
Shera duduk dengan anggun di salah satu kursi yang tersedia di ruangan itu. Matanya menatap ke arah sekitar mencari keberadaan Vi yang ntah kenapa tak ia temukan sedari tadi. Sedangkan Noire terlihat asik bermanja manja dengan Jack yang nampak santai tanpa merasa risih.
"kemana bajingan tengik itu", gumam Shera dengan meremas tas kecil di pangkuannya. Sebuah tangan mencoba untuk menggapainya namun tangan Satunya menepis kuat membuat Shera tersentak.
Vi berdiri di sampingnya menatap tajam sosok William yang nampak terdiam dengan menatap Vi intens, "tak baik menyentuh gadis yang bukan milikmu", desis Vi dengan menatap Shera.
"aku hanya ingin menyapa saja", ujar William dengan gaya yang kelewat santai.
"menyapalah sesuai dengan tata krama yang berlaku", Vi menarik Shera agar mendekat padanya saat gadis itu berdiri.
Keduanya pergi meninggalkan William yang mendecih dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya.
"sombong", bisik William kemudian ia berlalu pergi.
Sosok perempuan berambut hitam dengan gaun merah melekat indah di tubuhnya. Riana menatap kesekeliling ruangan tempat berpesta.
william menyipitkan matanya, seperti tak asing dengan wanita bergaun merah itu. kakinya ia langkahkan mendekatinya, "kau Riana?", tanya William membuat perempuan itu membalikkan badannya.
"siapa kau lacang bertanya?", Riana mencebikkan bibirnya dengan menatap sinis sosok William yang terkekeh seraya memasukkan kedua tangannya pada saku celana.
William menatap Shera yang berdiri bersama Vi sedang berbicara dengan teman temannya, Riana menyeringai kecil, "kau menyukai Shera?", tanyanya dengan berbisik. kakinya ia langkahkan mendekat ada William yang menatapnya penuh arti.
"aku tak bisa menyentuhnya sedikitpun, yaaahh~~ jika kau mempunyai segudang rencana licik kau boleh memberi ku satu", kekeh William yang menutupi mulutnya dan menatap Riana dengan jelingan mata.
Riana tersenyum tipis, "semua penuh dengan bayaran kau tahu? tak ada yang gratis".
"kau akan dapatkan Vi", Riana menoleh cepat dan perlahan memeluk William dengan menepuk bahu pemuda itu.
"temui aku besok".
******
Jack menatap Vi yang terkekeh pelan mendengar dua suara yang berbicara dengan sedikit bisikkan. hei Vi bukan orang bodoh, dia terlalu pintar untuk menyelipkan penyadap pada semua tamunya yang datang tanpa di sadari sedikitpun.
"permainan semakin seru", ucapnya pelan, sebuah pelukkan dapat ia rasakan di lehernya dengan sedikit kecupan.
"selesaikan semuanya karena aku tak mau terlibat lebih lama", bisik Shera membuat Vi terkekeh kecil, kemudian menarik gadis itu ke pangkuannya.
sedangkan Jack lelaki berambut panjang itu keluar memberi waktu pada keduanya untuk menghabiskan waktu berdua.
Shera menatap dalam mata tajam milik Vi, lelaki yang memeluknya ini terlalu tampan dan menarik untuk di lewatkan. jemarinya mengusap lengan kekar Vi, merasakan bagaimana otot otot itu menonjol.
"apa kau mengenal William lebih dekat?", tanya Shera dengan berbisik.
"tidak", Vi menatap gadis di pangkuannya, tangannya menyelipkan anak rambut Shera ke belakang telinga gadis itu, " hanya secuil yang aku ketahui tentang hidupnya".
bohong jika Vi mengatakan bahwa ia hanya tahu secuil dari kehidupan William. lelaki itu bahkan lebih tahu seluk beluk kehidupan William apalagi dengan kasus kasus yang William tutupi dengan rapat.
andai saja Shera tahu bagaimana William yang sebenarnya mungkin gadis itu tak akan pernah mau mengenal William lebih dekat, gadisnya terkadang memang labil.
__ADS_1
"gadis ku memang pintar sekarang ya", bisik Vi dengan mencium hidung mancung Shera.
"tentu saja, aku gadis terpintar", bangga Shera dengan mengibaskan rambutnya yang sedikit agak panjang.
Vi menyeringai, "kau yakin masih gadis?", alis hitam itu terlihat terangkat ke atas.
Shera memukul Vi dengan kencang serta cubitan yang membuat lelaki itu meringis kesakitan, "sakit", ringis Vi yang mengusap bekas cubitan Shera.
