You Naughty Girl

You Naughty Girl
05


__ADS_3

Shera menemui Kris yang tersenyum tipis, lelaki dengan rambut pirangnya itu menatap Shera dengan pandangan intens.


"Kenapa?", tanya Shera menatap penampilannya, tak ada yang salah dengan baju dan rok mininya.


" kau kenapa tetap pendek?", ucapan Kris membuat  Shera melotot kemudian dia mendekat pada Kris.


Lelaki itu masih sama saat pertama kali mereka bertemu. Masih tetap tampan dan kelihatan cerdas, tentu saja karena Kris anak dari seorang pemimpin tinggi di Inggris jadi tak usah di ragukan lagi.


"How long have you been back Kris?", tanya Shera pada lelaki di sampingnya.


" since last week", ucap Kris pelan membuat Shera mengangguk pelan, "how are you?", Kris menatap Shera.


Shera tersenyum dengan menatap Kris, " I am very fine".


Keduanya sama sama terdiam, terasa canggung sekali mungkin karena ini pertemuan keduanya setelah lama tak bertemu, itu wajar.


"I didn't expect to meet you here", Kris menoleh mendengar perkataan Shera.


"Kau benar, that's hard to believe", kekeh Kris membuat Shera juga ikutan terkekeh.


Padahal jika Shera tahu, Kris datang ke L.A hanya ingin menemui nya seorang. Dia terlalu merindukan gadis ini hingga dia memohon pada ayahnya agar ia di pindahkan ke kampus Shera.


" are you free this evening , Shera?", tanya Kris pada Shera yang menatapnya dengan keningnya yang mengerut.


"Emmm, oh I want to finish my home work", ucap Shera membuat Kris menghela nafas kecil dan itu tak luput dari penglihatan Shera, " why?".


"Can't you do it in the morning or evening?", tawar Kris.


Gadis itu lagi lagi berpikir tentang ucapan Kris, " certainly, I can but why?".


"I want you to go to the cinema with me?".


" all right, I don't mind", ucap Shera dengan enteng membuat Kris bernafas lega.


"But, how about your home work?", tapi di sisi lain Kris khawatir dengan tugas Shera, pasti gadis itu akan kewalahan, " jika kau keberatan kita batalkan saja".


Shera menggeleng, "no, no, no, I can postpone doing my home work till night, don't worry", hei mana mau Shera menyianyiakan kesempatan ini, " it's a long night, isn't it?", ucap Shera, "but what kind of film is it?".

__ADS_1


" fast and furious, fifty shades, maybe. My friend said it was one of the best film of the year", Shera mengangguk.


"Bagaimana jika aku yang memilih filmnya? Kau pasti tak akan menyesal", Kris mengangguk dengan perkataan Shera.


" baiklah", mereka kembali mengobrol dengan candaan yang membuat Shera tertawa geli.


******


"Kris", bisik Vi dengan menatap Jack yang sekarang mengangguk.


" ya, Noa bilang Shera sangat menyukai Kris, Keduanya bertemu saat Shera liburan ke Inggris", jelas Jack pada Vi yqng sekarang terlihat kesal.


Vi mencengkram kaleng minumannya, "keep your aye on Shera", ucapan Vi membuat Jack menganggukkan kepalanya.


Jack tak yakin jika lelaki bernama Kris akan selamat dari pengawasan seorang Vi. Tapi dia juga tak bisa meragukan bagaimana liciknya seorang Kris setelah ia membaca sedikit tentang kehidupan Kris.


Kris putra dari pemimpin kerajaan Inggris yang tak pernah terliput oleh media. Ayahnya seorang Professor terkemuka di salah satu Universitas Oxford bahkan di beberapa Universitas terkemuka di Dunia. Selain itu ayahnya seorang Mafia kelas atas dengan berbagai kejahatan yang terjadi, seperti pemboman di Laut China Selatan serta perdagangan senjata ilegal dari Rusia.


