You Naughty Girl

You Naughty Girl
13


__ADS_3

Shera duduk di sofa besar dengan kesal, rasanya ia ingin lari dari ruangan ini. Matanya menatap kesekeliling hiasan rumah yang mengantung membuat mata Shera sakit, padahal rumahnya pun hampir sama.


Kakinya ia silangkan dengan tangan yang terlipat di dada, Menatap angkuh pada Vi yang berjalan mendekat padanya, "cepat lah aku ada urusan", kesal Shera.


Vi duduk mendekat pada gadis itu, menatap wajah ayu yang terlihat sangat kesal. Saat ia ingin memegang jemari Shera dengan cepat gadis itu menepisnya.


Tahan Vi tahan!! Batin Vi mencoba menenangkan emosinya. Gadis ini bisa menjadi sangat buas dan Vi harus bisa mengendalikannya.


"Cihh memuakkan", Shera mengambil tasnya dan mencoba untuk pergi dari rumah ini yang terasa mencekam.


"Satu langkah saja kau melangkah aku tak segan segan memperkosa mu disini", ucap Vi dengan dingin.


" kau pikir aku peduli? Kau pikir aku akan takut pada ancaman mu itu?", kesal Shera dengan emosi.


Dapat Vi lihat wajah gadis itu memerah, matanya yang berkaca kaca mencoba menahan tangis membuat Vi terdiam, ada rasa bersalah.


"Oke aku minta maaf tentang kemaren", padahal selama hidupnya Vi tak pernah mengucapkan kata maaf pada siapa pun dan sekarang demi gadis ini dia rela mengucapkan kata laknat itu.


" kau pikir dengan begitu kau bisa membuat ku terlepas dari belenggu yang kau ciptakan? Kau ingat kan bagaimana kau mengatakan aku orang asing dan dengan mesranya kau berciuman di hadapan ku yang saat itu sedikit membuka hati pada mu", geram Shera dengan menunjuk Vi, "kau membuat ku benar benar menjadi orang asing".


Shera bergegas pergi meninggalkan Vi yang masih menatapnya dalam diam. Namun dengan langkah lebarnya Vi berhasil menahan Shera membuat gadis itu menghentikan langkahnya.


" apa lagi", kesal Shera saat Vi menghalangi jalannya.


"Aku sudah minta maaf bukan? Apa lagi yang kau inginkan? Jangan bersikap kekanakkan Shera hanya karena masalah sepele ini", geram Vi dengan menatap intens gadis di hadapannya yang menatap Vi.


" sepele? Kau bilang sepele? Ternyata benar seharusnya aku tak pernah berharap sekecil apapun dari diri mu Vi, bukankah ini semua membuang waktu saat aku mencoba membuka hati ku untuk menerima mu Vi? Tapi kau sama sekali tak mengerti, mulai sekarang jangan pernah temui aku lagi, lupakan semua yang pernah terjadi", Shera melangkah pergi meninggalkan Vi yang terdiam.


Matanya yang tajam menatap Shera yang berlalu pergi meninggalkannya. Vi sadar jika ucapannya menyakiti hati gadis ini , sial dia sudah dua kali menyakitinya.


"SIAAAALLLL~~", Vi membanting kotak kaca hingga hancur tak tersisa. Menghempaskan tubuhnya pada sofa di depannya dan memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.


******


Shera berjalan dengan pelan, semilir angin musim gugur membuat badannya terasa beku, gadis ini tak tahan dengan hawa dingin namun ia tak pedulikan itu semua.


Kepalanya ia dongakkan ke arah atas menatap langit yang tampak cerah tapi tidak dengan hatinya yang tampak kacau.


" kau itu tidak tahan dengan dingin Shera", suara seseorang membuat gadis itu menoleh cepat.


"Brian", ucap Shera menatap sepupunya yang berdiri di samping dengan memandangnya.


" jangan terlalu di pikirkan, kalian bisa seperti dulu lagi asal jangan saling keras kepala".


