“Istri Lugu Presiden Han”

“Istri Lugu Presiden Han”
Chapter 10 : Internasional Jeju


__ADS_3

Udara daerah Jeju terasa begitu menyejukkan ketika pertama kali meninggalkan bandara ‘internasional Jeju’ 


Lisa, Heejin dan Yoona, ketiganya menyeret koper masing-masing sambil menjalan meninggalkan bandara, jam sudah menunjukkan pukul 5 sore.


Karena Yoona yang melakukan pertemuannya begitu lama belum lagi tiba-tiba Heejin yang meminta ikut membuat ketiganya memesan penerbangan sore hari, awalnya Yoona ingin menunda lagi keberangkatan menjadi besok tapi saat Heejin memutuskan untuk ikut entah kenapa Yoona begitu senang sampai setelah kembali langsung bergegas menuju bandara.


Wajah bahagia sangat terlihat jelas ketika Yoona menatap kedua putri, walau Heejin mengatakan terang-terang membenci dirinya tapi Yoona masih bisa bersyukur Heejin tidak menunjukkan jika dirinya tidak menyukai Lisa, walau sikapnya sangat dingin tapi dia masih mau menganggap Lisa adiknya.


Ketiganya menunggu mobil yang sudah pesan Yoona, dengan barang yang tidak terlalu banyak karena memang berencana hanya tiga hari disana.


“Mom, apa masih lama?” tanya Lisa, dia ingin sekali melihat matahari terbenam sekarang namun mobil jemputan begitu lama hingga memakan waktu yang begitu lama.


“Mom, tidak tahu Lisa, Mom sudah menghubungi mereka tapi tidak ada respon”


Heejin hanya bisa menghela nafas, dengan kacamata hitam dia menatap bandara yang tampak sepi mengingat ini sudah sore, dengan pakaian yang serba pendek membuat Heejin cukup menarik perhatian orang sekitar, hanya dengan menaiki sedikit dagu sisi kecantikkan itu begitu terpancarkan di setiap gerakkan sederhana entah itu menaiki kacamata atau hanya melirik. 


Lain berbeda Lisa, gadis lugu itu benar-benar memancarkan kepolosannya hanya dengan tatapannya yang selalu kosong, dia lebih banyak memainkan kedua jarinya daripada memperhatikan area bandara, Lisa hanya sibuk dengan dunianya dan rencana yang selalu disimpan dalam ‘note Dairy’, menjadi satu benda wajib dibawa kemanapun.


Menjelang malam barulah mereka bisa menggunakan mobil travel yang Yoona pesan, memang tidak ada yang marah dengan keterlambatan mobil travel tapi semua menjadi lebih rumit ketika Heejin tidak mau duduk bersama dengan Yoona atau Lisa dalam mobil yang sama.


Yoona tak marah, dengan sabar sang ibu memesankan taksi khusus untuk Heejin. 


“Mom, kenapa eonnie tidak mau bersama kita? Padahal dikursi belakang kosong” ucap Lisa, seperti biasa rasa penasaran dirinya lebih tinggi terhadap suatu kejadian secara langsung. Dia akan bertanya pada siapapun dan akan terus mencari sampai dirinya mengerti.


“mobil ini tidak muat jika Heejin ikut dengan kita, lihat saja koper kita terlalu banyak” ucap sang ibu, dia usianya yang sudah melebihi 35 tahun Yoona masih sangat cantik dan pandai dalam segala hal. Dia bisa menjadi seorang ayah untuk kedua putri, lalu seorang pekerja keras untuk karyawannya dan menjadi ibu sekaligus sahabat untuk dua putri tercintanya.


Setelah lebih satu jam perjalanan, akhirnya rasa lelah dan penatnya perjalanan tergantikan oleh sebuah pemandangan laut dari pulau Jeju, udara khas pulau jeju begitu menyambut ketika tiga wanita itu turun dari mobil.

__ADS_1


Pemandangan yang cara dilihat ketika malam hari adalah suara gembolang dari ombak yang terus menghantamkan dirinya pada bebatuan di pesisir pantai.


Belum angin dan semua yang didominasi oleh warna biru gelap.


Yoona memang sengaja memesan hotel dekat dengan pantai Jeju karena satu alasan Heejin begitu menyukai suasana seperti.


