
Shera melotot saat melihat Noire mend*sah hebat di bawah kukungan Jack. Sial gadis eh wanita b*nal itu benar benar hebat dalam bermain pantas saja Jack tak mau melepaskan Noire begitu saja.
Sial sekali dia datang pada saat yang tidak tepat, tahu begini ia tak mau menemui Noire jika ia sedang bertel**jang di atas kuasa Jack yang sangat mengebu.
Lagi lagi suara dengan nada rendah itu mengusik pendengaran Shera, "menikmati pemandangan indah itu?", bisik Vi dengan terkekeh.
Shera membalikkan badannya, wajahnya cemberut bukan main, " tahu begini aku tak mau menerima undangan makan malamnya", keluh Shera dengan tangan yang bersidekap di dada.
Vi terkekeh, hei gadis di depannya ini sangat lucu sekali, "kenapa kau tak protes saja pada Noa?".
" kau gila, kau ingin aku masuk dan melihat kedua manusia te**njang itu sedang menancapkan alat kel**in mereka? maaf aku tidak mau", ujar Shera dengan wajah yang memerah membuat Vi mencoba mengigit bibirnya.
Sial wajah memerah itu terlihat menggoda imannya dengan bibir penuh berwarna merah sedikit basah, ingin sekali ia ********** habis habisan namun Vi harus bersabar.
"Kau sedang apa di sini lelaki mesum?", tunjuk Shera pada wajah Vi yang tampak jelas di pandangannya.
" menghadiri makan malam, seharusnya aku bergabung saja dengan mereka", keluh Vi yang melihat bagaimana saat ini Noire sedang berada di atas tubuh Jack dengan goyangan yang Vi pikir itu memuaskan.
Shera menatap jijik pada lelaki di depannya. Dengan kuat ia mendorong Vi menjauh kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan itu menuju balkon.
Mata tajam dengan warna hitam sehitam jelaga menyusuri tubuh ramping berisi itu dengan intens. Dada dengan ukuran yang sangat pas dengan pinggang ramping serta pinggul yang besar mampu membuat Vi menggeram tertahan.
Ia berpikir kapan dirinya bisa menyeret gadis itu ke atas ranjangnya, bermain hingga pagi menjelang. Memikirkan itu saja membut adik kecilnya menengang, "s*al membayangkan saja membuat ku tegang".
Vi berdiri di samping Shera yang menatap bangunan tinggi dengan lampu terang yang menyala membuat susana kota itu menjadi sangat apik untuk di nikmati. Bibir merah yang menggoda terbuka sedikit semakin membuat Vi menggila.
" kau pergi sendiri dengan pakaian terbuka?", tanya Vi pada Shera yang sekarang menatapnya.
__ADS_1
"Aku menggunakan mobil jika kau ingin tahu, jadi tak ada yang melihatnya sekalipun aku tel**jang", sinis Shera pada Vi yang terkekeh.
" ck arogan", bisik Vi, "tapi kau bisa masuk dalam perangkap yang mematikan jika berpikir seperti itu".
Shera menatap Vi dengan pandangan tak mengerti, lelaki berparas bak pangeran negeri dongeng itu menyeringai membuat Shera mengusap tengkuknya.
"Kau lihat lubang kecil di tiang lampu merah? Itu bisa menembus apa yang tertutup tak terkecuali mobil mu, kau masih ingin tel**jang?", ucap Vi dengan meneguk Wine yang tersedia di meja kecil di sampingnya, mungkin Jack yang mempersiapkan semuanya.
" kau menakutkan", bisik Shera, "aku ingin pulang", Shera melangkah pergi namun sebelum ia benar benar pergi suara Noire mengejutkannya.
" hello b*tch, kau ingin pergi? Tega sekali", ucap Noire yang terlihat mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil berwarna merah muda.
