“Istri Lugu Presiden Han”

“Istri Lugu Presiden Han”
Chapter 32 - Scene


__ADS_3

Pikiran rumit mengganggu suasana hati Lisa, ada tanda tanya besar saat dia melihat seorang wanita dengan dua anak yang mendatangi Villa mereka, dan bahkan Han tidak memberikan kabar apapun, pria itu hilang ditelan bumi. 


Belum lagi kesalahpahaman Lisa tentang kejadian beberapa hari yang lalu, membuat dirinya berspekulasi jika Han mungkin saja memiliki wanita lain, salah satu racun yang diajarkan oleh mina sahabatnya. 


Dia masih mengenakan seragam sekolah saat melewati ruang tamu, dia ragu untuk mendekati wanita itu, apalagi mengajukan pertanyaan. Bisa saja disini hanya Lisa yang berlalu sebagai orang asing. 


“kau sudah kembali.” ucap Keira, wanita itu sibuk membantu kedua anaknya yang sedang mengerjakan tugas sekolah, mereka sangat lucu dan menggemaskan.


Lisa menghentikan langkahnya saat akan menaiki anak tangga, dia tidak tahu harus mengatakan apa tapi Lisa merasa wanita itu sedang membangun hubungan dengannya. “Ya, aku harus menyelesaikan tugasku”


“kau ingin makan malam?”


Lisa menggeleng, dia memasang wajah cuek pada wanita itu, seakan membangun batasan jika dia tidak tertarik padanya. Dengan cepat melangkah masuk kedalam kamarnya dan mengeluarkan ponselnya. 


Dia mencoba menghubungi Han beberapa kali, namun yang dia dapatkan hanya sebuah panggilan tak terjawab, padahal pria itu tidak mengabaikan panggilannya dan selalu berkata jika ada sesuatu jangan sungkan untuk menghubunginya, tapi sekarang dia bahkan berbohong.


“aku tidak peduli!” Lisa menyerah, dia membuang ponsel pemberian Han ke sembarang arah, menjatuhkan tubuhnya diranjang dan sambil menahan amarahnya. 


Keira mendatangi kamar Lisa, setelah suami menjemput anak mereka barulah Keira akan menjelaskan semuanya, bisa Keira pastikan jika.gadis itu salah paham dengan kehadiran, belum lagi dirinya membawa anaknya kesini. 


Dia membuka pintu kamar yang tidak tertutup, terlihat Lisa yang sedang mengerjakan tugasnya di meja belajarnya, entah kenapa Keira mengerti bagaimana khawatirnya Han saat memikirkan gadis itu, dia memang harus dijaga dan selalu menjadi penenang untuk Han.


“aku membuatkan makan malam, apakah kau tidak lapar?” ucap Keira, wanita itu berdiri diambang pintu masuk, dia berbicara seperti Lisa adalah adiknya.


“aku tidak lapar.” ucap Lisa datar, dia tidak menolak apalagi menghargai kehadiran wanita itu.


“bolehkan aku meminta waktu lima menit? Kita bisa berbicara diluar.” ucap Keira lagi.


Lisa terdiam, dia melepaskan pulpen dan segera mengarah ke wanita itu, “hanya lima menit.”


Keira mengangguk, dia tersenyum sebelum meninggalkan kamar gadis itu, menuntunnya untuk mengikuti tempat yang baik untuk mengobrol, dan pilihan adalah meja makan. Karena biasanya wanita akan akrab dengan hal yang mereka sukai entah itu makan manis atau sesuatu barang yang suatu kesukaan mereka.


Lisa duduk manis di meja makan, dia menerima sup ayam kalbu buatan wanita itu yang memiliki aroma yang sangat menggoda selera makannya. 