Ucapan Brian membuat Shera menghela nafas kecil. Tangannya terulur untuk mengambil daun mapel yang jatuh tepat di pandangannya.


"Aku tak berharap semua akan menjadi semula, aku juga tak berharap semua akan menjadi sama tidak akan", bisik Shera pelan membuata Brian menatapnya tersenyum.


" dia hanya bodoh tak menyadari perasaannya, kau kan tahu bagaimana Vi? dia hanya terfokus pada pekerjaannya tanpa memperdulikan apa yang terjadi di sekitarnya, dia terlalu cuek pada sebuah perasaan", jelas Brian membuat gadis itu menatapnya dalam.


"Kau seperti orang terdekatnya", ungkap Shera membuat Brian terkekeh.


" tentu saja Shera, aku orang terpercayanya". Ucapan Brian membuat Shera melotot, "yaahh kau kan tahu pekerjaan dia selain mengatur perusahannya? Mafia".


" sialan kau Brian, ternyata aku mempunyai sepupu dengan pekerjaan yang menjengkelkan", keluh Shera membuat Brian tertawa.


Dengan erat Brian merangkul Shera membuat gadis itu meronta, "ayo pulang, aku sudah rindu masakkan bibi Ivanka", ya Brian sangat dekat dengan ibu Shera, nyonya Ivanka.


******


Jack menatap kesal pada Noire yang berulah lagi. Gadis dengan piercing di bibir itu menginginkan sebuah Apartement mewah yang terletak di bibir pantai dengan fasilitas lengkap.


Bukannya Jack tak mampu membelikan, namun untuk apa? Lagi pula Jack tak terlalu menyukai Italia dia lebih menyukai Bulgaria.


"Ayolahh~~kita bisa menginap di sana saat berlibur ke Italia". Rengek Noire dengan menarik narik kemeja Jack.


"Aku tak akan pernah berlibur ke Italia lagi", ucap Jack dengan mengemas kopernya dan Noire masih kekeh menarik kemeja Jack.


" untuk persiapan saja sayang, aku bisa menempati ini dengan Shera jika kami ingin menjenguk Selena, mau yaaa~~~", bujuk Noire pada Jack.


"Big No. Sekali aku bilang tidak maka tidak". Jack melepas cengkraman Noire, benar kata  Shera hal yang paling baik membuat Noire terdiam adalah dengan menebas kepala Noire.

__ADS_1


Tapi mana mungkin Jack mau melakukannya, dia masih membutuhkan tempat pembuangan spermanya yang berlebihan itu.


Noire mendecih kesal, namun dengan cepat dia tersenyum, " tapi janji kau akan membawa ku ke Maldives setelah ini dan belikan aku sebuah villa kecil?", Noire berdiri di hadapan Jack.


"Promise", pelukkan dapat Jack rasakan di tubuhnya membuat ia tersenyum.


******


Shera menatap kesal pada Noire yang menyeret nya ke arah pesta salah satu teman bisnis ayah Noire yang seorang pengusaha sukses.


Dan para tamu undangan bukanlah dari kalangan biasa, tentu saja ada dari actor dan actres ternama, boss boss besar, dan berbagai orang orang terkenal lainnya.


"Noa aku pulang saja ya? Aku merasa tak enak badan", ucap Shera pada Noire yang mendengus.


Noire menggeleng kuat, " no no no, kau tetap di sini bersama ku, jika kau bosan kau boleh pergi ke balkon sana dan menikmati semilir angin pantai", ucap Noire membuat Shera mendengus sebal.


Baru saja Shera akan membuka mulutnya, matanya menatap dua sejoli yang terlihat memasuki area pesta dan tak luput dari tatapan memuja para tamu yang datang. Itu Vi dan Riana, mereka terlihat seperti pemilik pesta ini, apalagi dengan Riana yang cantik dan juga seksi dengan gaun malamnya yang terlihat mahal.


