengan ku saja, maaf tak bisa menemani mu T_T"
Shera menghela nafas pelan, menyebalkan jadi beberapa hari ini Shera akan sendirian tanpa sahabatnya itu? Benar benar memuakkan.
"Aku butuh minum", bisik Shera dengan berjalan menuju parkir di mana mobilnya terparkir rapi. Jamnya kosong hari ini jadi Shera akan gunakan waktu luangnya untuk berjalan jalan menghilangkan pikiran ruwetnya.
Namun belum sempat ia masuk ke dalam mobilnya, tarikkan di tangannya membuat gadis itu tersentak. Ia menoleh dan melotot saat menatap Vi yang menatapnya dengan intens.
"Kita perlu bicara", ucap Vi dingin dengan menarik gadis itu. Namun dengan kuat Shera melepas genggaman tangan Vi padanya.
" tak ada yang perlu di bicara kan", ucap Shera, "maaf aku harus pergi menemui Mrs. Monica".
Vi menyeringai mendengar ucapan Shera, ternyata gadis ini pintar berbohong " Mrs. Monica sedang meeting", ucapan Vi membuat Shera terdiam.
Gadis itu dengan cepat membuka pintu mobilnya dan dengan cepat pula Vi menarik gadis itu hingga Shera menabrak dada bidang Vi, "bicara dengan ku atau ku patahkan leher Noire", ucap Vi dengan penuh tekanan.
Dengan terpaksa Shera mengikuti kemauan Vi jika tidak leher Noire taruhannya, tapi sebenarnya tidak masalah jika gadis itu tak berkepala, tapi dan tapi Shera tak ingin di hantui arwah Noire.
__ADS_1