
Suara isak tangis masih menggema di ruangan. Tangisan yang tidak mampu dibendung oleh Val tumpah dengan derasnya. Ax masih dengan setiap memeluk seraya menepuk lembut punggung Val untuk menenangkannya.
"Hei, Val liat, Abang!!" ucap Ax sambil melepaskan pelukan mereka.
"Val, nggak terima dengan semua ini?" Val menggeleng kuat.
"Val menyesal mengetahui ini atau Val ...."
"Nggak bang, yang Val sesalkan kenapa nggak dari dulu Val tahu tentang ini bang. Abang tau gimana perlakuan mereka berdua terhadap Val. Sejak dulu Val juga bilang ingin pergi dari rumah itu, kan," ucap Val sambil sesenggukan.
"Stsss tenang oke!!" Ax merasakan pelukannya melemah dan benar saja Val pingsan. Ia sudah beberapa kali mencoba membangunkannya dan si empu tak kunjung bangun membuat Ax panik dan segera menekan tombol darurat
Sedangkan Juna dan Rio sedari tadi memang keluar tapi hanya didepan ruangan saja sehingga mereka dapat mendengar suara Val menangis dan mengeluarkan semua unek-uneknya. Sampai suara tangisan itu berhenti mereka kira bahwa Val telah berhenti menangis, tetapi saat mereka melihat seorang dokter diikuti beberapa suster membuat mereka paham bahawa ada yang terjadi didalam. Dokter itu masuk dan Ax keluar.
"Apa yang terjadi?" tanya Juna.
"Nggak tau, tiba-tiba aja Val pingsan karena panik gue langsung tekan aja itu tombolnya, " sahut Ax. Mereka hanya diam mendengar penjelasan dari Ax
Setelah beberapa menit dokter itu keluar. "Bagaimana dok?" tanya Rio.
"Nona hanya kecapean dan terbukanya kembali luka jahitannya, itu dapat terjadi jika pasien banyak bergerak. Tapi sekarang nona sudah baik baik saja dan sedang istirahat karena pengaruh obat bius, " jelas dokter itu.
"Terima kasih dok kalau begitu."
__ADS_1
"Iya sama-sama sudah tugas kami para dokter, permisi." Dokter itu pun berlalu diikuti suster yang selesai membereskan peralatan medis.
Ketiganya pun memutuskan masuk kembali ke dalam ruang rawat Val dan benar saja Val masih nyenyak dalam mimpinya. Mereka duduk di sofa dan menyetel televisi untuk mengisi keheningan sampai suara ponsel Rio memecahkan kehenaingan disana.
"Halo!"
"Halo!"
"Kenapa mom?"
"Rio, di sana baik baik aja kan?"
"Em...." jawab bingung Rio sambil menatap keduanya sedangkan Ax hanya mengedikkan bahunya acuh dan Juna hanya bergumam ' terserah lo'. Respon keduanya membuat Rio kesal setengah mati.
"Nggak ada apa-apa kok mom, cuman tadi Val drop tapi sekarang udah nggak papa kok."
"Beneran?"
"Iya."
"Ya udah Mommy ke sana malem masih ada kerjaan, oke sayang bye."
"Bye Mom, i love u."
__ADS_1
"Love you too."
Tut ... tut ....
Setelah menutup telefon, Rio merasa dirinya ditatap dan langsung menatap balik. Tatapan mereka seolah mengatakan 'gimana?' .
"Nggak papa kok, mommy cuma bilang ke sini malem."
"Ohhh," gumam Juna sedangkan Ax hanya diam.
"Jun sana lo beli makan, laper nih!!" suruh Rio.
"Eh enak aja sana lo aja, main suruh suruh lagi," kesal Juna.
"Udah sih tinggal beli aja, nih uangnya beli 3 oke sekalian minumannya jangan lupa!!" perintah Rio membuat Juna kesal setengah mati.
Dengan perasaan dongkol sambil mengumpat ia berjalan keluar dari ruangan Val dan menuju Kantin yang berada di lantai 1 sedangkan ia berada di lantai 5. Juna paling malas naik turun lift makanya tadi ia sempat menolak bukan apa hanya malas saja menunggu lift terbuka walau ada lift khusus untuk kelas ini tapi jaraknya lebih jauh dari lift umum jadi lebih baik yang umum saja lebih dekat dan menghemat waktu.
Update!!!
sorry lagi banyak tugas, soalnya mau UAS😭
Mungkin sampe UAS bakal jarang UP, karena tugasnya lg banyak juga dan lagi ngerjar bikin artikel. Sorry banget🥹
__ADS_1
Jangan lupa Like N Komen ya🥰