Youre My Family?

Youre My Family?
Tiga puluh Satu


__ADS_3

Juna pov


Gue memandang pria paruh baya bernama Bimo itu. Entah kenapa dia natap Gue dan Rio. Bukan tatapan biasa, tatapan itu seperti tatapan rindu?


Ada apa ini, kenapa perasaan ini ada. seakan Gue menemukan apa yang selama ini Gue cari dan pertanyakan.


Namun, kenapa perasaan ini tertuju padanya. Sebenarnya Gue kenapa?


Bukan hanya itu, tatapannya saat melihat Mommy dan Kakek pun berbeda. Seperti seseorang yang sudah kenal, apalagi kalimat pertama yang keluar adalah 'Papa'.


Sebenarnya ada hubungan apa antara pria itu dengan Mommy dan Kakek. Apa dia adalah mantan Suami Mommy? atau bisa disebut Ayah Gue? tapi kenapa dia juga Ayah Val.


Hubungan macam apa ini?


Kenapa semua sangat membingungkan. Perkataannya, tanggapan Kakek membuat semua seolah-olah memperkuat dugaanku.


Gue terus menatap ke depan meneliti setiap sudut wajahnya sesekali mengalihkan pandangan agar tidak ketahuan.


Entah kenapa semakin dilihat membuat hati ini nyeri.


Ada apa sama Gue?

__ADS_1


****


Sampai di dalam ruang operasi. Siska diminta berbaring di samping Val yang hanya terhalang tirai.


"Mari Bu, berbaring!!" Siska pun menurut.


"Dok, sebenarnya saya ingin Dokter melakukan sesuatu. Tolong ambil juga sampel darah saya dan dia untuk melakukan test DNA. Bisa kan?" pinta Siska.


"Baik Bu, maaf saya akan pasang selang tranfusinya." Siska hanya mampu meringis kecil ketika jarum itu menembus kulit lengannya.


Berbeda dengan keadaan di dalam, kondisi di luar cukup hening dan canggung. Antara Ax, Rio, dan Juna hanya diam menunggu dan sibuk dengan pikirannya masing-masing, lain antara Darma dan Bimo yang sesekali terlihat saling tatap. Seolah ada yang ingin dibicarakan


"Bim bisa bicara sebentar?" tanya Darma memecahkan keheningan membuat ketiga pemuda itu mengalihkan perhatian.


Mereka berdua melangkah menjauhi ketiga pemuda itu. Juna menatap dengan bingung dan Rio yang menatap dengan pandangan sulit diartikan. Hanya Ax yang menatap tak perduli yang dipentingkan saat ini adalah kondisi Val baik-baik saja.


Itulah kabar yang ingin Ax dengar dari Dokter. Mungkin Ax tidak akan sanggup jika harus mendengar kabar buruk apalagi itu tentang Val.


"Kira-kira apa yang sebenarnya akan Kakek bicarakan dengan pria itu?" Celetuk Juna tiba-tiba. Rio menoleh pada Juna.


"Mana Gue tau." Rio hanya mengedikan bahunya bersamaan dengan itu sang Mommy keluar dari ruang operasi dengan wajah pucat pasi karena telah melakukan transfusi.

__ADS_1


"Mommy, tidak apa apa kan?" tanya khawatir Rio sembari berjalan menghampiri Siska dan menuntunnya.


"Tidak apa-apa, mommy hanya lemas saja," jawab Siska seraya perlahan duduk di samping Juna.


"Ya, sudah Mommy istirahat dulu," Ucap Juna sambil meyandarkan kepala Mommy di bahunya sedangkan Siska hanya menurut karena memang ia masih lemas sekali.


Rio dan Ax mulai bercengkrama dengan Jessi yang tadi datang bersamaan dengan Siska keluar dari ruang operasi.


"Gimana keadaan, Val?" tanya khawatir Jessi.


"Belum tahu, Dokternya belum keluar."


Jawaban Rio membuat Jessi semakin cemas. Jantungnya berdegup dengan kencang. Ia sangat takut hal buruk menimpa sahabatnya.


Val adalah sahabat satu-satunya. Hanya Val yang tulus selalu bersamanya selama ini. Jessi memang banyak teman, tapi hanya sebatas teman sekelas atau bahkan hanya sekedar mengenal.


Hanya Val yang menerima segala kecerewetannya. Hanya Val yang menerima dirinya apa adanya tanpa berkomentar sedikit pun.


Hanya Val yang ia punya!


semoga suka>^_^<

__ADS_1


Part baru alias di versi ******* tidak ada😱


__ADS_2