
Vi menatap Shera yang berdiri di hadapannya menggenakan gaun berwarna hitam panjang, belahan dada rendah dan paha yang terekspos dengan sangat nyata itu. sedangkan lelaki itu menggunakan kemeja putih dan celana hitam panjang, rambutnya yang sedikit panjang ia ikat menambah kesan tampan di wajah itu.
"bisakah kau ganti baju mu itu?", tunjuk Vi pada Shera yang melotot. yah benar sekali mereka akan datang ke sebuah pesta salah satu kolega Vi.
"kenapa?", Shera menatap penampilannya dengan seksama, tak ada yang salah malah ini terlihat lebih bagus.
"dada mu terekspos", ucap Vi yang membenarkan penampilannya seraya meninggalkan Shera di dalam kamar sendiri dan jangan lupakan dengusan sebal gadis itu.
tak lama Shera keluar dengan gaun tanpa lengan berwarna silver, sedikit kulit perutnya terlihat dan rok ketat panjang dengan belahan yang tinggi.
"jangan suruh aku menggantinya lagi atau aku tak akan pergi", keluh Shera dengan wajah cemberutnya membuat Vi terkekeh sebelum ia menarik gadis itu kedalam pelukkannya.
"hmm", Vi bergumam membuat Shera mencubit pinggang Vi dengan kuat.
jemari besar itu menyusuri pinggang ramping Shera, meremasnya pelan dan sedikit sensual sebelum ia mencium kening Shera dengan mesra.
"ayo pergi, nanti kita terlambat", ujar Shera yang mengambil tas kecil di dekat meja kecil kemudian merangkul lengan Vi.
***
saat sampai di gedung pesta Shera nampak tersenyum saat menatap Noire yang berjalan ke arahnya bersama Jack dan tak lupa Brian yang menggandeng seorang gadis berambut biru yang Shera pun tak tahu dia siapa.
"pacar baru mu?", tanya Shera dengan menunjuk gadis yang sekarang tersenyum, "kemana tunangan mu yang kemarin itu?", tanya Shera dengan berbisik pada Brian.
"dia pergi dengan meninggalkan sepucuk surat, mengatakan bahwa dia hamil", ucap Brian dengan tertawa membuat Shera mendelik.
Noire menatap Brian, "jadi dia siapa? ku pikir dia gadis asia terlihat dari matanya yang sipit", Vi dan Jack hanya terdiam saat Brian mendapat pertanyaan beruntun dari kedua gadis cerewet ini.
"Winter", ucap Brian dengan mengenalkan gadis bernama Winter, "ini Shera sepupu ku", ucap Brian pada Winter yang tersenyum, "dan ini Noire".
"aku Winter, benar apa yang di katakan Brian pada ku, kau memang sangat cantik", puji Winter pada Shera yang nampak tersenyum.
"biasa saja, jangan dengarkan buaya ini", ucap Shera yang mendelik pada Brian, "kau terlihat manis dengan gaun putih ini", Winter tersenyum malu.
"ya, gaunnya lebih baik dari pada gaun terbuka mu itu", eje Noire pada Shera yang mendelik, sedangkan ketiga lelaki itu hanya mendengus.
__ADS_1
"berkaca lah terlebih dahulu jala*g, kau bahkan seperti tak memakai baju".
saat Noire ingin membalas ucapan Shera, Jack terlebih dahulu menarik kekasihnya agar menjauh dari Shera supaya tak ada makian dan adu mulut yang bisa membuat mereka malu.
"ya sudah, kami pergi dulu", Brian menarik Winter menjauh dari Vi dan Shera.
Vi menggandeng Shera untuk mendekat pada tuan acara malam ini. sedikit tersenyum saat Vi menatap sosok berwibawa yang sekarang terlihat memeluknya dengen menepuk bahu Vi pelan.
"akhirnya kau datang juga", ucap Elton, kemudian menatap Shera yang tersenyum, "kekasih mu?".
Vi mengangguk, "lebih tepatnya calon istri ku", ucap Vi yang menarik Shera untuk lebih dekat padanya.
Elton mengangguk, "itu istri ku, sepertinya dia sedang bersenang senang dengan teman prianya", bisik Elton.
"kau tak cemburu?", tanya Shera pelan, dan Elton lelaki itu hanya tersenyum.
"tidak, karena aku juga punya teman wanita", ucap Elton dengan terkekeh, "lebih tepatnya teman kencan", bisiknya pelan.
Shera hanya mampu tersenyum sebelum menatap Vi dengan intens, melihat tatapan Shera yang intens Elton terkekeh kemudian memegang pundak Vi.