" kau akan terkejut saat membaca sedikit tentang lelaki bernama Kris ini Vi", Jack memberikan beberapa kertas ke hadapan Vi yang menatap tak senang lembaran itu.


" ya sudah, aku akan pergi liburan bersama Noa ke Maldives, jika terjadi sesuatu hubungi aku".


Jack pergi meninggalkan Vi yang hanya bergumam tak jelas. Matanya yang tajam membaca tulisan besar di sudut kertas.


"Cih~", seringai Vi nampak menakutkan, " hanya segini?", tanya Vi pada dirinya sendiri. Bukan dia tak tahu siapa Kris, dia sangat tahu malah.


Ahh~~ ini bisa di jadikan sebagai alasan untuk dia menyingkirkan Kris dari gadisnya. Vi mana sudi melihat Shera lebih banyak tersenyum dengan Kris yang bukan siapa siapa jika di bandingkan dirinya, secepat mungkin dia harus bisa mendapatkan gadisnya.


******


Shera melangkah kan kakinya di Mension besar yang nampak sunyi itu. Matanya menatap kesekeliling siapa tahu dia menemukan kedua orang tuanya.


"Mama~~", teriak Shera, kakinya ia langkahkan ke belakang rumahnya saat ia mendengar suara tawa yang sangat keras.


Matanya melotot melihat seseorang yang sangat ia rindukan. Kemudian berlari mendekat dengan sebuah senyuman lebar, "BRIAN", ucap Shera lantang.


Brian dengan sigap menangkap tubuh Shera kedalam pelukkannya. Sudah lama sekali dia tidak berjumpa dengan Shera sepupunya ini.

__ADS_1


"I'm glad to see you here Brian", ucap Shera dengan melepas pelukkannya, dan matanya menatap Brian yang terkekeh.


" and I to see you too, I haven't seen you for a long time, Shera ", ujar Brian dengan gembira.


" that's true, it's about two year, isn't it?", Shera menatap ibunya yang tersenyum.


"Mama kenapa tidak memberi tahu ku jika Brian ada di sini?", kesal Shera yang membuat sang ibu terkikik.


" kejutan sayang, ya sudah mama pergi ke kamar dulu, kalian ngobrol lah", Mama Shera pergi meninggalkan keduanya.


Shera duduk di depan Brian yang tersenyum tampan. Keduanya benar benar saling merindukan satu sama lain. Dua tahun berpisah dan salah satu dari mereka tak ada yang memberi kabar sedikitpun.


"Kau dengan siapa datang ke L.A?", tanya Shera.


" dengan tunangan ku", jawab Brian dengan menunjuk wanita cantik yang sedang menikmati indahnya pemandangan rumah Shera yang menenangkan.


"Kau memacari gadis Asia?", tanya Shera saat melihat penampilan kekasih Brian.


Brian mengangguk, " dia Jessica, ayahnya berdarah Korea dan Ibunya orang Rusia", jelas Brian pada Shera yang mengangguk paham.


"Ahhh~~ I see", angguk Shera dengan pelan.


" kau sudah bertemu Kris?", tanya Brian yang membuat Shera melotot kaget.


"You know Kris?".


" of course, Kris teman ku saat kami bersama sama duduk di kelas yang sama", ucap Brian dengan mengedipkan sebelah matanya menggoda Shera.


Shera mendengus sebal mendengarnya, jadi selama ini Brian dan Kris berteman. Jika begini ia dengan mudah mendekati Kris tentu saja dia harus memanfaatkan Brian.


"Aku tahu pikiran mu sedang merencanakan  sesuatu dengan memanfaatkan ku", sindir Brian yang sekarang menatap ponselnya.


" karena kau sudah tahu maka kau harus membantu ku".


"Tentu saja, kau tenang saja".


Shera melebarkan senyumnya dan memeluk Brian erat sebelum ia bergegas pergi untuk pergi ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2