You Naughty Girl

You Naughty Girl
30


__ADS_3

"ZhendiBara", bisik Vi yang mencoba menekan setiap huruf yang ia sebutkan. Jack terlihat melirik Vi sebentar sebelum ia menatap ke arah pergelangan tangannya.


"Vi", ucap Jack pelan membuat Vi menoleh ke arahnya, "ku pikir kau harus segera membukanya", dengan menunjukkan sebuah jam tangan canggih.


matanya melotot saat tak ia temukan keberadaan Shera di layar kecil itu, "sial", Vi dengan segera menekannya cepat dan terbuka, keduanya lagi lagi mendecih.


bagaimana bisa Bom sebesar ini akan di jatuhkan ke wilayah Los Angeles? Charlie sialan itu memang berniat menghancurkan dunia.


"Jack, kau tahu cara mematikan Bom?", tanya Vi yang menatap Jack, sedangkan lelaki itu mendecih dengan menendang tulang kering Vi.


"tak ada waktunya untuk bercanda sialan, ingat kau harus segera menyelamatkan kekasih cerewet mu itu", ucapan Jack membuat Vi terkekeh pelan sebelum ia menggunting kabel berwarna kuning.


Jack lagi lagi menendang Vi, "jangan bercanda sialan, kau membuat waktunya menjadi semakin cepat", geram Jack dan lagi lagi Vi tertawa setan mendengar ucapan sahabatnya.


suara Brian memasuki ruangan itu, "SIALAN KAU VI, BOM DI TEMPAT KEKASIH KU AKAN MELEDAK CEPAT, JANGAN KEBANYAKKAN BERCANDA ANJ**G BOD*H", Brian terlihat panik.


bagaimana ia tidak panik? Bom itu sudah di rancang dengan secanggih mungkin. Dengan Satelit yang mengatur dan Jaringan Internet yang kapan saja bisa meluluh lantakkan tanah LA.


dengan cekatan Vi kembali memotong kabel berwarna hitam dan itu semakin membuat waktu cepat, dan Brian lagi lagi mengumpat kesal pada Vi dan terakhir kabel berwarna ungu yang memutuskan semua jaringan tak berguna milik Charlie hingga Bom itu tak lagi beroperasi.


Vi mendesah pelan begitupun dengan Jack, namun belum sempat mereka beranjak suara tembakkan terdengar dari luar ruangan bawah tanah itu.


Jack berlari, bersembunyi di tempat yang ta terdeteksi oleh peluru, "fu*k", gumam Jack, "kenapa manusia tak berguna itu selalu datang", ucap Jack yang membuat Vi menyeringai lebar.


"Jack, kau sudah memberi tanda di setiap sudut bukan?", Jack mengangguk, "saat kita keluar nanti, kau mainkan".


Vi berlari keluar dengan pistol di tangannya, menembakki beberapa anak buah Charlie yang membidik dirnya dan juga Jack. baku tembak memekakkan telinga membuat siapa saja akan ketakutan begitupun dengan para tahanan yang sekarang bisa Vi lihat nampak ketakutan.


sedangkan Jack lelaki itu dengan cepat membuka gembok penjara, dengan tangan kiri yang menembakki para musuhnya. Vi lagi lagi menjadi tameng untuk Jack, menmebakki kepala para penjilat darah manusia.

__ADS_1


namun ia sedikit lengah saat, lengan atasnya tertembak timah yang panas. ia menggerang dan bersembunyi di sudut ruangan, matanya yang tajam menargetkan seorang bertubuh besar dan tinggi yang mencari keberadaannya.


dengan sekali tembakkan, lelaki botak itu terdiam dengan banyak darah yang keluar dari keningnya. Vi berdiri dan menyuruh para tahanan agar segera keluar dari ruanga pengap menjijikkan ini.


"sepertinya aku harus mengajak Shera pergi ke Salon", gumam Vi seraya melihat penampilannya yang kotor.


"ingat luka mu sial*n", Jack pergi dan meninggalkan Vi yang masih menatap lorong gelap di ujung sana. dengan brutal ia menembakki lorong itu, terdengar teriakkan kesakitan kemudian ia berjala pergi dengan senyum yang bertengger di di bibirnya.


******


Shera terdiam dengan mata yang menatap tajam sosok Ronald yang berdiri menyeringai padanya. kedua tangannya terikat serta rembesan darah yang keluar dari bibir mungilnya akibat tamparan yang Ronald berikan.


"kekasih mu itu memang sial*n sekali ya, menghancurkan bisnis ku dan menggagalkan obat obatan terlarang ku yang lagi beroperasi", kesal Ronald dengan mendekat pada Shera.