"sudahlah aku ingin istirahat", Shera meninggalkan Vi yang kembali melanjutkan pekerjaannya.
******
William dan Riana bertemu di sebuah restoran mahal yang berada di pinggir kota. keduanya nampak serius membicarakan rencana yang akan mereka lakukan, tanpa tahu bahwa Vi menyeringai mendengarnya.
siapa sangka bahwa chip kecil yang tertanam di leher gadis itu adalah ulah Vi. ya saat mereka masih bersama dulu Vi menanam chip itu untuk mengawasi Riana agar gadis berkulit kecoklatan itu tidak macam macam dengannya, tentunya tanpa sepengetahun Riana, karena Riana tak sadarkan diri waktu itu.
"aku tak pernah terpikirkan rencana yang seperti ini sebelumnya", gumam Riana yang memainkan sendok kecil di tanganya, mengaduk pelan cokelat panas itu.
"kau terlalu terobsesi pada Vi sampai tak bisa mengeluarkan rencana licik yang orang lain pun tahu bahwa ini sangatlah mudah", ucap William yang menatap sosok lelaki yang duduk membelakanginya.
keningnya berkerut saat merasa tak asing pada postur tubuh yang ia tatap. itu seperti Vi namun ia tak yakin, mana mungkin lelaki itu datang kemari lagi pula tempat ini sudah ia amankan sejak awal bertemu dengan Riana.
"kau kan tahu aku tak bisa hidup tanpa Vi, lagi pula dengan menyingkirkan Shera si j*lang sialan itu terlalu mudah jika saja Vi tak turut andil", kesal Riana.
dia memang sangat membenci Shera, gadis itu dengan mudah mengambil hati Vi tanpa melakukan apa pun. cih dia sok jual mahal pada sang casanova.
"terlihat menjijikkan, dia mungkin berpikir hanya Vi lelaki yang memasukinya, padahal mungkin saja dia melakukannya dengan berbagai macam pria. ini LA tak mungkin wanita sepertinya hanya melayani satu laki laki saja", Riana tertawa, "sok suci dengan bertekuk lutut hanya pada Vi".
suara langkah kaki mendekati mereka. menarik kursi sebelum ia mendudukkan tubuh tegapnya. Riana dan William nampak tersentak saat menatap siapa yang sedang bersama mereka.
seringai tipis yang mengundang gairah itu nampak terpampang dengan sangat baik. Riana nampak tersenyum canggung menatapnya, sedikit gemetar di jari jemarinya namun ia berusaha bersikap tenang.
"pembicaraan yang menyenangkan, ku rasa kalian cukup akrab?", suara husky terdengar pelan namun mampu membuat mereka terdiam dengan berdoa bahwa ia tak mendengarnya.
"hai Vi, ya seperti itulah, kami mengenal saat pesta dan berjanji akan bertemu di sini sebagai awal persahabatan kami", ucap Riana mencoba menyakinkan Vi, berbeda dengan William lelaki itu tak berbicara hanya menanggapi dengan senyuman.
"ku pikir kalian sedang berkencan", sapa Brian yang juga ikut duduk di antara mereka, "kalian sangat cocok satu sama lain".
William tersenyum, "mungkin akan kami coba untuk mengenal lebih dekat lagi, iya kan Riana", ucap Willian dengan memegang jemari Riana mencoba memberi kode pada Riana untuk mengikuti aktingnya.
"ah tentu saja, siapa tahu kita bisa kencan secara bersamaan".
Brian mengangguk dan menatap Vi yang memainkan ponselnya, "Vi bagaimana jika kau membawa Shera ke sini, ku pikir ini akan menarik dengan menyaksikan William yang melamar Riana?".
ucapan Brian membuat kedua pasangan itu terdiam, Riana nampak memelototkan matanya tak percaya dengan ucapan Brian.
"ide bagus", ucap Vi dengan pelan.
"ahaha ku pikir kami akan pergi dulu, ada pekerjaan yang harus kami selesaikan bersama", ucap Riana yang berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"wow, bagaimana jika aku ikut kerja sama di perusahaan kalian juga? ku pikir akan menambah keuntungan yang lebih besar lagi", Brian tersenyum lebar.
Willian menatap Brian dengan tajam, "ku pikir kau tak perlu mencampuri urusan orang lain terlalu dalam tuan, jangan bersikap lancang pada orang yang baru kau kenal, permisi".
keduanya pergi meninggalkan Brian dan Vi yang menatap kepergian Riana dan William. kekehan dapat Vi dengan keluar dari mulut Brian, nampak puas melihat bagaimana William mencoba agar tak terpancing emosi.
