
Shera menatap keluar jendela, tubuhnya sangat pegal harus duduk lama di kursi dengan kedua tangan terikat di tambah udara dingin yang menyentuh kulitnya yang terekspos sangat banyak. kemeja yang ia gunakan robek saat ia berontak dan Ronald menariknya hingga benar benar membuat tubuh bagian atas Shera terlihat.
celana panjang masih melekat di kaki jenjangnya, tangannya ia gerakkan mencoba membuka ikatan yang terasa semakin kencang. namu. ia terdiam saat Ronald masuk dengan senyum polos di wajah yang menurut Shera biasa saja tak ada yang spesial sama sekali.
"semakin kau mencoba membuka maka semakin kencang ikatan itu", ucap Ronald dengan wajah yang mengejek membuat Shera ingin sekali menendang wajah sok tampan milik Ronald.
gadis itu hanya diam dengan menunduk menatap high heelsnya, suara helaan nafas santainya membuat Ronald menyipitkan kedua matanya menatap sosok Shera dengan waspada.
"huh~ Vi lama sekali datang", gumam Shera yang membuat Ronald menatapnya cepat.
"Vi tak akan mengetahui dimana sekarang kita berada Shera", ucap Ronald yang mengambil cangkir kecil di meja depannya.
menatap Shera dengan pandangan kagum yang benar benar luar buasa. pantas saja Vi sangat tergila gila pada Shera, gadis ini tidak hanya cantik namun juga cerdas, bisa di katakan bahwa dia pemeran di balik layar.
mungkin orang lain akan beranggapan, dia hanya gadis manja yang cerewet, namun ini Shera gadis yang kapan saja bisa membuka topengnya di saat ia genting, menawarkan racun dalam setiap ucapan penuh kelembutannya yang orang lain pun akan terlena.
Ronald berpikir juga apakah saat ini Shera sedang mengatur strateginya? atau dirinya memang menyerahkan dengan suka rela saat Ronald menjadikannya tawanan saat ini? sadar dengan pikirannya Ronald dengan cekatan mengambil senjata yang terletak di sampingnya.
"pegang senjata kalian untuk berjaga jaga", titaj Ronald pada anak buahnya yang segera mungkin melaksanakan perintah dari Ronald.
Shera yang bingung menatap Ronald dengan pandangan heran dan penuh tanya, kenapa lelaki ini cepat sekali berubah moodnya? seperti wanita menstruasi saja.
"kalian ini kenapa? tiba tiba diam dan tiba tiba saja gegabah seperti ini? memang lelaki itu sulit untuk di mengerti ya?", keluh Shera dengan menghembuskan nafasnya dengan pelan kemudian ia menyandarkan tubuhnya pada kursi seraya memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
"jujur saja, kau sedang merencanakan sesuatu pada kelompok ku Shera?", ucap Ronald yang membuat Shera membuka kedua matanya dengan menatap Ronald yang menatapnya dengan waspada.
"kau ini apa apaan? aku bahkan belum sempat mengatur strategi saat kau menculikku dengan paksa", keluh Shera yang menatap tajam Ronald, "jika aku sudah mengatur rencana suda di pastikan jam ini juga aku sudah tidak duduk di kursi menyebalkan mu".
mereka sama sama terdiam mendengar ucapan Shera, gadis itu sedikit menyeringai tipis, kenapa mudah sekali membodoh bodohi Ronald sih? apakah ini dunia mafia atau hanya sebuah panggung sandiwara?
namun saat Ronald ingin melangkah mendekat pada Shera, suara berat Vi terdengar di pendengeran mereka, "kau ini suka sekali mencari gara gara ya", ucap Vi.
Ronald menatap sosok tinggi yang berdiri dengan bersandar pada tembok dekat dengan jendela. Vi nampak tersenyum tipis, penampilannya acak acakkan dengan lengan baju yang ia gulung, kemeja berantakkan tak terkancing dan rambut acak acakan, ingatkan Vi untuk menutup luka tembak di tangannya.
suara pintu terbuka lebar saat Jack dan Brian berdiri dengan nagas terengah engah, karena baru saja mereka menghabisi semua anak buah Ronald.
