
Disebuah universitas besar di pusat kota, hanya orang-orang yang memiliki kecerdasan dan prestasi yang mampu masuk ke Universitas itu. Siapa yang tidak tahu 'Universitas Seoul' tempat dimana semua siswa SMA ingin mengejar impiannya dan membanggakan orangtuanya, bukan hanya itu Universitas Seoul ini memiliki beasiswa yang bisa membiaya siswa sampai S3 jika masuk dalam seleksinya siswa terbaik. Dan tentu saja ada asrama untuk siswa yang tinggal jauh diluar Seoul.
Salah satu Universitas yang ingin Lisa pilih.
“kau datang terlambat?” tanya salah satu teman bangkunya, dia menatap kearah pria yang memakai kemeja kotak.
“seperti biasa aku mengikutinya” jawabnya, dia melepaskan ranselnya dan mengeluarkan laptop sebelum jam kuliah akan dimulai.
“kau bersungguh ingin mendekati?”
“aku sudah memutuskan, tidak ada jalan selain melanjutkannya”
Teman bangkunya terdiam, dia tahu jika pria disampingnya begitu ambisius dalam mengambil keputusan, apalagi itu menyangkut hal yang dia simpan sejak lama, bahkan saat dia masih memakai seragam SMP.
“kau tidak takut malah salah langkah?”
Pria berkemeja kontak tersenyum tapi lebih tapatnya meringaikan ucapan itu, dia sudah sejauh ini untuk mengetahui segalanya dan bagaimana bisa dia salah langkah, bahkan itu terlihat mudah dari yng sebelumnya dia perkirakan sulit.
“tidak, sudahlah kau terlalu ikut campur dengan urusanku!”
Dosen masuk setelah para mahasiswa memenuhi ruangan ini, dan selanjutnya kelas dimulai.
********
Menikmati sekotak susu coklat di bangku taman sekolah adalah hal yang menyenangkan untuk Lisa dan Mina, istirahat setelah mengejar materi menghadapi ujian bukanlah hal yang mudah, apalagi tujuan keduanya adalah Universitas Seoul. Tentu banyak sekali saingan dan juga banyak yang mungkin lebih hebat dari keduanya.
“Lisa, bagaimana kemarin? Apakah Ajusshi itu melakukan sesuatu padamu?” tanya Mina, yang dimaksud adalah Han tapi dia merasa terlalu tua untuk dipanggil ‘Oppa’ apalagi usianya sudah 33 tahun.
“Ajusshi? Dia tidak setua itu Mina!”
Mina menatap kearah Lisa, sejak kapan gadis itu membela pria itu. Atau memang benar telah terjadi sesuatu kemarin?
“ayolah Lisa, usiamu 17 tahun dan dia 33 tahun. Umur kalian terpaut 16 tahun! Dan kau bilang dia setua itu? Kau ini kenapa? Apa kau menyukainya”
Lisa tersedak sampai menumpahkan susu diroknya, dia menatap kearah mina dengan kesal padahal gadis itu tidak melakukan apapun. “kau gila? Itu tidak akan terjadi!”
Lisa mengibaskan roknya dan membersihkannya dengan tisu yang Mina berikan, dia terdiam. Dia memikirkan pria meminjam kemeja kotaknya, secara tidak sengaja dirinya sudah bertemu dengannya 2 kali, tapi sedikit aneh karena pria itu seakan sudah mengenal lama dirinya.
Ingatkah? Saat dia menarik tangan Lisa diperpustakaan dan memaksanya di motor tadi? Han bahkan tidak pernah melakukan itu selembut dirinya walau ucapan terdengar keras.
“kenapa? Ada suatu?” Mina ikut berdiri, dia memperhatikan gadis itu selama 1 menit terdiam. “Lisa?”
Lisa menarap kearah Mina, dia ingin menceritakan segala terjadi beberapa hari ini tapi Lisa sudah terlanjut berjanji dengan Ibu untuk tidak seperti dirinya dulu, karena Lisa sudah harus menjadi mandiri dan gadis yang bisa menyelesaikan masalah sendiri.
“Mina, hari ini kau ikut ujian di Universitas Seoul?” tanya Lisa, hari ini pembukaan pendaftaran di Universitas Seoul untuk yang ingin masuk kesana melalui jalur tes dan nilai.
