Youre My Family?

Youre My Family?
Tiga puluh Lima


__ADS_3

Val dan Ax masih berada diposisi yang sama. Sudah lebih dari 15 menit Val mencoba menenangkan Ax. Dengan sabar Val menepuk ringan punggung Ax.


"Udah bang!! " Val pun merasa bahwa bahu Ax sudah berhenti bergetar pun lega.


"Jadi, tante kenapa ke sini?" pertanyaan Val membuat Ax tersentak.


"Itu tante mau nyampein bahwa Daddy kamu nitipin kamu sama tante karena ada urusan pekerjaan?" jelas Siska sedangkan Ax jadi menenggelamkan lagi kepalanya di ceruk Val, Ax merasa malu menangis di depan selain Val.


"Ohh, loh bang kok gini lagi, sih? Ayo dong bangun ih," rengek Val yang hanya mendapat gelengan dari Ax.


"Udah Val nggak papa atu lebih baik Ax tidur aja, lagiankan bankarnya lebar," ucap Siska dan Ax pun mengikuti apa yang dikatakan Siska tapi masih dengan memeluk Val dari samping. Siska dan Val yang melihat itu hanya menggelengkan kepala.


"Maaf ya tan, kebiasaan bang Ax kalo ada di deket aku," ucapnya sambil mengelus kepala Ax.


"Nggak papa kok, lagian tante tau kalian udah deket lama jadi maklum lah tapi tetep aja jangan kelewatan batas inget." diangguki oleh Val.


"Kamu lebih baik juga tidur Val. Tante akan jaga di sini." Val pun menurut dan membenarkan posisi Ax. Ax yang merasa posisi tidurnya berubah pun dengan sigap memeluk Val kembali sehingga kepala Val berada di dada bidang Ax dan dengan pasrah Val juga membalas pelukan Ax.


Siska yang melihat ia pun hanya dapat tersenyum walau di sisi lain ia merasa sedih karena ada yang lebih dekat dengan anaknya bahkan ia tau apa yang tidak disukai dan disukai oleh Val. Ia merasa menjadi ibu yang kurang sempurna tidak mampu membimbing ketiga anaknya dengan tangannya sendiri.


Tiba-tiba saja semua memori yang pernah dia lewati terus berputar seperti kaset yang rusak. Bagaimana rasa sakitnya ketika dengan berat hati ia harus berpisah dengan Val. Bagaimana sulitnya tahun pertama menjadi seorang single mother.


Semuanya terus diputar dalam kepalanya yang mampu membuat dirinya menjadi kurang fokus pada hal sekitar. Bahkan ketika ada yang mengetuk pintu pun Siska tidak mendengarnya.


"Masuk, Sus!" ucap Val yang terbangun ketkka mendengar ketukan pintu.


"Saya kemari untuk mengganti infus," ucap sang Suster dan Val yang mengangguk ringan.


Setelah Suster selesai dan menutup pintu barulah Siska menyadari ada yang telah masuk ruangan. "Loh, tenyata ada Suster masuk?"


"iya Tante. Kalau Tante cape, lebih baik tante pulang dan istirahat dulu Tante," ucap Val merasa bersalah.


"Nggak papa kok, sekarang kamu tidur lagi gih!" Akhirnya mau tidak mau Val menurut.

__ADS_1


****


Juna pov


Gue sedari tadi menunggu bell pulang. Entah kenapa hari ini rasanya bell pulang sangat lama. Gue udah nggak sabar bertemu dengan Val dan mencari kebenaran mengenai apa yang dikatakan oleh kakek hari itu dan aku curiga bahwa Rio menyembunyikan sesuatu dari gue.


Kring ... kring ....


Akhirnya bell berbunyi. "Ayo, Lo buruan!" desak gue.


"Sabar napa sih, lo kenapa sih dari tadi gue liatin kayanya gelisah mulu?" tanya bingung Rio.


"Emang kalo gue bilang sekarang lo akan ngukapin yang sebenarnya kalo gue tanya ke lo. Gue rasa nggak jadi gue harus buru-buru nemuin mommy dan tanya langsung ke mommy, buruan istt lama banget sih kaya perempuan, lo," celoteh gue.


