
Hari Han kembali, dia sedikit berat meninggalkan Sean lagi, tapi keputusan dokter tidak bisa pria itu bantah dan apalagi Han tidak tahu apapun tentang dunia medis, jadi terpaksa harus menunda membawa pulang Sean, dokter baru mengizinkannya karena masih harus melakukan pemeriksaan lainnya.
Karena tadi siang Han sempat konseling dan mengatakan jika sang adik memiliki gangguan mental akibat kecelakaan kurang lebih 7 tahun yang lalu. Dan saat itu juga dokter mengajukan untuk memeriksa kepala Sean dan besok keduanya harus diskusi lagi.
Han menyempatkan untuk menjemput Lisa, dia tidak bisa membantu gadis itu padahal hari ini adalah hari dirinya melaksanakan ujian hari pertama, dan tinggal dua bulan lagi gadis itu akan menghadapi kelulusannya, memikirkan hal itu terpintas sebuah pemikiran dimana Han mulai bingung.
Haruskan dia melakukan hubungan itu, dan terus melanjutkan perjanjian antara dirinya dengan Lisa.
Dia merasa sedikit sedih membayangkan akan terbiasa tanpa gadis itu, walau dia jarang berbicara tapi kehadirannya bagaikan obat untuk Han, apalagi Lisa sangat menghargai setiap hal yang dia katakan, penurut dan juga memiliki keistimewaan tersendiri.
Dijalan Han membeli sebuah kotak coklat berbagai isi, entahlah hal itu terpikirkan begitu saja saat Han tidak sengaja melihat sebuah toko kecil di pinggir jalan, toko itu dijaga oleh seorang nenek.
Han jadi mengingat apa yang tadi nenek katakan pada dirinya, terdengar aneh tapi seperti Han percaya dengan katanya.
‘kita hidup dimana, kita lebih banyak mengikuti prinsip dan hanya sekian persen mengikuti hati, tapi seorang wanita tidak pernah memakai akal dalam mencintai tapi seorang pria mencintai karena sebuah kesalahan’
Kalimat itu masih mengambang di otak Han, dan ucapan sang nenek sebelum dirinya pergi juga menjadi tambahan beban pikiran.
‘jika diberikan pilihan untuk melepaskan seseorang, apa yang akan kau pilih? Melepaskan karena dia mencintai orang lain atau melepaskan karena sebuah janji?’
Han saat itu hanya terdiam di pintu luar, pertanyaan yang begitu menggambarkan sebuah kejadian tapi bukan terjadi sekarang, seakan pilihan Han selalu salah ketika dirinya berpikir dengan akal dan prinsip.
Tanpa sadar Han mobilnya sudah memasuki area sekolah Lisa, dia memarkirkan mobilnya dan membawa kontak coklat, untung dia datang tepat waktu saat semua murid sudah pulang.
Dia juga melihat Lisa yang sedang melewati lorong sekolah, tapi? Han segera berlari melihat ada pria berpakaian serba hitam seperti dirumah sakit, dia ingin mengejar pria itu tapi terhalang banyak murid yang mendekatinya.
Dalam sekejam mata pria itu hilang bersama dengan murid-murid di sekitarnya, dia kehilangan kesempatan untuk mengejar pria itu, dengan cepat Han melangkah mendekati Lisa yang sedang berjalan bersama Mina, hampir saja dia melupakan Lisa.
“Lisa!” Han berteriak, dia melambaikan tangannya ke arah gadis itu ketika Lisa menatapnya.
“Oppa?”
Lisa yang melihat dari kejauhan segera berlari mendekati Han, dia terkejut dengan kehadiran pria dan bagaimana nanti jika Lisa menjelaskan hubungan mereka, dia tidak mungkin mengatakan jika pria itu adalah suaminya.
“Oppa, kenapa menjemputku?” tanya Lisa ketika menyeret pria itu untuk segera meninggalkan halaman sekolah, dia juga menutup wajah Han dengan tangan mungilnya.