“aku--” Mina bingung, sebenarnya dia memiliki janji dengan Yeon, pria yang kemarin mengajaknya berdansa, Idol-nya mengajaknya kencan. “memiliki janji setelah pulang sekolah”
Lisa menghela nafas, dia tidak berpikir akan berangkat kesana sendirian, dia tidak mengenal siapapun dan bagaimana nanti jika dia tidak tahu apapun? Sulit untuk beradaptasi ditempat yang mungkin terasa asing bagi Lisa, apalagi ini merupakan ujian awal tentu saja banyak dari sekolah lain yang akan kesana.
“baiklah, aku akan pergi sendiri” ucap Lisa sambil menunjukan senyumannya dan menatap kearah Mina tanpa rasa kecewa.
“kamu tidak marah?” Mina merasa bersalah, padahal mereka sudah berencana sebelum Mina dekat dengan pria itu, tapi kali ini begitu egois atau mungkin dia tidak ingin mengabaikan permintaan Idol-nya.
“tidak, aku mengerti Mina. Kamu bisa pergi, tapi ingat kita harus masuk bersama di Universitas Seoul”
Mina jujur jika dirinya tidak perlu melakukan ujian seperti Lisa, karena tanpa melakukan itu Mina sudah bisa masuk kesana karena bantuan ayahnya, Ayah Mina adalah investor di universitas disana dan sekaligus yang membantu disetiap ada acara lelang disana. Entahlag mungkin terdengar Mina terlalu mengikuti keinginan ayahnya atau dirinya tidak bisa mengikuti pendiriannya, tapi Mina hanya ingin menjadi gadis yang selalu ayahnya banggakan.
“kita pasti akan bertemu disana Lisa, aku yakin itu”
Lisa mengandeng tangan Mina, membawa dirinya kembalu kelas setelah bel berdering menandankan bahwa istirahat telah berakhir.
__ADS_1
“hari ini tidak ada pelajaran tambahan?” tanya Lisa.
Mina terdiam beberapa detik, mengingat apakah tidak ada jadwal pelajaran tambahan setelah pulang sekolah “tidak ada Lisa”
Waktu berjalan terus, detik berganti jam dan siang bertukar dengan waktu sore hari. Detik-detik menjelang waktu pulang adalah hal yang menyenangkan, mendengarkan suara bel berdering dan sorakkan senang merupakan kenangan yang indah. Apalagi di jam terarkhir adalah pelajaran yang cukup membosankan.
Lisa menganti rok dengan celana training dibawa, memakai sweater udara disore terkadang begitu dingin, karena musim semi akan mengantikan musim panas.
Menunggu setelah berpisah dengan Mina di halte bus untuk tujuan ‘Universitas Seoul’. Lisa merasa sedikit gugup dan takut jika hal sudah dia pelajarin ternyata lebih sulit dari yang dia perkirakan, belum lagi kali dia benar-benar melangkah sendiri kesana dan tanpa menunggu dukungan sang Ibu.
Ingin sekali Lisa menghubungi Ibu, nanyakan kabarnya walau belum berpisah selama satu minggu dan mengatakan jika hari ini dia telah melewati batas zona dimana Lisa mandiri.
Lisa mengeluarkan ponselnya, dia memberitahu pada Han jika mungkin pulang malam dan tidak bisa menyiapkan makan malam untuk mereka, namun bukankah Lisa tidak biaa memasak? Lagipula apakah Han akan membaca pesan tapi tetap dia mengirimkan pesan itu pada Han.
Tak lama bus berhenti disana, dia melangkah dan kartu untuk membayar. Beruntung karena bus terlalu ramai dan Lisa bisa mambaca materi selama perjalanan.
Lima belas menit, Lisa berhenti didepan sebuah gedung yang lebih luas dari sekolahnya, bahkan lebih banyak sekali hal yang ingin Lisa ketahui disini, ketertarikannya pada dunia disainer dan merancang adalah hal yang ingin dia pelajari disini.
Mungkin semenjak melihat gaun itu, Lisa merubah keinginannya.
‘mari kita mencoba’ Lisa menarik ranselnya dan mencoba menyakini jika dia bisa melalui semuanya dengan baik, walau langkah kali ini hanya dirinya sebagai menopang semangatnya.
