
Hari ini Han memiliki janji dengan Grup Cho, kesempatan juga untuknya bertemu dengan pria bernama ‘Cho Jungwon’. Walau Han tahu jika pria itu masih berkuliah, dilihat dari biodata yang dia terima kemarin pria itu berusia sama dengan adiknya, riwayat pendidikan juga sama seperti Sean.
Mungkin saja mereka satu angkatan, jika Sean masih menjalani pendidikannya.
Han jadi teringat dengan adiknya, sudah beberapa minggu dirinya tidak bertemu dengan Sean, bahkan di hari pernikahan dirinya, Han tidak bisa berharap Sean ada disana. Bagaimanapun dia adalah orang yang ibunya titipkan padanya dan sampai sekarang Han tidak bisa menjaganya dengan baik.
Mungkin saat makan siang nanti Han akan ke rumah sang ayah untuk mengetahui kabar adiknya, benernya Sean bisa disembuhankan jika adiknya mau menjalani serangkaian terapi dan pengobatan rutin, tapi sekali lagi Han tidak punya kesempatan untuk melakukan itu.
Ayahnya selalu.menjadi halangan terbesar. Karena kelahiran Sean bukanlah lagi harapan pria tua itu tapi jika bukan tekanan pria itu mungkin saja Sean masih bisa menjadi teman untuk Han.
Han melihat biodata seluruh keluarga Cho, tidak ada satupun yang memiliki ikatan dengan Lisa apalagi Han sama sekali tidak mengenal mereka, jika bukan karena ikatan kerja ini. Lalu apa motif semua ini?
Tapi untuk sekarang Han hanya menyimpulkan jika pria bernama ‘Cho Jungwon’ menargetkan Han sebagai sasaran, itu hanya kesimpulan sekarang. Karena belum terlalu kuat jika pria itu menyukai Lisa, jika memang menyukai kenapa dia melakukan itu seperti menyatukan dirinya dengan Lisa?
Bukan seharusnya menghancurkannya?
Han melangkah masuk ke dalam ruangan yang bertuliskan ‘Ceo Cho’. Karena posisi masih dipegang Tuan Cho jadi Han sedikit merasa tidak nyaman dengan ayahnya Jungwon, tapi ini adalah bisnis, siapapun orangnya Han harus bersikap profesional.
“Selamat Datang Tuan Han.” ucap Tuan Cho, pria itu sedang duduk di kurisnya dengan seorang gadis yang berada di pangkuannya.
“seperti aku datang diwaktu yang salah, Tuan Cho.” seringai Han mengikuti ketakutan di wajah gadis itu, Han sangat muak melihat hal seperti ini, bukan karena dia iri melainkan dia merasa kasihan pada gadis yang harus melayani pria tua untuk kepentingan material.
“Ya, itu benar. Seharusnya kamu datang saat putraku sudah disini, dia ingin sekali mengenal dirimu.” Tuan Cho mendorong gadis itu untuk turun dari pangkuannya, memerintahkan untuk keluar dari ruangan.
“putramu?” sebelah alisnya terangkat, dia masih belum duduk sebelum Tuan Cho mempersilahkan dirinya, dia berdiri didepan meja pria tua itu.
“itu benar, karena aku penerus Grup Cho, aku perlu belajar banyak dengan anda.” suara seseorang datang dari arah pintu masuk, dia melangkah masuk begitu saja mendekati kedua pria berjas. Siapa lagi jika bukan Jungwon yang baru saja di bicara oleh Han dan Tuan Cho.
Han menunjukan wajah datar, pria ingin sekali menarik tubuh itu dan memberi beberapa pukulan karena telah membuat Lisa seperti itu dan belum lagi Han yang hampir kehilangan kendali, “kau? Putra Tuan Cho?”
“itu benar, dia putraku. namanya Cho Jungwon.” ucap Tuan Cho, dia memeluk bangga putranya didepan Han.
“tapi maaf, aku tidak memiliki waktu banyak disini, aku hanya meminta rancangan yang sudah Tuan Cho katakan dan menandatangani kontrak kerjasama kita.” ucap Han, karena waktu sudah akan menunjukkan waktu makan siang Han harus segera pergi.
__ADS_1
Tuan Cho memberikan apa yang Han minta, dia juga memberikan perjanjian mereka.
“sampai jumpa.” ucap Han, dia pergi dengan rasa hormatnya.
Jungwon menghalangi langkah Han. “ada hal yang ingin aku katakan, kita bisa berbicara di jalan” ucap Jungwon, dia berjalan berdampingan dengan Han.
“ingatlah Tuan Han, yang kau miliki sekarang mungkin akan hilang kemudian hari, karena hal kecil yang kau abaikan akan menjadi sebuah timbulnya masalah besar” Ucap Jungwon, dia berhenti saat Han akan masuk ke dalam lift, meninggalkan sebuah peringatan yang masih begitu adu-adu bahkan tidak ada satu kalimat apa tujuan itu.
Han menahan lift ketika akan tertutup, dia tidak akan takut dengan ancaman itu yang tertuju pada dirinya “selagi itu masih dalam lingkunganku, noda kecil tidak akan bisa menyentuhnya dan ingatlah segalanya akan tetap ada jalannya, jika kau ingin menghancurkan hidupku lakukanlah tapi jika.itu berkaitan dengan Lisa, bersiap akan berhadapan denganku.”
“kau akan menyesal karena meremehkan dirinya.” Jungwon berbalik arah dan mulai meninggalkan Han yang masih berdiri di depan lift.
