You Naughty Girl

You Naughty Girl
17


__ADS_3

"Kau masih berhubungan dengan Riana?", tanya seorang wanita paruh baya dengan paras yang sangat cantik sedang duduk di sofa, dengan kedua kaki bersilang serta majalah di kedua tangannya.


Itu nyonya besar Leonel, menatap putranya yang nampak berantakkan sedang berjalan ke arahnya.


" tidak", ucap Vi dengan mendudukkan tubuhnya serta tangan yang memijat pelipisnya.


"Siapa gadis ini?", tanya nyonya Nicky dengan menunjukkan selembar foto seorang gadis yang tersenyum dengan sangat cantik.


Vi menatap terkejut pada ibunya, "mom kau dapatkan dari mana foto itu?",  ucap Vi dengan nada yang sedikit tinggi.


" terjatuh di lantai kamar mu, mom ingin meminjam buku hitam mu itu tadi tak sengaja menemukan ini", ucap nyonya Nicky dengan mengingat dimana ia menemukan foto itu, "dia sangat cantik, berbeda dengan Riana".


Vi hanya terdiam, andai ibunya tahu apa yang sudah ia lakukan pada gadis itu maka habislah ia, " just friend, don't worry", ucap Vi mencoba bersikap biasa saja.


"Stupid liar", bisik nyonya Nicky, "I'm not quite sure yet she is just friend", nyonya Nicky menatap Vi yang hanya terdiam, putranya itu tak akan pernah mengakui jika ia jatuh cinta pada gadis ini.


Nyonya Nicky tak pernah menemukan foto wanita siapa pun di kamar Vi. Namun dia rasa gadis ini berbeda dari yang lain.


" I am seriously mom, we are just friend", nyonya Nicky hanya mengedikkan kedua bahunya mendengar ucapan Vi.


"Tidak ada teman yang saling cemburu satu sama lain darling, lagi pula sejak kapan teman bisa seintim ini?", jemari lentik dengan kuku berwarna biru tua itu memperlihatkan ponselnya pada Vi di mana ada foto putranya dan seorang gadis yang sedang berciuman.


Vi bahkan terlonjak dari duduknya, menatap dengan tajam ponsel ibunya. Namun dengan tenang dia mencoba untuk tidak gugup di hadapan sang ibu yang sekarang nampak menyeringai.


" Shera Fernandes", ucap Vi pelan, "mom pasti tahu dia siapa".


" tentu saja, nyonya Ivanka teman sekolah mommy waktu di Australia dulu", ucap nyonya Nicky membuat Vi menatapnya.


"Pantas saja", gumam Vi, " aku akan menemui Kris ", ucap Vi.


Nyonya Ivanka terdiam kemudian menghela nafas pelan sebelum beranjak pergi, namun langkah kakinya terhenti, " bunuh Mr. Crown, jika kau tak sanggup tangan mom sendiri yang akan menghabisinya", kemudian melangkah pergi.


Ucapan mommynya membuat Vi terkekeh, ibunya benar benar terobsesi pada Mr. Crown wajar saja, karena lelaki tua itu lah yang merampas semua apa yang ibunya punya, bahkan menghancurkan bisnis nyonya Nicky.


******


Noa menatap Shera yang fokus pada buku di atas meja perpustakaan. Jemarinya yang lentik menulis beberapa kata pada kertas kosong. Wajah gadis itu sama sekali tak menampakkan sifat ramah yang biasa Shera tampilkan, membuat Noire bertanya tanya ada apa gerangan.


"Apa yang terjadi pada mu?", tanya Noire membuat Shera menatapnya. Namun kemudian gadis itu menggeleng pelan dengan sedikit senyuman di wajahnya.


" ceritakan pada ku apa yang sebenarnya terjadi? Kau bertengkar dengan Vi? ", desak Noire pada Shera yang menghentikan acara menulisnya, namun gadis itu tak menatap Noire, matanya menatap kosong pada kertas putih.


Noire tahu ada yang tak beres pada gadis ini. Shera tak pernah kosong seperti ini, gadis ini selalu pintar menyembunyikan masalahnya tidak seperti dirinya, bahkan hanya dengan sekali tatap saja shera tahu bahwa Noire sedang dalam masalah.