Diruang aula banyak sekali seragam sekolah lain yang menghiasi ruangan ini, masing-masing dari mereka pergi bersama dengan kelompoknya dan ada yang sama seperti Lisa, sendirian. Didepan meja dan kursi ada beberapa orang dan salah satu pria yang Lisa kenali?
Lisa mengedipkan matanya beberapa kali, dia hanya melihat sekilas kearah depan karena banyak sekali orang dan tentu saja tinggi badan yang tidak sama membuat Lisa kesulitan memastikan apakah itu benar pria itu atau bukan.
“semuanya harap tenang dan tolong duduk sesuai nomor peserta” ucap salah satu mahasiswa yang ada didepan, mereka mengunakan almater Universitas Seoul.
Hanya dalam hitungan 3 menit, semua peserta yang berpartisipasi duduk rapi dan tak mengeluarkan suara sesuai intruksi, dan disinilah tatapan Lisa bertemu dengan pria itu tanpa sengaja. Bahkan pria itu menyadari jika Lisa tanpa malu saat dia menatap kearahnya, bagaimana tidak nomor peserta Lisa berada diurutan atas.
“aku harap dia tidak melihatku” Lisa menutupi wajahnya dengan buku ditangannya, dia tidak ingin membuat keributan apapun disana. Sebisa mungkin dia tidak ingin menbuat pria itu menyadari kehadirannya, dia terpaksa mengeluarkan kacamata dan mengikat rambutnya, membuat dirinya menjadi orang lain.
“selamat datang di Universitas kami, buat kalian semua yang akan mengikuti ujian hari ini, aku harap kalian mendapatkan hasil yang terbaik”
‘semangat Lisa! Kamu pasti bisa!’ Lisa mengambil pensil dengan penuh keyakinan dan memulai membuka lembaran ujian.
Ujian kali ini memakan hingga 2 jam, jadi perkiraan akan selesai pukul 7 malam, dan itulah kenapa Lisa memberitahu Han jika dia akan pulang lebih lama. Dia juga berharap Han akan pulang lebih lama darinya.
Waktu terus berjalan, dengan semangat yang masih Lisa pertahankan dalam satu dalam dia sudah menyelesaikan 125 soal dan sisanya waktu yang ada akan dia gunakan untuk benarcnenar menargetkan jika jurusannya adalah disainer atau merancang.
Dari kejauhan tempat Lisa duduk, seseorang terus memperhatikan dirinya tanpa mengalihkan pandangan, jika Lisa bisa fokus mengerjakan ujiannya maka tidak salah jika pria itu juga terlalu fokus memperhatikan dirinya.
“Jungwon? Apakah kau tidak lelah menatapnya terus?”
Pria yang memakai kemeja kotak atau ‘Cho Jungwon’ hanya diam, dia tidak merespon ucapan temannya. Mungkin lebih mengabaikan ucapan itu, sekarang dia bertemu gadis itu lagi dan sekarang dirinya ingin lebih mengenalnya, mungkin.
“kau ingin tahu namanya? Kebetulan dia duduk didaftar peserta kertasku” ucap temannya lagi.
Jungwon menatap kearah temannya sekilas, kemudian menatap lagi kearah gadis itu “tidak! Sebentar lagi dia sendiri yang akan menyebutkan namanya”
“baiklah waktu tinggal 10 menit, bagi yang sudah selesai. Tinggalkan kertas dimeja dan segera meninggalkan ruangan ini” ucap Jungwon. Dan teman-temannya yang ikut dalam membantu melihat kearahnya.
Dan Lisa panik, diluar dugaan banyak sekali peserta yang sudah menyelesaikan ujian dan satu persatu mulai meninggalkan ruang aula itu, Lisa pikir dirinya juga semaksimal mungkin untuk cepat tapi sekarang dia mulai gugup dan yidak fokus mengejarkannya.
Jika dihiting didalam ruangan mungkin hanya tertinggal 20 - 30 orang. Lisa memejamkan matanya dan berkata dalam hatinya ‘fokus, jangan sampai mengacaukan dirimu’
“untuk kalian yang belum menyelesaikan, tolong jangan panik dan tetap fokus” ucap Jungwon lagi.
