
Pagi yang cerah di musim summer ini, hari ini Lisa dan Yoona berencana akan menghabiskan liburan Lisa di pulau Jeju, rencana awal Lisa memang ingin pergi kesana karena saat menyenangkan melihat pantai di musim panas seperti ini, ditambah dengan ombak dan angin yang selalu menjadi penyelengkap setiap dirinya berkunjung ke pantai.
Tapi itu harus tertunda untuk beberapa jam karena tiba-tiba Yoona memiliki sebuah jadwal pertemuan dengan tamu yang datang dari jepang, kali ini setelah sekian lama akhirnya Yoona mendapatkan kerjasama dengan negara bunga sakura itu.
Jadi mereka memutuskan berangkat setelah Yoona selesai melakukan pertemuannya.
Lisa menatap bosan pada layar TV yang menayangkan banyak program bagus, tangannya hanya terus menekan tombol ‘next’ yang tidak tahu apa tujuan dia melakukan itu, dia sudah mengemasi pakaiannya dan juga sudah menyiapkan kebutuhan lainnya, tapi sekarang dia harus menunggu sang ibu yang belum pulang. “aku bosan!”
Lisa berjalan mendekati lemari kulkas, cari sesuatu yang bisa dimakan atau mungkin mengusir kebosanan, dan pilihan jauh pada ice cream box, sudah lama juga Lisa memakan ice cream, gadis itu kembali ke ruangan tamu dengan ice cream box dan sendok.
“Lisa suka ice cream coklat”
Gadis itu terus menyendok ice cream kedalam mulutnya, wajahnya begitu bahagia menyantap ice cream yang besar dan terlalu banyak untuk diri sendiri, lagi-lagi kegiatannya harus makannya harus terhenti ketika suara bel rumahnya terus berdering tanpa henti. “apakah itu Mom?”
Lisa berjalan menuju pintu rumahnya dengan sendok yang masih di mulutnya dan ice cream di tangannya.
“Eonnie?”
Lisa meletakkan ice cream itu ke sembarang tempat, saat membuka pintu dia melihat Eonnie-nya dengan keadaan yang cukup berantakkan, bahkan Heejin seperti terlihat begitu mabuk hingga harus digendong orang seorang pria yang tentu saja baru Lisa lihat, tanpa berpikir panjang Lisa membuka pintunya selebar mungkin membiarkan pria itu menaruh sang kakak di sofa ruang tamu.
“Anda siapa? Kenapa Eonnie seperti ini?” tanya Lisa, dia menghentikan langkah kaki pria itu ketika ingin meninggalkan rumahnya, Lisa tidak tahu apapun dengan kondisi sang kakak itu kenapa dia ingin bertanya pada pria.
“aku hanya manajer Heejin, aku tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya tapi semalam kamu minum terlalu banyak, dan tidak bisa kembali pulang, tolong jaga dia” ucap pria itu, dia melepaskan pergelangan tangan Lisa untuk berhenti menarik jasnya, dan segera meninggalkan rumah itu.
“minum? Setiap hari Lisa minum tapi tidak seperti itu”
Lisa menggaruk kepalanya sebentar, dia mengambil ice cream-nya kembali, lalu berjalan mendekati Heejin yang kini sudah terbangun dan sedang memegang kepalanya yang mungkin terasa begitu sakit akibat terlalu banyak meminum alkohol tadi malam.
“Eonnie, baik-baik saja? Butuh sesuatu Eonnie?” tanya Lisa, dia mendekati sang kakak yang mungkin butuh bantuan dirinya.
“dimana dia?”
“dia? Lelaki yang tadi mengantar eonnie? Dia sudah pulang tadi”
“kau ini bodoh sekali! Dimana Mom?” ucap Heejin, dia sedikit kesal jika Lisa diajak berbicara selalu tidak mengerti seperti anak kecil yang butuh penjelasan dulu baru mengerti apa yang Heejin maksud.
“Mommy sedang pergi, baru akan kembali nanti setelah jam makan siang” ucap Lisa, dia meletakkan ice cream dan sendok di meja, dia membantu sang kakak melepaskan sepatunya dan juga mengambil tas milik Heejin.
“kepalaku pusing sekali”
Heejin memang peminum yang kuat tapi jika dirinya terus dipaksa untuk minum akan berefek seperti ini setelahnya, dia kembali membaringkan tubuhnya di sofa setelah Lisa melepaskan sepatunya.
