
Hitam dan putih, dua warna yang memiliki arti tersendiri.
Keduanya merupakan warna dasar, warna yang jika dicampurkan dengan warna lain tidak akan bisa kembali menjadi putih atau hitam, kedua warna itu juga suatu lambang dari sifat seseorang sesuai pandangan orang lain.
Tapi kali ini menurut Lisa warna hitam dan putih adalah perbedaan dirinya dengan kehidupannya saat ini, banyak sekali hal yang tidak bisa dirinya mengerti dalam waktu cepat dan hal asing yang terasa sulit diterima.
Salah satu contohnya, ketika sang Ibu bertanya apakah dirinya siapa menjadi sebuah tumpuan untuk kehidupan barunya?
Jangan-kan untuk menjadi tumpuan, Lisa terkadang juga masih butuh tumpuan sang Ibu, lalu kini dia yang harus menjadi tumpuan untuk seseorang itu, pria yang bukan mengenainya dengan baik dan bukan pria yang ingin Lisa menjadikan tumpuannya.
Selama pelajaran berlangsung dan seiring berjalannya waktu, ucapan demi ucapan dari Nyonya pemilik butik mengganggu Lisa setiap detiknya, itu bukan ucapan bisa yang memiliki sebuah makna kata yang tidak semuanya mengerti, perkataan itu bagaikan tamparan keras untuk Lisa saat ini.
-- flashback on --
Saat Lisa sedang menunggu Han memilihkan gaun untuknya, Nyonya pemilik batik itu menghampirinya dan menceritakan asal usul kenapa gaun pengantin itu tidak boleh dia kenakan.
“berapa usiamu?” tanyanya, dia membawa Lisa duduk di sofa besar dan bergayakan klasik itu.
“18 tahun” Lisa sedikit menegang, Han tidak memberikan tahu Lisa harus berkata apa pada Nyonya karena Han memang tidak memberitahu Lisa harus berkata apa di setiap ucapannya.
“setelah hampir 5 tahun, aku pikir tidak ada lagi yang memperhatikan gaun itu” ucapnya, matanya menatap pada patung gaun yang Lisa inginkan, gaun itu berdiri di cerahnya sinar matahari dan di pusat titik terang ruangan ini. “gaun ini---,”
Lisa menaikan satu alisnya, dia tidak ingin langsung bertanya dan hanya mengikuti setiap hal yang Nyonya itu lakukan.
“itu adalah gaunku, gaun yang kubuat untuk putriku.” terlihat jelas betapa sedihnya nyonya itu saat mengatakan kata ‘putriku’ seakan di dalam gaun itu memang ada kenangan. “tapi hingga saat ini dia tidak pernah memakainya”
Lisa semakin tidak mengerti, jika tujuannya membuat untuk putrinya lalu kenapa tidak bisa dipakai olehnya, mungkinkah putrinya tidak suka?
“aku tidak terlalu diinginkan gaun itu, Nyonya” ucap Lisa, dia tidak membuat siapapun tidak nyaman.
“kamu salah, seharusnya saat pertama kali kesini kamu tidak boleh melihat gaun itu”
“kenapa? Itu gaun yang indah”
“karena siapapun yang melihat saat pertama kali kesini, itu berarti pernikahanmu tidak akan pernah bahagia”
Lisa merasa sedih, perkataan mewakili perasaan dan kecemasaan saat ini, tapi sebisa mungkin Lisa menipis hal yang masih begitu mitos di telinganya.
“karena saat putri akan menikah, dia kehilangan kekasihnya saat menjalani tugasnya, karena kehancurannya, putriku mengakhiri hidupnya setelah menggenggam gaun itu” ucap Nyonya itu.
Nyonya itu menatap Lisa, gadis itu merasa kehancuran di matanya hingga tidak berani menatapnya lebih lama, itu benar-benar hal asing yang membuat Lisa takut, dia bahkan tidak mau melihat gaun itu apalagi berdekatan.
__ADS_1
-- flashback off --
“Lisa?” panggil Mina, dia terus memanggil nama Lisa beberapa kali, sahabat akhir-akhir lebih aneh dari sebelumnya, belum lagi Lisa lebih sering melupakan tugasnya dan tidak pernah mengajak Mina untuk mengerjakan tugas bersama.
“Lisa? Kalau kamu sakit, aku bisa mengantarmu ke-UKS” ucap Mina lagi.
“maaf Mina, aku mengabaikanmu lagi, banyak hal akhir-akhir mengganggu pikiranku” ucap Lisa, dia mencoba tidak memikirkan hal itu, mungkin saat ini Lisa hanya harus menunggu jika semua itu tidak nyata.
“aku sudah mengatakan beberapa kali, jika Lisa mau. Mina akan mendengarkan semuanya”
Lisa berpikir, mungkinkah dia harus bertanya pada Mina? Tapikan sahabatnya tidak mengerti soal pernikahan tapi sahabat begitu menyukai novel berbau pernikahan dan perjodohan.
“apakah kamu percaya pada sebuah kisah dibalik gaun pengantin? Kaya jika kita melihatnya nasib pemilik gaun dahulu bisa terjadi pada kita?”
“pertanyaanmu begitu sulit Lisa! Mana mungkin aku mengerti tentang seperti ini!” ucap Mina, karena itu benar gadis itu hanya gadis yang begitu menyukai novel romance dan tidak tertarik pada hal lainnya.
“sudahlah lupakan saja, berbicara denganmu hanya menambah pikiranku saja” Lisa memilih bersifat tidak peduli, semakin dia pikirkan itu malah semakin membuat penasaran dan ingin menemui Nyonya itu, Lisa memutuskan mengambil pensil dan mencatat hal yang seharusnya seorang pelajar lakukan.
