You Naughty Girl

You Naughty Girl
16


__ADS_3

Jack tak pernah sesakit ini sebelum nya, matanya menatap geram pada kekasihnya yang asik bercumbu dengan lelaki yang ia ketahui bernama Leo. Matanya memerah dengan tangan mengepal, Jack melangkah mendekati keduanya.


"Aku tak menyangka jika kepergian ku kau jadikan alasan untuk memikat para lelaki", suara husky dengan nada rendah itu membuat Noire dengan cepat melepas rangkulan Leo.


Keduanya menatap sosok Jack yang menyandarkan tubuhnya pada tembok. Noire menelan ludahnya kasar kemudian ia melangkah cepat untuk mendekati Jack, kaksihnya.


" Jack aku~~", Noire terdiam saat tangan kiri Jack terangkat ke atas, menandakan bahwa dia tak ingin mendengar apa pun.


"Setelah ini lakukan apa pun yang kau mau Noire, aku tak akan membatasi mu lagi", ujar Jack dengan meninggalkan keduanya.


Noire nampak terdiam dengan menatap sendu sosok Jack yang berlalu pergi menjahuinya. Noire mencintai Jack sampai kapan pun dia akan tetap mencintai Jack, namun ntah sudah keberapa kalinya Noire menyakiti Jack.


Gadis itu nampak menyesal, selama ini Jack tak pernah menuntut nya dalam banyak hal lelaki itu akan selalu tersenyum lembut pada Noire bagaimana pun sikap Noire yang terasa menjengkelkan.


" are you oke?", tanya Leo  pada Noire yang terdiam.


Gadis itu menggeleng pelan, "I am not", bisik Noire pelan, " maaf Leo aku harus pergi dan ku mohon pada mu jangan pernah menemui ku bagaimanapun keadaan nya ", bisik Noire dengan menatap Leo.


" aku tak berjanji untuk itu Noa, bagaimana pun juga kau telah terikat dengan ku", ucap Leo dengan sedikit terkekeh.


"Aku tak peduli", Noire pergi meninggalkan Leo yang sekarang nampak menyeringai menatap gadis itu.


******


Shera nampak bergegas menemui sang kepala penelitian. Lelaki tua berkepala plontos itu nampak menjengkelkan di mata Shera. Sudah tua, jelek dan mesum, jika bukan karena nilai Shera tak akan sudi menemui dosen tua ini.


" Vi bisakah kau pulang saja, Aku hanya menemuinya sebentar", ucap Shera saat Vi mengikutinya, bahkan sekarang keduanya sudah berdiri di depan pintu dosen menjengkelkan itu.


"Kau akan di lecehkan dengan dia, percayalah pada ku", ucap Vi dengan menatap Shera yang terdiam. Tak mungkin lelaki tua itu mampu menahan nafsunya saat melihat gadis seksi ini.


" ya sudah, ingat jangan keluar kan senjata mu", ancam Shera pada Vi yang membawa  senjata di saku jaketnya.


"Jika p*n*s ku?", Shera memukul bibir Vi dengan buku tipis yang ia pegang. Dengan kesal Shera meninggalkan Vi yang terkekeh.


Suara deringan ponsel terdengar, "apa kabar yang kau bawa?", tanya Vi seraya menatap yang menghilang di balik pintu.


" Kris sedang kritis di rumah sakit, dan Mr. Crown sedang memburu kita saat ini", ucapan Brian membuat Vi menyeringai.


"Biarkan saja", Vi menutup panggilan itu. Tangannya memutar kenop pintu dan masuk ke dalam untul menemui Shera.


Dosen tua berkepala plontos itu menatap Shera yang menunduk mencoba menulis apa yang dosen itu ucapkan. Vi tahu itu hanya akal akalan saja agar dia bisa menatap apa yang ada di sebalik baju Shera.


Cih lelaki tua sekarang memang terkenal akan kemesumannya, " akan ku congkel mata mu pak tua jika masih menatapnya".


