“Istri Lugu Presiden Han”

“Istri Lugu Presiden Han”
Chapter 27 - Feeling


__ADS_3

Beberapa hari berlalu. 


Dua hari Han mendadak pergi untuk urusan pekerja di luar negeri, aneh tapi Lisa sedikit merasa kehilangan, biasanya dirinya akan mendengarkan suara yang terkadang terdengar lembut dan juga kasar. Mungkin karena efek sudah terbiasa jadi Lisa tidak terlalu membebani hal yang Han lakukan. 


Hari terlewat lima hari, tapi rasanya sudah sebulan dia berada disini, selama dua hari itu juga Lisa melewatkan banyak hal tanpa Han. bangun, menyiapkan sarapan, pergi ke sekolah sendiri, belum lagi ketika pelajaran tambahan, Lisa bahkan bisa hanya makan malam saja.


Seperti hari ini dia masih sulit mengumpulkan niat untuk mengisi tenaganya, Lisa ingin sekali menghubungi Han dan menanyakan kabarnya. Tapi jika dipikir apakah Lisa punya hal untuk itu, jika hari ini pria itu tidak kembali itu berarti dia sudah tiga hari pergi.


Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam, padahal Lisa besok masih memiliki satu hari di sekolah tapi dia tidak bisa memejamkan matanya sekalipun, ada hal yang mengganjal hatinya dan seakan menyuruhnya untuk menunggu.


Baru lima menit perasaan mengganjal itu berlalu, suara bel berdering mengisi seisi ruangan. Lisa dengan cepat mengibaskan selimut, memakai sandal rumah dan berlari menuruni anak tangga, segera memastikan apa itu benar Han. 


“selamat datang”


Lisa tersenyum saat membuka pintu untuk Han, pria sedikit berbeda saat berpisah dengan Lisa terakhir. Wajahnya menjelaskan segalanya jika pria itu lelah dan Han melangkah masuk begitu saja sambil menyeret koper miliknya.


Lisa mencoba mengerti, mungkin saat ini Han tidak ingin membahas apapun karena bagaimanapun dunia orang dewasa berbeda dengan dirinya yang masih memakai seragam, dia berjalan mendekati dapur dan mengambil sesuatu.


Mendekati Han yang bersandar di sofa, apakah begitu melelah? Apakah terjadi sesuatu? Atau perjalanan pekerjaan kali ini membuatnya lelah dan sampai berkata pun pria itu tidak ingin, padahal Lisa ingin sedikit bercerita tentang kunjungan ayahnya saat Han pergi. 


Karena ini cukup penting untuk Han.


“minumlah, ini bisa mengurangi sedikit rasa lelahmu” ucap Lisa, dia memberikan pada Han, sedikit membantunya juganya, terlihat jelas jika wajah itu terlihat pucat dan tubuh Han terasa panas.


“apakah kam---,” Lisa mengedipkan matanya berulang kali, Han menarik tubuhnya sampai duduk dipangkuannya, yang lebih mengejutkan lagi ketika Han menyandarkan kepalanya di bahu Lisa. 


Memeluk tubuh gadis itu dengan posesif. 


“aku lelah” suara lemah seperti itu mampu membuat Lisa berhenti bergerak menjauh, seperti sebuah perintah tubuhnya mendadak terdiam dan kaku, pria itu tidak pernah manja seperti ini, Lisa hanya mengikuti apa yang hatinya berkata. 


Dia juga ikut memeluk tubuh itu, sampai rasanya Lisa ingin sedikit bergerak pun tidak mampu, Han seakan menganggap dirinya sebagai tempat untuknya melepas lelah dan selama waktu terlewatkan suara nafas pria itu terdengar beratur, mungkinkah pria itu terlelap dalam pelukan Lisa. 


Dengan hati-hati Lisa memastikan apakah Han benar tidur, tapi tubuhnya malah ditarik sampai tidak ada lagi jarak bagi dirinya untuk tidak tegang, Lisa meneguk liurnya seperti meminum sebotol air mineral. Dirinya yakin senam jantung kembali menghampiri dirinya.


“bukankah aku sudah mengatakan?” kini Han menatap wajah Lisa dengan sedikit tersenyum, dia mengusap rambut Lisa dan mencium kening gadis itu selama 5 detik. 