" I'm fine Noa ", bisik Shera pelan pada gadis di sampingnya ini, "forget it", Shera kembali menulis tak mengindahkan pertanyaan Noire.


Helaan nafas dari Noire pertanda bahwa gadis itu menyerah. Akan sangat susah membuat Shera berbicara jika gadis itu dalam mood yang benar benar buruk. Noire yakin nanti juga Shera akan menceritakan semua masalah nya, jadi sekarang lebih baik dia fokus pada pekerjaan dari dosennya.


Shera tahu dia tak bisa mendiamkan Noire terlalu lama. Pikirannya tertuju pada lelaki tampan yang sekarang tak tahu di mana keberadaannya. Biasanya Vi akan menghubuginya terlebih dahulu namun beberapa hari ini lelaki itu tak ada kabarnya sama sekali.


" aku janji akan menceritakan semuanya pada mu jika aku sudah siap Noa ", ucap Shera seraya memeluk Noire dari samping dengan kepala yang ia sandarkan di bahu Noire.


Noire tersenyum, " aku akan menunggu ", ucap Noire pelan mencoba memahami  perasaan Shera yang tak menentu.


" aku tahu ini pasti karena lelaki sok tampan itu", ucapan Noire membuat Shera terkekeh kemudian ia mengangguk pelan membenarkan perkataan Noire.


Keduanya sama sama terdiam dengan perasaan yang berbeda. Noire yang masih memikirkan Jack kekasihnya dan Shera yang tak yakin akan keberadaan Vi di hatinya lagi.


Tanpa Shera sadari sejak tadi Vi menatap dirinya intens di sudut perpustakaan.  Lelaki itu ingin sekali menemui Shera namun ia harus menyelesaikan semua masalahnya setelahanya ia bersimpuh di hadapan gadis itu.


Tangannya yang kekar menarik seorang gadis berambut pendek membuat wanita ingin menjerit namun sebuah pistol di perutnya membuat teriakkan itu tertahan.


"Berikan ini pada gadis bernama Shera", ucapan dengan suara dalam dan menekan itu membuat gadis itu mengangguk kaku, " gadis yang duduk berdua itu".


Anggukan dapat Vi lihat dari gadis di depannya. Dengan langkah cepat ia melangkah pergi meninggalkan Vi beriringan dengan Vi yang berlalu pergi.


"Shera", suara itu membuat Shera menoleh cepat. Alisnya menyatu saat tangan lentik berkuku panjang itu mengulurkan sebuah kertas putih bersih ke hadapannya.


" what is this?", tanya Shera dengan mengambil kertas itu.


Gadis itu hanya tersenyum dengan mengedipkan sebelah matanya, "from someone", bisiknya, " handsome boy", kemudian berlalu pergi setelah menggoda Shera.

__ADS_1


Shera hanya mendecih, dia tahu gadis itu Kate teman sekelasnya dulu saat penelitian di China. Noire menatap kertas itu dengan pandangan penuh tanya.


"Apa itu".


" aku tak tahu", ucapnya cuek dengan membuka kertas dan membaca tulisannya.


To prety girl


Setelah aku selesai memberantas tikus tikus kecil, aku akan menemui mu


Shera terdiam, sedangkan Noire gadis itu menyenggol lengan Shera menggoda gadis di sampingnya yang sekarang nampak diam namun ada sedikit senyum tipis di bibir Shera.


"Heeemmmmm,, menunggu pangeran", goda Noire dengan menoel dagu Shera.


" shut up Noa", kesal Shera dengan memasukkan kertas itu pada tas besar di samping dirinya.


******


Vi duduk dengan tenang di sofa dekat jendela. Kakinya ia letakkan pada meja kecil yang berisi beberapa senjata yang itu adalah milik Vi. Matanya tajam menatap sosok Kris yang terbaring dengan tak nyaman di ranjang rumah sakit, terkekeh saat merasa senang melihat musuhnya tak berdaya.


Darah  mengalir membasahi spray putih membuat noda merah yang sangat banyak dan kental. Vi menembak paha Kris yang terbaring membuat lelaki itu menjerit keras, namun tak ada siapa pun yang mendengarnya.