__ADS_1
Lisa mengeluarkan ponselnya untuk mencari tahu menghilangkan pusing kepala, seperti anak remaja yang baru mengenal dunia mereka cenderung lebih suka mencari sesuatu sendiri seperti Google daripada bertanya, sama seperti yang Lisa lakukan untuk menghilangkan rasa pusing yang Heejin rasakan.
“Eonnie ingin air hangat?”
Heejin mengangguk, dia terlalu pusing walau hanya untuk membuka kedua matanya apalagi membalas ucapan Lisa.
*********
“siapa yang mengirimkan undangan ini?” tanya Han. Baru saja pria itu sampai di kantor dengan perasaan bahagia karena akhirnya dia bisa menjauh dari sang ayah, tiba-tiba di meja kantornya Han melihat sebuah undangan pernikahan berwarna merah muda dengan pita berwarna pink.
Saat membuka undangan pernikahan itu, ada sepucuk surat terselipkan disana, dengan sedikit ragu pria yang memakai kemeja putih dengan jas hitam ditambah dasi biru itu langsung membaca dan mengamati setiap kalimat demi kalimat.
‘Han?
Kau masih ingat denganku?
Aku Yeri.. tolonglah datang ke pernikahanku besok,
Jika kamu tidak datang, aku akan menganggap jika dirimu masih belum melupakanku!!’
Han menghela nafas, dia melemparkan undangan beserta dengan surat itu, butuh satu tahun untuk terbiasa hidup tanpa dirinya kini Han harus berhadapan wanita itu lagi, dia bahkan mengatakan jika Han tidak datang maka dirinya akan menganggap jika Han masih mengharapkan dirinya.
Tak lama kemudian, Keira memasuki ruangannya seperti biasa dia akan menyerahkan jadwal hari ini pada Han, tapi Keira harus melihat wajah Han yang kesal di pagi yang cerah ini. Saat mendekati meja kantor Han dirinya menemukan sebuah undangan.
“Yeri? Apakah dia kekasihmu yang meninggalkan saat kalian akan bertunangan? Kasihan sekali kau malah harus datang pada pernikahannya dengan orang lain” ucap Keira, wanita itu sangat menyukai jika menyangkut masa lalu Han yang terus membuatnya ingin membully pria itu, yang menurutnya tampan, kaya, dan setia tapi sangat mudah ditinggal oleh kekasihnya.
Tentu saja Keira tidak semudah itu memberikan undangan pernikahan mantan Han, dia malah sengaja menyembunyikan dibelakang tubuhnya. “kau akan datang ke pernikahannya? Aku lihat lokasinya di pulau Jeju”
“aku bisa membatalkan jadwal-mu selama dua hari kedepan, kau tidak lihat jika dia akan menganggapmu masih mencintaimu, jika aku jadi dirimu akan--”
Tiba-tiba Han membalik tubuh Keira dan mendorong wanita itu untuk segera keluar dari ruangannya, mood-nya sudah hancur karena undangan itu kini ditambah dengan Keira yang semakin dirinya tidak bisa konsentrasi lagi dengan pekerjaannya, jika tahu akan seperti ini Han tidak akan menerimanya menjadi sekretarisnya. “bisakah tinggalkan aku sendirian? Itu bukan urusan Noona aku datang atau tidak!”
Detik berikutnya pintu itu tertutup rapat saat Keira sudah diusir keluar. “Han!! Buka pintunya”
Yang satu ruangan dengan mereka langsung menatap kearah Keira ketika wanita itu menggedor pintu presiden Han dan juga berteriak, membuat wanita bernama ‘Keira’ itu lupa jika sekarang dirinya sedang berada di kantor.
“presiden Han, anda memiliki rapat pagi ini”
Han menyandarkan tubuhnya pada sofa miliknya, dia sedikit memijat pelipis hidungnya, kehidupannya selalu tidak pernah jauh dari pernikahan yang seakan-akan mengejar dirinya untuk segera berlari ke altar, setiap hari selalu seperti itu dan akan muncul masalah baru dengan versi berbeda.
“haruskah aku datang?”
“Ah!! Aku tidak peduli!!”
__ADS_1
Han lebih memilih mengeluarkan ponselnya yang sedari tadi terus bergetar di dalam saku jasnya, saat melihat nama yang tertuliskan di layarnya membuat Han lebih malas lagi untuk mengetahui apa tujuan Yeon menghubunginya, Han bisa menebak pria itu akan mengajaknya pergi ke pernikahan Yeri atau bisa jadi Yeon mengajak Han untuk bermain bola basket bersama.