“mengatakan apa?” Lisa sedikit tersentuh, dia belum pernah merasakan dicium kening orang seorang pria, diperlakukan seakan pria dihadapannya begitu mencintai dirinya. Tangannya tanpa sadar menyentuh wajah Han, mengelus pipi dan menyentuh hidung mancungnya.


Han menahan tangan Lisa, menghentikan yang seharusnya tidak gadis itu lakukan, karena mungkin Han tidak akan bisa melepaskan Lisa kali ini. “aku lelah” 

__ADS_1


Lisa melewati batasan yang dia buat dalam dirinya, bohong jika dia tertarik pada pesona Han dan tidak menyukai sikap dewasanya. “kamu demam”


Lisa sebenarnya ingin mengatakan ini sedari tadi, dia terus memperhatikan gerak-gerik Han sejak dia membukakan pintu untuknya, dan saat Han menarik tangannya, dan terakhir saat Lisa merasakan hembusan nafasan yang Han keluarkan ketika menerpa area lehernya. 


“kamu harus tidur Lisa” Han melepaskan pelukannya, sebenarnya ada yang salah dalam hal ini, dia takut salah mengambil langkah dan malah berakhir dengan kesalahpahaman nantinya, karena Han tidak yakin apakah Lisa ingin bersama?


Saat membaca perjanjian itu Han menyadari banyak sekali hal yang dia renggut dari Lisa, mulai dari kehidupan remajanya sampai mungkin nanti masa depannya, bagaimana nanti ketika gadis itu menjalani hidup saat dia mengerti bahwa menikah dan melahirkan kemudian bercerai mungkin akan banyak sekali hal yang mengundang opini buruk tentangnya. 


Walau Han menjanjikan tidak sampai publik tahu jika dia akan menjadi seorang janda di usia apalagi Lisa juga akan lahirkan.


“Oppa, biarkan aku yang merawatmu” Lisa berkata sambil sedikit menahan dirinya disana, untuk tidak turun dari tubuh Han, “jika demam itu tidak segera turun, aku bisa tertular”


“bagaimana dengan sekolahmu besok?” 


Lisa juga terdiam, jika dia memilih untuk merawat Han itu berarti dia tidak akan bisa tidur dengan baik dan keesokan harinya Lisa bisa tertidur di kelas, tapi Han akan semakin parah, Karena Lisa yakin pria itu tidak bisa menyembuhkan dirinya sendiri.


Lisa merespon, dia turun pangkuan pria itu, dia sedikit lancang memaksa Han untuk berbaring di sofa. “aku akan tetap bersekolah”


Han memperhatikan punggung gadis itu menjauh, apa yang akan terjadi setelah Han membuat Lisa hamil? Bagaimana nanti jika hati itu terluka karena terlalu lugu dirinya. Namun semakin Han memikirkannya matanya malah terpejam dan dia kembali tertidur.


Lisa kembali membawa sebuah yang berisi air hangat dan kain, meletakkan pada meja di hadapannya, dia memperhatikan Han yang tertidur dengan keringat dingin yang memenuhi keningnya, sebelum memulai Lisa membuka jas dan sepatu Han kenakan. 


Merendam kain dan meletakkan pada kening Han setelah diperas, Lisa sedikit berpikir apakah sosok pria di hadapannya pernah mencintai seseorang sampai saat ini dia tidak percaya akan adanya rasa jatuh lagi, dia juga yakin banyak yang mendekati pria itu dan betapa populernya pria itu dikalangan usianya. 


Sebenarnya ucapan sang ayah mertua membebani pikirannya sampai hari ini, seakan Lisa merasa jika pria paruh baya itu ingin sekali Lisa segera hamil, dan betapa terkejutnya Lisa menerima sebuah obat untuk menyuburkan dirinya, mungkin itu terdengar terlalu memaksa, padahal Han sendiri tidak sebegitunya. 


Yang lebih menyakitkan lagi adalah kalimat ‘jika kau tidak bisa hamil sampai waktu 6 bulan yang aku berikan, persiapkan melihat Han akan menikahi gadis lain, dan kau akan segera bercerai dengannya’


Itu menyakitkan untuk Lisa dengar, walau belum.memastikan perasaan apa yang dia miliki untuk Han tapi seakan ada sedikit luka tergores tanpa sadar, apakah pernikahan ini hanya untuk memenuhi tujuan? Lisa tidak pernah berpikir pernikahan akan seperti ini, saat berbeda ketika dia menonton drama atau membaca novel.