Shera dan lelaki tua itu menatap Vi yang terlihat duduk di sofa berwarna hitam yang terlihat mewah, di tangannya sebuah senjata yang siap kapan saja memakan korban. Dan  Mr. Fang sangat ketakutan, baru kali ini hidupnya di hadapkan dengan sebuah senjata asli.


"Thank you Mr. Fang, I will go back home", ucap Shera dengan tersenyum canggung. Dengan cepat Shera menyeret Vi keluar setelah lelaki itu menyimpan pistol yang sempat ia pamerkan.


Shera nampak mengomel dengan Vi yang berada di belakangnya dengan senyum di wajah tampan itu. Matanya yang tajam menatap sebuah toilet yang tampak sepi, sedikit seringai tercipta. Mencoba sesuatu di tempat umum di dalam toilet bukan masalah besar baginya, ini sebuah tantangan.


Dengan pelan Vi menarik Shera ke dalam toilet, mengunci pintu dan menundukkan Shera pada wastafel di belakangnya. Gadis yang masih sangat shock itu hanya terdiam menatap Vi yang sekarang membuka resleting celananya.


" yaaak, jangan gila Vi", Shera mencoba mendorong Vi, s*al berapa persen hormon lelaki ini? Bahkan Vi sanggup untuk menghajarnya sampai pagi hingga ia tak bisa berjalan padahal saat itu dia berjanji pada Mr. Fang.


"Ini tempat yang sangat aku inginkan". Ujar Vi membuat Shera melotot.


Shera memukul Vi yang sekarang nampak menyeringai pada gadis di depannya. seraya menuntun pelan juniornya pada tubuh Shera yang bergetar.


Dengan gerakkan cepat Vi semakin memaju mundurkan gerakkannyahingga benar benar masuk dan lagi lagi membuat Shera tersentak kuat, "hmmmppp~", Shera menutup mulutnya dengan tangan saat mendengar langkah kaki yang memasuki toilet di sebelahnya.


dan lagi lagi seringai menyebalkan milik Vi tercipta membuat Shera melotot lebar.


"Vihh~~ pelannn~~", s*al Shera bahkan tak bisa berkata kata lagi, permainan Vi kali ini sangat kasar, cepat dan dalam, bahkan dan lebih sialnya saat ini Shera tak bisa mengeluarkan suaranya seperti biasa saat dia menyalurkan rasa nikmat di bawah tubuhnya, yang ia lakukan hanya meremas lengan Vi dengan kuat agar meredam suaranya.


Lelaki s**lan!! kapan dia akan keluar dari toilet? Batin Shera, bayangkan betapa menjengkelkan saat kau harus meredam suara mu apalagi dengan permainan hebat seperti ini. Sedangkan Vi lelaki itu menyeringai penuh kemenangan membuat Shera ingin sekali memaki dan memukuli Vi.


******


Brian nampak memasuki sebuah ruangan dengan sosok yang terbaring di atas ranjang rumah sakit itu. Sedikit seringai nampak tercipta di wajah Brian yang terbilang imut.

__ADS_1


" good morning Kris!", lelaki itu tak mungkin menjawab mu Brian, dia terbaring lemah dengan beberapa alat yang menempel pada tubuh Kris,  "oh aku baru ingat jika kau tak bisa bangun", kekeh Brian.


" ini belum cukup untuk membalas semua perbuatan ayah mu Kris, aku ingin melihat kau tersiksa secara perlahan", bisik Brian dengan tersenyum menakutkan.


Suara pintu terbuka membuat Brian memasang kacamata bulatnya. Membalikkan badan menatap Mr. Crown yang menatapnya penuh selidik.


"Kau siapa?", tanya Mr. Crown pada Brian yang tersenyum saat ini.


" aku Michelle tuan,  teman kampus Kris ", ucap Brian dengan mengulurkan tangannya  namun Mr. Crown hanya menatapnya, cih sombong!!


