
Vi duduk di atas sofa, sebatang rokok terselip di bibir tipisnya. Matanya yang tajam menatap jam yang menempel di dinding, jam menunjukkan jam sepuluh lewat tiga puluh menit, namun Shera belum kembali juga.
Kakinya ia tompangkan, jas hitamnya terbuka dengan kancing kemeja yang tak ia kancingkan sedangkan dasi terlilit di tangannya yang berotot dengan sepatu pantofel yang mengkilap di terpa cahaya lampu.
Suara klik pintu terbuka menandakan seseorang memasuki ruangan yang nampak gelap dengan cahaya temeram. Shera tersentak kaget saat menatap seseorang yang duduk menatapnya setelah ia menutup pintu.
"Vi", bisiknya pelan, matanya melirik jam dinding. Ia menelan ludah kasar, sial dia terlambat pulang.
"Sudah bersenang senangnya?", bisik suara husky yang terdengar menyeramkan di telinga Shera. Lelaki dengan piercing di bibirnya itu menyeringai saat melihat gadis di hadapannya terdiam.
Shera nampak tersenyum canggung dengan jemari yang mengusap usap lengannya, " ahh~~ tadi Mrs. Monica memperlambat pertemuannya haha~", sial jantungnya berdetak sangat cepat.
"Jadi bagaimana rasa bibir William?", Vi membuang rokoknya ke arah tong besi di sampingnya. Matanya bisa menatap wajah gadis di depannya yang nampak terkejut.
Shera terdiam memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan pada lelaki di depannya ini. Dapat dia lihat sedikit seringai mengejek yang Vi tujukan pada dirinya.
" biasa saja, lagi pula aku tidak tahu jika dia akan mencium ku, intinya aku menolaknya", jelas Shera yang masih menatap Vi, "aku sudah tahu apa yang ada dalam otak mu itu Vi", ejek Shera.
Vi terkekeh, " jika kau sudah tahu kenapa kau tak segera mempersiapkan diri hmm", ucap Vi yang sekarang berdiri mendekat pada Shera.
"Aku lelah, kau ingatkan bagaimana Mrs. Monica mengurung ku di dalam ruangannya dengan berbagai macam pertanyaan yang terasa menyebalkan", ucap Shera yang sekarang menyandarkan kepalanya pada dada bidang Vi yang berbalut kemeja hitamnya.
Harum maskulin memasuki indera penciuman Shera, gadis ini selalu suka pada harum tubuh Vi terasa wangi dan menggoda.
"Ck, ayo tidur", ajak Vi pada Shera yang sekarang mengangguk dengan sedikit senyuman di wajah ayunya. Genggaman Vi pada jemari Shera menuntun keduanya ke arah kamar mereka.
******
Jack terlihat menatap beberapa wanita muda yang berjalan menggoda. Di tangannya terdapat senjata tajam yang kapan saja siap menikam. Seringainya tercipta saat Vi mendatanginya dengan sebatang rokok yang menempel di bibir tipis merah kesukaan Shera.
"Kau terlambat sepuluh menit bung", ucap Jack yang memberikan segelas vodka pada Vi yang menyandarkan tubuhnya pada sofa di samping Jack.
"Beberapa anak buah Kris menghadang ku, terpaksa aku harus memendam mereka hidup hidup", ujar Vi yang membuat Jack menegakkan tubuh tegapnya.
Alisnya bertaut, " anak buah Kris? Bukankah mereka sudah tak bekerja?", tanya Jack.
"Kau salah Jack, mereka masih dalam naungan Bastian", Vi menatap beberapa wanita malam yang menggoyangkan badannya di atas lantai dansa dengan sekeping g-string tanpa atasan hingga dada mereka nampak bergoyang goyang dengan telanjang.
" jaga mata mu rubah s*alan", suara Brian terdengar membuat Jack terkekeh, "akan aku kirimkan video ini pada Shera jika kau masih tak bisa menjaga pandangan mu", ucap Brian dengan memperlihatkan sebuah video di ponselnya pada Vi.
