Youre My Family?

Youre My Family?
Tiga puluh


__ADS_3

Mereka sudah berada di rumah sakit dan Val sedang ditangani oleh Dokter. Ax dan yang lainnya diminta menunggu di ruang tunggu.


"Ini nggak ngehubungin bokapnya Val!" celetuk Juna.


"Ah ... iya," sahut Ax yang baru saja teringat.


"Halo Om, saya Ax."


"...."


"Apa Om bisa ke Rs. Cipta?"


"...."


"Val tertembak, Om."


"...."


"Baik Om, saya tunggu."


Tut ... tut ....


"Katanya mau ke sini," kata Ax sambil menaruh telepon genggamnya di saku.


"Sebentar, kakek mau angkat telfon." Sebelum Darma pergi dokter keluar dari ruang operasi.


"Ada yang bergolongan darah AB-, pasien harus segera mendapatkan donor darah sedangkan stok darah itu sedang kosong," ucap dokter dengan cepat.


"Darah AB-," gumam Rio.

__ADS_1


"Mommy punya golongan darah yang sama," sahut Juna.


"Iya udah, Kakek akan suruh Mommy kamu ke sini, sebentar ya dokter," ucap Darma.


"Hallo Siska, segera ke rumah sakit Cipta."


" ...."


"Tidak usah banyak tanya dulu, cepat ke sini."


"...."


Tut ... tut ....


****


Beberapa menit kemudian Ayah dari Val sudah berada di depan ruang operasi.


"Papa Darma."


Ucap keduanya bersamaan.


"Hah Papah?" seru ketiganya bingung.


"Em ... nanti akan diceritakan, yang penting sekarang adalah Val," tegas Darma.


Tak berselang lama Siska tiba di situ bertepatan dengan dokter keluar sehingga tak memperhatikan bahwa di sana ada mantan suaminya.


Bimo pov

__ADS_1


Aku terkejut melihat ada mantan istriku, jangan-jangan dia telah mengetahui bahwa Val adalah anak perempuannya dan anak kembar itu adalah anak laki-lakiku. Aku senang sekali melihat mereka tumbuh menjadi seorang yang gagah.


"Jadi siapa yang mempuanyai darah AB-?" tanya dokter itu.


"Saya, dok!" Acung Siska.


"Baik, mari bu ikut saya," ucap dokter itu menggiring Siska menuju ruang operasi.


Sebenarnya aku bingung apa yang sedang terjadi sekarang, tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu.


Sekarang yang terpenting adalah keselamatan Val, walau aku sering kasar padanya tetapi sebenarnya aku menyesal melakukan itu. Aku sadar bahwa selama ini aku dihasut oleh istriku sendiri agar membenci putriku.


Aku tak sadar selama ini, bahkan aku melewati pertumbuhan putriku padahal kami berada di rumah yang sama apalagi dengan kedua putraku itu. Aku menatap intens mereka, aku sangat merindukan mereka.


****


Rio pov


Aku bingung saat ayah Val atau ayah kami bertiga kemari. Aku bingung antara sedih, senang, marah semua bercampur menjadi satu. Sebenarnya aku ingin sekali mengatakan ini pada Juna tapi aku tak tega apalagi selama ini dialah yang sangat menginginkan kehadiran sosok ayah.


Walaupun aku juga menginginkannya, tapi aku tak seperti Juna yang selalu menanyakan dimana ayah berada sedangkan aku hanya aku pendam karena tidak mau membuat Mommy sedih.


Apalagi saat Mommy tiba di sini aku berharap mereka tidak bertemu. Aku bersyukur tadi Mommy tak melihat kehadirannya. Karena aku tak sanggup melihat raut wajah sedih dari Mommy. Aku tak ingin Mommy larut lagi dalam kesedihannya seperti dulu.


Dulu mungkin aku masih terlalu kecil untuk mengerti kesedihan Mommy. Berbeda dengan sekarang aku sudah bisa membedakannya.


Apalagi aku tahu Mommy benar-benar bahagia saat umurku dan Juna 10 tahun. Entah kenapa saat itu aku melihat Mommy sangat lepas. Dari mulai tertawa hingga gerak tubuh semuanya terlihat ringan.


Mungkin terlihat sama saat Mommy berinteraksi dengan kami, tapi saat itu benar-benar berbeda. Seperti tidak ada beban lagi di pundaknya.

__ADS_1


Aku ingin Mommy berada di momen itu lagi!


semoga suka>^_^<


__ADS_2