
Leo mendekati Noire yang nampak berdiri di lemari kaca yang terdapat beberapa cake yang terasa nikmat untuk di nikmati. Langkah kaki lebar itu berjalan pelan mendekati Noire dan merangkul pinggang rampingnya.
Noire yang mendapat perlakuan itu melonjak kaget dan menghindar dari lelaki yang dengan kurang ajar memeluknya.
"What the~~ LEO", Seru Noire pada Leo yang terkekeh.
" hai. Maaf mengagetkan mu baby girl", ucap Leo dengan menggoda Noire. Matanya menatap penampilan Noire yang nampak seksi malam ini.
Dress hijau dengan punggung terbuka hingga pinggang serta belahan dada yang rendah membuat Leo ingin sekali menelanjangi gadis ini.
"Kau membeli cake?". Tanya Leo pada Noire yang mengangguk.
" hu'um, untuk ku makan nanti di rumah", Noire kembali memilih beberapa cake yang tampak enak di pandangan matanya.
Leo berdehem, "boleh aku ikut?", pinta Leo pada Noire yang terdiam.
Noire ingin sekali membawa lelaki ini ke rumahnya sebagai undangan awal pertemanan. Namun jika Jack mengetahui Leo di Apartementnya ia tak yakin jika nyawanya masih selamat terutama Leo. Tapi Jack sedang di China dan tak mungkin ada orang yang mengenali mereka kan.
" baiklah ayo", Noire menarik Leo untuk mengikuti nya menuju parkiran dan kemudian mereka berdua berlalu dengan cepat.
***
Noire mempersilahkan Leo masuk ke dalam apartementnya, mempersilahkan lelaki tampan itu untuk duduk selagi ia membuat dua gelas minuman.
gadis berpercing di bibir menatap sosok Leo yang nampak santai menyandarkan tubuhnya pada sofa hitam milik Noa. langkah kaki itu berjalan mendekat dan memberikan segelas susu pada Leo.
"minumlah agar kau tak merasa kedinginan", Noa duduk di samping Leo yang meneguk susu itu dengan pelan.
"kau sendirian tinggal di sini?", Leo menatap Noa yang mengangguk.
lelaki itu perlahan mendekat pada Noa, mengambil gelas yang gadis itu pegang untuk ia letakkan di atas meja. genggaman lembut di jemari Noa terasa menghantarkan hawa dingin yang membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
"kau cantik", bisik Leo dengan menyelipkan rambut pada telinga Noa. sedikit demi sedikit Leo mendekatkan wajahnya pada Noire yang terdiam.
Noa tahu apa yang akan di lakukan Leo padanya, dan dia cukup tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Noire memegang erat bahu Leo saat di rasa lelaki itu menyentuh bibir merahnya.
yang Noire pikirkan saatini bagaimana agar ia bisa segera menyelesaikan permainan ini dengan ceapt agar ia tak merasa bersalah karena telah mengkhianati Jack, kekasihnya.
******
Brian menatap bibi Ivanka, mendengus sebal saat bibinya ini menatap dengan kesal padanya.
"Bi, akan susah mendapatkan foto mereka, lagi pula aku kan tidak bertugas di sana", kesal Brian. Dia ingin sekali menjambak rambut bibinya agar tak menampilkan wajah mengesalkannya itu.
" bibi tak mau tahu, kau harus mendapatkan foto mesra Vi dan Shera. Utus saja orang orang mu itu". Desak bibi Ivanka dengan mendekat pada Brian.
Brian tak habis pikir dengan otak bibinya, di saat orang tua yang lain menjaga anak gadisnya dia malah mencari hal tak berguna pada Shera.
"Bi, kau benar benar durhaka". Ejek Brian pada bibi Ivanka. Dengan kuat ibu Shera memukul kepala keponakkannya itu membuat Brian menjerit kesakitan.
__ADS_1
" jika kau tak ada mendapatkan foto mesra mereka, aku akan potong uang jajan mu Brian Fernandes", ancam bibi Ivanka membuat Brian melotot.
Brian nampak gusar mendengarnya, "oke akan aku usahakan. Sekalian akan ku video saat mereka sedang melakukan s** hebat di atas ranjang",
Bibi Ivanka tersenyum senang kemudian memeluk Brian dan mencium pipi keponakkanya yang tampan itu.
******
Vi berjalan menuju ruang tamu, namun langkah kakinya berhenti saat menatap Shera yang berdiri di balkon kamar dengan menatap bangunan megah serta segelas air putih di tangannya.
Jika di lihat sepertinya Shera sedang menatap seseorang yang berada di seberang Apartementnya. Langkah kakinya berjalan mendekat mencoba melihat siapa sosok di balkon yang Shera tatap, sial itu laki laki dengan kaos hitam pendek serta celana kain yang nampak menggoda Shera.
Pantas saja lelaki itu betah di sana, dia mendapat pemandangan cantik di tambah baju yang Shera kenakan sangat terbuka. Dengan kesal lelaki itu berjalan mendekati Shera membuat gadis itu menjerit kaget dan melepas gelas dari tangannya.