******
di perjalanan Riana nampak mendengus sebal, raut wajahnya kesal bukan main. memang saat ini ia mengendarai mobilnya sendiri sedangkan William di jemput oleh anak buahnya saat di depan Restoran yang mereka singgahi tadi.
"sial", kesal Riana yang memukul stir, "aww sakit bodoh", maki Riana pada stir mobil miliknya.
kedua matanya menatap kaca spion yang menampilkan mobil merah yang mengikutinya. ia melajukan mobilnya kemudian menatap mobil belakang yang juga ikut melajukan mobilnya juga, saat ia memelankan mobilnya mereka juga mengikutinya begitupun seterusnya.
"sialan aku di ikuti, siapa yang berani beraninya memainkan ku?", kesal Riana.
dengan melajukan mobilnya Riana nampak tak memperdulikan mobil di belakang yang ia inginkan agar cepat sampa rumah dan menghindari mobil itu. namun naas belum sempat ia melajukan tabrakkan di belakang mobilnya membuat ia terkejut bukan main.
beberapa kali ia mendapatkan Serangan itu, Riana mencoba menghindar namun ia tak bisa, pengemudi di belakangnya terlalu profesional untuk dia yang hanya menyetir tanpa ada keahlian lainnya.
tak butuh waktu lama tabrakan lebih keras membuat Riana tak bisa mengendalikan mobilnya hingga ia menabrak pembatas jalan. mobil mahal keluaran terbaru itu nampak terguling guling keluar jalur dan terakhir menghantam tembok kokoh.
Riana mencoba memegangi kepalanya yang berdenyut. bau anyir tercium di hidungnya. matanya melotot saat tangannya berlumuran darah, kepalanya berdarah dan sakit yang teramat sangat.
suara ponsel yang berbunyi terdengar kuat di kesunyian, tangannya mencoba menggapainya namun rasa sakit lebih mendominasi, "sshhh~".
kaca mobilnya pecah, dapat ia lihat dua orang laki laki berjalan ke arahnya dengan senyuman puas di wajah mereka. Riana mengenalnya itu Vi dan Jack bukan lagi Brian, Riana tahu ini pasti ulah mereka yang mencelakai dirinya.
"hai", sapa Vi yang menyapa Riana, "emm bagaimana apa kepala mu sakit?".
"Vi tolong bawa aku ke rumah sakit", ujar Riana dengan suara pelan, ia tak tahan sakit di kepalanya benar benar mencekam apalagi darah yang terus menetes mengotori wajah dan dadanya.
Vi menggeleng, "apa rencana mu menyingkirkan Shera akan terwujud?", ucapan Vi membuat Riana terdiam.
Riana tak tahu bagaimana bisa Vi mengetahui rencananya bersama William untuk menghancurkan Shera. Riana sadar bagaimana pun ia berusaha untuk menghancurkan segalanya ia tak akan bisa, Vi terlalu pintar untuk ia yang hanya seorang amatir.
"aku memasang chip di leher mu dulu saat kau tak sadarkan diri", bisik Vi menunduk, Riana baru menyadarinya bahwa memang ia sering kali mengeluh sakit namun ia anggap itu hal wajar karena kesibukkannya sebagai aktris, mungkin hanya kelelahan pikirnya.
tak ingin berlama lama Vi sedikit mengiris leher Riana membuat gadis itu berteriak kesakitan. Mencongkelnya pelan saat ia sedikit kesusahan mengambil chip yang tertanam itu. darah yang menetes tak ia hiraukan yang ia inginkan hanya chip yang masih ada di leher Riana.
Riana memegangi lehernya yang terus mengeluarkan darah yang teramat banyak. nafasnya tercekat, air matanya mengalir ia menatap Vi mencoba meminta belas kasihan pada lelaki itu yang sekarang nampak menatap chip di tangannya dengan puas.
"perfect", bisik Vi yang memberikam chip itu pada Jack yang sekarang nampak mendekati Riana.
pisau kecil yang nampak berkilat itu mengurus kulit leher Riana beradu dengan rantai yang gadis itu gunakan, terdengar ngilu dan menyakitkan. tak butuh waktu lama leher itu berlubang dengan sempurna di iringi nafas Riana yang tak lagi berhembus.
keduanya pergi meninggalkan mobil itu dengan mayat yang membeliak matanya dan kucuran darah yang sangat banyak. biar polisi saja yang mengurus semuanya dan Vi hanya akan duduk mania di kursinya seraya menikmati gadisnya yang mungkin akan merasa sangat senang.
30 juli 2022
__ADS_1