Sebelum memulai Keira menghela nafas dahulu, “mungkin kamu salah paham dengan kehadiranku disini, jika bukan perintah Tuan Han mungkin aku akan lebih memilih menghabiskan waktu dengan suamiku. Aku adalah sekretaris Tuan Han, aku sudah bekerja dengannya selama 5 tahun, namaku Keira” 


Lisa merasa bersalah, dia menunduk sedikit pandangannya, pemikiran terlalu sempit dan terlalu terburu-buru, mungkin sekarang Lisa harus berhenti bertanya apapun tentang kehidupannya pada Mina. “maaf”


“tidak perlu, di kantor mereka sering seperti itu denganku, itu hal wajar. mengingat Han begitu denganku, bahkan sudah menganggapku seperti kakaknya”


“apa Han tidak akan pulang hari ini?” Tanya Lisa, dia ingin tahu apa alasan wanita itu berada disini, mungkinkah terjadi sesuatu pada Han? Atau pria itu kembali sibuk menjalani bisnis di luar negeri seperti beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


“Han, pria itu sedang menghadapi masalah tapi dia pintar dalam menyelesaikannya sendiri, jadi kamu hanya harus percaya padanya.” dalam hati Keira, pria menyebalkan itu harus membayar segalanya dengan baik. 


“makanlah, sup bisa dingin jika terus diabaikan, aku hanya akan menemanimu disini tapi tidak bisa sampai besok, aku seorang ibu yang memiliki anak yang membutuhkanku”


Lisa mengangguk, dia mengambil sendok dan mulai memakannya, dia merasa jika selama ini dirinya belum bisa percaya apapun, bahkan pada Han. Padahal apapun yang Lisa inginkan selalu Han berikan tanpa bertanya, tapi dirinya malah terus menganggap Han sebagai orang asing yang hanya meminta bantuan pada dirinya, lalu setelah itu berpisah tanpa tahu akan bertemu lagi.


********


Suasana rumah sakit masih menegangkan, operasi berlangsung begitu lama, belum lagi Han terus memikirkan besok dirinya harus menghadiri acara pembukaan untuk kerjasama mereka.


Dan apalagi besok Lisa akan mulai mengikuti ujian di sekolahnya, seharusnya Han adalah orang pertama yang membantunya dan memberikan semangat, tapi rasanya akan terus rumit jika Han mengabaikan kondisi sang adik. 


Berdiri selama 2 jam, lalu melewati makan siang dan malam, setidaknya Han harus mengistirahatkan tubuh sejenak, mengisi tenaga walau hanya meminum segelas air mineral dan sebungkus roti. 


Ponselnya terus berdering setiap 15 menit dalam sekali, entah itu panggilan dari sang ayah atau Lisa dan mungkin beberapa panggilan dari rekan kerjanya. 


Lampu operasi telah berubah menjadi hijau, Han segera mendekati pintu ruang UGD sebelum dokter menghampirinya, dia sedikit merasa lega namun itu tidak mengurangi rasa takutnya. “bagaimana dok?”


“selamat Tuan, adik anda melewati masa kritisnya, alergi dalam tubuhnya terus memberikan reaksi baik, dan sekarang hanya butuh istirahat sampai 12 jam” ucap sang dokter.


Dari cela pintu yang terbuka Han melihat wajah sang adik yang masih menggunakan selang udara, tapi statistik jantungnya bergerak dengan baik, pembuat Han bisa membuang nafas lega dan bahkan dia ingin sekali meneteskan air mata.


“terimakasih dok”


Dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Keira untuk bertanya keadaan Lisa. Tapi Han malah menekan nomor Lisa dan tak sampai lima.detik berlalu panggilan itu langsung diangkat oleh gadis itu.


Lisa : “Oppa?” 


Suara Lisa seperti angin sejuk di malam hari, membuat Han sedikit merasa kehangatan dari suara itu. 


“kau belum tidur?” Han berkata dengan nada suara yang sedikit rendah, seakan obrolan ini sudah lama tidak dia lakukan, apalagi Han seperti merindukan sosok Lisa yang sudah lama tidak ditemui.


Lisa : “aku sedang belajar, oppa kapan kembali?” 


“saat membuka matamu keesokan harinya kau akan melihat wajahku”


Lisa : “apa masalah oppa begitu berat?” 


“mungkin, tapi sekarang sudah tidak” jawab Han, mendengarkan Lisa benar-benar obat yang baik untuk kondisinya saat ini.