"Vi memang hebat untuk urusan kecil mu itu", ejek Shera yang semakin membuat Ronald kesal, "oh iya, kau tahu kan senjata yang kau pegang itu tak ada pelurunya".


"wanita sial*n", Ronald mendesisi dan mendekat pada Shera, mengangkat dagu gadis itu. menatap wajah cantik yang Ronald akui ia menyukainya dari segi mana pun.


dengan pelan dia menyeringai, mendekatkan wajahnya pada Shera yang melotot. Namun sebelum ia mendekatkkan wajahnya, Ronald mendekat pada laptop yang masih menyala di sana Vi menatapnya tajam.


"hai Vi, tetaplah menonton bagaimana aku menyentuh kekasih mu nanti", kekeh Ronald yang membuat Vi terdiam.


"berani kau menyentuhnya, ku pastikan hidup mu benar benar hancur", bisik Vi dengan sorot mata yang menakutkan namun lagi lagi Ronald terkekeh.


"tentu saja aku tidak perduli", Kekeh Ronald yang sekarang mendekat pada Shera.


jemarinya menyentuh dagu Shera, mengangkatnya tinggi sebelum ia menyentuh bibir merah yang terlihat menggoda. Kaki Shera terlihat ingin menendang Ronald namun pergerakkannya terkunci saat lelaki itu menahannya dan jangan lupakan tanganbesar berurat itu yang meremas dad* Shera kuat.


Vi, lelaki itu bahkan kapan saja siap menghancurkan apa pun dengan segera ia bergegeas pergi sebelum ia menghubungi Elton agar segera menyediakan jet pribadi miliknya.

__ADS_1


"kau benar benar seksi emmh~", Shera menatap tajam Ronald yang tersenyum yang sekarang menatap layar yang tak menampilkan sosok Vi lagi.


Ronald meninggalkan Shera sendirian di ruang besar berwarna putih itu. jejak saliva milik Ronald masih tertinggal di sudut bibirnya, "Noire", bisik Shera agar temannya itu datang dan menyelamatkannya.


******


Brian terlihat bergulat dengan Charlie, menonjok wajah menyebalkan lelaki berdarah China-Amerika itu. terlihat puas saat Charlie terbatuk dengan darah yang keluar dari mulutnya sedangkan Elton, lelaki itu hanya merekam adegan keduanya.


lelaki dengan piercing di bibir itu mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya. Brian melangkah mendekat pada Charlie, menginjak perutnya kuat, "ku pikir kau sepadan dengan ku, ruapanya kau hanya mampu memasuki lub*ng lelaki saja", ejek Brian pada Charlie yang terbatuk batuk.


"siah~l*n, uhukkk~", Charlie memegangi dadanya dengan kuat, sakit di tubuhnya sangat terasa. matanya menatap anak buahnya yang mati dengan sangat menggenaskan.


semua rencananya sudah hancur tak tersisa, Vi lelaki dengan ancaman pertama yang sangat Charlie hindari namun itu tak bisa. dengan pelan dia mencoba menggapai pistol yang terlempar tak jauh darinya. Namun ia berteriak saat Elton menginjak tangannya, hingga sedikit bunyi retakan tulangnya terdengar di telinganya.


Brian menarik Charlie, membawa lelaki itu keluar gedung. mereka akan membawanya ke hadapan Vi, mobil hitam sudah tersedia di luar gedung dan Elton segera mungkin menyeret Charlie agar lebih cepat sampai ke bawah.


Jack sudah menunggu di dalam mobil, matanya menatap Charlie yang tergeletak di kursi belakang bersama Elton sedangkan Brian mendecih melihat wajah mengejek yang Jack tampilkan.


"kemana Vi?", tanya Brian pada Jack.


"kau tak mendengar ku berbicara dengan Vi tadi?", Brian menggeleng mendengar pertanyaan Elton, "Shera di sekap oleh Ronald".


Brian terdiam dengan mata yang menatap jalanan, "stup*d", gumam Brian, "cepatlah Jack aku ingin segera menyelamatkan sepupu ku".


mendengar perintah Brian dengan kecepatan penuh Jack melajukan mobilnya. dia tahu Brian sedang kalut apalagi mendengar sepupu kesayangannya jadi tawanan Ronald.


"aku ku jadikan adik perempuannya ****** di hadapannya nanti", bisik Brian membuat keduanya terdiam di tambah aura mengintimidasi Brian.


memang jika sudah menyangkut keluarganya Brian akan menjadi sosok yang menakutkan tak seperti Brian yang lucu dengan wajah imutnya yang senantiasa menjadi bahan ejekka sahabat sahabatnya ini.

__ADS_1


__ADS_2