Kris hanya menatap berang pada Vi, jika saja ia mampu untuk bangun tentu saja akan menghajar lelaki itu habis habisan. Tangannya memegang pahanya yang terasa sakit dan berdenyut, sial kapan ia akan sembuh.


"Kau tak akan sembuh Kris, peluru beracun milik Brian yang menebus dada mu bisa melumpuhkan semua saraf mu", ucap Vi dengan menghisap rokoknya kemudian mengepulkan asap itu ke udara.


Brian? Brian yang Kris percaya itu adalah anak buah Vi? Pantas saja lelaki itu terlihat mencurigakan dengan beberapa senjata yang Kris temui di kamar Brian. Mata Kris menatap sosok lelaki yang membelakanginya di sudut ruangan.


Dengan pelan Brian membalikkan tubuhnya, dan melambaikan tangannya pada Kris, " hai, bagaimana? apa kau masih sanggup untuk bertempur lagi?, ucap Brian membuat Kris menggerak gerakkan tubuhnya.


"Slowly bro, oh ya Kris aku menunggu ayah mu, sudah tak sabar menembak kepalanya", ucapan Brian membuat Kris melotot. Tangannya mengelus senjata yang Brian pegang dan terkekeh saat membayangkan kepala Mr. Crown terlubangi oleh timah panasnya dengan darah muncrat yang membanjiri lantai. Membayangkan itu membuat Brian tanpa sadar menjilat bibir bawahnya.


Jika saja Kris tahu Brian adalah pembunuh berdarah dingin tentu saja Kris akan menembak dengan brutal lelaki itu. Tapi maaf Kris kau tak akan pernah bisa melukai lelaki dengan wajah imut ini.


Suara pintu terbuka membuat Vi tersenyum tipis, sosok bertubuh lumayan gempal berdiri dengan mata melotot lebar menatap sosok lelaki yang duduk di samping ranjang Kris putranya.


" kau apakan putra ku?", gumam Mr. Crown dengan nada yang dalam dan tajam.


Kakinya melangkah dengan cepat, "Kris", tangannya menangkup waja Kris yang memerah dengan ringisan yang menahan sakit. Wajahnya nampak keras kemudian menatap Vi.


Tangannya mengambil pistol di sebalik jasnya, menodongkan ke arah Vi yang menyeringai. Namun Mr. Crown terdiam saat benda dingin menempel di pelipisnya, " hai Mr. Crown, kau sudah siap menyerah kan nyawa mu". Bisik Brian yang menatap penuh amarah pada si tua bangka itu.


"Kalian benar benar membuat ku kesal, memang pantas aku menghancurkan keluarga Leonel yang kolot itu".


Ucapan Crown membuat Vi berdiri tegak, memasukkan kedua tangannya pada saku  celananya. Bibir tipis dengan seringai seperti seorang psikopat itu nampak menakutkan, " kau benar, keluarga Leonel pantas di hancurkan".


Doorrrr~~~


Dengan cepat Vi menembak paha Kris yang satunya membuat Mr. Crown memeluk erat putranya, "BAJINGAN KAU VI, AKAN KU HANCURKAN SEMUA YANG ADA PADA MU", Mr. Crown mengambil pistol dan menembak bahu sebelah kiri Vi membuat lelaki itu mundur beberapa langkah.


Namun belum sempat Mr. Crown menekan pelatuknya lagi tembakkan dari Brian di tangannya membuat senjata yang ia pegang terlempar jauh.


" aku tak suka basa basi", bisik Brian dengan mata memerah, "ini untuk ibu ku yang kau bunuh", satu tembakkan mengenai dada Kris, " dan ini untuk ayah ku Michelle Own".


Suara tembakkan terdengar nyaring, timah panas nampak bersarang tepat di jantung Kris. Kekehan Vi membuat Mr.Crown menatap pada lelaki itu.


"Kris", dengan tubuh bergetar Mr. Crown memeluk jasad putranya, menangisi seraya mengingat Michelle Own yang ia bunuh karena bisnis dan membuat seorang wanita depresi berat akibat dirinya, itu nyonya Nicky Leonel.