"Ku pikir lebih baik kau pergi dari sini anak muda!! Aku tak suka ada yang melihat putra ku saat ini yaah~ beberapa alasan lainnya juga", ucap Mr. Crown membuat Brian mengangguk.


" baiklah, aku akan pergi", ucap Brian dengan menjatuhkan alat penyadap, sangat kecil bahkan kau tak akan bisa melihatnya dengan mata telanjang.


Mr. Crown menatap Brian yang keluar, lelaki tua itu sedikit curiga pada laki laki yang bernama Michelle. Tak pernah dia melihat teman Kris yang sangat asing di matanya. Tak ingin memikirkannya Mr. Crown mendudukkan dirinya di samping Kris menatap wajah putranya yang nampak tirus.


******


"Mama~~", Shera berlari mendekat pada ibunya, memeluk erat wanita paruh baya yang sekarang menciumi pipinya.


" ternyata putri mama pintar juga ya?, menyelesaikan tugasnya dengan waktu yang singkat", bangga nyonya Ivanka membuat Shera tersenyum.


Brian memeluk Shera dengan erat membuat gadis itu meronta agar di lepaskan, "wah wah waahhhhh aku rindu sekali dengan sepupu cantik ku ini", seru Brian membuat Shera mendengus, " apa permainan Vi enak?", bisik Brian membuat Shera mendorong lelaki itu kuat.


"Ku pukul wajah mu nanti jika sudah di rumah Brian", ancam Shera membuat lelaki itu terkekeh, " kemana Noa? Dia bilang jika aku pulang akan menjemput ku", Shera mencari cari keberadaan sahabatnya itu.


"Dia sedang bertengkar dengan Jack, ku rasa dia di lema", ucapan Brian membuat Shera melotot.


" setelah ini aku akan menemui dia",


"Pulang dulu Shera", Shera mengangguk mendengar ucapan sang ibu, kemudian melangkah pergi dengan Brian yang membawa koper gadis itu.


Omong omong tentang Vi lelaki itu akan tinggal beberapa hari lagi di China. Sepertinya ada sesuatu yang harus dia kerjakan sebelum kembali ke L.A.


***


" apa yang kau lakukan hingga Jack benar benar marah pada mu?", tanya Shera pada Noire yang sekarang bergelung dengan selimut.  Jack tak akan semarah ini jika Noire tak melakukan kesalahan yang fatal lagi pula mana mungkin lelaki itu memutuskan Noire begitu saja! Seperti apa yang Shera bilang Jack itu sangat teramat mencintai Noire.


" S**". Ujar Shera membuat Noire menganguk.


"Dia memergoki ku yang bercumbu dengan Leo, kau kan tahu Leo tak bisa di tolak", keluh Noire pada Shera yang berdiri di dekat jendela kamarnya, " Jack! dia pasti sangat membenci ku", ucap Noire dengan suara yang lemah.


Shere menggeleng, "no, no, no, no", ucap Shera cepat dengan menggeleng gelengkan kepalanya, " dia sangat mencintai mu, mustahil Jack membenci diri mu ya walau ku akui kau itu bodoh ", ucapan Shera membuat Noire melempar bantal pada gadis itu dengan kuat membuat Shera menjerit karena kesal.


" ucapan mu sama sekali tak ada yang membantu naugthy girl", kesal Noire pada Shera yang mendelik, "lagi pula bagaimana bisa kau berkata Jack sangat mencintai ku?".


Shera mendengus, " apa ku bilang kau itu memang b*doh. Tentu saja aku tahu dari cara dia menatap mu,  memperlakukan mu selayaknya seorang istri, aku juga ingin mempunyai kekasih seperti Jack ". Shera menatap langit langit kamar Noire, pikirannya menuju pada sosok laki laki yang dengan seenaknya memporak porandakan hidupnya.


" Vi tak memberi kepastian?", Shera menggeleng mendengar pertanyaan Noire, "kau akan tetap bertahan?".


Shera menatap Noire dalam diam, dia hanya menggeleng namun sedetik kemudian ia mengangguk, " aku tak tahu Noa". Shera membalikkan tubuhnya menatap langit sore.


