“Istri Lugu Presiden Han”

“Istri Lugu Presiden Han”
Chapter 42 – Winter


__ADS_3

London. Katakan itu adalah negara dengan sejuta wisata, termasuk juga sebagai universitas terbaik dan juga beberapa tempat romantis, apalagi jika berkunjung disaat musim semi, warna kuning dari daun dering akan menjadi ciri khas kota London. Memenuhi setiap jalanan kota ini sama seperti barada Jepang dimana banyak bunga sakura mengugurkan daunnya.


Lisa dan sang kakak dengan dalam perjalanan menuju hotel, mereka jika menyewa rumah, karena hanya berada beberapa hari dan itu sudah disediakan oleh agensi naungan Hee-jin.


Matanya berbinar melihat jalanan kota London dimalam hari, mengingat perbedaaan waktu, mungkin saat ini Di korea masih siang hari, Lisa baru saja menyalakan ponselnya dan ada beberapa notif masuk kedalam, sebagai di penuhi oleh notifikasi dari Han dan beberapa pesan dari yang Ibu.


Tangan baru saja akan membalas pesan sang Ibu, tapi seperti tidak ada kata sabar dalam kamus pria. Sebuah pesan Videocall Han kirimkan masuk.


Lisa merapikan penampilannya, menutupi tubuh dengan mantel besar miliknya, tersenyum saat Han yang sedang berada didepan komputer. Padahal pria itu sedang sibuk bekerja tapi masih saja menghawatirkan dirinya.


“Oppa-sudah merindukanku?” tanya Lisa. Ini pertama kalinya dirnya melakukan Videocall dengan Han, pria sangat tampan walau hanya sebagai wajahnya terlihat.


“Tidak! Hanya sedang mengawasimu.” Jawab Han, tangan sibuk mengetik di keyboard, dan sesekali melirik kearah Lisa, melihat sang istri yang sepeerti baru saja sampai dan terlihat jelas jika dirinya masih dalam perjalanan.


“aku bukan anak kecil.”


Melepaskan tangannya dari keyboard, Han mengambil ponselnya. Dia tidak bisa berbohong pura-pura tidak perduli, ingin rasanya dia juga berada disana, tapi segalanya seakan memisahkahkan dirinya dengan Lisa.


“tapi, kamu milikku.”


Lisa ingin sekali tertawa, suara Han terdengar sedang merajut. Apakah pria itu tidak malu jika kakaknya mendengar dan belum lagi karyawan yang mendengarnya.


“aku bukan barang.”


“ingatlah, setelah kau kembali. Kau tidak akan bisa pergi dariku lagi Lisa, making love waiting for you. Don’t forget it.” Ucap Han, dia sengaja mengkatakan dalam bahasa inggris, dia ingin mendengar reaksi apa yang akan bertanya kepada kakaknya tentang artinya.


‘pria bodoh!’ Ucap Hee-jin, walau terdengar cepat tapi itu cukup terdengar baik Lisa maupun Han sendiri.


“Oppa. Aku akan menghubungimu lagi.” Ucap Lisa, dia merasa bodoh tidak mengetahui arti itu, tapi melihat reaksi sang supir dan kakaknya, itu hal yang memalukan.


Sesampainya di dalam kamar hotel, Lisa menjauhkan tubuhnya diranjang empuk hotel, akhirnya tubuhnya bisa bristirahat dengan baik, pasalnya Lisa tidak bisa memejamkan matanya saat suara dalam pesawat cukup berisik dan menganggunya, dia juga tidak terbiasa tidur dengan posisi duduk.


Sudah pukul sepuluh malam.

__ADS_1


Lisa sangat lapar, jam yang biasanya sering merasa lapar, belum lagi Hee-jin yang langsung menemui seseorang dan dirinya ditinggal sendirian, apa yang harus Lisa lakukan. Keluar, dia takut jika nanti akan menyusahkan orang lain dan mengingat dirinya tidak fasih dalam bahasa inggris.


Dia melihat isi dalam kulkas, hanya ada beberapa sayuran, daging dan beberapa minuman yang mungkin memiliki kadar alkohol.


“aku harus bagaimana?”


Perutnya sudah merasa nyeri, dia tidak suka seperti, menyiksa dirinya dan dengan terpaksa menghubungi Han.


‘kenapa kau rindukanku?’ ucap Han, tanpa menunggu beberapa menit tentu saja itu langsung diangkat olehnya, karena seperti yang sudah Han katakan, dia akan selalu menunggu saat Lisa menghubunginya.


“O-oppa—“ Lisa memegang perutnya, suaranya merintih kesakitan saat menghubungi Han. Karena Lisa sudah pernah merasakan hal ini dan sangat menyiksa, apalagi dia tidak boleh telat makan.


‘apa yang terjadi? Katakan? Jangan panik Lisa.’


“A-aku lapar.”


Han menepuk dahinya, dia hampir akan memesan tiket pesawat. “kau lapar, sedang bearda didepan kulkas dan tidak menemukan ramen? Kau bisa meminum segelas susu. Aku yakin disana ada.”


Lisa kembali membuka dan mengeluarkan kotak susu, mengambil gelas dan menuangkannya.


Han memperhatikan Lisa yang begitu penurut, dirinya ingin sekali memarahi kakaknya tidak memperdulikan adiknya, setidaknya sebelum pergi dia memesan makanan untuk Lisa.


