
Pukul 3 sore.
Lisa dan Han dalam perjalanan menuju sungai Han di pinggiran kota Seoul, lokasi ini cukup menyenangkan untuk sekedar menikmati udara sore dan melepaskan penatnya hari.
Banyak sekali warga Seoul senang pergi kesana dan menjadi salah satu tempat rekomendasi untuk para turis yang berkunjung, sebenarnya rencana ini tidak pernah sepintas dalam pikiran Han, dia juga tidak pernah akan mengabaikan pekerjaannya hari ini.
Dia melakukannya atas keinginan hatinya, karena belum pernah ada kenangan yang terbuat, apalagi mereka baru menikah segalanya terasa indah jika dilakukan bersama, Han merasakan itu dan entah kenapa dia ingin sekali bersama Lisa lebih lama.
Mungkinkah benih cinta mulai tumbuh?
Han mengeluarkan sepeda setelah memarkirkan mobilnya, dia memang ingin sekali bersepeda mengelilingi area Sungai Han, tapi selalu tidak ada waktu untuknya melakukan itu dan tentu saja terkadang melakukan sendiri itu tidak menyenangkan jika melakukan bersama orang lain.
Jika Sean tidak mengalami hal itu, mungkin adiknya akan selalu Han ajak kemanapun dia pergi, tapi hal itu semakin membuat Han takut mempertemukan Lisa dengan adiknya, karena Lisa tak tahu apapun tentang keluarganya maupun kehidupannya.
Diibaratkan Lisa hanya mimpi indah bagi Han, dia hanya perlu disisinya tanpa mengetahui apapun tentangnya, memang egois tapi Han tidak ingin melepaskan Lisa untuk saat ini, tapi jika suatu hari gadis itu menemukan cinta mungkin Han akan melepaskannya.
Karena Han bukan pria baik, terkadang dia bisa menyakiti gadis itu kapanpun tanpa dia sadari.
“Oppa kenapa hanya membawa satu?”
“karena aku hanya punya satu”
Lisa mengembangkan pipinya, menandakan jika kesal. “Lalu aku bagaimana? Aku Kan juga ingin bersepeda!”
Han tersenyum, dia mengecup bibir itu sekilas, Han tidak bisa mengatakan betapa menggodanya bibir peach itu dan ketika Han melakukan wajah Lisa pasti akan sedikit memerah, lalu dia akan tertunduk malu.
“kita berada diluar, bisakah kamu jangan menciumku?”
Han mengacak rambut Lisa dengan gemas, seorang orang tamu itu sebuah kecupan bukan ciuman. “itu kecupan Lisa, kau harus belajar denganku setelah pulang ini”
Han yang menaiki sepeda itu lebih dahulu, lalu memerintah kan Lisa untuk didik di belakang sepeda itu dan mulakan mereka berdua mengelilingi pinggiran kota Seoul di sore yang cerah ini.
Sesekali terdengar suara teriakan Lisa yang memarahi Han karena membuatnya takut, dan tanpa sadar keduanya tersenyum bahagia dalam kesederhanaan itu.
Setelah hampir setengah jam berada diatas sepeda, Lisa dan Han memilih untuk duduk di salah satu bangku taman, menikmati ice cream cup dengan topping yang banyak. Itu milik Lisa dan Han hanya meminum segelas ice americano, terkadang Han juga diam-diam menarik tangan Lisa untuk memberinya satu sendok.
“aku belum pernah merasa sesenang ini, bahkan pergi ke tempat ini hanya sebuah rencana” ucap Lisa, dia ingat jika ibunya pernah berjanji akan mengajaknya berjalan-jalan sore tapi sekali lagi itu hanya sebuah rencana pada akhirnya tidak pernah terwujud.
“aku pernah kesini waktu kecil bersama mendiang ibuku” Han juga terbawa suasana dimana dia pernah pergi bersama ibunya disini, melakukan hal yang hampir sama, tapi waktu itu Han bersama ibunya makan dari bekal yang ibunya bawa. Itu kenangan sebelum sang ibu pergi dan sekarang Han semakin merindukan dirinya.