Matanua yang merah menatap tubuh putranya, memeluk erat dengan tangisan kuat yang menggema, " itu belum seberapa Crown, masih banyak yang harus kau tebus", bisik Vi.


Senjata di tangannya terangkat, terarah pada Mr. Crown yang masih memeluk tubuh Kris, "berbahagialah kau di neraka", timah terakhir tepat mengenai kepala belakang Mr. Crown, tubuh kedua orang bajingan itu terlihat di genangi banyak darah.


" ayo pergi ", ucap Vi dengan memegang bahunya yang masih mengeluarkan darah.


" are you o.k?", tanya Brian dengan membawa senjatanya yang lain.


Vi mengangkat tangannya, "I'm fine". Keduanya melangkah pergi dengan meninggalkan kedua jasad yang sekarang terbujur kaku dengan aliran darah yang mengalir ke lantai marmer putih bening.


Terlihat tak ada pertarungan apa pun namun Vi tak bisa mengulur waktu. Terlalu lama jika nyawa itu masih melekat di tubuh tak berguna manusia seperti Mr. Crown.


******

__ADS_1


Shera nampak berlari lari kecil dengan membawa beberapa bunga, bibirnya nampak tersenyum tipis. Hari ini ia akan menemui Noire untuk mengantung buket bunga di tepi sungai kecil yang mengalir di tengah kota.


Langkah kakinya nampak mengayun pelan dengan kedua mata yang menatap seorang lelaki yang tak asing. Namun baru saja ia ingin melangkah seorang gadis berambut merah datang dengan memeluk erat tubuh tinggi lelaki yang ia kenal, itu Vi.


Shera berjalan mendekat, s*al kenapa ia harus sejalur dengan Vi dan Riana. Gadis dengan rambut pendek sebahu itu berjalan dengan menatap ke arah kakinya, menghindari tatapan dari kedua sejoli itu.


" Shera ", s*al itu Riana yang memanggil dirinya. Dengan pelan ia membalikkan tubuhnya menghadap Riana dengan sedikit tersenyum, " kau ingin kemana?".


"Ahahaa~~ aku ingin menemui William", ucap Shera dengan tersenyum lebar pada Riana.


" kekasihmu?", bisik Riana dengan mencolek dagu Shera yang memerah pipinya membuat Vi mendecih.


Shera menggeleng pelan, "bukan, hanya teman ku tapi ku rasa kami akan melanjutkan ke yang lebih serius lagi", ucap Shera pelan.


"Ahaa~undang kami jika kalian menikah nanti", Shera mengangguk kemudian ia berpamitan untuk pergi. Dirinya sangat tak nyaman berada di sekitar Vi apalagi tatapan intimidasi lelaki tinggi dengan rambut yang sedikit panjang.


Lelaki dengan pakaian serba hitam itu menatap ke arah Shera yang berjalan menuju arah sungai. Seringai sedikit tercipta saat menatap Noire yang juga berjalan menuju ke arah gadisnya.


" kau pergilah", ucap Vi pada Riana yang menatapnya dengan keheranan. Vi selalu begini setiap mereka bertemu apalagi setelah ia bertemu dengan Shera.


Riana menarik jas Vi membuat lelaki itu mendekat pada si model ternama, "apa kau menyukai Shera?", ucapnya dengan sedikit penuh tekanan.


Kekehan menyebalkan dari Vi terdengar menjengkelkan bagi Riana, mungkin jika itu Shera pasti gadis dengan rambut pendek itu akan memakinya, " jika pun aku mencintai dia kau juga tak berhak tahu Riana ".


" aku berhak tahu Vi, aku datang jauh jauh dan melepas pekerjaan ku itu hanya untuk mu, aku tau kau masih mencintai ku!", ucap Riana.


"Kau lupa? Hubungan kita telah berakhir bertahun tahun yang lalu Riana".


" aku tak peduli, kau milikku apa pun yang terjadi kau tetap milikku Vi".


Vi mengeraskan wajahnya, jemarinya mengangkat dagu lancip Riana, "aku tak menyukai bekas seperti mu Riana, kau kan tahu kau itu hanya sebuah permainan", ucap Vi melepas cengkraman Riana pada jasnya, mengusap usap jasnya yang baru saja di sentuh oleh Riana kemudian melangkah pergi.


