
Hai nama gue VALENTINO ARJUNA WISMA dan nama kembaran gue VALERIO ARSENO WISMA. Saat gue masuk kelas ternyata ada anak yang tadi. Oh ... berarti sekelas dong, kok gue nggak pernah liat, ya? apa karena gue jarang di kelas ya? gue adalah ketua osis sedangkan abang gue wakil nya gue juga nggak tau kenapa gitu.
"Permisi bu, kami baru selesai keliling," ucap gue.
"Oh ... ya, silahkan duduk." Gue dan kembaran gue pun berjalan menuju tempat duduk, tapi sebelum itu gue mengucapkan 'terima kasih'.
"Terima kasih bu."
Tak terasa bel pulang sudah berbunyi para siswa berlomba-lomba keluar kelas untuk pulang ke rumah masing-masing. Termasuk twins yang sudah berada di parkiran. Hari ini memang tidak ada keperluan osis, jadi, keduanya bisa pulang cepat.
Sekarang twins udah ada di depan rumah mereka. Mereka masuk ke dalam dengan santai. Saat sampai di depan pintu masuk.
__ADS_1
"ASSALAMUALAIKUM MOMMY!!" seru Rio.
Yah, seperti itulah sikap Rio jika berada di rumah. Sangat berbanding terbalik saat berada di sekolah dan jika Juna sikap agak kalem walau kadang cerewet.
"Waalaikumsalam, Rio jangan teriak udah berapa kali mommy bilang," ucapnya sambil menyambut anak anaknya. Mommy twins bernama FRANSISKA WISMA. Dia tidak menggunakan Marga ayah twins karena mereka sudah berpisah belasan tahun silam. Namun, bagi twins itu tak masalah, karena mereka sudah terbiasa dengan itu.
****
"Oke mom," ucap kompak twins.
Aku hanya terkekeh, walau ada yang kurang mereka hanya dibesarkan olehku dan ayahku, karena aku dan suamiku telah berpisah dan mengharuskan aku berpisah dengan anak perempuanku.
__ADS_1
Namun, aku tidak memberitahukan ke kedua anakku, yang mengetahuinya di sini hanya ayahku karena kau berpisah saat mereka masih tiga bulan karena mantan suamiku menemukan rumahnya yang baru. yak!! dia selingkuh yang aku lakukan hanya menerimanya walau pun hatiku sakit telah dihianati suami sendiri aku bisa apa? aku hanya wanita dari tiga orang anak. Sampai suamiku menuntut cerai dan meminta hak asuh anak kami awalnya aku menolak tapi dia kekeh meminta anak perempuanku sampai hakim memberikan hak asuh anak perempuanku padanya, walau rasanya sangat khawatir dengan anak perempuanku ia bernama NIA itu adalah panggilannya untuk keluarga saja.
Bagaimana tidak khawatir? mantan suamiku sudah menikah dan aku khawatir anakku tidak menerima kasih sayang dari mereka.
Sungguh selama ini aku terus berpikir bahwa mereka akan mendidik putriku dengan tidak baik. Banyak kemugkinan yang terkadang sampai membuat kepala pecah.
****
Di lain tempat ada seorang gadis yang sedang menikmati kesendiriannya dengan melukis atau bisa disebut menghilangkan kebosanan, karena dia hanya sendirian di rumahnya yang besar kecuali bersama maid supir dan tukang kebunnya, tapi bukan itu yang diinginkannya dia ingin dikasihi ingin dimengerti oleh kedua orang tuanya. Tapi itu sekarang hanya menjadi angannya saja.
Hanya angan yang mustahil terwujud olehnya. Karena selama ini jika ia mengatakan keinginannya bukan jawaban 'iya' yang ia dapat justru bentakkan dan makian yang selalu ia terima. Dirinya memang sudah terbiasa akan hal itu, tapi tetap saja mengguncang mentalnya setiap kali suara keras itu dilontarkan kepadanya.
__ADS_1