Lisa menatap kearah Han, dia tidak tahu jika ucapan akan mengingatkan dirinya pada sang ibu, “maaf”
“tidak, aku senang bisa mengingat itu lagi” Han juga menatap kearah Lisa, mungkinkah sekarang dia mulai berani terbuka padanya, tapi jika Han tetap mengikuti ketakutannya apakah Lisa bisa bertahan?
“kamu ingin membeli sesuatu?” tanya Han, dia tidak ingin membuat suasana menjadi canggung.
“sebenarnya aku sedikit lapar, bisakah Oppa membelikan ayam goreng untukku?”
“tunggulah disini” Han mulai meninggalkan Lisa.
Lisa mengambil ponselnya, seperti ada pesan masuk dan benar ada email yang masuk, itu merupakan email dari Universitas Seoul. Lisa membaca dengan hati-hati dan setrika tulis lolos ujian tahap awal, Lisa tersenyum tak percaya, tinggal satu langkah lagi dirinya akan masuk ke Universitas Seoul.
Dia yang melihat Han yang sudah membeli, Lisa segera berlari dan memeluk Han secara tiba-tiba, membuat pria itu juga bingung tapi Han tidak ingin merusak momen ini, dengan sabar dia menunggu Lisa menjelaskan segalanya.
“seperti kamu begitu bahagia” ucap Han, dia sedikit kesulitan memeluk Lisa karena kedua tangannya membawa barang.
“Oppa! Aku berhasil dan aku akan masuk ke seleksi akhir!” Teriak Lisa dengan senangnya, dia bahkan melompat-lompat dalam pelukan. “aku senang, aku ingin sekali merancang sesuatu”
__ADS_1
“selamat untukmu, ingat untuk tetap saja kesehatanmu, ujian sekolah tinggal menghitung hari”
Lisa mengangguk, kemudian dia segera melepaskan pelukan itu, dia merasa malu karena terlalu kekanakan di depan Han.
“bagaimana jika kita makan ini?” Han menunjukkan yang tadi Lisa minta.
Lisa mengangguk, dia menggandeng Han kembali ketempat duduk mereka.
Harus terasa sedikit memiliki kenangan berbeda, Lisa belajar memahami karakter dari sosok Han dan dia masih ingin mencoba memahami lebih jauh, sebelum meyakini jika cinta itu datang diwaktu yang tepat.
Ketika segalanya menjadi lebih jelas.
Diam-diam Lisa memperhatikan Han, satu pertanyaan yang mungkin bisa membuat Han marah padanya tapi Lisa ingin mengetahui itu, walau akan terkesan Lisa tidak berpikir dengan baik.
“kamu menyukainya?” Han bertanya, dia tidak memakan apa yang tadi Lisa inginkan, dirinya tidak terbiasa makan didepan umum seperti, segelas kopi sudah cukup untuknya.
“Oppa, apakah kau gay?” inilah pertanyaan Lisa, mungkin efek karena Lisa pernah membaca salah satu komik memiliki unsur boy love boy. Ini juga karena Mina yang menyuruhnya agar Lisa tidak tertipu ketika berkencan nantinya.
Han tanpa tenang, dia hanya menatap kearah Lisa yang sedang menatap ke arahnya, ada sedikit noda di area bibirnya. Mungkin karena minyak atau bumbu, gadis itu benar-benar tidak bisa menjaga dirinya dengan baik.
“apakah gay melakukan ini?”
Han menarik tangan Lisa, menyatukan kedua bibir mereka, Han sedikit bermain nakal, dia membersihkan noda itu dengan bibir dan menyesap bibir Lisa sedikit kasar.
Lisa tidak bisa berpikir apa maksud dengan ini, mata terbuka lebar berbeda dengan Han yang memejamkan matanya, seakan pria itu menikmati apa yang sedang dilakukan, lidah Han membelai area mulut Lisa seakan itu adalah ice cream.