Padahal jika Lisa melakukan itu malah mengundang perhatian orang sekitar.
“ada apa?” Han tentu saja bingung, dia tetap mengikuti apa yang Lisa lakukan, tapi terlihat lucu Lisa melakukan itu padanya, jiwa muda Han seakan hidup. walau kini dia memakai pakaian kantor.
__ADS_1
“kita bicara di jalan”
Han menghentikan langkahnya, membuat Lisa melepaskan tangannya yang menggenggam lengan Han, “apa ada yang mengikutimu?”
Lisa mengabaikan Han, dia segera masuk kedalam mobil pria itu dan memerintahkan untuk segera masuk kedalam mobil. “oppa cepatlah!”
Han masuk setelah melihat ke seluruh arah dan sekali lagi memastikan apakah pria itu masih mengikuti Lisa.
“katakan saja jika ada yang mengikutimu, aku akan menjamin keamanan”
Lisa bingung, dia sampai tidak fokus memang sabuk pengaman dan berakhir dengan menatap kotak coklat yang masih pria genggam, menyipitkan matanya dan berpikir siapa yang sedang berulang tahun atau seseorang telah memberikan itu pada Han tadi tanpa Dia sadari.
“Lisa kenapa kamu diam?” tanya Han lagi, dia mengikuti kemana mata Lisa tertuju, dan Han baru ingat jika dia seharusnya memberikan kotak coklat itu pada Lisa.
“tidak ada yang mengikutiku” jawab Lisa, entah kenapa dia menjadi kesal dan malas untuk menanyakan darimana coklat itu bersalah. “bisakah kita langsung jalan?”
“ini untukmu, bagaimana hari pertama? Apakah sulit?” Ucap Han, dia menyerahkan coklat itu dan mulai menyalakan mesin mobilnya.
Lisa hanya terdiam menatap kotak itu di pangkuannya, dia bahkan tidak ada niat untuk menyentuhnya.
“apa kamu tidak menyukainya? Apa kamu tidak suka coklat? Apa seharusnya aku membeli bunga?” tanya Han, dia mengajukan pertanyaan seperti wartawan yang tidak ada jeda waktunya.
“aku suka coklat, terimakasih Oppa” Lisa lagi-lagi termakan salah paham, pikirannya masih begitu labil dan bahkan seakan kekanak-kanakan.
Lisa juga terkejut, pasalnya Han secara tiba-tiba melakukan itu dan tubuh menegang saat Han memilih menatap ke arahnya.
Jika tidak suka klakson mobil mungkin sesi tatap-tatapan akan terus berlangsung, Han segera melajukan mobilnya dan mulai menuju Villa mereka.
“kenapa Oppa berikan begitu banyak coklat, aku tidak yakin bisa menghabiskannya” ucap Lisa, dia melihat isi coklat yang berbentuk hati, sangat lucu dan rasanya begitu lezat, setiap coklat yang melewati tenggorokan seakan beban hari ini hilang begitu saja.
“kamu bisa berbagi dengan temanmu” ucap Han, dia tidak bisa menatap Lisa yang sedang memakan coklat tapi mendengar jika gadis itu menyukai sudah cukup untuknya.
Keadaan kembali hening, Han sebenarnya ingin menceritakan tentang Sean, pasalnya Han ingin merawat adiknya di Villa, dimana tempat dirinya dan Lisa tinggal, tapi Han juga bingung takut Lisa tidak menerima kehadiran adiknya.
Belum lagi masalah penguntit itu.
Baiklah Han akan berbicara masalah itu dengan Lisa setelah keduanya sampai di Villa.
Jam yang sudah menunjukkan pukul 5 sore, dan tepat keduanya sampai di Villa, Lisa begitu senang membawa kotak coklat itu saat masuk kedalam, Han harus menerima telepon dari Keira.