Seperti kali feeling Han salah, pria itu tidak menginginkan Lisa, terlihat jelas dendam itu tertuju pada dirinya, tapi seakan memperalat Lisa sebagai targetnya, jika seperti ini Han harus mengetahui segalanya sebelum semakin besar.
Setelah meninggalkan gedung Grup Cho, perjalanan Han menuju kediaman rumah sang ayah, entah kenapa perasaan terus menuntunnya untuk segera menemui Sean, mungkin ini efek rindu atau ada sebuah feeling lain.
Tapi terkadang hal yang Han rasa itu terkadang benar.
Karena biasanya jam segini sang ayah melakukan terapi kesehatannya, jadi Han bisa luasa bertemu dengan sang adik. Dia melewati anak tangga setelah membuka pintu, melangkah menuju kamar sang adik.
Han terpaku di pintu kamar sang adik, tangannya gemetar hebat dan seakan segalanya menjadi lebih menakutkan.
Beberapa detik Han baru berlari mendekati sang adik, meneriaki namanya dan memeluknya.
“Sean!”
“Sean?!”
“Sean bangun!!”
Tubuh Sean sedingin es batu, wajah pucat dan bibir membiru menjelaskan segalanya, belum lagi kamar yang begitu berantakan mengundang seribu pertanyaan, apa yang sebenarnya terjadi selama Han tidak kembali?
Dengan cepat Han mengangkat tubuh sang adik, berlari membawa keluar dari rumah itu dan segera menuju rumah sakit terdekat.
__ADS_1
Han berlari sambil membawa tubuh adiknya, terlihat jelas jika Han begitu ketakutan dan begitu tegang memikirkan hal selalu tidak pernah terbayangkan, apakah ini perasaan itu? Tapi yang dipikirkan Han berbeda, dia pikir jika Sean mungkin saja mengenal sosok bernama Jungwon, walau dia mengalami ketergantungan mental tapi Sean masih bisa mengingat orang lain, apalagi jika seseorang itu lebih banyak berinteraksi dengannya.
Contohnya mantan Han yang baru saja menikah.
Kini Sean sedang berada di dalam ruang UGD, Han tidak tahu sudah berapa lama Sean seperti itu tapi Han masih berharap Sean bisa tertolong, dia memberitahu asistennya untuk membatalkan seluruh jadwalnya dan juga memutuskan sopir pribadinya untuk menjemput Lisa.
Menunggu dengan cemas di depan pintu Han terlihat tenang, dia beberapa mondar-mandir kesana. Sesekali melirik kecela pintu untuk melihat sang adik, pikiran terus berburuk sangka pada sang ayah dan menentukan kesimpulan jika mereka mencoba membunuh.
Sampai rasa sudah 2 jam berlalu, dan jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, belum ada tanda pintu akan segera dibuka, mungkinlah didalam melakukan operasi yang harus segera dilakukan atau nyawa Sean sedang dipertaruhkan disana.
Sampai dua puluh menit berlalu, ketika Han mulai putus asa. Pintu ruang itu terbuka memperlihatkan beberapa dokter dan perawat yang keluar, Han segera mendekati salah satu dari mereka.
“bagaimana dengan keadaan adikku dok?”
“masalah ini sangat serius, aku tidak mengerti banyak sekali obat tidur didalam tubuhnya yang mungkin dikonsumsi secara berlebihan, tubuhnya memberikan reaksi alergi dan kami butuh untuk menetralkan alergi yang bisa memicu keracunan.” ucap sang dokter, dia menjelaskan tanpa tahu jika Han merasa terpukul dengan penjelasan itu.
Seperti ribuan pisau menusuk tubuhnya secara bersama, dia tidak pernah berpikir Sean akan menderita lebih jauh lagi. “berapa kemungkinan pil itu ada ditubuhnya.”
“mungkin sampai 10 - 15 butir.” Dokter itu keluar Han untuk mengambil pakaian untuk operasi, “silahkan tanda tangan untuk tindakan selanjutnya.”
Han segera menandatangani segalanya, dia berharap operasi kali ini bisa menyelamatkan Sean, dirinya akan hancur jika adiknya pergi apalagi Han akan merasa salah jika itu terjadi.
“Noona bisakah kau menemani Lisa? Gadis itu akan kesepian, aku tidak bisa kembali cepat dan tolong jangan memberitahu apapun jika ayahku menelponmu, jangan menjawab jika Lisa bertanya tentangku.” ucap Han, hanya Keira satu-satu orang yang selalu menjadi kepercayaannya.
Masalah semakin rumit, Han belum.menyelesaikan masalahnya dengan Lisa, gadis itu terus menghindari dirinya dan diam seribu bahasa saat Han ingin meluruskan segalanya.
Kini Han harus mengetahui segalanya apa yang terjadi di kediaman rumah ayahnya, bagaimana mereka begitu tega melakukan itu pada Sean, memberikan jumlah bil begitu banyak dan bahkan hampir membunuh adiknya.
“dan satu lagi, aku butuh rekaman CCTV selama tiga minggu terakhir” Han mengakhiri panggilan itu, dia perlu tahu siapa yang ingin menyingkirkan sang adik, mungkin ini ada kaitan dengan Jungwon?
Secara pria itu juga hadir diacara yang ayahnya buat di kediaman itu, dan secara tidak langsung mungkin Jungwon dibelakang semua ini, ingat bagaimana dia dengan mudah memberikan obat perangsang pada Lisa.
Tapi Han tidak punya butuh bukti, itu hanya spekulasi saja, dan belum tentu akurat, karena Han belum tahu motif segalanya yang Jungwon lakukan.
__ADS_1