"Aku pulang saja Noa, aku~~",


" kau Shera yang kuat jadi jangan lemah di hadapan lelaki yang kau sebut bajingan", ucap Noire yang juga menatap Vi dan Riana yang terlihat senang malam ini.


Shera mencoba menatap Noire ia ingin pergi namun lagi lagi Noire menatapnya tajam memberi isyarat agar gadis itu tak menyerah, dengan berat hati Shera mengangguk.


Gadis itu akan melangkah pergi namun seorang laki laki tinggi dengan mata tajam menabraknya hingga Shera memundurkan langkahnya pelan. Ia mendongak kan kepalanya menatap lelaki itu yang sekarang tersenyum.


"I am so sorry, aku tidak sengaja", ucap lelaki itu pelan dengan senyuman yang benar benar tulus.


Shera menggeleng dengan tersenyum manis, " ah tidak apa apa, aku juga terlalu terburu buru, maafkan aku juga", lelaki itu mengangguk.


"Aku William", lelaki bernama William mengulurkan tangannya.


" aku Shera ", dengan menjabat uluran tangan William.


" mau berdansa dengan ku", Shera mengangguk dan dengan pelan William menarik gadis itu hingga jarak mereka menjadi lebih dekat.


Shera menatap wajah tampan William, lelaki ini bermata sipit dengan kulit Tan serta gingsul yang membuatnya semakin tampan jika William tersenyum, namun wajahnya ada sedikit aura dingin.


Namun tanpa Shera sadari, sosok lelaki di sudut ruangan menatap tajam pada dirinya. Tangannya mengenggam erat gelas kaca yang ia pegang, Vi nampak tidak menyukai situasi saat ini. Dengan langkah cepat lelaki itu melangkah pergi meninggalkan pesta tanpa memperdulikan Riana yang memanggilnya.


******


Shera membuka kunci Apartementnya, membuka pintu itu dengan pelan. Tubuhnya terasa lelah namun ntah kenapa menyenangkan mungkin karena William bisa mencairkan suasana hatinya.


Namun langkah terhenti saat menatap sosok lelaki tinggi berbalut kemeja hitam dengan lengan yang tergulung menampakkan otot serta tatoo berbentuk Kalajengking.


Sepertinya Shera tahu siapa lelaki ini, itu jelas Vi lelaki yang sangat ia hindari. Kenapa lelaki ini berada di Apartementnya? Sedangkan Vi masih ada di tempat pesta dengan Riana tadi? Dan sejak kapan lelaki itu bertatoo? Pertanyaan demi pertanyaan muncul di pemikiran Shera.


"Kau sudah selesai bersenang senang dengan William?", tanya Vi dengan suara dingin yang mampu membuat bulu kuduk Shera berdiri.


Bajingan sekali Vi ini, auranya lebih menyeramkan di banding sikap binal Noire.


" kau kenapa berada di tempat ku? Bukankah sudah ku bilang jangan pernah menemui ku lagi?", ucapan Shera membuat Vi membalikkan tubuhnya menatap intimidasi pada Shera.


Gadis itu memundurkan langkahnya sedikit. Tatapan Vi membuat sedikit rasa takut pada diri Shera. Lelaki di hadapannya ini sangat berbahaya dan sialnya Shera terjebak bersamanya.


"Aku tak akan berada disini jika tak melihat mu bermesraan dengan William", ucap Vi membuat Shera terkekeh.


" khh~ bagaimana dengan mu? Apa aku juga berhak berkata seperti mu?", Shera mengangkat sebelah alisnya dengan sedikit senyuman tipis di bibir merahnya.


Vi mendecih, Shera bukanlah gadis gadis lemah dengan sikap yang centil seperti gadis yang sering ia temui. Emosi Vi benar benar terkuras jika berhadapan dengan gadis di depannya ini.