Vi mendecih, "aku tak tertarik dengan mereka sedikitpun", bisik Vi yang memperlihatkan layar ponselnya pada Brian, disana terdapat foto Shera yang tersenyum di hamparan bunga Lavender yang Vi hadiahkan pada gadis itu.
"Mafia besar yang tega membunuh tanpa belas kasihan sekarang menjadi budak cinta tak terhormat", ucap Brian yang membuat Jack terkekeh seraya menegak vodkanya.
" apa pun untuk Shera", ucap Vi dengan seringai tampan di bibirnya.
Beberapa wanita nampak mendekati mereka, Jack menarik salah satu dari gadis berambut merah yang sekarang nampak mengusap pipi Jack yang hanya diam. Sedangkan Brian lelaki playboy itu nampak mengusap paha mulus wanita berambut pirang dengan s**sual, sedikit membuat wanita itu mend*sah.
Vi hanya menatap mereka dengan malas namun seringai tipis nampak jelas di wajahnya. Lagipula ia sedang tak bersama Shera, gadisnya pasti sedang tertidur nyenyak. Tangan berotot itu nampak menarik gadis di sampingnya agar duduk di pangkuan Vi.
"Hai boy, playing the game?", tawar si wanita berparas ayu itu.
Vi hanya tersenyum tipis, "sorry girl, No need", ejek Vi dengan jemari yang menarik tali gaun hitam yang tersampir di bahu mulus itu.
Sebuah ciuman ia dapatkan, terasa lebih dalam dan menyenangkan. Sedikit balasan tak masalah untuk menyenangkan hasratnya malam ini, tangannya asik mengusap pinggang ramping gadis di pangkuannya.
Terlalu asik dengan bibir sang gadis, hingga mata setajam elang itu menatap sosok cantik yang berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang sulit di artikan. Dengan sentakkan kuat Vi mendorong gadis itu hingga terjungkal ke belakang dan membuat kedua temannya terkejut.
" WHAT THE F*CK", teriak sang gadis itu dengan wajah yang memerah karena amarah.
Brian dan Jack menatap arah pandangan Vi yang terpaku pada Shera, "oh god", bisik Brian dengan mengusap wajahnya dan membalikkan badannya ke arah sofa yang ia duduki tadi.
Dengan langkah lebarnya Shera mendekat pada Vi dan juga kedua sahabatnya itu. Matanya menatap wanita yang sekarang nampak berdiri dengan mengusap bokongnya yang Shera yakini itu bokong palsu.
" YAISSSSHHH J*LANG SIALAAANNN". Shera menarik rambut wanita malam yang nampak tak berpakaian dengan benar, "kau itu sudah kotor jadi Jangan tambahkan lagi debu dalam tubuhmu dengan menggoda b*jingan sialan ini st*pid girl", tunjuk Shera pada Vi yang sekarang melotot sedangkan Jack dan Brian nampak menahan tawa mereka.
__ADS_1
" f*cking b*tch you'r b*stard", gumam wanita itu membuat Shera melotot, dengan tak berperasaan Shera menendang tulang kering si wanita penghibur.
Saat dirasa dia memegang erat tangan wanita itu, Shera menghadapkan tubuh itu di hadapan Vi, "lihat kau menyukai bibir wanita yang penuh suntikkan ini? Kau lihat dada silikon ini? Kau juga ingin meremasnya dengan penuh n*fsu? Dan apa apaan bokong palsu ini? Kau juga ingin menikmatinya?", ucap Shera dengan sangat kesal, dia benar benar kesal dan marah pada Vi.
"Go or I'II kick your ***!", kesal Shera yang menatap gadis itu dan mendorongnya agar pergi dari hadapannya.
Dengan cepat Shera menatap Vi yang terdiam. Sudah lama Shera tidak menjadi brutal seperti ini dan malam ini Vi kembali menyaksikan sikap Shera yang seperti orang kerasukkan.