Dia dan Vi hanya sebatas teman, ya teman ranjang jika bahasa kotornya. Lelaki itu tak pernah memberi kepastian walau dia tahu bahwa Shera menyimpan rasa pada Vi. Bahkan tak pernah mengucapkan kata aku mencintai mu padahal Shera ingin sekali mendengarnya.


"Aku akan pergi jika dia meminta", bisik Shera pelan. Pelukkan dari Noire membuat gadis itu tersenyum, " terima kasih sudah mau menjadi teman ku Noa ".


" selamanya kau tetap sahabat ku apapun yang terjadi", ucap Noire pelan.


******


"Welcome back my king", ucap Riana saat mendapati Vi yang baru saja membuka pintu membuat Vi agak terkejut.


Lelaki dengan topi hitam dan masker di wajahnya itu hanya terdiam seraya menatap Riana yang berjalan ke arahnya.


Pelukkan dapat ia terima dari model seksi ini. Kecupan di pipi serta sedikit ******* di bibir Vi membuat lelaki itu tersadar dari acara melamunya.


" ah, kau kapan datang?", tanya Vi dengan membawa kopernya masuk ke dalam dan Riana mengikuti nya dari belakang.


"Kemarin, aku mengunjungi mu tapi kau tak ada, dan kebetulan sekali hari ini kau tiba", ucap Riana dengan memeluk Vi dari belakang, " aku merindukan mu Vi ", bisik Riana dengan pelan.

__ADS_1


Wanita itu membalikkan tubuh Vi menghadap ke arahnya. Jemarinya yang panjang mengusap lembut pipi Vi membuat lelaki itu memejamkan kedua matanya menikmati sentuhan Riana.


Kecupan lembut Riana pada bibir Vi terasa menuntut agar lelaki itu membalas ciumannya lebih dalam. Tangan berotot itu melingkari pinggang ramping Riana mengusapnya dengan sensual. Sudah lama sekali Vi tak merasakan tubuh mantan kekasihnya ini dan sekarang wanita dengan kulit eksotis dan bibir merah menyala datang dengan mempasrahkan diri pada Vi.


" Vi aku datang mengan~~", ucapan Shera membuat keduanya melepas tautan mereka.


Ketiganya sama sama terdiam, apalagi Vi yang tak menyangka jika gadisnya akan datang menemui tepat sekali dengan Riana yang datang padanya. Kau masih menyebut dia gadis mu Vi? Apa kau tak merasa canggung dengan menyebutnya seperti itu?


"Maaf menganggu, aku hanya mengantar ini", Shera meletakkan paper bag di samping pintu.


" tunggu", langkah kaki Shera terhenti saat Riana memanggilnya, gadis dengan baju berwarna merah itu mendekat pada Shera, "aku bertemu dengan mu saat pesta, tapi sama sekali tak mengetahui nama mu, kau siapa?", tanya Riana dengan senyum di wajahnya.


" Shera", ucapnya pelan.


"Kau~~",


"Aku hanya karyawan di tempat pencucian biasa, dan kebetulan aku mengantar baju tuan ini yang tertinggal", ucap Shera pelan, " maaf aku pergi". Shera bergegas pergi meninggalkan keduanya dan berlalu begitu saja tanpa menatap Vi.


Riana menatap Vi yang tak mengalihkan tatapannya pada sosok Shera yang tak nampak lagi. Tangannya mengepal sangat kuat hingga buku tangannya memutih.


"Tinggalkan aku", ucap Vi dengan penuh tekanan di setiap kata yang ia ucapkan.


" tapi Vi ~",


"KU.BILANG.PERGI.SEBELUM.KEPALA.MU.PECAH", ucapan Vi membuat Riana terkejut. Gadis itu mengambil tasnya dan berlaku pergi meninggalkan Vi yang nampak berbeda dari sebelum nya.