"hoi, apa ini adik perempuan mu?", Brian menarik sosok gadis yang nampak ketakutan dengan memeluk tubuhnya sendiri, kedua matanya menatap Ronald dengan sayu.
"dan apa yang kau lakukan pada kekasih ku?", tanya Vi membuat Ronald menatapnya dengan tajam sebelum ia melirik sebentar pada Shera yang menyeringai tipis.
suara langkah kaki seseorang membuat Ronald menatap ke arahnya itu. matanya menatap sosok lelaki tinggi yang nampak memperbaiki resleting celananya dengan sebuan rokok yang terselip di bibirnya.
"wanita ini sudah tidak peraw*n lagi, tapi ku rasa yaaa~ lumayan juga", itu Elton yang berbicara dengan senyuman dia menatap Ronald yang mampak emosi, "oi bocah, berapa banyak wanita yang kau perkosa?", ucapan Elton membuat Brian menatapnya dengan pandangan bertanya.
"dia memperkosa hampir setiap wanita yang ada di sudut kota ini", ucap Elton yang menatap adik Ronald kemudian tersenyum tipis, "gadis manis jangan menangis, kau tadi nampak senang saat ku masukki?".
Ronald berjalan cepat kemudian menendang Elton yang tertawa. sedangkan Brian lelaki itu mendorong Ronald kuat hingga terpental ke arah belakang, "kau juga berani beraninya menyentuh sepupu ku", pukulan dapat Ronald terima di wajahnya.
__ADS_1
Vi menarik kerah Ronald, mendudukkannya di kursi kemudian ia menarik kursi di sampong5 Jack yang berdiri. matanya menatap Ronald yang menantangnya dengan seringai di bibir.
"jangan mengejekku, semua renacana sudah di gagalkan", ucapan Vi membuat Ronald terdiam, "lagi pula kau mengorbankan keluarga mu juga hanya untuk sekedar permainan kotor mu".
"dasar penyakitan", gumam Ronald, "kau berani beraninya menghancurkan semua impian ku, menghancurkan apa yang ku sebut kehidupan ku".
"mungkin aku tidak akan menghancurkannya jika saja kai tidak bermain api terlebih dahulu", bisik Vi yang sekarang nampak mengusap wajahnya, "aku bisa saja membunuh mu sekarang tapi ini bukan tugas ku".
Vi menarik tangan Ronald, mengambil pisau tajam yang tersedia di sampingnya. Jack terlihat memberikan lagi pisau yang lebih tajam pada Vi dan di terima dengan senang hati.
"jemari jemari yang berani menyentuh tubuh kekasih ku", ucap Vi pelan yang seraya memotong beberapa jari jari milik Ronald membuat suara teriakkan kuat di ruangan itu.
Sedangkan adik perempuan Ronald hanya dapat menangis tanpa suara mendengar teriakkan kesakitan kakaknya. mencoba menutupi kedua telinganya namun masih saja ia mendengar walau samar samar.
Brian menatap jijik pada perbuatan Vi, sedangkan Shera terdiam menatap Vi yang memotong, dia sudah terbiasa melihatnya apalagi di rumah sakit ia selalu melakukan pembedahan.
tubun itu bergetar, matanya tak berani menatap jemarinya yang menghilang satu persatu, darah nampak keluar dengan cepat. sepertinya Ronald tak merasakan apa pun pada tangannya, mati rasa itulah yang sedang Ronald rasakan.
Vi benar benar keterlaluan, dia suka sekali menyakiti korbannya terlebih dahulu dengan mengiris kulitnya, mengunting teliganya, mencongkel salah satu mata korban, bahkan sekarang memotong jari jari milik Ronald.
"kau bunuh saja aku Vi jangan menyiksa ku", ucap Ronald dengan suara gemetar yang sangat kentara ia kesakitan sekali.
"No, kau tidak akan merasakan sakit jika aku harus membunuh mu dengan cepat seperti yang di rasakan orang orang yang telah kau sakiti", bisik Vi yang meraih jemari tengah sebelah kiri Ronald.
__ADS_1
potongan kali ini lagi lagi membuat Ronald menjerit kesakitan kembali. benar benar menyakitkan, bahkan ia sampai mengeluarkan air matanya. jika Vi tak membunuhnya juga jalan satu satunya ia bunuh diri.