" kau membuat gelas itu jatuh ke bawah! Bagaimana jika menge~~aakkhhh", ucapannya terpotong saat tangan berotot itu meremas kuat bukit kembarnya.
Vi menatap tajam sosok laki laki yang sekarang nampak melotot menatapnya. Bibirnya asik mengecupi tengkuk Shera, sedangkan tangannya asik meremas benda kesukaannya.
"Dada mu semakin besar, bahkan tangan ku tak cukup untuk menangkupnya", bisik Vi pelan dan menyeringai saat sosok laki laki di seberang sana sudah tak ada di tempatnya, sepertinya Vi harus melubangi kedua mata lelaki itu dengan pistolnya.
Shera membalikkan tubuhnya menatap Vi, "apa apaan kau ini", dengus Shera dengan menepis tangan Vi.
S*al mata Vi tak bisa beralih dari dada yang terbungkus baju berwarna putih dengan belahan yang terikat pita kecil dan jangan lupakan tali kecil tersampir di bahu yang selalu ia kecu*i
Jika saja ia tak ada janji dengan Jack mungkin Vi akan menghajar Shera hingga pagi tiba. Membuat gadis itu mendesah keenakkan di bawahnya, bullshit perkara penelitian Shera dan dosen sialan berwajah kotak berkepala pelontos itu.
"Aku ada janji dengan Jack, jaga diri baik baik jika terjadi sesuatu segera hubungi aku", ucap Vi dengan mengusap wajah Shera.
Baru berapa lama Vi pergi ketukkan di luar sana membuat Shera mengernyit, bukankah Vi baru saja pergi? Tak mungkin kan lelaki itu pulang secepat ini jika sudah berurusan dengan Jack atau teman komplotannya? Tak mau berpikir lama Shera mencoba melihat dari intercom. Sosok lelaki berjaket putih dengan sebuket bunga mawar dapat Shera lihat.
Itu bukan Vi, lelaki itu tak mungkin membawa mawar karena Vi tahu Shera sangat menyukai bunga Lavender. Tangannya mengambil ponsel untuk menghubungi Vi,
"Hmm", sahut suara di seberang sana.
" kau mengirim bunga pada ku?" tanya Shera pada Vi.
"Tidak", ucapan Vi membuat Shera sangat yakin itu bukanlah orang baik.
" tapi dia membawa buket bunga mawar di depan pintu Vi, ku pikir itu kurir pengantar barang yang waktu itu datang", jelas Shera pada Vi yang terdengar mengumpat.
"Jangan buka pintu itu Shera. Aku akan segera pulang bersama Jack", ucapan Vi membuat Shera mengangguk paham walau lelaki itu tak melihatnya.
Shera di kejutkan dengan sosok lelaki tinggi yang sekarang berdiri di depannya. Matanya melirik pintu yang Shera pikir itu di jebol dengan alat yang lelaki itu gunakan.
" who are you?", Shera memundurkan langkahnya.
Lelaki dengan rambut hitam panjang di ikat menyeringai menatap Shera. Walaupun wajah itu tampan namun tak di pungkiri jika lelaki itu akan berbuat jahat padanya. Shera bergegas pergi berlari sebelum tarikkan di tangannya membuat gadis itu terjatuh.
"Aku memperhatikan mu sejak kau datang menempati Apartement ini", bisik lelaki itu dengan menyentuh pipi Shera namun dengan kasar dia menepisnya membuat lelaki itu terkekeh.
__ADS_1
"GO AWAY DOG", jerit Shera dengan tubuh yang bergetar. Sial dia benar benar ketakutan. Bagaimana jika lelaki ini memperkosanya? Atau lebih parahnya memutilasi tubuhnya? Membayangkan itu membuat Shera memeluk tubuhnya sendiri yang bergidik ngeri membayangkannya.
" kau benar benar cantik jika di lihat lebih dekat, saat kau datang ingin sekali aku memeluk mu, mencumbu mu ini tapi lelaki s**lan itu selalu ada di samping mu", kekeh lelaki berambut panjang itu, "aku Donny Ying", ucap lelaki itu dengan pelan.
Demi segala apa pun yang ada di dunia, Shera tak memerlukan nama lelaki ini yang dia butuhkan hanya lari dari hadapan lelaki yang bernama Donny. Shera mendorong lelaki itu dengan kuat kemudian ia berlari ke arah pintu dan membuka kasar pintu itu.
" ****". Donny mengejar Shera yang berlari keluar dengan wajah yang panik dan ketakutan.
Langkah kaki yang kecil itu membuat Shera geram, Donny bahkan sedikit lagi bisa menggapainya. Dengan mempercepat langkahnya Donny bisa menggapai tubuh ramping Shera membuat gadis itu menjerit, dan membawa tubuh si cantik ke arah kamar tak berpenghuni.