" aku akan menghancurkan gadis itu Vi jika kau masih tetap mempertahankan dia", ancam Riana membuat langkah kaki Vi terhenti. Ia balikkan tubuhnya menatap Riana dengan berjalan mendekat pada wanita semampai di hadapannya.


"Coba saja jika kau berani", bisik Vi dengan terkekeh, " akan ku hancurkan hidup mu itu", Vi tertawa sebelum ia pergi meninggalkan Riana yang mengepalkan tangannya kuat.


******


Malam ini Noire mengajak Shera untuk datang ke sebuah acara pesta pernikahan seorang teman kerja ayahnya. Beberapa tamu undangan datang dari boss boss besar perusahaan serta artis juga aktor dan beberapa collega bisnis lainnya.


Shera menatap Jack yang duduk di sudut ruangan dengan menegak segelas Wine yang ada di hadapannya. Gadis dengan berbalut gaun berwarna hitam nampak menyenggol Noire, "itu Jack, kau bisa selesaikan masalah mu dengannya sekarang", bisik Shera pada Noire yang menatap arah pandang gadis di sampingnya.


" aku tak yakin dia mau memaafkan ku Shera, kau lihat dia terlihat biasa saja ", bisik Noire pada Shera yang terkikik.


" coba saja, jika perlu kau perkosa dia", Shera mengedipkan sebelah matanya pada Noire menggoda gadis di sampingnya ini yang sekarang memerah karena malu.


"Kau ini, mana mungkin aku memperkosanya b*doh, jika dia yang memulai aku tak masalah", bisik Noire dengan terkikik geli, " itu Vi pangeran mu telah tiba, dia terlihat lebih tampan", bisik Noire.


Shera hanya mendengus, "aku tak ada urusan dengannya, cepat temui Jack", dorong Shera pada Noire yang nampak merengut sebal.


Noire menatap Shera yang melambaikan tangannya, menggoda dirinya dengan senyum yang menyebalkan bagi Noire sebelum gadis itu berjalan pergi.


"Ck kau menyuruh dia untuk menyelesaikan masalahnya tapi kau sendiri menghindari ku". Bisik Vi yang sekarang berdiri di belakang Shera yang terkejut.


Sejak kapan Vi sudah berada di dekatnya? Bukannya tadi lelaki ini mengobrol  dengan salah satu boss besar perusahaan yang bergerak di perekonomian L.A?, " aku tak pernah ada masalah dengan mu", ucap Shera.


Gadis itu akan melangkah pergi sebelum tarikkan di tangannya membuat Shera mendecih, "kau tak akan pergi sebelum masalah kita selesai", bisik Vi.


" bukankah sudah ku bilang tak ada yang harus di selesaikan", kesal Shera pada lelaki tinggi di hadapannya ini.


Vi menyeret Shera keluar dari kerumunan pesta ini. Menarik gadis itu ke arah mobilnya yang terparkir rapi di depan sana dengan beberapa anak buahnya, "kau memang tak bisa di ajak bicara baik baik Shera", desis Vi dengan suara yang dalam nan menekan.


Saat Vi ingin memasukkan Shera ke dalam mobil, gadis itu memberontak dan mendorong kuat tubuh Vi, "SUDAH KU BILANG AKU TAK MAU BERURUSAN LAGI DENGAN MU",  teriak Shera dengan nafas yang tersengal, wajah gadis itu memerah karena emosi yang sejak tadi ia pendam.


" aku ingin bicara~",


"AKU TIDAK MAU, APA KAU TIDAK MENGERTI PERKATAAN KU? AKU TIDA~",


" SHUT UP SHERA", bentakkan dengan suara keras itu membuat Shera terdiam, " just give me a minute, I will explain about our problem, you get it?", kesal Vi.


Keduanya saling bertatapan satu sama lain, Vi yang masih mengatur emosinya nampak memejamkan kedua mata tajamnya, menghela nafas sejenak, "kita selesaikan di Apartement ku", bisik Vi setelah di rasa dirinya cukup tenang.

__ADS_1


__ADS_2