
Ax pov
Hari ini gue bakal ke penjara tempat dimana Nessa alias ibu tiri Val mendekam.
"Hai ibu Nessa!!" sapa gue.
"Untuk apa kamu kemari sudah puas, hah! membuatku masuk penjara!!" sinisnya.
"Tentu saja belum puas, saya akan senang jika kau tiada!!" sarkas gue dengan mata yang dingin.
"Untuk apa kamu ke sini?" ucapnya.
"Oh ya saya kemari hanya untuk menginformasikan bahwa anakmu akan dibawa keluar negeri untuk diisolasi dengan pengawasan ketat tanpa alat komunikasi sedikit pun," jelas gue.
"APA APAAN INI! KAMU TIDAK BISA MELAKUKAN ITU PADA PUTRIKU!!!" bentaknya.
"Tapi sudah saya lakukan," sinis gue.
"Ya sudahlah saya ke sini hanya untuk mengatakan itu dan satu hal lagi hukumanmu terancam hukuman mati atau seumur hidup jadi berdoalah, " ucap dingin gue dan melangkahkan kaki keluar dari ruang tahanan itu.
Entah kenapa jalan menuju parkiran terasa jauh, bahkan sampai Gue membayangkan bagaimana jadinya kalo apa yang Gue inginkan menjadi kenyataan. Hal yang selalu Gue pendam selama ini akan Gue ungkapin.
Semalem Gue berpikir bahwa gue akan memiliki Val yang artinya gue akan melamarnya untuk menjadi istri gue. Seluruh badan Gue rasanya bergetar ketika membayangkannya. Rasanya gue nggak sabar untuk itu, gue akan selalu berusaha untuk membuat Val bahagia.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit aku selalu membayangkan bagaimana kehidupan gue nanti setelah menikah dengan Val dan mempunyai anak. Ah rasanya bahagia sekali, membayangkan itu membuat senyuman gue terus terpatri dengan indah.
Bahkan hingga mobil Gue berhenti di parkiran rumah sakit pun, pikiran Gue masih belum ada pada tempatnya. Hingga seseorang mengetok jendela mobil Gue yang membuat Gue tersadar bahwa banyak mobil yang mengantri untuk parkir di belakang.
Secepatnya Gue mencari parkir kosong dan kemudian memasuki lobi rumah sakit. Langkah kaki Gue berjalan menuju lift berada untuk mencapai ruangan Val. Sesampainya di depan ruangan Gue pun mengetuk pintunya.
Tok ... tok ....
"Permisi!" ucap gue pelan saat memasuki ruang rawat Val.
__ADS_1
"Oh ada tamu, siapa yah?" tanya Tante yang ku ketahui bernama Siska alias ibu Rio dan Juna bingung.
"Em ... saya Ax temannya Val tante," jawab gue.
"Teman?" herannya, mungkin karena umur gue yang 4 tahun di atasnya.
"Iya, saya memang bukan teman sekolah tapi saya dekat dengannya sejak Val SMP tante," jelas gue.
"Oh berarti kebetulan." gue pun mengerutkan dahi karena bingung.
"Itu loh sekarangkan Juna dan Rio masih sekolah, papah masih di kantor dan papahnya Val menitipkan Val kepada tante soalnya ada kerjaan di luar kota. Tante tadinya mau nitipin ke suster karena Tante mau mengambil pakaian di rumah sama mandi dulu" jelas tante Siska.
"Oh begitu Tan, nggak papa kok," sahut gue.
"Makasih ya, nak Ax," ucap tante Siska sebelum berlalu keluar dari ruangan ini.
Ax pov end
"Maafin abang karena baru ke sini tapi abang janji kalo Val sadar abang akan jagain Val. Maaf karena abang lalai buat jagain Val seharusnya ... hiks ...." ucap Ax tak sanggup bersamaan keluarnya air mata. Ia tak perduli jika dilihat orang lain yang pasti ia merasa bersalah karena tak becus menjaga Val orang yang ia cintai.
"Seharusnya hiks ... abang nggak lama waktu beli minum atau seharusnya kita nggak pernah ke pantai itu, maafin abang Val. maaf, maaf, maaf?" gumam Ax dengan tangan yang setia mengenggam jemari Val.
"Maaf Val, maaf, maaf, maaf," gumam Ax terus.
"A-abang," lirih Val.
"Val, kamu sadar," ucap Ax dan segera menekan tombol untuk memanggil dokter.
"Maaf mohon menunggu di luar," titah seorang suster. Ax hanya menurut dan keluar dari ruangan itu, setelah beberapa menit dokter itu keluar.
"Bagaimana, Dok?" tanya cepat Ax.
"Alhamdulilah pasien telah siuman," ucap dokter itu.
__ADS_1
"Terima kasih dok." tanpa banyak bicara Ax segera kembali memasuki ruang rawat Val.
"Val kamu udah nggak papa?" tanya Ax.
"Ha-aus." dengan bergegas Ax mengambil air dan meminumkan air itu.
"Pelan-pelan, Val."
"Kamu beneran nggak ada yang kamu rasain?" tanya Ax kembali.
"Nggak ada, bang," gemas Val karena ditanya berulang-ulang oleh Ax.
"Bang!!" panggil Val.
"Iya kenapa?" sahut Ax seraya menengokkan kepalanya
"Soal penculikan itu ...."
"Stsss jangan bahas itu dulu ok kamu belum sepenuhnya pulih," potong Ax.
"Tapi Val takut." dengan sekali tarikan sekarang Val telah berada dalam dekapan Ax.
"Udah ada abang. Abang janji bakal jagain Val, maaf karena abang Val jadi gini." gelengan dari Val dirasakan oleh Ax.
"Nggak ini bukan salah abang. Ini udah takdir," ucap Val.
"Tapi kalo aja bang nggak ajak Val kesana pasti ... pasti ...." air mata kembali turun dari pelupuk Ax dengan sigap Val mengusapnya.
"Udahnya ini bukan salah abang," ucap Val sambil menaruh kepala Ax di pundaknya dan Ax pun menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Val. Val pun merasakan bahwa bahu Ax bergetar, Val mencoba menenangkan Ax dengan mengelus rambut Ax. Tanpa mereka sadari sedari tadi ada Siska yang telah tiba di rumah sakit kembali. Val yang melihat memberi isyarat agar Siska diam sejenak dan Siska yang mengerti pun hanya diam dan melihatnya.
Update!!!
Jangan lupa like N komennya ya🥹
__ADS_1