Sampai waktu berlalu dan Lisa terlelap dalam di sofa yang sama dengan Han.


Keesokan harinya …… 


Hari terakhir sebelum menuju akhir pekan, cuaca kali ini begitu indah sama seperti sebelumnya, cahaya matahari masuk melalui jendela besar dirumah tamu, mengusik kedua orang yang sedang bersembunyi di sofa. 


Yang pertama kali membuka kedua matanya adalah Han, pria itu tersenyum dan sedikit merasa kehangatan yang sudah lama hilang, seorang gadis tertidur dalam pelukannya dengan wajah imutnya, Han tidak tahu jika Lisa akan tertidur disini juga, dia pikir gadis itu setelah merawat akan segera kembali kemarnya tapi keduanya malah tertidur disini. 


Han melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 7 pagi, seharusnya dia membangunkan Lisa? Tapi pria itu takut Lisa akan kekurangan tidurnya, karena mungkin saja gadis itu tertidur lebih lama darinya. 

__ADS_1


“Lisa”


“Lisa--bangunlah” 


Han menepuk-nepuk pipi gadis itu, dia tidak tahu harus bagaimana membangunkan seseorang. Semakin Han melakukan Lisa malah menenggelamkan wajahnya pada dadanya dan memeluk tubuhnya lebih dekat.


Han terkejut, dia merasa jantung berdetak lebih kencang dari biasanya, dia bahkan tidak bisa bergerak bebas saat nafas Lisa mengenai kemeja putihnya, 


Sekarang harus bagaimana? Apakah dia harus tetap diam? Jika diam berarti Han membiarkan gadis itu bolos hari ini, dengan sedikit memaksa Han mengeluarkan ponselnya dan menghubungi teman Lisa, dia memang pernah meminta nomor Mina untuk urusan penting jika Lisa tidak memberinya kabar.


Lisa bangun saat merasa terusik saat lengan Han terus bergerak, hal pertama yang Lisa lihat adalah wajah Han yang begitu serius menatap layar ponselnya dan menulis sesuatu di sana, pria itu bahkan tetap tampan tanpa harus melakukan sesuatu. 


“kau sudah bangun?” Han bertanya setelah mengirim pesan pada Mina, dia memang menyadari Lisa sudah bangun namun dia hanya berpura-pura. 


“Ya, aku masih sedikit mengantuk, tapi sekarang--,” Lisa langsung terduduk dan melirik ke arah jam. Dia terkejut jam sudah menunjukkan pukul 07.25 pagi. “aku akan telat” 


Han menarik tubuh Lisa yang akan meninggalkan sampai terlalu kuat, membuat Lisa jatuh diatas tubuhnya. “kau tidak perlu berangkat”


“Tapi---,”


“aku sudah meminta izin melalui temanmu” lanjut Han, dia sedikit terpesona pada kecantikan Lisa yang memang begitu alami, dia begitu dengan ibu dan ayahnya. Menarik Lisa untuk tidur diatas tubuhnya. 


“sudahlah, lebih baik kamu melanjutkan tidurmu, istirahatlah dengan baik”


“bukankah itu berarti Oppa berbohong dan secara tidak langsung aku bolos sekolah”


Han menatap kearah Lisa, dia juga gadis yang penurut dan gadis itu tidak menolaknya sama sekali “apa kamu belum pernah melakukannya?”


Lisa menggeleng, itu spontan terjadi tapi memiliki efek yang tidak baik pada Han. “tidak pernah sekalipun aku berbohong”


“tidak terlalu jujur itu tidak baik”


“berbohong juga bukan hal baik”


Han ingin semakin tertawa, pemikirannya begitu berbeda dengan Lisa, tapi terkesan lucu bertengkar karena masalah sederhana. “sudah, bagaimana jika kita kembali tidur”


“lalu apa yang akan kita lakukan hari ini”


“pergi ketaman sore nanti”

__ADS_1


Lisa tersenyum, dia menyandarkan kepala tepat di dada Han, secara perlahan dia mendengarkan detak jantung pria itu yang berdetak cukup kencang, ternyata pria ini bisa begitu sederhana dan juga mengerti pemikiran Lisa.


note : challenge kalau komen lebih dari 10, besok update 2 bab.


__ADS_2