“jika kau menelponku hanya untuk mengajak pergi ke pernikahan Yeri jawab--”
‘Hallo Han ...’ - Yeri
Han terdiam saat mendengar suara mantan kekasih yang sudah lama tidak dia dengar, dirinya masih saja tidak terbiasa dengan semua ini padahal mereka sudah berpisah lama namun hanya Han yang seperti sulit untuk melupakan hubungan mereka.
‘Ya, ini aku Yeri, aku meminjam ponsel Yeon, kita kebetulan bertemu ketika pria itu ada pemotretan di Jeju’
“Hai Yeri, aku tidak tahu jika Yeon ada di Jeju sekarang” ucap Han, entah kenapa suara begitu lembut saat berbicara dengan Yeri, dan tidak pernah dia lakukan pada siapapun.
‘kamu akan datangkan Han? Aku ingin melihat dirimu sebelum aku pergi ke London dan tinggal disana’ ucap Yeri, wanita itu begitu lembut entah dalam berbicara atau sifatnya yang begitu tenang, tentu saja tipikal Han.
“tentu saja aku akan datang, hari ini aku sangat sibuk, jadi aku akan segera menutup telepon ini”
Dengan buru-buru Han mematikan panggilan itu, satu masalah muncul lagi karena kesalahan dirinya, itulah sifat Han yang sebenarnya jika sudah jatuh cinta dia mudah sekali berkata ‘Ya’ daripada menolaknya, dia tipikal pria yang akan memberikan segalanya untuk wanita yang dia cintai dan sulit melepaskan jika sudah menjauh hatinya.
‘bodoh!!’
“kau sangat lemah Han!!”
“jika seperti ini terus aku akan semakin malas menikah”
“apa yang harus aku lakukan sekarang?”
“Aishh!! Kenapa aku berkata akan datang!! Bodoh!! Bodoh!!”
Untung saja ruangan itu begitu tertutup, orang lain akan mengatakan jika dirinya gila karena berbicara sendiri dan memukul dirinya sendiri, tapi siapa yang akan menyangka jika Ceo yang mereka kenal dengan sifat dinginnya akan terlihat sangat berbeda jika dirinya sedang dalam masalah.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, Han harus segera menghadapi rapat pagi ini tapi pikirannya tidak akan henti-henti memikirkan apakah dirinya akan pergi atau tidak, tapi jika dia memilih untuk pergi itu berarti Han harus menguatkan hatinya melihat orang yang masih dia cintai menikah dengan pria lain tapi jika dirinya tidak datang Han tidak memiliki alasan yang kuat untuk meyakini jika Han benar-benar tidak bisa hadir, belum lagi dirinya sudah berjanji akan datang ke pernikahan Yeri.
“Presiden Han, anda sudah ditunggu di ruang meeting” teriak Keira dari luar, karena sedari tadi dirinya mengetuk pintu namun tidak akan respon dari Han, jadi terpaksa teriak dalam menggedor-gedor pintu.
Han berjalan mendekati pintu setelah meyakini dirinya untuk menyampingkan masalah pribadi dengan pekerjaan. “Noo-- maksudku Sekertaris Kim, jika sedang di kantor bisakah anda lebih sopan lagi? Ini bukan di hutan yang seenaknya anda bisa berteriak seperti itu!”
Keira memutar bola matanya dengan malas sambil melipat kedua tangannya, “jika bukan berada diluar ruangan itu sudah ku pukul mulutmu itu!! Apakah kau tuli? Atau memang tahu tidak tahu cara mengangkat telepon? Untuk apa anda memiliki benda itu jika tidak berfungsi!!”
“jika kau tidak tidak segera pergi ke ruang meeting … aku yang akan menyeretmu!!”
Han tersenyum, senang rasa ada yang bisa melampiaskan amarahnya dengan cara yang lucu seperti ini, di kantor Han tidak ada yang pernah berani menatap dirinya apalagi meninggikan suaranya seperti Keira.
“sekretaris Kim, bisakah pesanku penerbangan untuk ke Jeju? Dan bisakah menelpon pembantuku untuk mengemasi barangku?”
__ADS_1
“kau akan pergi? Kau punya hati yang kuat ternyata” ucap Keira, dia memukul dada Han sedikit kencang hingga membuat Han harus menahannya.
“aku bukan pria lemah yang kau pikirkan”