"Ok baby, I will~~",
"Shut up you bloody moron!", tunjuk Shera pada Vi dengan nafas yang tersengal sengal. Matanya menatap Jack dan Brian yang sekarang nampak terdiam dengan duduk manis di sofa tak ingin ikut campur.
Vi terkekeh pelan namun mampu membuat Shera menarik rambut sedikit panjang milik Vi, " Vi don't f*ck with me", lelaki tinggi itu meringis kesakitan.
Tangannya memegang pergelangan tangan gadisnya, "let's talk no cap right now baby, we need to solve this problem", ucap Vi dengan mengangkat tubuh Shera dan membawanya keluar.
Namun sebelum itu Vi menatap sahabatnya, "awasi Bastian, aku akan menghukum Scorpio galak ini", ucapnya sebelum ia benar benar pergi.
******
Bastian berdiri dengan gagah di ruangan yang Kris tempati dulu. Matanya menatap arah gedung dengan seringai tipis serta tangan yang memegang sebuah Map berwarna cokelat muda.
" ternyata mudah untuk mendapatkan semua ini", kekeh Bastian dengan membuka lembar kertas putih itu. Nama Bastian tercetak dengan sangat jelas disana, semua aset Mr. Crown jatuh di tangannya.
Dari awal Bastian memang hanya mengincar ini semua. Merampas semua yang Kris miliki, memiliki apa yang Mr. Crown berikan pada putra semata wayangnya itu, "hanya tinggal melenyapkan Vi dari dunia ini dengan begitu semuanya akan menjadi milikku", ucap Bastian dengan tertawa yang begitu keras.
Dia tidak tahu jika Jack dan Brian sedang tertawa. Kedua lelaki dengan julukkan tangan kematian itu menyadap semua yang ada pada Bastian bahkan sejak Mr. Crown dan Kris masih hidup. Kau pikir kenapa Vi menelusupkan beberapa anak buahnya? Tentu saja untuk mencari info dan melumpuhkan musuh secara perlahan.
" ternyata kau tak sepintar yang orang tahu selama ini ya Bastian? ", suara menggema milik Brian berdengung di ruangan yang Bastian tempati membuat lelaki itu panik.
" B*NGSAT KALIAN SEMUA", teriak Bastian murka, dia tak tahu jika Jack dan Brian selalu mengawasi dirinya yang ia tahu mereka tak pernah mengetahui ruangannya.
Vi melangkah kan kakinya mendekat pada Bastian, duduk dengan santai di depan komputer milik Bastian, "hai b*doh", suara Vi menggema di ruangan itu, Bastian dengan cepat membalikkan tubuhnya menatap Vi.
" APA APAAN KAU VI", sergah Bastian yang siap mengeluarkan senjatanya dari balik jaket yang ia pakai, "sialan, aku benar benar harus membunuh mu dengan cepat".
Brian dan Jack berdiri di belakang Bastian, menodongkan pistol mereka pada lelaki tinggi di depan mereka berdua.
Bastian tertawa keras, "ku pikir kau akan berani menghadapi ku sendirian Vi? Ternyata aku salah", ejek Bastian.
Lelaki berkulit putih itu melangkah mendekati Bastian. Berdiri dengan tenang di hadapan Bastian, tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya kemudian ia terkekeh pelan.
Satu pukulan mendarat di perut Bastian membuat lelaki itu terbatuk. Sialan dia belum siap dengan serangan Vi, dan Bastian akui gerakkan Vi sangat cepat. Pantas saja beberapa anak buahnya tak sanggup melawan dan kewalahan menghadapi Vi bahkan ini lebih cepat dari gerakkan Brian.
Kaki bersampul pantofel itu mencoba menendang Vi namun dengan cepat Vi membalasnya dengan pukulan di rahang Bastian. Jack dan Brian nampak tersenyum dan duduk dengan santai seiring rokok yang mengepulkan asapnya dari bibir mereka.
" kau tandai dadanya Vi", ucap Brian dengan jemari yang menunjuk dada Bastian.