S*al kemana para tetangga yang tinggal di Apartement ini? Jika begini bagaimana Shera bisa lepas dari cengkraman lelaki biadab ini. Shera mendorong Donny dengan kuat, bahkan kakinya menendang lelaki itu yang sekarang mencoba menciumnya.
Kedua tangan Shera di cengkram erat oleh Donny memudahkan lelaki itu untuk menggapai bibir tipis yang terlihat menggodanya. Satu tangannya berada pada dada kiri Shera membuat gadis itu semakin meronta dan menjerit tak karuan.
"LEPASKAN AKU SIALAAANNNN", bentak Shera dengan kaki yang menendang nendang, tapi cengkraman Donny semakin erat membuat tangannya sakit dan nampak memerah.
Doorrrrr~~
Suara tembakkan terdengar nyaring mengenai tembok di samping Donny membuat lelaki itu terkejut dan melepas cengkramannya. Matanya menatap dua orang laki laki yang menatap tajam ke arahnya, itu Vi dan Jack yang memegang senjata.
Langkah kaki menggema di ruang sunyi itu, Vi mendekat pada Shera yang nampak bergetar, gadisnya pasti ketakutan. Tubuh berbalut jacket kulit mahal itu memeluk erat tubuh Shera, membawa gadis itu untuk berdiri dan menjauh dari Donny.
Tangannya memegang senjata, mengarahkan ke arah Donny yang tampak ketakutan dengan iringan suara meminta ampun. Terdengar beberapa kali suara tembakkan yang sangat nyaring.
" VI HENTIKAN", Shera mencengkram erat baju yang Vi gunakan. Dia benar benar ketakutan melihat wajah Vi yang di penuhi amarah dengan tangan yang masih menembakki mayat Donny, "Vi ku mohonn~hiks ~", suara isakkan itu membuat Vi tersadar.
Membuang senjata itu pada Jack, jemarinya yang panjang mengangkat dagu Shera, menatap manik berair gadis di pelukkannya ini. Dengan pelan Vi memeluk erat kembali tubuh Shera, menenangkan gadis ini.
" maaf, membuat mu melihat diri ku yang seperti ini Shera, maaf membuat mu mengetahui sifat bejad ku ini, maaf", bisik Vi pelan membuat gadis itu mengeratkan pelukkannya, tanda dia mengerti.
Jack menatap Vi, lelaki itu nampak heran dengan sikap Vi yang berubah saat bersama Shera. Lelaki itu tak akan sudi mengatakan kata maaf pada siapapun, tapi saat ini Jack seperti tak mengenali Vi, namun ada sedikit senyuman di bibir Jack sebelum ia menyingkirkan mayat Donny.
******
Brian mengenakan topeng berbentuk Srigala dengan tatoo berwarna merah di pelipis topeng itu. Tangannya memegang sebuah senjata, menciumnya sebentar sebelum ia melakukan hal hal yang menyenangkan malam ini.
Matanya yang menyipit menatap seorang lelaki tinggi berjalan dengan membawa koper besar berwarna hitam. Itu Kris, lelaki yang membawa tubuh tak bernyawa anak laki laki berumur sembilan tahun yang terlipat di dalam koper.
Brian membidik Kris, saat di rasa bidikkanya tepat sasaran Brian menekan pelatuk itu, "boom", bisik Brian saat menatap Kris yang tertembak tepat pada dadanya, " ck tinggal Mr. Crown", bisik Brian dengan sorot mata kebencian.
Beberapa anak buah Kris membopong tubuh yang nampak mengeluarkan darah yang sangat banyak. Mata Kris menatap sosok hitam di atas gedung yang terlihat menyeringai menatapnya sebelum sosok lelaki itu melambaikan tangan pada Kris dan saat itu juga kedua mata Kris tertutup.
Mr. Crown menatap putranya yang tampak belum sadar akibat tembakkan yang ia terima di dada, "Vi memang harus di bunuh". Desis Mr. Crown dengan tangan mengepal.
Bastian dengan pelan mendekati Mr. Crown, " ini adalah data Jack Demian tuan. Dia salah satu tangan kanan Vi yang sangat handal membidik lawannya mau sejauh apa pun mangsanya itu", ucap Bastian dengan memberi data milik Jack pada Mr. Crown, "tapi ku pikir sosok yang menembak Kris bukan lah Jack tuan, melainkan orang lain".
" bagaimana kau bisa yakin itu bukan Jack! ", tanya Mr. Crown menatap Bastian yang juga menatapnya dengan intens.
" beberapa anak buah kita melihat bahwa postur tubuh itu lebih pendek di banding Jack, sepertinya kita sedang di teror tak tahu daei kubu mana", ucapan Bastian membuat Mr. Crown terdiam.
__ADS_1
Benar apa yang di katakan Bastian, kehidupan dirinya seperti di teror. Tapi Mr. Crown tak tahu siapa dalang di balik ini semua? Kubu Vi? Anggota mafia dari mantan kekasih Kris, Natalia? Atau Robert yang ia bunuh ibunya? Sial Mr. Crown di buat pusing.