“ayo kita masuk” ucap sang ibu, dia menarik kedua putri untuk masuk kedalam.


*********


Han memilih untuk terbang ke pulau Jeju pada pukul 1 dini hari, dia tidak tahu jika pertemuan hari ini begitu banyak hingga rasanya tubuhnya terlalu lelah berpengian.


Di Dalam pesawat dirinya terus saja dibuat lelah dengan sang ayah yang tidak suka jika Han berpergian tanpa menginformasikan pada dirinya dulu apalagi jika kepergian Han untuk menghadiri pernikahan seseorang atau teman lamanya.


Dia itu hanya mengabaikan ponselnya yang terus bergetar di balik jas birunya, dia terlalu pusing untuk menghadapi sang ayah apalagi menjelaskan semuanya.


Padahal jika dihitung dari usia Han saat ini tidaklah pantas seorang ayah memperlakukan putranya seperti itu, apalagi Han pemegang Grup Kang yang akan lebih banyak melakukan perjalanan bisnis keluar negeri, belum lagi tekanan untuk menikah membuat Han bisa menjadi pasien rumah sakit jika ini terus terjadi.


“Noona, kamu sudah memesankan kamar untukku?”


“Oh, kau meletakkan semua di dalam koperku, apakah aku mengganggumu?”


Bagaimana tidak mengganggu? Han menghubungi Keira pukul 1 dini hari hanya menanyakan hal itu? 


“baiklah! Aku minta maaf, selama dua hari kau tidak akan melihatku dan diganggu olehku, jadi ini yang terakhir, selamat tidur Noona”


Han melipat ponselnya dan kembali menaruhnya di dalam jasnya, dia menatap keluar jendela yang hanya ada pemandangan awan di malam harinya.

__ADS_1


“sudah berapa lama aku tidak kesini?” 


Han menghela nafas, terakhir dia kesini sebelum sang ibu meninggalkan dan kekasihnya meninggalkannya, sebuah pulau penuh dengan kenangan manis tapi bisa menjadi sebuah pil pahit yang kini Han rasakan, bukan sebuah trauma tapi lebih dimana Han tidak mengingatnya.


‘i miss--’ 


Setelah itu hanya terdengar dengkuran kecil darinya, dia tertidur setelah memikirkan betapa indahnya kenangan itu dan betapa perihnya mengingat semua itu secara langsung.


Dua jam berlalu ….


Beristirahat selama perjalanan mampu mengusir lelah selama dirinya bekerja, Han melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 3 pagi. 


“upacara pernikahan akan berlangsung beberapa jam, haruskah aku membeli pakaian? Atau sebuah kado mungkin?” tanyanya, Han sedang bertanya pada dirinya sendiri ketika dirinya sedang lama perjalanan menuju hotel yang dekat dengan pulau Jeju dan pernikahan Yeri.


Dia terus berpikir hingga sebuah ide melintas dalam pikirannya “benar! Menghubungi Noona---tidak! Aku sudah berjanji tidak akan mengganggunya”


Dia kembali meletakkan tangannya di keningnya, memikirkan hal yang tidak penting untuk menentukan apa dirinya akan memilih membeli pakaian atau mengutamakan akan memberikan kado apa.


“Tuan jika aku boleh memberi saran, ada baiknya jika ada memilih membeli kado untuk teman anda” ucap sang supir, sebenarnya dirinya sedikit merasa risih dengan penumpangnya yang berbicara sendiri, jadi dia memutuskan membantunya.


“terimakasih pak supir, tapi aku memilih membeli pakaian untukku”


Itulah sifat menyebalkan Han lainnya, dia memang sering melakukan itu tapi ketika orang lain ingin memberikan saran dia akan memutuskan yang berbeda.


“aku akan mampir ke Mall dulu”


“maaf Tuan, tapi ini terlalu pagi jika anda ingin berkunjung ke Mall”

__ADS_1


Mulut Han melebar sempurna, bagaimana dirinya bisa begitu bodoh melupakan fakta jika ini masih pagi, dengan malu dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“anda benar, kita langsung hotel” ucap Han, hanya karena dirinya terbiasa melakukan perjalanan di siang hari dia melupakan kenyataan kali ini.


__ADS_2