Pertarungan tak dapat di elakkan, keduanya sama sama kuat, sama sama tak mau mengalah. Vi mendapat pukulan di rahang sebelah kirinya dan Bastian beberapa kali mendapat serangan di perut dan dadanya.
Bastian terengah engah, dia sebisa mungkin harus melumpuhkan Vi bagaimana pun caranya. Lelaki itu nalpak sulit di tumbangkan, bahkan beberapa kali Bastian menyerang Vi masih sanggup berdiri dengan tegap.
Kepalan tangan Vi mengenai sebelah pelipis Bastian, berkali kali ia memukuli wajah Bastian hingga darah terciprat kemana mana. Melihat tubuh Bastian tak bergerak, Vi menyudahi pukulan itu. Dia berdiri tegak dengan kaki yang menendang perut Bastian.
"S*al dia mati", bisik Vi membuat Jack dan Brian berdiri mendekati. Vi menarik kaki Bastian, menyeret lelaki itu dengan asal menuruni tangga.
Beberapa pasang mata menatap mereka, satu pun tak ada yang berani menegur. Jika kau berani, maka bersiaplah hidupmu akan di hantui rasa takut hingga kau menghembuskan nafas mu.
******
Vi berjalan pelan saat menatap sosok Shera yang sibuk menata makanan di meja makan. Sejak berita pernikahan mereka Vi sengaja membawa Shera untuk tinggal di Apartement besarnya.
Dengan pelan dia memeluk pinggang ramping itu membuat Shera menjerit dengan keras akibat terkejut. Jemari lentik itu mengusap dadanya karena jantungnya berdetak sangat cepat.
"f*ck you Vi", ucap Shera kesal seraya mendorong lelaki tinggi di belakangnya. Namun bukannya menjauh Vi malah memeluk erat si cantik dengan mengendus wangi di tubuh Shera.
__ADS_1
"ayo kita buat anak", tawar Vi membuat Shera terdiam memikirkan Pernyataan Vi.
"apa apaan kau ini, tiba tiba saja berkata seperti itu", dengus Shera, karena gadis ini tak yakin dengan apa yang Vi katakan. Kau tau sendiri bukan bagaimana kehidupan Vi? Lelaki berdarah dingin itu hanya tau dengan s**, pistol, darah dan tentu saja nyawa, bagaimana bisa merawat seorang bayi.
"aku juga butuh pewaris baby, tak mungkin bukan aku meminta pada gadis lain untuk menanam benih ku?", ungkap Vi dengan meng*cup Leher jenjang Shera.
"coba saja jika kau berani melakukan itu", ancam Shera yang sekarang nampak mengambil garpu dengan Vi yang masih betah memeluk gadisnya.
Vi duduk di kursi dengan menatap intens wajah Shera, "aku hanya mau diri mu bukan yang lainnya", lelaki tampan itu menarik Shera yang sekarang duduk di pangkuannya.
Gadis dengan rambut pendek itu menatap sosok Vi, mencari kebohongan di wajah Vi namun yang ia temukan hanya ketulusan.
Cup~
Sedikit k*cupan Shera berikan pada bibir tipis milik Vi, jemarinya menangkup wajah tampan yang terpahat dengan sempurna, "setelah aku sidang nanti kau boleh memberikan bayi di perut ku", Vi tersenyum tipis mendengarnya, tandanya Shera memberi izin untuknya.
"bisakah kita menikah besok pagi saja?", Shera terkekeh pelan, jemarinya memainkan kancing kemeja milik Vi yang terbuka.
"why not?", Shera tersenyum lebar kemudian memeluk Vi erat, keduanya asik berpelukkan di ruang makan dengan mengabaikan masakkan yang telah Shera sediakan.
******
"Shera akan menikah besok Jack", keluh Noire dengan memijat pelipisnya membuat Brian mendengus sebal.
"kenapa kau yang pusing sih?", Brian memang sangat kesal dengan kekasih Jack.
