
Sinar mentari sudah kelihatan, tapi Val masih nyaman bergelung dengan selimut dan bantalnya.
Tok ... tok ....
"Val!" panggil orang dari luar kamar, karena tidak ada jawaban ia masuk kamar dan duduk di tepi kasur.
"Val, ayuk bangun!" ucapnya sambil mengelus lembut rambut Val.
"Eungh," lenguh Val dan perlahan duduk di kasurnya dengan mata masih setengah terpejam.
"Sekarang Val mandi Abang tunggu di bawah ya," ucap Ax dan keluar dari kamar.
Setelah selesai Val mandi, ia segera berjalan keluar dan menuju ke ruang makan.
"Pagi Bang!!" sapa Val.
"Pagi Val," balas Ax, lelaki bernama lengkap AXELION ANDERSON ini adalah laki-laki berusia 21 tahun yang sudah memimpin sebuah perusahaan besar milik keluargannya.
"Val, mau makan apa? Abang ambilin," tawar Ax.
__ADS_1
"Nggak usah Bang. Val ambil sendiri aja," tolak halus Val. Ia merasa tak enak karena selalu merepotkan Ax.
"Pokoknya selama kamu di sini Abang bakal manjain deh, jadi mau makan apa," kekeh Ax.
"Em-mau nasi goreng aja bang," dan suasaan saat makan tenang.
Sesuai makan, Val dan Ax memilih untuk menonton Tv. Keduanya sedang menonton Film dan Posisinya, kepala Val berada di dada bidang Ax.
"Val, Abang mau kamu jadiin Abang sebagai temen curhat kamu jangan simpen semuanya sendiri Val," ucap Ax serius tetapi dengan nada lembut sambil mengelus rambut Val.
"Tapi, Val nggak mau bikin repot abang, jadi maaf Val belum bisa," ucapnya sambil menatap Ax. Sungguh Val masih sanggup untuk menahannya.
"Nggak, Abang adalah orang yang penting di hidup Val. Abang yang buat Val ada tujuan buat tetep bertahan karena abang bukan yang lain," bantah Vak cepat dengan mata sudah berkaca-kaca. Ia tak Ingin Ax salah paham padanya.
"Tapi, kalo Val nggak cerita apa-apa sama Abang ... Abang ngerasa bukan bagian penting di hidup Val," ucapnya lagi.
"Nggak hiks ... itu hiks ... nggak bener hiks ... Val cuma hiks ... nggak mau hiks ... abang repot karena hiks ... ngurusin Val hiks ...." Dengan air mata yang sudah turun.
Dengan sigap Ax memeluk Vak dengan erat yang dibalas oleh Val tak kalah erat, setelah beberapa menit Vak sudah tenang dan mulai menceritakan apa yang terjadi walaupun Ax sudah tahu apa yang terjadi dengan Val.
__ADS_1
"Tenang oke, ada Abang. Gimana kalo abang pindah ke komplek kamu?" tawar Ax.
"Apa nggak bikin abang repot, kan jauh dari kantor abang."
"Nggak sama sekali Val, kalo kita deket abang jadi lebih bisa jagain kamu kan," yakin Ax.
"Iya udah kalo nggak papa, kalo nggak salah di samping rumah Val mau dijual tau, Bang," ucap Val seraya mengingat-ingat.
"Bener?" tanya antusias Ax.
"Iya," dibalas tak kalah antusias oleh Val.
"Nanti Abang mau ketemu sama yang punya rumah deh kalo gitu dan setelah abang pindah kamu pulang-pergi harus sama abang!" titahnya tanpa mau di bantah.
"Kalau abang lagi meeting gimana?" tanya Val dengan raut polos. Ax menahan gemas melihatnya.
"Abang tetep akan bantalin meetingnya yang penting Val dianter sama abang," ucap tegas Ax.
semoga suka>^_^<
__ADS_1
akhirnya up setelah sekian lama;)