__ADS_1
Dan ketika Han masuk kedalam, dia malah menemukan jika yang sedang belajar di lantai dengan beberapa buku dan layar laptop di hadapannya, dia sangat cantik saat mengenakan kacamata dan rambutnya yang terikat sedikit berantakan. “kamu sibuk?”
Lisa mengangguk, matanya tetap kelihat soal-soal matematika, Lisa lemah dalam pelajaran matematika dan besok adalah ujian itu.
“mau kubantu?”
Lisa menoleh ke arah Han, pria itu berdiri tidak jauh darinya. “memangnya Oppa bisa?”
Han melangkah mendekat, mengambil posisi untuk duduk dibelakang Lisa, lalu membentangkan tangannya, sebelum akhirnya lengan besarnya dan kekar itu berakhir dengan membentuk sebuah kungkungan, telapak tangan Han diletakkan di atas keyboard laptop Lisa.
“aku mendapatkan nilai 95 saat ujian kelulusan” ucap Han dengan santai. Tatapan fokus melihat soal-soal.
Sementara Lisa masih belum pulih dari aksi bekunya, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat kala suara Han terasa begitu dekat menyapu daun telinganya, saking dekatnya, aroma mint dari tubuh Han bisa tercium.
Lisa menelan air liurnya samar, berusaha mengumpulkan fokusnya kembali, dia berusaha mengabaikan bagaimana punggungnya bersentuhan dengan bahu kekar Han, dan bagaimana sesekali dagu Han menyentuh bahunya setiap kali pria itu berbicara padanya.
“mau aku ajarkan cara mudah menyelesaikan semua soal ini?”
Lisa tersentak “Ba-baik, ajari aku oppa”
Lisa berusaha mengingat lagi semua penjelasan itu, dia mencoba dengan berhati-hati dan tersenyum sendiri saat ternyata dia bisa memahami penjelasan Han yang terdengar mudah untuknya.
Han mendekat lagi, dagunya mengenai bahu Lisa saat menjelaskan soal berikutnya, dan sedikit menimbulkan rasa geli. “katakan saja jika aku berbicara terlalu cepat”
Lisa mengangguk, dia mencatat setiap hal yang Han jelaskan, sampai akhirnya Lisa bisa menguasai beberapa soal yang cukup sulit, dan Han yang masih tetap berada di belakang ketika Lisa mencoba mengerjakan sendiri.
Han tahu menyadari jika posisi mereka begitu dekat, pantas saja Lisa sempat terdiam, mungkin karena Han yang begitu dekat dan dirinya belum terbiasa.
“Lisa boleh aku mengatakan sesuatu?” ucap Han, dia malah memeluk tubuh Lisa dan menenggelamkan kepalanya di bahu Lisa.
“ka-kata saja” Lisa bingung, dia tidak begitu terbiasa dengan Han yang terkadang suka memeluknya dan bersikap manja.
“ak-aku memilih seorang adik, namanya Sean. Dia baru saja selesai melakukan operasi dan masih harus melakukan pemulihan, aku berbicara ini karena dia akan tinggal bersama kita--,” Han berhenti, dia sangat ragu mengatakan kondisi mental Sean.
“aku tidak masalah, lagipula aku tidak keberatan jika orang lain tinggal disini”
Lisa menatap kearah Han, wajah mereka begitu dekat dan Lisa bisa melihat betapa tampan wajah pria itu, tidak bisa dipungkiri jika Han memiliki sikap dewasa yang tidak pernah dia lihat dari teman sebayanya.
“terimakasih Lisa, kamu memang selalu membuatku tenang” ucap Han, dia mencium kening Lisa selama lima detik dan sebelum mengecup bibir itu sebentar.
__ADS_1
“ayo kita lanjutkan” lanjut Han.
Keduanya mulai menikmati waktu yang berlalu, Han menjelaskan sampai dimana Lisa mengerti dan Lisa yang tidak bisa tetap berpura-pura tenang saat Han begitu dekat dengannya.