“Kau marah padaku?” ucap Mina dengan kencang, tentu saja hal itu mengundang seluruh ruangan melihat ke arahnya, dan membuat Lisa dan Mina jadi pusat perhatian.
“jika kalian masih ingin melanjutkan pembicaran itu, pintu selalu terbuka untuk kalian” ucap Ibu Guru yang sedang membuka halaman buku.
“Maaf Bu, saya tidak akan mengulanginya” ucap Mina, dia membungkukkan tubuhnya kepada semua orang.
Lisa menghubungi sang Ibu dan mengatakan jika dia akan mampir untuk membeli buku.
Karena pernikahan ini tidak melarang Lisa untuk melanjutkan kuliah, jadi gadis itu memutuskan untuk menentukan jurusan apa yang akan diambil nanti, karena sebentar lagi ujian akan dimulai dan pendaftaran akan buka, Lisa harus segera menemukan jurusan yang diminati.
Dia menutup seragamnya dengan sweater yang dia bawa, karena terkadang musim tidak bisa diprediksi.
Lisa pergi ke toko buku yang tidak jauh dari halte, karena biasanya Lisa pulang menggunakan halte itu, dia memasuki toko buku yang memiliki cafe di dalamnya. Kebetulan sekali Lisa juga melewati makan siangnya tadi.
“Akh!” Dia melihat petunjuk arah dari ponselnya sampai memperhatikan jalannya, dia menabrak seseorang yang jelas lebih tinggi darinya.
Lisa mengusap kehingnya, rasanya begitu sakit bertabrak seperti ini, dia mengangkat kehingnya dan kenapa sosok yang tinggi dihadapannya.
Pria di hadapannya tersenyum pada Lisa, dia mengerahkan ponsel milik Lisa yang hampir jatuh “kau hampir menabrak rak buku jika aku tidak berdiri disini, tolong perhatikan langkah anda Nona” ucapnya.
Lisa diam, dia pikir pria itu akan memarahinya karena tidak memperhatikan langkahnya.
“Ah--maaf, Tuan” Lisa buru-buru menunduk dan hal yang tak terduga malah semakin membuat Lisa malu karena dirinya malah menabrakkan kepalanya pada dada bidang pria itu. “Akh! Sakit”
__ADS_1
Terdengar tertawa ringan keluar dari pria itu, dia tidak menyangka akan bertemu gadis yang begitu lucu, sampai rasanya dia ingin membuat gadis itu tetap berada didekatnya.
“kamu baik-baik saja?” tanyanya, pria itu menggenggam tangan Lisa tanpa sadar, dia terlihat kening gadis itu terluka karena ransel yang dia gunakan sedikit kasar.
“Y--Tidak, aku baik, maaf sebelumnya dan terimakasih”
Lisa merasa malu, dia segera membalik tubuh dan meninggalkan pria itu, berjalan ke tempat yang dipenuhi pengetahuan tentang jurusan dan perkuliahan.
“Tung--,” pria itu tidak sempat mengatakan jika keningnya terluka.
Setelah lima belas menit mencari, akhirnya Lisa memutuskan untuk membeli makanan untuk mengisi perutnya, dia duduk di sudut ruangan di cafe, menikmati hamburger dan minumannya dengan lahap.
Pria yang mengikutinya tanpa Lisa sadari menarik salah satu kursi di hadapannya, tentu Lisa terkejut karena dia pikir tidak akan bertemu dengannya lagi.
“apa aku mengganggumu?” tanyanya, dia juga membawa minuman.
Tapikan di cafe ini begitu banyak kursi kosong kenapa harus mengambil disini?
Lisa menggelengkan kepalanya, dia tidak minat lagi melanjutkan makannya rasanya Lisa tidak ingin makan bersama orang lain.
“kenapa? Makan saja aku tidak akan memintanya”
“aku sudah selesai” Lisa merapikan barangnya lalu memasukkannya kedalam tas, di hanya mengambil minumannya.
“Tunggu!” pria itu menahan tangan Lisa, membuat mau tidak mau Lisa menghentikan langkahnya saat itu juga.
“apa mau anda?” ucap Lisa, dia mencoba mengusir rasa takutnya, dia juga menatap mata itu dengan sedikit keberanian.
“keningmu terluka, aku hanya ingin memberikan ini”
Lisa terdiam saat pria itu meletakkan hansaplast pada keningnya, ini hal asing sekaligus membuat Lisa gugup, dia tidak tahu jika keningnya terluka dan pria itu menyadarinya.
“hati-hati, di luar hujan”
Lisa tentu menatap kearah jendela, dia tidak menyadari jika diluar hujan, dan lebih meresahkan dirinya dia lupa membawa payung hari ini. “terimakasih”
Lisa memutuskan meninggalkan pria itu lagi, dia takut jika seseorang kiriman ayah Han melihat dirinya bersama pria lain.
Namun baru saja akan menutupi kepalanya dengan tas, pria tadi menutupi tubuhnya dengan payungnya, Lisa terdiam. Dia bahkan menolongnya saat ini dan mengantar Lisa sampai pada halte.
“bawalah ini, aku masih miliki satu lagi” ucapnya, pria itu perhatiannya melebihi hal yang Han lakukan padanya, Ah! Bukan, pria dingin itu tidak pernah perhatian padanya.
__ADS_1
“terimakasih” sudah berapa kali Lisa mengatakan hal itu pada pria itu, tapi tetap saja Lisa tidak punya pilihan untuk menolaknya.
Lisa menggunakan payung itu untuk masuk ke dalam bus yang baru saja tiba, sesekali Lisa menatap kearah pria itu dan merasa aneh, namun sesegera mungkin Lisa melupakannya.