"tenang saja, Vi tak seperti diri ku dia lelaki setia", ucap Elton, "berdansalah, aku akan menemui istri ku".
mereka berdansa mengikuti irama lagu yang mellow, Vi menatap Shera dengan tatapan memuja. gadis ini gadis yang menjerat seluruh kehidupannya, tak tersisa sedikitpun semuanya telah di genggam oleh Shera, gadis galak yang manis.
"aku selalu mencintai mu", ucapan Vi membuat Shera menatap Vi dengan intens dan pelukkan erat dapat Vi rasakan.
"aku bahkan selalu dan selalu mencintai mu", Shera tersenyum kemudian mengecup sebentar bibir merah Vi yang membuat lelaki itu terkikik.
musik berganti seiring bergantinya pasangan dansa, Vi sedikit tak rela jika ia harus melihat gadisnya bersama lelaki lain. namun tatapan menyakinkan Shera membuat Vi dengan berat hati harus melepasnya juga.
Shera tersentak saat Jimmi tersenyum di hadapannya dengan rangkulan erat di pinggang rampingnya. sedikit senyuman Shera berikan pada lelaki tampan yang sekarang mengganti warna rambutnya menjadi jingga di dalam penglihatan Shera.
"senang bertemu dengan mu lagi", ucap Jimmi yang tersenyum dengan tulus membuat Shera sedikit nyaman.
"aku juga, ku pikir kau tak akan datang", ucap Shera pelan.
__ADS_1
"dia juga kolega ku, tapi yaah~ kau tau sendiri lah kami sering bermusuhan", kekeh Jimmi yang membuat Shera mau tak mau ikut tertawa.
Jimmi menarik Shera agar lebih menempel padanya, tangannya yang kekar mengunci pinggang ramping itu dengan posesif. matanya menatap intens pada sosok gadis yang terlihat tak nyaman bersamanya.
"aku sudah menyukai mu sejak lama", bisik Jimmi, "pergi ke Swiss tak benar benar bisa membuat ku melupakan mu", ungkap Jimmi pada Shera yang terdiam.
"tapi aku sudah mempunyai orang lain yang aku cintai, maaf jika menyakiti mu", gumam Shera pada Jimmi yang tersenyum kemudian ia menatap Vi yang juga menatapnya tajam.
"aku tahu. bahkan sekarang dia menatap ku dengan tajam", kekeh Jimmi, "padahal aku tak berniat merebut mu".
keduanya sama sama terdiam, Shera masih menatap Jimmi di saat ia tahu bahwa lelaki itu ingin mengatakan sesuatu.
"aku akan pergi ke Ghana, anggap saja ini pertenuan terakhir kita", Shera menatap Jimmi dengan pandangan bertanya, "aku bertugas di sana sekarang".
"berhati hatilah, semoga kau baik baik saja", ucap Shera.
"besok antar aku ke bandara ajaklah Vi juga", ucap Jimmi dengan tersenyum dan memberikan Shera pada Vi kemudian ia berlalu pergi meninggalkan keduanya.
******
Vi menatap bosan pada Jimmi yang masih memeluk kekasihnya dengan erat. kacamata hitam yang ia gunakan menutupi kecemburuannya pada dua sejoli yang asik bercanda.
"sudahkah acara mari berpelukkannya?", suara dengan nada rendah itu membuat Jimmi terkekeh dan melepas Shera, kemudian melangkah mendekat pada Vi yang terlihat malas.
"kami hanya melepas rindu, sebentar lagi aku akan pergi jauh", ungkap Jimmi, "aku merelakan teman ku ini pada mu sekarang".
"memang seharusnya seperti itu", ucap Vi yang melipat kedua tangannya di dada menatap angkuh pada Jimmi.
"jika menikah nanti jangan lupa undang diri ku", ucapan Jimmi membuat Shera mengangguk dengan tersenyum lebar, "jika Vi menyakiti mu kau bisa datang kepelukkan ku kapan saja".
Vi mendecih, "pergilah", usir Vi pada Jimmi yang lagi lagi terkekeh.
"ya sudah aku pergi dulu", Jimmi mengusak rambut Shera pelan membuat gadis itu kesal, "sampai jumpa Princess".
"sampai jumpa lagi", ucap Shera yang sekarang melambaikan tangannya pada Jimmi yang melangkah pergi meninggalkan Vi dan Shera.
__ADS_1
sedikit tersenyum saat ia sedikit bisa melepas sosok gadis yang ia cintai dalam diam dengan waktu yang cukup lama. Jimmi hanya berdoa semoga ia menemukan sosok wanita yang akan ia cintai dengan segenap jiwa dan raganya.
"ayo pulang", Vi menarik Shera pelan, kemudian berlalu pergi dengan perasaan yang bahagia.