
Semilir angin di taman itu sangat menyejukan. Namun, bukannya hawa dingin yang terasa justru hawa panas yang mampu membuat siapapun merasa tidak nyaman. Darma dan Bimo sedang duduk di taman rumah sakit. Keheningan terjadi di antara keduanya tak ada yang mulai untuk berbicara sampai ....
"Kenapa kamu di sini? Setahu saya kamu tak perduli dengan Val," ucap santai Darma seraya menyalakan sebuah rokok di tangannya.
"Saya ayah Val dan saya berhak atasnya," tekan Bimo.
"Berhak? Hahahaha dasar tak punya malu. Kamu bahkan sering menyiksanya belum lagi kamu yang meninggalkan anak saya," ucap tajamnya.
"Itu hanya masa lalu," balas Bimo santai tanpa merasa bersalah.
"Masa lalu kata kamu, masa lalu ini yang menyebabkan kejadian semua ini terjadi dan semuanya bermulai dari kamu," balas Darma tak kalah tajam.
"Heuh memangnya kenapa?" ucap Bimo sinis.
"Setelah semua yang terjadi kamu masih belum sadar juga bahwa dalang dari semua ini adalah istri kamu sendiri beserta anak tiri kamu itu." setelah mengucapkan kalimat itu Darma meninggalkan Bimo yang mematung karena perkataanya barusan.
Darma pergi tanpa melihat bagaimana wajah Bimo saat ini. Ia cukup geram dengan Bimo yang tidak memiliki rasa tanggung jawab. Apalagi ini bukanlah pernikahan pertamanya, Darma hanya berharap Bimo sedikit berubah setelah beberapa tahun. Namun, nyatanya sikapnya semakin tidak terkendali.
__ADS_1
Setelah mengobrol tanpa hasil yang jelas, Darma memilih kembali di mana semua orang berkumpul. Ia pun melangkahkan kaki menuju anak dam cucunya.
"Bagaimana keadaan, Val?" tanya Darma seraya mendudukan tubuhnya di kursi.
"Operasinya belum selesai, Kek" ucap Ax. Tak berselang lama, lampu operasi yang tadinya berwarna merah sekarang sudah padam.
"Bagaimana Dok keadaan Val?" tanya Rio mewakili Mommynya yang masih tertidur.
"Alhamdulilah operasinya berhasil dan nona Val sudah melewati masa kritisnya hanya menunggu ia tersadar. Kalian boleh menjenguknya jika nona Val sudah dipindahkan ke ruang perawatan," ucap dokter itu dan berlalu dari sana.
"Ya, sudah kalau begitu, Juna antar Mommy pulang dan Ax antar Jessi pulang sekalian kamu ganti baju dan istirahat. Lalu Juna bawakan baju untuk kakek dan Rio, yah!!" titah Darma.
"Em kek, Rio mau beli makan dulu kakek mau nitip?" Tawar Rio.
"Iya boleh, apa aja," jawab Darma.
Rio pun berjalan menjauh menuju kantin rumah sakit. Tampak kantin yang tidak terlalu ramai orang, ia pun segera memilih makanan yang sekiranya membuat dirinya berselera untuk makan. Setelah mencari makan ia kembali menuju kamar inap Val yang sudaj diberitahukan Darma lewat pesan.
__ADS_1
Sedangkan itu Ax dan Jessi sedang berada di halaman rumah sakit. "Ya, udah kalo gitu Jessi pamit ya bang, makasih udah mau nganter Jessi" ucap Jessi.
"Iya, sama-sama, abang pulang dulu, ya," pamit Ax.
Setelah melihat Jessi pergi menjauh, Ax berjalan menuju kendaraannya dan pergi meninggalkan halaman rumah sakit tempat di mana Val di rawat itu.
Ax pov
Sebenernya gue khawatir tentang Val, apalagi setelah apa yang Val ungkapkan kemarin itu membuat gue gundah. walau gue yakin orangtuanya akan antusias tapi gue benar-benar memikir apa yang akan Val terima jika ia dan Val jadian apalagi gue mempunyai banyak musuh. Gue akui gue sangat mencintai nya semenjak bertemu pertama kali dengannya bahkan hingga kini.
Gue ingin Val dan gue bersatu.
"Val abang bingung," gumam gue seraya mengusap kasar wajahnya.
Akhirnya akunnya kembali😭
Sempet panik, lupa akunnya. Alhamdulilah bisa balik lagi🥹
__ADS_1
Thank you yang selalu nunggu update😘
Jangan lupa Like N Komennya