"Sudahlah Vi sebaiknya kau pergi saja, aku tak menerima tamu di jam malam seperti ini", ucap Shera dengan menatap jam di dinding, " itu pintu keluar, silahkan", Shera mempersilahkan lelaki itu untuk pergi.


Namun bukannya pergi, Vi melangkah mendekati Shera yang waspada pada sikap lelaki di depannya ini.


"Kau pikir semudah itu untuk mengusir ku?", bisik Vi pada Shera yang terdiam, "oh kau bersikap seperti ini karena kau sudah menemukan lelaki lain yang bisa kau jadikan tameng untuk mu? Jangan bermimpi untuk menjauh dari ku Shera".


"Apa aku salah jika aku menjadi Shera yang lain? Shera yang tak sama  seperti kau kenal waktu dulu?", telunjuk Shera menujuk dada Vi, "aku juga bisa berubah Vi bukan hanya kau saja, aku berusaha untuk tidak memikirkan semua tentang malam itu namun nyatanya kau selalu membukanya dan membuat ku berpikir mungkin ini salah satu trik agar aku menjauh dari mu".


Vi dengan pelan mengenggam jemari Shera, menatap gadis itu dengan lembut. Vi tak boleh lepas kendali gadis keras kepala seperti Shera tak bisa di hadapi dengan emosi.

__ADS_1


" baik, aku minta maaf tentang kejadian waktu itu, aku juga minta maaf menyebut mu wanita asing, menyebut ini hanya masalah sepele dan aku minta maaf karena menganggap kau kekanakkkan, jadi bisakah kau memaafkan ku? Dan kita ulangi hubungan kita seperti dulu?", Vi menatap Shera dengan wajah memohonnya.


Sehra tak pernah menatap Vi seperti ini, yang Shera tahu lelaki di hadapannya ini selalu menampilkan wajah dingin dengan tatapan tajam serta bibir tipis yang selalu mengeluarkan kata kata sarkas dan kotor.


" aku tidak tahu", gumam Shera, "sudahlah aku ingin tidur", Shera berjalan meninggalkan Vi yang masih berdiri menatap tubuh Shera yang memasuki kamarnya.


Kakinya ia langkah kan menuju pintu, ia harus pulang dan juga tidur agar besok pagi dia siap menghadap bertumpuk tumpuk kertas putih yang harus ia tanda tangani. Untuk masalah ini bisa Vi selesaikan besok saja, yang terpenting dia harus bisa mengambil hati gadis itu lagi.


******


Kris melangkah mendekati Shera yang asik membaca buku di perpustakaan. Ia baru saja melihat gadis itu keluar dari ruangan seorang Dosen dan mengikuti gadis itu ke perpustakaan.


" good morning Mrs. Shera Fernandes", sapa Kris dengan senyum di bibirnya.


Shera terkekeh, sejak kejadian waktu itu mereka memutuskan untuk berteman saja dan Shera dengan senang hati menerimanya, "good morning Mr. Edward Suarez", sapa Shera yang sekarang memanggil Kris dengan nama askecewa.


" apakah nona besar sedang sibuk saat ini?", Kris bersimpuh di hadapan Shera.


"Sepertinya tidak, ada apa?", ucap Shera enteng, jika sudah begini pasti Kris ingin mengajaknya ke suatu tempat.


" sudikah tuan putri makan bersama ku di kantin seberang sana?", tunjuk Kris dengan jemari yang mengarah ke arah kantin kampus yang terlihat mewah.


Lagi lagi Shera terkekeh, " tentu saja, mari". Keduanya berjalan dengan tawa yang menggema, apalagi saat Kris membuat lelucon yang terasa garing namun Shera tetap tertawa agar lelaki itu tidak kecewa.


******


Shera membujuk ibunya yang sekarang terlihat membaca buku yang ntah apa itu Shera pun tak tahu, "ayolah mama~~ Mrs. Monica menyuruh Shera untuk melakukan penelitian ke China, mama kan tahu bagaimana China dengan segudang teknologi yang mumpuni itu?", ucap Shera.