Ciuman yang lebih lama dan panjang, cukup lelah berada diposisi seperti ini dan belum lagi banyak orang yang memperhatikan mereka.
Lisa menggerakkan tangannya yang ditahan oleh Han, pria itu membuka mata dan melepaskan tautan bibir mereka, rasa bingungkan Han, padahal sebelumnya dia pernah berciuman tapi sekali lagi hanya Lisa yang membuatnya selalu merasa kurang.
Lisa merapatkan bibirnya, dia pikir pertanyaan itu akan membuat pria itu marah tapi malah berakhir dengan mungkinkah ini sebuah ciuman?
“bagaimana jika kita pulang? Aku akan menjelaskan semuanya”
Han menggandeng Lisa meninggalkan pinggiran kota dan segera menuju mobil mereka, akhir-akhir Han tidak bisa berbohong dengan dirinya. Dia tertarik dengan Lisa atau lebih menginginkan dirinya, entah itu masih membingungkan untuknya, karena sekarang pun dirinya masih menahan keinginannya.
“aku ingin memberitahu jika ayah mengunjungiku saat oppa pergi, dia mengatakan jika hari sabtu ayah ingin oppa datang ke pesta” ucap Lisa, dia ingin mengatakan ini dan saru sekaranglah dia membahasnya.
“bersamamu?”
“Ya, itu merupakan acara untuk kerja sama antara Grup Kang dan Grup Cho”
“kenapa kamu baru memberitahu? Seharusnya kamu segera mengabariku, lain kali jika ayah berkunjung, kamu tidak perlu takut untuk menghubungiku”
Lisa mengangguk, mungkin seharusnya itu yang dilakukan sejak awal.
Mereka sampai pada waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore, Lisa langsung masuk ke dalam meninggalkan Han begitu saja, dia merasa ada yang mengganjal dan dia harus memastikan apa itu.
Han mengeluarkan ponselnya dan menghubungi asistennya, Han mulai berpikir tidak mungkin ayahnya mengatakan hal itu pada Lisa, kenapa harus dari Lisa? Kenapa tidak memberitahunya secara langsung atau melalui asistennya, mungkinkah ada rencana yang ingin ayahnya lakukan.
Lisa turun, ini waktu makan malam dan dia juga ingin mengatakan jika besok mungkin dirinya akan pergi membeli gaun untuk pesta besok malam.
Dia menemukan Han yang sibuk di dapur, pria itu membuat makanan sama seperti biasanya, Lisa melangkah mendekati meja dengan pakaian piyama. Sebenarnya Lisa cukup gugup dan senam jantung mulai mendekatinya, itu berarti malam dia akan tidur dengan Han.
“makanan, ini sangat enak jika dimakan selagi hangat” Han meletakkan menu makan yang dia buat di depan Liza, memasak memang sudah menjadi keahlian sejak dirinya berpergian keluar negeri, belum lagi Han memutuskan untuk pindah saat usianya 23 tahun.
“terimakasih”
__ADS_1
Han mengangguk, lagi-lagi dia tidak berselera makan dan lebih memilih mengeluarkan soju, lalu meminumnya saat Lisa tidak menatap ke arahnya, dia butuh sebuah ketenangan untuk masalah kali ini, Keira mengatakan jika ayahnya tidak mengirimkan pesan apapun tapi malah memberitahunya melalui Lisa.
Dirinya tidak sadar sudah menghabiskan dua botol soju, dan mulailah sedikit terpengaruh oleh kadar alkohol, itu hanya sedikit dan sepenuhnya Han masih bisa bersikap biasa, dia meninggalkan dapur dan menuju kamarnya. Mungkin dengan mandi bisa menyejukkan pikirannya.
Lisa kembali setelah menyelesaikan makan malamnya dan membersihkan dapur, dia ragu untuk membuka pintu kamar, tapi dia tidak ingin tidur sendiri karena villa ini cukup menyeramkan untuknya.