Lisa mengangkat kepalanya, tatapannya bertemu dengan pria itu, dia tidak mengerti tapi diluar dugaan pria itu mengangkat tangannya seperti memberikan semangat pada Lisa.
Lisa kembali menatap kertas ujian, dia tersenyum. Seketika rasa gugup dan takut menghilang, dan hingga detik-detik terakhir sebelum selesai fokus kembali.
__ADS_1
“terimakasih untuk kalian yang sidah mengikuti ujian dengan baik, harapan kami semoga kalian bisa mendapatkan hal yang kalian inginkan. Sampai jumpa” ucap salah satu mahasiswa.
Lisa melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 7.30 malam, haruskan dia meminta Han menjemputnya?
Lisa berjalan meninggalkan aula sambil menatap ponselnya, kebiasaan yang masih sulit dia alihkan, benar saja dia kembali menabrak tubuh seseorang. Dan licinnya lantai hampir membuatnya jatuh jika tidak seseorang memeluk tubuhnya.
“jika seperti ini terus kau bisa terluka Nona”
Lisa menatap kearah pria itu, bagaimana moment seperti selalu saja pria itu yang ada dihadapannya, bukankah terlalu aneh dan Lisa tidak bisa bohonh jika dia takut berdekatan dengannya.
“Ak--bisakah kamu melepaskanku?”
Jungwon segera melepaskan, dia mengulurkan tangan kearah Lisa “aku Cho Jungwon. Jurusan manager semester 6”
Lisa tidak mengulurkan tangannya sebaliknya dia menundukkan tubuhnya dan berkata dengan sopan “aku Kan--Park Ji Lisa”
Lisa hampir saja mengucapkan marga milik Han, padahal dalam perjanjian tidak boleh mengatakan jika dirinya sudah menikah dan hanya didepan keluarga Han saja dia boleh mengakuinya.
Jungwon mengaruk kepalanya, baru kali ini dia merasa terabaikan oleh seseorang seperti Lisa, “kau ingin pulang?”
“Ah--? Tentu saja, seseorang sudah menungguku”
Jungwon menatap bingung, alisnya terangkat tanpa sadar.
“seseorang?”
“i-itu--? Tentu saja ibuku dan keluargaku” Lisa tertawa samar, dia merasa canggung terus salah.
“apakah ka---,”
Ponsel Lisa berdering, dia menunduk dan segera berlari meninggalkan lorong universitas. Dia takut pria itu melihat jika nama yang tertulis di ponselnya, karena Lisa menulisnya dengan kalimat ‘suami kontrak’.
“Ya, Oppa?”
Lisa menjawab seperti sedang melakukan lari maraton.
“baiklah, aku akan segera kesana”
Lisa pikir dirinya mungkin akan kembali dengan taksi, padahal dia mengirim pesan tidak sungguh-sungguh tapi Han benar menjemputnya?
Lisa berlarian keluar universitas, dia mendekati Han dengan nafas yang tek beraturan dan bahkan dia sesikit kelelahan.
“kenapa berlari?”
“buk-an-apa-apa” Lisa mengatur nafas agar stabil “bisakah aku langsung masuk?”
Han membukakan pintu dan segera memasuk.
“bagaimana dengan ujiannya?”
Lisa yang sedang memakai sabuk pengaman menatap kearahnya Han dengan bingung, pria itu berkata seakan mereka dalam hubungan serius. “berjalan dengan baik”
“kamu ingin makan malam diluar?” ucap Han, dia memang tidak menatap kearah Lisa dan terus fokus meninggalkan tempat ini, tapi hal itu mampu membuat Lisa menatap kearahnya dengan bingung.
“baiklah”
“pakailah sabuk pengamanmu” ucap Han, pria itu tahu jika gadis itu belum memakai sabun pengaman karena sibuk menatap kearahnya.
Lisa tersenyum, perhatian kecil ini terkadang membuatnya malu tapi sedikit menyenangkan.
Setelah lelah menghadapi sulitnya ujian hari ini, Lisa bisa menghirup udara sejuk malam dengan makan malam yang indah, Lisa tidak tahu akan begitu merasa seperti di bawah permainan.
__ADS_1
Terkadang terlalu mengasikkan dan terkadang begitu menakutkan.