Dengan kasar lelaki yang hanya menggunakan kaos pendek itu mengambil kunci mobilnya berjalan cepat tanpa memperdulikan Apartementnya.


Langkah kaki lebar nampak cepat dengan berlarian di koridor, tak pedulikan orang orang yang menatapnya kesal. Berani menghalangi jalan tuan besar ini maka nyawa ku akan tak berguna di lorong kosong dan sunyi ini.


Shera nampak berjalan dengan pelan, tangannya mengeratkan mantel yang ia pakai. Tangannya menjinjing tas kecil tak lupa high heels di tangannya, " berhenti lah memikirkan dia bodoh, kau menghabiskan air mata mu hanya untuk laki laki tak berguna itu", bisik Shera dengan kesal, jemarinya menghapus air matanya turun.


Seharusnya Shera tak terlalu berharap pada Vi. Lelaki itu seorang yang tak akan pernah puas hanya dengan satu wanita saja, kau harusnya sadar Shera kau itu ntah pilihan yang keberapa kalinya.


Vi itu kaya, dia tampan, apa pun akan dia dapatkan dengan mudah. Dan kau dengan percaya dirinya bisa memiliki Vi seutuhnya?, kau sedang bermimpi di dunia yang kau ciptakan sendiri Shera! Kau juga tak akan bisa menyingkirkan wanita yang bernama Riana.


Gadis itu cantik, berambut blonde dengan bibir tebal yang penuh namun seksi, lekuk tubuh yang aduhai serta tinggi badan yang sangat  di milik wanita mana pun. sedangkan dirinya? Shera hanya wanita biasa saja tak ada yang spesial.


Baru saja ia akan melangkah, sebuah mobil merah metalic berhenti di hadapannya. Sosok lelaki tinggi dengan tuxedo mahalnya dan warna rambut yang mencolok, kuning dan biru muda.


"William", Shera berisik pelan. Lelaki ini sangat tampan, bahkan seperti tokoh kartun di serial yang sering ia tonton, dan kulit Tan itu sangat menggoda.


"Hey, what are you doing here Princess?", tanya William dengan menatap sekitarnya, kemudian mata sipit yang tajam itu menatap jam yang melingkari pergelangan tangannya.


" hanya jalan jalan saja", ucap Shera pelan.


William menatap tak percaya pada Shera, pasalnya gadis itu jarang sekali jalan dengan keadaan berantakkan, "ku pikir kau butuh hiburan", ucap lelaki berkulit Tan itu.


" huummm",


"Are you free this evening?", tanya William dengan sedikit tersenyum pada Shera yang menatapnya dengan tatapan menimbang.


Lagi pula ini sudah jam lima sore, dan dia juga tak mungkin pulang dalam keadaan berantakkan. Mungkin menerima ajakkan William bukanlah hal yang buruk, "yes, I am, why?.


"We'll go to see the drama performance, yeah if you like", ujar William.


"With pleasure, how about the ticket?", Shera tak mempunyai tiket karena acara ini mendadak. Lagi pula menonton drama kali ini tak bisa jika kita tak membookingnya terlebih dahulu.


" sudah ku persiapkan", ucap William dengan menunjukkan dua tiket yang mana membuat Shera terkekeh.


"Terniat sekali", bisik Shera, " what time does  the performance begin?".


"Jam tujuh malam, but I'II pick you at six thirty".


Shera mengangguk, "kenapa tidak sekarang saja? Ku pikir kau berpikir untuk menghibur ku", ucap Shera dengan senyuman manisnya.


" apakah ini semacam ajakkan kencan?".


"Kau beranggapan begitu? Jika iya ayo", William membuka pintu mobilnya mempersilahkan Shera untuk masuk.

__ADS_1


Mobil itu berlalu dengan pelan, menghabisakan waktu untuk sedikit bersantai. Di ujung sana mobil hitam milik Vi terparkir, matanya yang tajam menatap keduanya dengan kesal. Setelah ini jangan harap William bisa mendekati Shera begitu saja.


__ADS_2