Lisa : “boleh aku mengatakan sesuatu?”

__ADS_1


“hm, katakanlah”


Lisa : “oppa, apapun yang terjadi aku akan mendukungmu, maaf jika aku belum bisa menjadi sosok yang baik untukmu, tapi suatu hari aku ingin bisa sepandang denganmu dan yakin jika aku layak berdiri disampingmu”


Han tersenyum, itu hal manis yang belum pernah dia dengar sejak bertemu dengan gadis itu, sepertinya Han salah telah melukai gadis itu sangat bertemu dengannya dan belum lagi ancaman yang Han keluarkan saat pertemuan keluarga.


“terimakasih, tidurlah Lisa. Sudah cukup belajarnya sampai disini, kau menjaga kesehatanmu” 


Lisa : “bagaimana dengan oppa? Apakah oppa juga beristirahat dengan baik?”


“hm--, sangat baik, aku akan menutup panggilan ini. Selamat malam Lisa”


Han menutup panggilan itu setelah Lisa mengucapkan selamat malam juga, dia harus mengurus Sean untuk selama beberapa hari kedepan entah itu administrasi rawatnya dan juga Han harus meluangkan waktu untuk terus memantau perkembangan adiknya, tentu juga menyiapkan psikiater untuk membantu adiknya.


Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari, Han dalam perjalanan pulang kerumah, dia hanya pulang untuk menepati janji pada Lisa, setelah gadis itu berangkat Han harus kembali ke rumah sakit.


Sesampainya dirumah Han, pria itu mengganti pakaiannya dan hanya memakai kaos hitam dan celana pendek, dia tidur disamping Lisa sambil memeluk tubuh gadis itu. 


Han sangat menyukai aroma tubuh Lisa yang sangat membuat jiwa dan pikirannya tenang, hanya butuh lima menit Han sudah tertidur lelap menyusul Lisa yang sudah menyebrang alam mimpi.


Keesokan paginya.


Suara alarm membangunkan Lisa yang terusik dengan suaranya, dia mematikan alarm itu dengan susah payah karena takut mengganggu diri Han, tentu saja dia terkejut ternyata Han tidak pernah mengingkari janjinya dan sekarang Lisa bisa melihat dirinya.


Han tidur seperti bayi besar, sangat lucu dan betapa menggemaskan dirinya, tidak Lisa tidak mengkhawatirkan Han yang mungkin saja baru tidur mungkin dia sudah mengusap wajah itu.


Lisa turun dengan hati-hati, dia menutup jendela agar tidak mengganggu tidur Han, kemudian dia ingin melakukan sedikit hal yang mungkin terkesan mengganggu Han. Dia mendekati Han dan mencium kening pria itu. 


Namun? Dia malah dikejutkan dengan han yang menarik dirinya sampai kembali terbaring diranjang.


“jadi ini hal yang kamu lakukan ketika aku tidur?” tanya Han, pria itu berada diatas tubuh Lisa dengan wajah yang sedikit masih mengantuk.


“Tidak, aku--aku hanya--,” Lisa malu, dia bahkan tidak sanggup untuk menatap pria itu. 


Han terlalu gemas dan ingin sekali menggigit hidung itu, dengan cepat Han mencium bibir Lisa dan sedikit bermain disana. 


“hmph!! Oppa--,” Lisa mendorong jauh, dia tidak bisa terlambat jika Han seperti ini, belum lagi Han begitu manis. Tanpa Lisa sadari jantungnya berdetak sangat cepat sampai membuatnya gugup.


“jika seperti ini aku tidak bisa menahan lagi Lisa” ucap Han, tidak tahu hal apa yang membuat dirinya tidak bisa berbohong untuk tidak ingin segera memiliki Lisa seutuhnya, semakin hari semakin banyak godaan yang harus ditahan.


“aku harus sekolah” 

__ADS_1


Han mengangguk, dia melepaskan Lisa karena memang dia juga harus segera pergi ke rumah sakit, dan juga harus ke kantor, dia menjadi pria yang sibuk untuk berpindah-pindah dalam satu hari.


__ADS_2