“mau berlatih?”
Lisa yang baru menutup pintu langsung menatap kearah Han dengan tatapan bingungnya apa yang dimaksud dengan latihan? Apakah ini waktunya sesi pembelajaran. “apakah itu penting”
Han menempuh sisinya yang kosong, memerintahkan Lisa duduk di ranjang bersamanya. “tentu”
Lisa melangkah mendekati setelah membuka sandalnya, dia duduk disamping Han dan menghela nafas sejenak, apa yang akan Han ajarkan untuknya.
“besok kita harus bersandiwara, besok akan banyak rekan kerja ayahku dan mereka akan terkejut saat aku membawamu, jadi kita harus berlatihan ciuman yang benar” Han menunggu reaksi Lisa, pikirannya tidak berjalan dengan baik, dia memikirkan banyak hal apalagi Lisa terus menuruti apa yang dikatakan.
Lisa menggigit bibir bawahnya, dia tidak tahu harus mengatakan apa, menurutnya mereka sudah beberapa kali berciuman tapi kenapa masih harus berlatih. “bukankah--kita--sudah, sering melakukan?”
“mana yang sering dilakukan kecupan atau ciuman?”
Lisa menegang, bukankah itu keduanya sama?
“ciu--hmph!” Han mengecup bibir Lisa menempelkannya selama beberapa detik dan kembali melepaskannya.
“ini kecupan, ciuman berbeda Lisa”
“Tap---,” Han kembali mengatuhkam bibir mereka, kali ini dia sengaja menggigit bibir bawah Lisa. “Hmph!!”
Lisa menyeramkan kaos yang Hanya kenakan, rasa tidak nyaman ketika lidah Han bermain di dalam membuat dirinya ingin sekali melupakannya, tapi itu sulit Han memegang kendali untuk setiap pergerakkan tubuhnya.
Bergerak kekanan dan ke kiri Han lakukan, dia mencari posisi yang nyaman dan sedikit memberitahu Lisa untuk membalas, walau mungkin akan sedikit mustahil untuknya, seharusnya Han tidak meminum soju dan sekarang seakan alkohol mempengaruhi dirinya.
“hmph---! Oppa” Lisa tidak bisa bernafas dengan baik, dia mendorong Han menjauh. Dan detik berikut Han melepaskan setelah menyadari dirinya sudah terlalu jauh.
“apakah melakukan ciuman itu berlangsung selama 15 menit?”
Han sedikit merasa bersalah telah menghasut Lisa dalam imajinasi liarnya, tidak seharusnya dia mengajak Lisa lebih dalam mengenal apa itu ciuman. “Lisa, kamu mengerikan?”
“aku mengerti, tapi apa harus mempraktekkannya?”
“bukankah lebih mudah dipahami? Haruskah kita berlatih lebih sedikit lambat?”
Lisa menggeleng dengan cepat, “aku tidak nyaman melakukannya”
“itu berarti kamu harus lebih sering melakukan agar terbiasa”
Penutup Han menarik tubuh Lisa untuk berbaring di ranjang mereka, memeluk tubuh gadis itu dalam kukuhan tubuhnya, rasanya Han tidak akan bisa melepaskan Lisa jika terus seperti ini, dan perasaan nyaman akan muncul.
“jika aku terbiasa, apakah yang akan aku dapatkan?”
“bayi dalam perutmu” Han sudah cukup lelah meladeni Lisa yang bahkan sulit untuk diajak mengerti, dia memejamkan mata setelah mengatakan itu.
‘bayi?’
Lisa membuang nafas, dia masih harus memahami hal yang sulit dimengerti nya, tanpa sadar tangannya menyentuh bibirnya, sedikit bengkak dan merah. Tapi mampu membuat Lisa terdiam malu, “baiklah aku akan tidur” Dan keduanya terlelap.
note : terimakasih yang sudah komen, aku harap kalian suka untuk bab kali ini, jangan lupa like dan komen.
__ADS_1
see you ...