"Iya-iya ini dah selese, kok." gue pun langsung menarik pergelangan tangan Rio dan menuju mobil. Rasanya gue nggak sabar banget pengin nanyain ini, bahkan mungkin dari dulu.


Walau terpakaa Rio pun hanya pasrah ketika tangannya Gue tarik. Setelah kita sampe di mobil dengan gesit Gue melajukan mobil menuju rumah sakit untuk bertemu Mommy.


Juna pov


Rio pov


Sebenarnya ada satu hal yang bisa Gue tebak tentang apa yang mau Juna bicarain. Tapi kalau memang tentang itu, dari mana Juna tau sampe dia curiga tentang hal itu. Bahkan Gue aja nggak pernah ngomong apa pun tentang itu.


****


Kami berdua sekarang berada di parkiran rumah sakit. Dengan tak sabaran Juna membuka pintu mobil. Gue pun hanya menggelengkan kepala. Tapi saat sudah berada di ruangan Val ternyata ada sosok lain di samping Val dan itu adalah Ax.


Ah ... bagaimana ini bisa terjadi, gue pun menatap Mommy dan seolah mengerti mommy mulai menjelaskan apa yang terjadi.


Rio pov end


"Jadi tadi pas mommy sampe di sini Val sudah sadar dan posisinya lagi pelukan sama Ax. Karena nggak mau nganggu mommy diam aja dan setelahnya mommy suruh Ax tidur aja soalnya keliatan capek mukanya sekalian deh sama Val," ucap Siska setengah benar.

__ADS_1


"Ohhh," ucap twins kompak.


"Mom, apa Juna bisa berbicara sama mommy?" ucap Juna.


"Bicara apa? Sini duduk samping, mommy," ucap Siska sambil menepuk sofa di sampingnya.


"Apa yang diucapkan kakek waktu itu, bahwa Val adalah cucunya itu benar, My," ucap Serius Juna. Yang membuat Siska menegang akan pertanyaan yang disampaikan oleh putranya dan terlihat bahwa Rio terkejut akan hal itu.


"Emm itu ... itu," gugup Siska.


"Ucapkan yang sebenarnya Mom, tolong," mohon Juna.


"Ok, Mommy katakan tapi saat Val sudah bangun yah agar clear masalah ini dan mommy harap kalian jangan benci Val, mommy ataupun Daddy kalian," ucap pasrah Siska.


"Daddy?" Ucap Juna.


"Apa maksudnya, Mom?" tanya Rio. Walau ia sudah mengetahuinya, tapi ia akan bersikap seolah ia tak mengetahui apa-apa.


Rio tak ingin membuat kecurigaan yang berlebihan. Jika ia bersikap seakan tahu semua Juna pasti akan merasa tidak adil, karena mereka menyembunyikannya dari dirinya.


Tidak mau masalah semakin panjang pun yang membuat Rio mengambil keputusan itu. Dengan begitu masalah ini akan terselesaikan dengan baik, tanpa ada kesalapahaman kembali.


"Pokoknya mommy mohon," mohon Siska yang diangguki oleh kedua anaknya yang membuat Siska lebih lega sedikit. INGAT SEDIKIT.


Sebenarnya Siska tidak tahu harus menjelaskan kepada ketiga anaknya dari mana. Apalagi tadinya dia tak ingin menceritakan hal ini sampai ia bisa mengajukan hak asuh sah untuk Val.


Namun karena keduanya sudah terlanjur mengetahuinya, akhirnya Siska memilih akan menceritakannya agar tidak ada kesapahaman bagi kedua Putra dan Putrinya.


Apalagi selama ini keduanya hidup tanpa mengetahui kehadiran satu sama lain. Justru hal itu membuat hati Siska lebih teriris. Sebuah keluarga yang tidak saling mengenal satu sama lain adalah hal yang menurutnya lebih buruk.


Update!!


Jangan lupa Like n komen ya🥹

__ADS_1


__ADS_2