“Oppa, apa aku merepotkanmu? Aku pikir ini akan mudah, tapi ternyata benar. Aku tidak bisa menjaga diriku dengan baik.” Ucap Lisa, dia menangis saat Han menatap kearahnya melalui layar ponsel.


‘Tidak! Jangan mengatakan hal itu. Kau membuatku ingin terbang kesana, aku menjadi merasa bersalah, Lisa jangan aku akan selalu ada untukmu.’


Sebuah kebetulan, Hee-jin datang membawakan dua kotak pizza, membuat Lisa melupakan kesedihannya dan langsung tersenyum kembali.


“Oppa, terimakasih. Aku tidak akan mengangis lagi, aku akan makan dengan Eonnie yang kebetulan membawa makanan, aku akan mngirimkan pesan sebelum tidur.”


Han mengangguk mengerti setidaknya dirinya tidak jadi mengutuk kakaknya Lisa.


“kau habis menangis?” tanya Hee-jin, dia berjalan kedapur dan menaruh dua kotak pizza, dan melepaskan mantel dan juga tas yang dia kenakan hari ini, sangat lelah karena harus menemui mereka untuk rapat dadakan.

__ADS_1


“aku lapar, aku tidak menahan itu.” Ucap Lisa, dia duduk dimeja makan, menunggu sang kakak membuka kotak pizza untuknya.


“lain kali jangan ragu untuk meminta sesuatu padaku, walau hubungan kita tidak sedekat, bagaimana-pun aku adalah orang yang juga bisa selalu membantumu.’


Lisa mengganguk mengerti, bukannya dirinya tidak ingin mengatakan apa yang dibutuhkan pada Hee-jin tapi dirinya sudah terbisa menemui Han, seakan memang itu sudah suatu kebiasaan baginya. “baiklah, terimakasih Eonnie.”


********


Kembali pada kehidupan Han, di Seoul tidak jauh berbeda dengan London, karena Seoul memiliki empat musim, jadi hari ini salju cukup lebat mmenuhi jalanan, sebagaian pekerjaan dilibur dan sebagian aktivitas dibatasi, karena bisanya jika salju lebat suhu udara begitu dingin.


Han bekerja dikantor hanya setengah hari, dia pulang setelah menyelesaikan tugas untuk beberapa hari kedepan. Dirinya baru menyadari jika sebagaian hidupnya benar-benar membosankan, hanya ada bekerja dan bekerja, mungkin itu alasan kenapa mantan kekasihnya memilih menikah dengan orang lain.


Sampai dirumah Han melihat Sean dan Youngbin yang mungkin akan mulai melakukan terapi ingatan, ruangan ini terasa begitu hampa tanpa kehadiran Lisa.


“Kau datang tepat waktu, tapi Sean terus .menanyakan gadis itu, apakah kau akan memanggilnya?” Youngbin menampiri Han, memberikan pria itu secangkir kopi.


“aku tidak tahu, Mina sulit dihubungi ahir-akhir ini.”


Sean yang duduk disofa hanya datar kedua pria itu, dia sedikit gugup untuk sesi ini dan terus mencari sosok gadis itu, dirnya pikir Han pergi akan menjemput gadis itu, tapi sekarang Sean jadi ragu untuk melanjutkan terapi ini.


“kau sudah mencoba mengunjungi rumahnya?”


“aku tidak tahu rumahnya.”


Akhirnya Han dan Youngbin menghampiri Sean, ada yang harus segera melakukan padanya tapi kenapa jadi sedikit ragu sekarang.


“Sean. Ingat kau yang sendiri yang minta, apapun yang akan terjadi nantinya, tetap ingat itu adalah alam bawah sadarmu, kau datang kesana dan kau sendiri yang harus bangun, ingatlah apa yang terjadi dan jika kau tidak sanggup, dilain waktu kita masih bisa melakukan lagi.” Ucap youngbin, disinilah dia mulai menunjukan jika dirinya adalah dokter terapi terbaik pada lulusannya, menjadi dokter dengan terapi paling baik untuk orang yang trauma, depresi, dan seperti Sean.


Sean menatap kearah Han, dia sudah diujung pilihan dan hanya butuh sebuah kalimat untuk membuatnya semakin yakin.


“tenanglah, aku yakin kau hebat dan kuat, ingat ada seseorang yang menunggumu. Mungkin dia tidak disini tapi yakinlah, jika kalian terikat.” Ucap Han, entah apa yang sedang dia pikitrkan, kalimat itu keluar begitu saja, dan mungkin bisa saja itu ada kebenaranya.


Sean mengangguk mengerti, dia membuat dirinya relax, menarik nafas dan membuang secara bergantian selama saru menit. Dan mulai membaringkan tubuhnya disofa empuk, menatap langit ruang tamu dan mulai memejamkan matanya.

__ADS_1


Youngbin duduk disampingnya, menyalakan aroma terapi dari lilin yang biasa dipakai. “baik. Kita mulai sekarang. Bayangkan kau kembali pada hari itu, memengenakan seragam dan menatap indahnya hari, berharap hidup selalu seperti itu.”


Dan dimulaikan Sean kembali melihat dirinya pada kejadian yang terus terulang disetiap malam sunyinya.


__ADS_2