Orang menikah Noire juga ingin cepat cepat menikah, Selena memiliki bayi dia juga ingin segera memiliki bayi, kadang Brian tak habis pikir kenapa Jack sanggup bersama Noire yang berisik itu? Memang jika cinta yang berbicara orang jenius juga akan bodoh.
"aku kan juga ingin menikah Brian, memangnya kau tak ingin menikah apa?", jelas Noire dengan merangkul Jack yang sejak tadi diam saja dengan meneguk Winenya.
Brian terkekeh dengan nada mengejek, "kau bahkan belum menyelesaikan study mu yang kau tinggal selama berbulan bulan Noire, nilai saja tak pernah bagus bagaimana mau menikah?", ucapa Brian membuat Noire mendengus sebal, dengan kuat dia menendang kaki Brian yang nampa kesakitan.
"aku bisa membayar dosen gendut itu dengan beberapa koper uang untuk mendapatkan ijazah ku", ejek Noire membuat Brian terkekeh kuat.
"cih dasar kekuatan orang dalam yang berbasis uang, ya sudah kau nikah saja besok bersamaan dengan Vi dan Shera", ucap Brian.
Noire bergidik ngeri membayangkan Vi yang menodongkan senjata padanya, "kau gila? Aku bisa saja di bunuh Vi karena menikah di waktu yang sama".
"itu kau sudah tahu", keduanya sama sama terdiam. Brian dengan ponselnya, Jack yang asik minum dan Noire yang memikirkan kapan ia aka menikah.
******
Mrs. Monica nampak semangat saat Shera menjelaskan hasil dari penelitiannya di hadapan para dosen besar. Memang Shera adalah mahasiswa kesayangannya, dia gadis yang cerdas, bisa menjawab semua apa yang di lontarlan para Professor besar di hadapannya tanpa gugup sekali pun.
Seseorang menatap wajah ayu Shera dengan tatapan memuja, siapa lagi kalau bukan Vi. Seharusnya hari ini dia menemui kliennya yang mengajak kerja sama, namun saat ini Shera lebih penting di banding apa pun.
Pikirin Vi sudah melayang jauh memikirkan pernikahannya dengan Shera. Membangun rumah tangga yang harmonis dengan anak kembar tampan yang mirip dengannya. Memikirkan itu membuat Vi tersenyum tipis tanpa ia sadari bahwa Shera sudah berada di depannya.
"Vi sejak tadi kau melamun, aku bahkan sudah memanggilmu beberapa kali", dengus Shera pada Vi yang sekarang mendongak menatap wajah kesal si gadisnya.
"ah~aku memikirkan bagaimana kau memakai gaun pengantin mu besok", ucapan Vi membuat Shera terkikik geli.
Gadis itu tak habis fikir dengan Vi yang mellow sekali. Ternyata di balik sikap dingin dan berontaknya Vi adalah lelaki yang penuh dengan kejutan.
"ayo pulang, aku sudah selesai dengan semuanya", Shera menarik Vi agar lelaki itu berdiri.
"kau tak meminta sesuatu?", tawar Vi pada Shera yang menggeleng dengan tersenyum. Lengannya merangkul Vi dengan menautkan jari jemari mereka berdua.
"diri mu saja sudah cukup", Vi terkekeh, mengedikkan kedua bahunya dan segera pergi bersama Shera meninggalka tempat sidang yang menurut Shera menjengkelkan.
Dari kejauhan nampak Noire yang berlari dengan sebuket bunga lumayan besar di gendongannya. Memeluk Shera erat hingga kedua gadis itu jatuh terduduk dengan tawa yang cukup keras.
"congratulation nyonya Leonel, you'r best", Shera memeluk Noire erat.
"thank you".
__ADS_1
Sosok wanita dengan perut buncitnya berdehem membuat keduanya mendongak. Senyum cantik di bibir tipis itu terkembang dengan begitu cantik, "SELENA", Shera dan Noire bergegas pergi memeluk erat tubuh Selena.
"I MISS YOU", mereka berpelukkan seraya menangis karena saling merindukan satu sama lain berbeda dengan para lelaki yang menatap bosan pada wanita wanita berisik itu.