" mama tidak akan setuju, kau tahu China sangat jauh sayang dan mama tidak mau papa mu memarahi mama karena mengizinkan mu pergi jauh, bukan kah Shera tahu bagaimana papa?", jelas ibunya Shera.


Shera mendengus, "Shera akan meminta izin pada papa".


" kau yakin akan mendapat izin?", ucapan ibunya membuat Shera terdiam dengan tubuh yang lemas. Benar juga ayahnya pasti tak akan mengizinkan dirinya pergi jauh, "mama akan setuju jika kau pergi di temani Brian atau pun Noire! Tapi kau kan tahu mereka sangat sibuk dengan kegiatan mereka".


" mama~~", rengek Shera, "aku bisa menjaga diri mama, Shera sudah besar", pinta Shera berusaha membujuk ibunya.


" bukan karena kau sudah besar, kau kan tahu hidup di negara asing bukan hal yang baik buat mu, kau itu ceroboh mama tidak yakin", ibu Shera menggeleng pelan.


"Ibu mertua tenang saja, aku akan menjaga putri mu dengan baik", suara husky seseorang membuat kedua wanita cantik itu menoleh.


" Vi", seru Shera dengan tampang yang terkejut menatap lelaki itu berdiri di depan pintu.


Ibu Shera tersenyum, "Leonel Vi, apa maksud dari menjaga putri ku?", tanya ibu Shera.


Vi tersenyum tipis, " kau tak perlu merasa khawatir ibu, aku akan ikut putri mu dan yaah sudah pasti menjaganya selama dia di China".


"Yaa tapi bagaimana dengan~~ kau tahu kan apa maksud ku?", Vi hanya terkekeh. Ternyata nyonya Ivanka Fernandes merasa tak yakin pada dirinya.


" ya ya yaa aku mengerti", ucap Vi singkat dan penuh isyarat.


Nyonya Ivanka mengangguk, "baiklah, aku serahkan putri ku pada mu Vi, ya sudah mama harus pergi ke rumah sakit kau tahu kan pasien mama sudah merengek", nyonya Ivanka mencium pipi putrinya kemudian berlalu pergi dengan mengusap bahu Vi memberi kepercayaan pada lelaki itu.


Shera menatap Vi sebal, " bagaimana mama mengenal mu?", ucap Shera.


"Kami pernah melakukan kerja sama", Shera menoleh cepat pada Vi, " maksud ku kerja sama dalam bidang kedokteran, kau tahu kan aku memiliki alat yang lengkap".


Shera mengangguk, kemudian menatap Vi intens, "aku bisa pergi sendiri ke China, kau tak perlu sampai seperti ini Vi".


"Bukan masalah bagi ku", Vi mengangkat kedua bahunya acuh.


" bukan begitu Vi, kau harus menyelesaikan pekerjaan mu jika kau ikut aku takut semuanya akan menjadi berantakkan", jelaa Shera pada Vi.


"Aku bisa mengerjakan dari sana Shera, lagi pula ada Brian kau tahu kan bagaimana kinerja sepupu mu itu? Dia yang terbaik".


Shera menghela nafas, " tapi Vi aku eummphhht~~", suara itu terpotong saat dengan cepat Vi membungkam dengan bibirnya.


Gadis itu terdiam dengan menatap Vi dengan melotot, "VI KAU ITU~",


" diamlah atau aku akan mencium mu lagi", ancam Vi pada Shera, "lekas kemasi barang mu".


Dengan mengangguk Shera menuruti semua apa yang Vi katakan. Dan lelaki itu hanya tersenyum tipis menatap Shera yang memasuki kamarnya.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari sedari tadi nyonya Ivanka menatap keduanya. Matanya menatap ponsel di tangannya, " akan aku jadikan koleksi pribadi ku ", kikik nyonya Ivanka kemudian ia berlalu pergi.


__ADS_2