Shera mendengus dengan memutar kedua bola matanya malas, "aku sedang tak mood untuk melanjutkan makan malam ini, aku ingin pulang", Shera melangkahkan kakinya menuju pintu.
"Aku juga akan pulang, Jack thanks", ucap Vi pada Jack tanpa menghirakan Noire yang terdiam.
" teman mu itu menakutkan sekali jack ", bisik Noire yang sekarang merangkul lengan kekar Jack.
Jack terkekeh, " ya begitulan dia".
******
Vi menahan pintu lift itu agar tetap terbuka membuat Shera terlonjat kaget, dengan kesal gadis berbaju hijau itu berdiri di sudut ruangan berkotak kecil itu.
Bersidekap dada dengan tampang yqng cemberut membuat Vi terkekeh melihat ekspresi wajah yang Shera tampilkan.
"Kau itu kenapa ingin sekali menghindar dari ku?", tanya Vi dengan kedua tangan yang ia masukkan kedalam kedua saku celananya dengan mata yang menatap atap yang mengkilap di atasnya.
__ADS_1
Shera melirik pada lelaki tinggi di sampingnya, padahal ia sudah menggunakan high heels tujuh sentimeter namun masih saja ia terlihat pendek di samping Vi.
Suara deringan ponsel dari saku celana Vi membuat Shera menjerit kecil karena terkejut, hei siapa yang tidak terkejut saat kau hanya berdua di ruangan yang sunyi dan senyap ini.
" hmm, lakukan saja, aku hanya menunggu kabar", sahut Vi pada suara di seberang sana membuat Shera penasaran.
Vi melirik sebentar pada gadis di sampingnya, namun Shera terlihat diam tanpa ada tertarik sedikitpun. Kenapa gadis ini sangat menarik?
Saat Vi baru saja menutup panggilannya, tiba tiba lift berguncang dan tak lama menjadi gelap gulita. Pelukkan di tubuhnya dapat Vi rasakan, tubuh itu bergetar mungkin saja ia ketakutan.
Vi mencoba melepas pelukkan itu, "jangan berani melepasnya Vi s*alan, disini sangat gelap dan menakutkan bodoh", geram Shera dengan mencubit lengan Vi.
Lelaki itu menyeringai mendengar makian Shera, ahh ini kesempatan yang langkah dan ia harus memanfaatkan sebaik mungkin.
"Kau tahu di samping mu ada sosok wanita berbaju merah", bisik Vi dengan kepala yang menghadap ke samping dan Shera dapat merasakannya.
"F**king you b*tch, jangan menakuti ku", Shera semakin masuk ke dalam pelukkan Vi bahkan sekarang ia menyelusupkan wajahnya pada leher Vi yang agak menunduk.
Kekehan Vi membuat Shera semakin ketakutan, s*al kenapa menjadi semakin horor begini sih? Kapan lift ini akan menyala tuhan? Shera membatin dengan tangan yang mencengkram erat tubuh Vi.
"Ck, ukuran dada mu berapa sih?", ucap Vi yang mana membuat gadis di pelukkannya mendongak, percuma saja Shera kau tak akan melihat wajah mesum itu.
"Jangan menanyakan hal tidak berguna b*doh", kesal Shera.
" dada mu menempel terlalu erat di tubuh ku, ku pikir ukuran ini sangat besar ", bisik Vi dengan sedikit mencium tengkuk Shera, harum mawar tidak tidak ini seperti lavender dan susu.
Shera melepas pelukkannya dan sedikit menjauh dari Vi, namun tangan Vi dengan cepat mencengkram pergelangan tangannya, " jangan menjauh dari ku Shera, kau tak ingat apa yang ku katakan tadi".
__ADS_1
Shera kembali mendekat pada Vi, "jangan mengatakan hal seperti itu", Shera berbisik, tarikkan dapat Shera rasakan saat Vi memeluknya kembali dengan erat, memberi kenyamanan pada gadis di sampingnya ini.